
Setelah berpamitan dengan Bu Wilda, Dimas segera pulang dan diantar oleh Raysa, ditengah perjalanan Raysa bertanya kepada Dimas
"Mas, mau aku anterin kemana?"
"Kehatimu!"
Seketika itu juga Raysa menekan rem ditangannya dan Dimas maju kedepan hingga tiada jarak diantara mereka.
Raysa segera turun, "nggak usah ngelunjak ya kamu!" kenapa sih dari tadi kamu selalu membuat aku kesal!?"
"Hehehe... maaf deh! tadi Abang cuma bercanda." Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Awas ya! sekali lagi kamu ngeselin aku tinggal dijalan."
"Oke dek, Abang duduk manis dan janji nggak akan ngeselin lagi." Dimas tersenyum jahil.
Raysa menatap kesal kepada Dimas dan dia segera melajukan motornya kembali.
Dimas memberitahu alamat apartemennya dan Raysa segera mengantar Dimas. tidak berapa lama mereka sudah sampai di depan gedung apartemen mewah itu.
Ya, Dimas hanya tinggal sendiri di kota bertuah itu, karena orangtuanya berada di kota Surabaya.
"Udah berhenti disini dek."
'Ternyata dia orang kaya, tinggal aja di apartemen mewah begini." Raysa bicara sendiri dalam hati
"Ini dek ongkosnya." lalu Raysa memberikan uang kembaliannya kepada Dimas
"Ini mas, kembaliannya."
"Tidak usah dek, ambil saja kembaliannya buat dek Raysa yang manis." Dimas tersenyum sambil menaikkan alisnya
"Apa sih mas?" aku serius ini ongkosnya terlalu banyak."
"Iyaa" Abang juga serius! udah ambil saja, Abang ikhlas kok."
Raysa sebenarnya tidak enak tapi memang dia sedang butuh uang untuk pengobatan ibunya, maka dia menerima uang seratus ribu pemberian Dimas itu.
__ADS_1
"Terimakasih ya Bang?"
Dimas tersenyum saat mendengar Raysa memanggil dirinya Abang,
"Oke, sama2 adek manis! maaf ya malam ini Abang sudah ngerepotin kamu dan juga bikin kamu kesal?" Dimas bicara serius menatap mata polos itu
"Iya nggak apa2 bang" kalau begitu aku pamit ya?"
"Iya hati2 jangan ngebut! Oya itu tadi no adek kan? besok2 Abang masih boleh Ojol sama adek kan?"
Raysa mengangguk dan tersenyum, lalu meninggalkan Dimas sendiri yang masih berdiri didepan gedung apartemen itu.
***
Sementara siang itu dikediaman keluarga waluyo
Ayah dan ibu sari, sedang mengobrol diruang keluarga bersama papa Ari dan mama Endang,dan juga Ade. hanya mereka yang tinggal dirumah itu, karena kedua kakak Ade sudah kembali ke rumah mereka masing2 yang berada di luar kota, karena suami kakak2nya itu adalah orang sibuk jadi mereka tidak bisa berlama-lama disana,
Mereka membicarakan tentang tempat tinggal keluarga Bayu, seperti janjinya kemarin setelah selesai acara resepsi pernikahan Ade dan Ani maka mereka akan membahas tentang itu
Setelah saling sepakat akhirnya Bayu dan keluarganya akan pindah di desa xx karena di desa itu tempat Doni anaknya yang paling kecil bersekolah
"Baiklah Pa, lusa akan Ade antarkan ayah dan ibu."
Sementara mama Endang tidak banyak bicara, sikapnya masih dingin, sebenarnya Ari tahu jika sikap istrinya itu berubah semenjak kejadian waktu dia mengetahui tentang hubungan Ade dan Ani, tetapi Ari belum ingin membahas tentang itu dia masih fokus mengurus tempat tinggal besannya itu dan memberi kenyamanan kepada mereka
Setelah selesai membahas tentang kepindahan ayah dan ibu mertuanya, Ade segera masuk ke kamarnya, dia melihat istrinya itu sedang tertidur pulas, Ya, Ani sudah pindah ke kamar Ade, karena Ade tidak mau Ani naik turun tangga, karena itu bisa membahayakan kandungannya.
Ade mengecup kening istrinya, dan dia ikut berbaring disamping Ani, Ade memeluk Ani dari belakang dan tangannya sebelah kiri mengelus perut Ani yang sudah mulai agak membuncit. Ade dan Ani sama2 telah masuk kedunia mimpi.
Sore harinya Ade sudah terbangun dari tidur siangnya dia segera masuk ke kamar mandi, Ade segera membersihkan diri, setelah itu Ade melaksanakan sholat ashar, dan setelah sholat dia membangunkan istrinya itu yang masih tertidur pulas.
"Sayang, bangun yuk, udah setengah Lima nanti waktu sholat kamu habis sayang." Ade mengelus lembut wajah Ani dan mengecup kening dan bibir istrinya itu.
"Hmm.. "Ani masih ngantuk mas." dengan suara serak Ani masih memejamkan matanya.
"Ayo bangun sayang, nanti tidur lagi setelah sholat ya?" Ade masih mengganggu tidur pulas istrinya, sehingga Ani bangun dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Gimana masih ngantuk?" Ade duduk disamping Ani dia masih menggunakan pakaian sholat dan kain sarung.
"Ngantuk banget mas, kenapa mata Ani susah banget dibuka mas?" Ani menyandarkan kepalanya di dada Ade.
"Kamu mau tahu biar nggak ngantuk lagi?"
"Bagaimana caranya?" Ani menatap Ade dengan penasaran.
"Kita mulai satu ronde dulu!", setelah itu kantuk kamu pasti langsung hilang." Ade membisikkan ketelinga Ani, sehingga wajah Ani langsung berubah menjadi merah merona, dan dia segera mencubit pinggang Ade
Ade tertawa lepas melihat wajah istrinya itu menjadi merah.
"Udah sekarang kamu mandi ya biar segar habis itu sholat, mas tunggu kamu diluar ya."
Ade segera keluar dari kamarnya dan dia menemui papa dan ayah mertuanya sedang ngobrol di halaman belakang dekat kolam ikan hias itu. Ade juga ikut ngobrol bersama Mereka
Sementara itu Ani setelah selesai sholat dia juga keluar dari kamarnya, dia melihat ibunya sedang sibuk didapur berperang dengan peralatan dapur, karena ini hari libur maka ART tidak ada yang datang, dan Bu Sari lah yang mengerjakan tugas art itu, meskipun Endang melarangnya tapi sari sudah terbiasa bekerja,jadi dia tidak bisa hanya duduk2 saja.
Saat Ani hendak menuju dapur dia melihat mama Endang sedang duduk di ruang tamu sambil memijit kakinya, lalu Ani mendekatinya
"Mama kenapa,? apakah kaki mama sakit?"
"Tidak apa2 mama baik2 saja." Mama Endang segera berdiri dan meninggalkan Ani yang masih berdiri disana, Ani menatap kepergian mama mertuanya itu dari hadapannya, Ani merasa sedih Kenapa kini sikap mama Endang berubah dingin, dia tidak seperti dulu yang selalu tersenyum dan bicara apa saja saat bersama dirinya.
"Maafkan Ani ma" mungkin mama kecewa karena Ani bukanlah menantu yang mama inginkan." Ani bicara sendiri dan menghapus air matanya.
***
Sementara itu dikediaman Raysa dia baru saja pulang dari ngojol saat dia baru sampai didepan rumahnya dia melihat banyak tetangga yang datang kerumah kontrakan nya itu, jantung Raysa berdetak tak karuan, dia sudah membayangkan ada hal buruk yang menimpa ibunya.
Raysa segera berlari dan masuk kedalam rumahnya.
"Raysa cepat bawa ibumu ke Rumah Sakit," tadi kami menemukan ibumu pingsan di teras rumah. Raysa segera berlari dan memeluk ibunya dan meletakkan kepala ibunya di atas pahanya.
"Ya Allah, ibu? bangun Bu" Raysa masih memanggil dan mengguncang tubuh ibunya dengan deraian air mata, dia benar2 takut kehilangan ibunya
Tanpa pikir lama Raysa segera membawa ibunya ke RS swasta terdekat, Yaitu rumah RS permata hati, dan itu adalah RS milik Ade.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan komentarnya ya biar author semangat up Terimakasih 🥰🥰🙏