Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Penyesalan Dr Dimas


__ADS_3

"Apa maksud kamu Dr Dimas?" Angga tidak percaya apa yang telah dikatakan oleh Dimas karena selama ini dia mengenal Raysa dengan baik, rasanya tidak mungkin Raysa adalah wanita jal**g.


Dimas tersenyum mengejek kepada Angga, karena dia merasa bahwa Angga adalah orang yang munafik.


"Aku tidak menyangka bahwa kamu termasuk orang munafik Dr Angga! apakah wanita itu menyuruhmu untuk menyembunyikan hal ini?"


"Jaga bicaramu Dr Dimas!! sekali lagi aku peringatkan! jangan pernah kamu mengatakan bahwa Raysa adalah wanita jal**g!!" Angga bicara begitu meledak-ledak bahkan dia menunjuk wajah Dimas.


"Kenapa aku harus menjaga kata2ku? karena apa yang aku katakan adalah yang sebenarnya. apakah wanita itu tidak memberitahu dirimu jika dia pernah menjual tubuhnya denganku!" Dimas tak kalah emosi bicara dengan Angga karena dia benci dengan pembelaan Angga kepada Raysa. Angga terperanjat mendengar pengakuan Dimas


"Apaa!! itu tidak mungkin? kamu jangan mengada-ada!" Angga segera pergi meninggalkan Dimas dia benar2 tidak tahu apa yang dikatakan Dimas itu benar atau tidak, yang jelas dia ingin mendengarkan penjelasan dari Raysa terlebih dahulu.


***


Sementara itu Raysa masih duduk di taman belakang RS, dia menangis sambil menunduk agar orang tidak terlalu memperhatikan dirinya, hatinya benar2 hancur, rasanya dia ingin sekali menyerah dengan semua beban hidup yang selama ini dia tanggung sendiri.


"Raysa, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Dr Dimas?" terdengar suara Angga bertanya sambil duduk disampingnya.

__ADS_1


Raysa menoleh dia menatap dr Angga, dia melihat ada hal yang lebih penting yang ingin Dr Angga tanyakan kepada dirinya.


"Dokter, apa yang dikatakan oleh Dr Dimas itu adalah benar! aku memang pernah menjual tubuhku kepada dirinya." lirih Raysa


Angga begitu terkejut mendengar pengakuan Raysa, rasanya dia tidak percaya. dan tiba2 saja dia mengingat sesuatu.


"Raysa, katakan kepada saya sekarang! apakah uang itu untuk biaya operasi ibumu? katakan kepada saya Sa?!" Angga menanyakan kepada Raysa dengan mata memerah sambil mengguncang tubuh wanita cantik berlesung pipi itu.


Raysa hanya mengangguk sambil menundukkan kepalanya dia tidak berani menatap wajah Dr Angga,dia merasa begitu malu.


"Maafkan aku dokter, aku tidak punya pilihan lain.tapi aku mohon Dok! tolong selamatkan ibu. aku tahu sekarang Dokter sangat membenciku, tapi aku mohon jangan benci ibu. tolong selamatkan ibu." Raysa mengatupkan kedua telapak tangannya dan memohon kepada Angga.


Angga meraih tangan Raysa, dia menatap wajah lelah nan teduh itu, mata itu sudah sembab ntah berapa lama dia menangis.


"Jangan memohon kepadaku begitu Sa! aku akan melakukan yang terbaik untuk ibu." Angga menghapus air mata Raysa yang masih setia turun di pipinya.


***

__ADS_1


"Tidak! itu tidak mungkin? Aaaaaa...." Dimas menghentikan mobilnya dipinggir jalan dia memukul setir mobil itu untuk melampiaskan kemarahannya, dia mengingat kembali pembicaraan dr Angga dan Raysa di taman RS itu.


"Kenapa kamu begitu bo**h Dimas! kenapa kamu tidak menanyakan semuanya kepada wanita yang selama ini telah kamu sakiti." Dimas bicara sendiri sambil merutuki kebodohannya.


Ya, tadi setelah Angga pergi Dimas mengikuti kemana langkah Dr Angga, dan dia mendengar semua pembicaraan antara Dr Angga dan Raysa.disaat itu juga Dimas merasa menyesal dia ingin sekali mendekati Raysa untuk meminta maaf atas semua kesalahannya selama ini tetapi dia mengurungkan niatnya karena dia tahu bahwa Raysa sangat membenci dirinya.


"Aaaa....! bo**h, bo**h! Dimas membenturkan kepalanya dengan stir mobil, dia benar-benar merutuki kebodohan dirinya sendiri.


"Aku harus secepatnya untuk meminta maaf kepada Raysa, apapun akan aku lakukan agar dia bisa memaafkan aku." Dimas kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke RS


Kini Raysa dan Dr Angga kembali ke ruangan ibunya, karena tadi Dr Angga sudah berjanji untuk melakukan yang terbaik untuk bisa menyelamatkan ibu Wilda.


Saat Raysa masuk kedalam ruangan ibunya dia melihat ibunya sudah sadar.


"Ibu, Alhamdulillah ibu sudah sadar ibu tahu nggak sih? aku itu sangat khawatir Buu. aku mohon ibu jangan buat aku takut begini lagi ya!" Raysa membawa ibunya bicara sambil mencium pipi ibunya, tetapi dia merasakan tangan ibunya begitu dingin dan tatapannya kosong.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2