
Dimas kembali mengayunkan tangannya untuk memukul Ade, tetapi Ade segera menahan tangan Dimas.
"Dengar Dimas! semua yang terjadi pada Ani adalah karena ulah kamu dan Kevin" jika kamu tidak memberiku obat sialan itu, maka aku tidak akan memperkosa Ani!!!"
"Dan kau kira aku mau melakukan ini pada Ani" Ya, aku memang mencintai Ani tapi aku tidak akan mungkin membuat Ani menderita" ini semua karena ulahmu sehingga Ani berada dalam keadaan tersulit seperti ini" dan aku tidak tahu dimana dia sekarang!!." Ade menumpahkan kekesalannya terhadap Dimas mata Ade sudah mulai memerah Ade benar2 mencemaskan istrinya itu.
Dimas hanya diam terpaku saat mendengarkan penjelasan Ade, Dimas memang menyadari bahwa dia yang bersalah tetapi Dimas juga kecewa padahal Ade tahu jika Dimas sangat mencintai Ani, tapi kenapa Ade juga berniat ingin merebut Ani darinya
Setelah selesai menjelaskan kepada Dimas Ade segera pergi dari hadapan Dimas Ade tidak ingin menyia-nyiakan waktunya dia segera mencari Ani.
Setelah Ade pergi Dimas juga pergi,dia menjalankan mobilnya dengan pelan, didalam mobil Dimas kembali mengingat semua kata2 Ade
"Maafkan aku Ani, aku benar-benar tidak tahu kejadiannya akan seperti ini" apakah kamu juga mencintai Ade Ani?" Dimas bicara sendiri.
***
Kini hari sudah mulai gelap, dan Ani terbangun dari tidurnya ternyata Ani baru sadar bahwa dia ketiduran di halte busway, Ani tidur sambil memangku lututnya Ani tidak tahu sejak dia hamil matanya itu mudah sekali untuk ditidurkan mungkin bawaan bayi yang ada dikandungnya.
"Ya Allah" ternyata sudah malam, aku harus kemana ini", kenapa sepi sekali disini?. Ani bingung kemana dia akan pergi dia tidak mempunyai bekal apapun, dan Ani juga merasa lapar karena satu hari ini tidak ada makanan yang masuk kedalam perutnya
Ani kembali menangis, dia mengusap perutnya. "Sayang, "maafkan ibu ya" kamu jangan takut nak, kita akan baik2 saja." Ani membawa calon bayinya bicara.
Saat Ani sedang ketakutan Ani dikejutkan dengan 2 orang laki-laki yang membawa gitar, Ani melihat laki2 itu menatapnya dengan intens
"Hai cantik, lagi nunggu siapa malam2 begini? kalau busway sudah tidak ada jam segini" lebih baik ikut kami saja." mereka tersenyum nakal dan salah satu dari mereka mulai mendekati Ani.
"Kalian mau apa? jangan macam2 kalian, sekarang pergilah jangan ganggu aku!!" Ani agak meninggikan suaranya.
"Husstt santai dong sayang jangan berteriak begitu." mereka tersenyum dan tertawa
"Pergilah dari sini atau aku akan berteriak sekeras-kerasnya." Ani sudah mulai ketakutan tubuhnya mulai bergetar dan Ani bergeser dari kedua laki2 seram itu tetapi laki2 itu segera meraih tangan Ani.
"Tenanglah kami tidak akan menyakitimu tapi kami akan membawamu bersenang2." lalu mereka tertawa bersama
__ADS_1
"Lepaskan jangan macam2 kalian!!" pergilah!!!" Tolooongg!!!" Ani menjerit keras namun tak ada yang mendengar karena memang dijam segitu daerah disana sangat sepi.
Mereka mulai akan melecehkan Ani, salah satu dari mereka menarik paksa hijab yang Ani kenakan, Ani menangis sambil menjerit dia merasa hidupnya dan anak yang berada dalam kandungan sudah terancam.
"Waow.. ternyata kamu cantik sekali jika tidak menggunakan hijab." salah satu dari mereka menatap Ani sambil menelan air liurnya karena melihat kecantikan Ani dan leher putihnya.
"Aku mohon kembalikan hijabku" jangan lakukan ini kepadaku". dengan deraian air mata Ani menautkan kedua telapak tangannya dan memohon belas kasihan kedua laki2 itu agar mau melepaskannya.
Namun kedua laki2 itu tidak menghiraukan ucapan Ani, mereka sudah terbakar hasratnya, hingga salah satu dari mereka akan mencium Ani.
Plakk...
Ani menamparnya dengan kuat, "Dengar! jangan berani kau macam2 denganku?"
Karena mendapat tamparan dari Ani maka laki2 itu segera menarik tangan Ani dengan kuat Ani berusaha memberontak, "berani sekali kau menaprku hah!!"
Laki2 itu kembali memaksa untuk dapat mencium Ani namun Ani berusaha mengelakkan wajahnya, karena kesal dia menarik lengan baju Ani dengan kuat sehingga bajunya robek.
Ani kembali menangis sekuat-kuatnya dia menjerit agar bisa dilepaskan oleh mereka namun kedua laki2 itu benar2 sudah dirasuki oleh nafsunya. mereka mulai memaksa untuk menidurkan Ani diatas tempat duduk tunggu yang berada didalam halte busway itu.
Sebuah tendangan keras merobohkan 2 orang laki2 itu sehingga mereka terjungkal kelantai
"Ayo bangun, ayo bangun lawan saya!!" mereka saling menatap salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dari saku celananya dan mengarahkan pisau itu kepada Dimas, dan Dimas segera menangkis tangannya, Dimas kembali menendang perutnya hingga dia terduduk kembali
"Ayo maju kamu!" Dimas mengajak teman lelaki itu untuk maju melawannya, tetapi mereka sudah mulai kena mental sehingga mereka berlari keluar dari halte busway itu
Setelah mereka pergi Dimas melihat Ani menangis sambil menutup lengan bajunya yang sudah robek
Dimas mendekat dan membuka jas dokternya dia menutup bahu Ani dan diambilnya hijab Ani yang sudah jatuh lalu dikibaskan hijab itu dan dia pakaikan kembali kepada Ani.
"Tenanglah" kamu sudah aman Abang disini untuk kamu." Dimas ingin sekali memeluk wanita yang ada didepannya itu, tetapi dia mengurungkan niatnya karena Dimas mengingat bahwa Ani sekarang adalah milik Ade sahabatnya.
"Sekarang ayo ikut Abang."
__ADS_1
"Kita mau kemana bang?, Ani tidak mungkin pulang Ibuk sangat marah pada Ani." sambil menangis Ani berusaha berdiri untuk ikut dengan Dimas
"Ikut saja Abang nanti kamu akan tahu, Dimas segera membuka pintu mobilnya untuk Ani.
Ani segera masuk, Dimas kembali menutup pintu mobilnya dan dia segera menjalankan mobilnya, ditengah perjalanan Dimas menatap Ani dengan kasihan karena ulahnya Ani hampir saja celaka
"Apakah kamu sudah makan?"
"Belum bang." Ani menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangannya
Apakah kamu mau makan sesuatu?"
"Apa saja bang" Ani benar2 lapar." Ani menatap Dimas dengan malu.
Dimas tersenyum, "baiklah kalau begitu nanti Abang masakin kamu sesuatu."
***
Sementara itu Ade merasa frustasi karena dia tidak dapat menemukan dimana keberadaan Ani.
"Kamu dimana sayang?" kenapa kamu pergi tanpa memberi mas kabar." tak Terasa malam sudah semakin larut Ade terpaksa pulang dengan segala kecamuk dihatinya
Kini Ade sudah sampai dirumahnya kembali, sebelum turun dari mobil Ade kembali menelpon orang suruhannya, tetapi jawaban Mereka masih tetap sama, belum ada titik terang dimana Ani sekarang berada.
Ade masuk dengan langkah gontai dia melihat mama dan mbak Dewi sedang duduk di ruang keluarga.
"Ade" apakah kamu sudah menemukan Ani?" Mbak Dewi bertanya Ade menggeleng
"Belum mbak" Ade tidak tahu dimana Ani sekarang." lirih Ade, dia begitu hawatir karena dia takut sesuatu terjadi pada Ani,
Mama Endang menatap Ade dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa dukungannya terimakasih 🙏🙏