Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Keluarga Waluyo sudah mulai tahu kehamilan Ani


__ADS_3

Setelah selesai menelpon suaminya Ani turun kembali kebawah dia ingin memakan buah, karena pagi ini Ani belum makan apapun


Saat Ani sedang mengupas buah dia tak sengaja mendengar pembicaraan mama Endang dan mami Retno


"Jadi bagaimana jeng kapan jeng Endang datang kerumah saya untuk meminang Gita?"


"Nanti secepatnya saya bicarakan kepada Ade dan suami saya jeng."


"Baiklah jeng saya tunggu kabar bahagianya jeng", saya sudah tidak sabar agar kita secepatnya jadi besanan."


"Ya semoga secepatnya ya jeng Retno." Ani berhenti sejenak mengupas buah apel hijau ditangannya saat dia mendengarkan pembicaraan Retno dan mama Endang.


Saat Ani memulai kembali mengupas buah, mbak Dewi datang menghampirinya karena mbak Dewi dari kamarnya habis menidurkan Rafa dan radit


"Lagi ngapain kamu An?"


"Ah, ini mbak lagi ngupas buah" mbak Gita dari mana?"


"Habis nidurin Rafa dan Radit, kamu udah makan An?"


"Belum mbak, nanti saja soalnya Ani belum lapar mbak." Ani beralasan


"Jangan telat makan Ani nanti kamu sakit" oya an kamu udah lama disini?" mbak Gita duduk dan mengobrol dengan Ani di meja makan


"Ani disini baru masuk empat bulan Mbak".


"Ooh... "Kamu berapa bersaudara An?"


"Ani dua bersaudara mbak, Ani anak paling besar dibawah Ani masih sekolah."


"Ya.. ya.. "Bawa ibu dan ayah main kesini An biar mereka nggak suntuk di kebun terus-menerus."


"Iya mbak, sebenarnya Ani sudah sering ajakin mereka tapi ibu dan ayah menolak, mereka lebih betah dikebun." Ani dan Dewi masih asyik mengobrol sehingga menarik perhatian Gita


Kini Gita permisi kepada Tante Endang untuk kekamar mandi dia ingin tahu apa yang di bicarakan antara Ani dan Dewi,

__ADS_1


"Ehemm... Gita mendehem membuyarkan percakapan Ani dan mbak Dewi.


"Lagi ngobrol apa sih mbak kok kayaknya asyik banget." Gita ikut duduk di samping mbak Dewi


"Ah, gak ada git ini lagi lihatin Ani ngupas buah." Dewi hanya menjawab singkat tanpa mencurahkan obrolan mereka tadi, ntah mengapa Dewi lebih asyik mengobrol dengan Ani daripada dengan Gita, karena menurut Dewi Ani bicara apa adanya, lain halnya dengan Gita yang selalu membanggakan diri jika dirinya adalah wanita terpelajar


Gita menatap tidak suka kepada Ani, karena dia melihat Dewi lebih menyukai Ani daripada dirinya. 'Apa sih kelebihannya wanita hutan ini daripada aku, padahal tadi aku mendengarkannya sendiri percakapan mereka itu banyak sekali,tapi kenapa mbak Dewi tidak mau mengatakannya." Gita bicara sendiri dalam hati.


"Oya Gita kamu kan seorang dokter, apakah kamu bisa masak?"


"Sedikit2 bisa mbak,tapi Gita memang harus banyak belajar lagi mbak biar nanti mas Ade betah makan dirumah" hehehe... Gita tertawa dia merasa Dewi juga sudah mulai mendukung hubungannya dengan Ade


"Iya kamu harus banyak belajar memasak, karena wanita itu sehebat apapun karirnya dan setinggi apapun sekolahnya jika dia tidak bisa masak maka dia bisa dikatakan sudah mengingkari kodratnya seorang wanita."


Seketika itu wajah Gita berubah menjadi muram saat mendengarkan kata-kata


Dewi, Gita merasa Dewi sengaja menyindir dirinya, dan Dewi juga membanggakan Ani yang pandai memasak menu apa saja. Gita merasa selalu disinggung oleh Dewi dia segera kembali ke ruang keluarga dimana maminya dan mama Endang sedang mengobrol


Tidak berapa lama gita dan maminya pamit pulang. ditengah perjalanan Gita masih kesal teringat kata-kata Dewi yang mengatakan jika ilmu yang Gita punya tidak berarti jika dia tidak bisa masak


****


Kini tiga hari berlalu semenjak kepergian Ade ke luar kota, rencananya Ade akan tiba nanti malam,. dan siang ini Ani sedang sibuk memasak bersama Mbak Tati untuk menyambut kepulangan Ade atas permintaan mama Endang, rencananya mama Endang akan membahas tentang pertunangan Ade dan Gita segera dilangsungkan.


Saat Ani sedang memotong bawang merah dia sangat mual dan Ani tidak bisa menahannya sehingga Ani segera berlari ke kamar mandi Ani mengeluarkan isi perutnya


"Hoek.. Hoek.. Hoek...


"Kamu kenapa Ani? apakah kamu sedang sakit?" Mama Endang bertanya kebetulan mama Endang sedang mengambil air minum di dapur dia mendengar Ani muntah.


"Nggak apa2 buk Ani hanya masuk angin saja, nanti setelah minum obat akan baik lagi."


"Kalau begitu kamu istirahat saja An, biarkan Tati yang mengerjakannya." Mama Endang menyuruh Ani untuk istirahat, namun saat Ani ingin melangkah ke atas untuk istirahat dia merasakan kepalanya sangat pusing dan tiba2 saja pemandangan Ani buram


Brukk.....!

__ADS_1


Ani pingsan seketika itu juga Tati dan mama Endang mengejar dan memapah Ani untuk diletakkan di sofa ruang keluarga


"Ani, bangun An" mama Endang me memukul pelan pipi Ani tetapi Ani tidak kunjung bangun maka mama Endang segera menelepon dokter keluarganya untuk segera datang.


"Ti, tolong minta minyak angin sama Dewi."


"Baik nyonya". Tati segera menuju kamar Dewi untuk meminta minyak angin


Saat Tati mengatakan bahwa Ani pingsan Dewi segera keluar dan membawa minyak angin,.


"Ani kenapa ma?"


"Mama tidak tahu tadi dia tiba2 pingsan." Dewi duduk disamping Ani dia mengoleskan minyak angin pada hidung Ani, Ani masih belum juga bangun.


Tidak berapa lama Dokter Sinta datang, dia adalah dokter umum di RS keluarga Waluyo. dokter Sinta segera memeriksa Ani dengan alat kedokterannya setelah itu dia memeriksa denyut nadi ditangan Ani.


"Bagaimana dokter dia sakit apa?"mama Endang Segera bertanya karena dia sangat khawatir dengan keadaan Ani.


"Menurut pemeriksaan saya dia sedang hamil nyonya."Tapi untuk lebih jelasnya nyonya bisa memanggil dokter obgin."


"Apaa!! itu tidak mungkin dokter dia tidak mungkin hamil, karena dia belum mempunyai suami."


Dewi dan yang lainnya tidak kalah terkejut mendengar penjelasan dokter Sinta.


"Iya dok, itu tidak mungkin karena dia masih gadis bagaimana dia bisa hamil" mungkin dokter salah, coba dokter periksa sekali lagi." Dewi ikut mengatakan karena dia masih tidak percaya


"Maaf nona Dewi" tapi itu kenyataannya, jika nyonya dan yang lainnya ingin lebih jelas lagi saya sarankan untuk memanggil dokter SpOG." dokter Sinta kembali meyakinkan hasil pemeriksaannya.


"Baiklah kalau begitu telpon dokter Dimas sekarang Wi." Mama Endang menyuruh Dewi menelpon dokter Dimas untuk meyakinkan pernyataan dokter Sinta


Tidak berapa lama dokter Dimas datang, Dimas sangat terkejut mendengar jika Ani hamil, Dimas segera memeriksa Ani yang masih belum sadar, Dimas ingin membuktikan sendiri pernyataan dokter Sinta, Dimas berharap jika itu semua tidaklah benar.


Bersambung...


Jangan lupa like dan juga komentarnya ya biar author semangat up, Terimakasih 🥰🥰🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2