
Sore ini Ade sudah berada di bandara Sultan Syarif Kasim, dia duduk minum teh sambil menunggu pesawat yang ditumpangi keluarganya landing.
Saat Ade sedang menikmati teh hangatnya dia mendengar ada suara seseorang menyapanya suara yang sangat familiar baginya
"Hai mas, udah lama disini?" siapa lagi kalau bukan Gita yang duduk didepannya
Ade heran mengapa Gita berada di bandara.
"Ngapain kamu disini?" Ade bicara dengan Nada dingin
"Santai dong mas nggak usah begitu nada bicaranya" aku tuh kesini mau jemput calon mertua aku."
Ade mengerutkan keningnya mendengar Gita menyebut calon mertuanya. "Emang siapa calon mertua kamu? datang darimana?"
"Dari Singapur" camer aku itu baru selesai operasi jantung, jadi tadi dia nelpon ingin calon mantunya yang jemput."
"Ade yang mendengar jawaban Gita ekspresi wajahnya berubah menjadi kesal
"Dengar Gita stop kamu mengatakan hal itu" karena sampai kapanpun kamu tidak akan pernah menjadi menantu di keluarga Waluyo." Ade menekankan agar Gita bersikap sewajarnya
"Gita yang mendengarkan pernyataan Ade membuatnya tak kalah kesalnya kepada Ade, Gita tidak menyangka bahwa begitu cepatnya Ade melupakan cintanya
"Kenapa kamu sepertinya begitu benci kepadaku mas" kenapa kamu tidak bisa memberikan aku kesempatan untuk memulai kembali hubungan kita dari awal".
"Maaf Gita itu semua tidak bisa!
"Tapi kenapa mas!!?? katakan kepadaku apa alasannya?"
"Berapa kali aku mengatakan kepada kamu, bahwa aku sudah mencintai wanita lain!! jadi tolong berhenti kamu seperti ini karena itu akan membuatmu sakit sendiri."
"Wanita lain? siapa wanita itu mas. siapa!!? Gita meninggikan suaranya karena dia tidak terima kenyataan bahwa kini Ade sudah memiliki wanita lain selain dirinya karena Gita tahu bahwa Ade sangat mencintainya bagaimana bisa Ade secepat itu mendapatkan wanita lain selain dirinya.
"Nanti kamu akan tahu sendiri, aku tidak bisa mengatakannya sekarang."
"Tidak, aku tidak terima mas" aku akan berusaha akan merebutmu kembali dari wanita itu."
__ADS_1
"Jangan gila kamu Gita, aku tidak akan membiarkan itu terjadi" karena bagiku kamu hanya masalaluku."
Gita sangat kesal mendengar kata2 Ade. 'kita lihat saja nanti mas" aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi karena kamu hanya milikku." Gita bicara sendiri dalam hati
Saat mereka sedang bicara terdengar peringatan pesawat yang ditumpangi keluarga Ade akan segera landing, Ade segera menuju dimana keluarganya yang akan turun dari pesawat. Gita juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu dia segera menyusul Ade untuk menyambut kedatangan keluarga Waluyo
Tidak berapa lama yang mereka tunggu sudah turun, Ade segera menyambut kedatangan keluarganya
"Ma, pa" apa kabar? Ade segera mencium tangan kedua orangtuanya,
"Heii! kamu nggak cium tangan mbak mu ini? Dewi segera memberikan tangannya kepada Ade.
"Haii... mbak Dewi!! Ade segera mencium tangan Dewi dan memeluk kakak perempuannya yang nomor dua itu, Ade sangat merindukan kakaknya.
Saat mereka sedang temu kangen, Gita masuk ditengah2 mereka.
"Haii... Tante, Om, mbak" apa kabar?" Gita segera menyalami tangan mereka dan memasang wajah manisnya.
"Haii... sayang" kamu apa kabar? Tante sangat kangen sama kamu." mereka segera cipika cipiki.
****
Kini mereka sudah berada didalam mobil. Gita juga ikut mereka untuk pulang kerumah keluarga Waluyo
"Ditengah perjalanan Ade hanya diam rasanya Ade sangat malas sekali duduk berdekatan dengan Gita, Ade selalu memikirkan Ani, dia takut membuat istrinya salah paham, karena Ade tahu saat ini Gita memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekatkan diri kepada keluarganya.
Kini mereka sudah sampai dan Ani segera menyambut kedatangan keluarga suaminya itu, walaupun tadi Ade melarangnya untuk banyak beraktivitas sebelum dia pergi menjemput keluarganya kebandara.
"Buk, pak" apa kabar? bagaimana keadaan ibuk?" Ani menyalami tangan kedua orang tua Ade.
Ani sangat terkejut saat melihat Gita juga berada di tengah keluarga suaminya itu, Ani menatap Ade untuk meminta jawaban. dan Ade segera menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan nanti dia akan menjelaskan semuanya
"Alhamdulillah Ani, keadaan ibuk sudah mulai membaik" kamu apa kabar? apakah kamu sakit, kenapa Waja kamu pucat sekali?" mama endang memeluk Ani dan memegang wajah Ani karena dia melihat wajah Ani sangat pucat
"Alhamdulillah Ani baik2 saja buk."
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau kamu baik2 saja" Oya An, kenalkan ini mbak Dewi kakak Ade yang nomor 2." mama endang memperkenalkan Dewi kepada Ani
"Haii... mbak Dewi apa kabar?" Ani segera mencium tangan Dewi
"Alhamdulillah mbak baik An" Ooo jadi ini yang namanya Ani" kamu cantik banget." Dewi menyambut baik kehadiran Ani dan memuji kecantikan Ani.
"Gita yang menyaksikan dari tadi kedekatan keluarga Ade kepada Ani dia merasa kesal. 'Apa sih kelebihannya pembantu ini sehingga mereka menyukainya." Gita bicara sendiri dalam hati
***
Kini mereka sudah berada di meja makan, karena sebelum mereka datang Ani dan mbak Tati sudah menyediakan menu makan malam untuk keluarga Waluyo, walaupun Ani menahan rasa mualnya saat mencium bau aroma masakan, tapi dia tetap kuat dan semangat untuk menyambut keluarga suaminya itu.
Setelah selesai makan mereka duduk diruang keluarga untuk mengobrol, Ani membawakan potongan buah untuk keluarga suaminya, karena itu sudah menjadi kebiasaannya setelah makan Ani akan memotongkan buah2an untuk pencuci mulut.
Setelah meletakkan potongan buah itu Ani segera ingin beranjak untuk kembali ke kamarnya untuk istirahat namun mama Endang
menahan Ani agar Ani ikut duduk bersama mereka, karena bagi mama Endang Ani sudah menjadi bagian keluarganya.
Saat mereka tengah ngobrol mama Endang kembali menanyakan tentang keseriusan hubungan Ade dan Gita
"Gita bagaimana sekarang apakah kalian sudah punya rencana?"
"Maksud Tante apa ya?" Gita pura2 tidak mengerti padahal dia sudah tahu arah pembicaraan mama Endang.
"Gita seperti yang Om tanyakan kemaren, apakah kalian sudah punya rencana untuk melanjutkan hubungan kalian ke pernikahan?" kini papa Ari yang menjawab pertanyaan Gita
" Oh kalau soal itu Gita serahkan semuanya kepada mas Ade saja Om", karena sekarang Gita sudah siap untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius."
Ani yang berada ditengah-tengah mereka rasanya tidak sanggup mendengarkannya, Ani segera pamit uy kembali ke kamarnya
"Buk, Ani pamit mau ke kamar dulu Ani udah ngantuk banget." Ani beralasan
Ani segera beranjak dari tempat duduknya, saat Ani melewati kamar mbak Dewi Ani melihat mbak Dewi sedang kewalahan mengurus kedua anak2nya yang masih balita
"Mbak Dewi lagi ngapain mbak? apakah mereka rewel?" Ani memberanikan diri untuk bertanya walaupun dia baru mengenal mbak Dewi tapi Ani merasa mbak Dewi juga sangat baik seperti mama Endang
__ADS_1
Bersambung...