
"Apa itu syaratnya mas?" Ani menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.
"Syaratnya pagi ini mas dibolehin menemui my baby ya?" Ade tersenyum nakal kepada Ani.
"Ih.. apa sih mas!" jangan cari kesempatan deh, ini masih pagi mas." wajah Ani berubah menjadi merah padam, ntah kenapa dia masih saja malu saat suaminya bicara mesum dihadapannya.
"Ya nggak apa-apa pagi sayang!" biar mas kerjanya lebih semangat lagi" soalnya mas udah kangen sama baby kita." Ade segera mengecup perut Ani yang sudah mulai padat itu.
"Udah deh mas, nggak usah beralasan kangen segala sama si adek, bilang aja mas pengen." Ani memanyunkan bibirnya.
..."Hehehe...boleh ya sayang? soalnya tadi malam kamu tidurnya terlalu cepat sayang ya boleh ya." Ade menatap istrinya itu dengan wajah melasnya...
Ani yang melihat suaminya memohon, maka dia tidak tega,lagi pula dia takut berdosa jika menolak kewajibannya.
"Ya baiklah tapi sebelum itu mas harus bersihkan dulu barang2 Gita yang masih mas simpan setelah itu baru kita mulai." Ani menaikan alisnya dan tersenyum kepada Ade,
"Aduh sayang, kalau itu kelamaan ntar aja ya lihat nih udah nggak sabar." Ade mengambil tangan Ani dan mengarahkan kebagian bawah perutnya. Ani merasakan ada benda keras di balik celana kain milik suaminya itu.
"Mas!" Ani mencubit pinggang Ade dan menggelitik nya.
Ade tertawa tak henti2nya, dia merasa puas sekali mengerjai istrinya itu, wajah Ani benar2 merah seperti bara api.dan Ade segera membawa Ani kedalam pelukannya.
****
Sementara itu dikamar Endang
Dia duduk sendiri sambil menatap jauh ke depan, Endang kembali mengingat semua kata2 Sari, dan juga penjelasan dari Ade.
"Apakah aku memang sudah kelewatan? aku telah menyakiti perasaan Sari, jika memang benar Ade bahagia menikah dengan Ani, kenapa aku tidak memberi dukungan kepada mereka bukankah aku dan mas Ari sudah berprinsip aku akan memberi dukungan untuk kebahagiaan anak2ku dan kedudukan bukanlah terpenting, yang jelas dia wanita baik dan juga mempunyai akhlak, dan aku juga sudah mengenalnya dia adalah wanita yang baik dan berakhlak mulia."
"Ya, Allah ampunilah aku! padahal engkau telah memilihkan putraku jodoh yang terbaik. maafkan aku ya Rabb, karena tidak bersyukur dengan pemberianmu."
"Aku akan meminta maaf kepada Sari." setelah tenang dan berpikiran jernih, Endang keluar dari kamarnya dia ingin menemui Besannya itu untuk meminta maaf.
Saat Endang melewati kamar Ade, dia mendengarkan Ade tertawa begitu keras suaranya, sehingga Endang dapat mendengarkan dari luar.
"Ternyata anak ini, benar2 bahagia semoga kalian tetap bahagia nak, Do'a mama selalu menyertai." Endang segera berlalu dia segera menuju kamar Sari, tetapi kamar itu tertutup maka dia urungkan niatnya
"Nanti sajalah aku minta maafnya, mungkin Sari sedang istirahat." dia kembali menuju kamarnya .
***
Sementara itu di tempat lain.
"Bu, aku tinggal dulu ya? aku mau antarkan sewa pagi ini, nanti kalau ibu perlu sesuatu ibu minta tolong sama suster saja! aku tidak lama kok, nanti siang aku sudah kembali." Raysa mencium tangan ibunya.
"Iya kamu hati2 ya nak."
__ADS_1
"Iya Bu,aku pamit ya."
Raysa segera keluar dari RS itu, setibanya di luar dia bingung kemana harus mencari uang untuk biaya operasi cangkok ginjal ibunya itu, sementara itu dia telah menjual sepeda motor maticnya untuk biaya rawat inap ibunya di RS , dan sekarang dia harus mencari pekerjaan.
Kini Raysa menuju untuk pulang terlebih dahulu, dia ingin mandi untuk menyegarkan pikirannya, setelah itu dia akan mencoba melamar pekerjaan, walaupun hanya bermodalkan ijazah SMA, yang penting dia bisa menghasilkan uang.
Saat dia baru tiba didepan rumahnya dia mendapat telepon dari pihak RS.
"Selamat pagi buk" apakah ini benar dengan Ibuk Raysa, anak dari pasien bernama wildayanti?"
"Ah ya, dengan saya mbak,ada apa ya?"
"Begini buk keadaan pasien sedang kritis, dan dokter ingin bicara dengan Ibuk, bisa Ibuk datang ke RS sekarang?"
Deg!
Jantung Raysa terasa berhenti berdetak,dan bumi berhenti berputar saat dia mendengarkan kabar ibunya kritis di RS.
"Ba- baik mbak, saya segera kesana." Raysa tak kuasa menahan air matanya,dia segera kembali untuk menuju RS.
"Eh, Sa kamu pulang? bagaimana keadaan ibumu?" Raysa berpapasan dengan ibu Lilis ketika dia hendak kembali ke RS.
"Ibu sedang kritis buk." lirih Raysa sambil menahan air matanya.
"Ya Allah..Yasudah ayo kita ke RS sekarang." Bu Lilis segera ikut ke RS untuk melihat keadaan Wilda.
"Bagaimana keadaan ibu saya Dokter?"
"Raysa, kami sudah tidak bisa menunggu lagi, ibu anda harus menjalani operasi sekarang."
"Dokter, apakah tidak bisa ambil tindakan sekarang dan saya berjanji akan segera melunasi biaya operasi ibu saya dok! Saya mohon Dokter." Raysa tak kuasa menahan tangisnya sehingga dokter yang bernama Angga itu menatap iba kepadanya.
"Baiklah saya akan menelpon direktur utama RS ini, tunggulah sebentar."
Tidak berapa lama telpon tersambung dan Dr Angga bicara kepada atasannya siapa lagi kalau bukan Dr. Ade Hermawan Waluyo.
"Selamat siang Dr Ade?"
"Ya siang kembali ngga ada apa?"
"Begini Dr, ada seorang pasien yang kritis, kami tim dokter akan segera mengambil tindakan operasi cangkok ginjal, dan sementara keluarga pasien belum bisa membayar biaya operasi cangkok ginjal ibunya tetapi dia berjanji akan segera melunasinya."
Ade terdiam sejenak mendengar penjelasan dari Dr Angga, dia menimbang kembali semua penjelasannya.
"Apakah dia dari kalangan orang berkelas?"
"Tidak sama sekali Dokter." Angga hanya menjawab singkat tapi padat, agar Ade mengerti dan Raysa tidak tersinggung.
__ADS_1
"Baiklah lakukan tindakannya sekarang, dan berikan semua laporan kepada Dr Dimas karena saya hari ini tidak ke RS."
Ade memberi izin untuk melakukan tindakan, karena itu sudah komitmennya bersama papa Ari, agar mementingkan pasien yang tidak mempu, Ade sengaja menanyakan dari kalangan apa setiap pasien kritis, karena jika mereka kaya tentu saja mereka mampu dan apa alasannya mereka tidak bisa membayar biaya rumah sakit.
"Baiklah Dokter." Angga memutuskan telpon dari atasannya.
"Baiklah Raysa, kami akan melakukan operasinya sekarang, ini adalah operasi besar maka akan memakan waktu selama 8 jam kamu banyak2lah berdo'a.
Raysa menghapus air matanya, dan dia sangat lega akhirnya ibunya bisa melakukan operasi sekarang.
"Dokter, terimakasih banyak saya tidak tahu harus berkata apa, yang jelas saya sangat berterima kasih dengan segala kebaikan Dokter, dan saya tidak akan pernah melupakan ini semua."
"Sama2 Raysa, semoga operasi ini berjalan lancar." Angga menatap senyum di bibir Raysa, rasanya ada kebahagiaan tersendiri saat melihat senyuman itu.
"Aamiin ya Allah!" Raysa kembali tersenyum kepada dokter Angga.
Setelah bicara dengan dokter Angga,Raysa kembali menemui ibunya yang tidak sadarkan diri.dia menatap wajah ibunya dengan dalam, ada rasa takut dan gelisah tetapi Raysa mencoba untuk setenang mungkin, dia tidak ingin terlihat lemah didepan ibunya dia harus kuat.
"Bagaimana Raysa, apa yang dikatakan dokter?"Bu Lilis bertanya
"Dokter akan melakukan operasinya sekarang Buk, aku bisa minta tolong nggak sama Ibuk?"
"Apa itu Sa? katakanlah selagi bisa ibu akan bantu."
"Tolong jagain ibu saat dia menjalani operasinya, aku tidak bisa menemani, karena aku harus mencari pekerjaan saat ini juga buk."
"Baiklah nak, Ibuk akan menemani ibu kamu tapi kemana akan kamu cari uang sebanyak itu Sa? andai saja ibuk bisa bantuin kamu,tapi kamu juga tahu kalau ibuk tak punya apa2."
"Sudahlah buk, Ibuk tidak usah pikirkan itu, aku akan berusaha semampuku kalau begitu Aku pergi dulu ya buk, aku titip ibu?" Raysa menyalami tangan buk Lilis dia segera pergi.
***
Kini Raysa kembali dengan rencana awalnya, setelah mandi dan menyegarkan pikirannya, dia segera bersiap untuk mencari pekerjaan.
Kini dia memasuki sebuah restoran dan dia mencoba melamar pekerjaan namun mereka sudah tidak menerima karyawan lagi. dan Raysa kembali mencari2, rasanya setiap kantor maupun toko2 yang ada di kota bertuah itu sudah dia masuki tapi mereka semua mengatakan tidak menerima karyawan.
"Ya Allah, kenapa susah sekali mencari pekerjaan, andai saja motorku masih ada maka aku tidak akan seperti ini paling tidak aku masih punya penghasilan."
Kini Raysa duduk di depan sebuah cafe mewah. tanpa sengaja dia melihat temannya bersama seorang laki2 mereka bergandengan tangan keluar dari cafe itu.
"Reni..?
Raysa segera memanggil dan menghampiri temannya itu. ya, Reni adalah teman sesama ojolnya, tapi sudah beberapa bulan ini dia tak lagi menjadi driver karena dia menghilang tanpa kabar.
"Eh Raysa? kamu ngapain disini?" dia menatap Raysa dengan aneh.
Bersambung...
__ADS_1