Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Masih berseteru


__ADS_3

Kata2 Dimas kembali membuat hati Raysa sakit,dia segera berlalu dari hadapan Dimas tanpa menanggapi kata2 yang Dimas lontarkan


Setelah selesai mengantarkan semua piring yang berisi makanan itu,kini Raysa kembali mendorong rak kosong itu untuk membawa kembali ke dapur RS, tetapi langkahnya kembali terhenti saat dia melihat Dimas baru saja keluar dari salah satu kamar pasien rawat inap yang ada di hadapannya.


Kembali Indra pengelihatan mereka bertemu, dan Raysa sangat gugup saat melihat langkah kaki itu mendekati dirinya.


"Bagaimana dengan tawaran yang aku berikan kemarin? apakah kamu setuju?"


Dimas kembali menanyakan tentang itu lagi,dia sangat membenci gadis dihadapannya itu, tetapi dia juga tidak rela jika gadis itu dibayar oleh orang lain, Dimas saat ini tidak bisa memahami perasaannya sendiri, ntah apa yang terjadi pada dirinya,mungkinkah dia telah terlanjur mencintai gadis berlesung pipi itu?


Raysa menatap Dimas dengan rasa benci, lelaki itu masih saja merendahkan dirinya, air matanya kembali ingin jatuh tetapi segera dia hapus dengan jari mulusnya,kali ini dia tidak ingin mengalah lagi.


"Berapa kau ingin membayarku?"


Dimas tersenyum sinis 'ternyata kamu hanya wanita munafik, sekali kamu menjual tubuhmu maka akan seterusnya begitu!' Dimas bicara sendiri dalam hati.


"Aku akan bayar berapa yang kamu mau." Dimas menantang dengan sombong.


"Baiklah, aku akan menerima tawaranmu asalkan kamu memberikan semua hartamu tanpa ada tersisa sedikitpun!"


Dimas terpaku saat mendengar jawaban yang Raysa berikan.


"Kenapa? kamu tidak sanggup kan? lebih baik sekarang kamu cari jal**g diluaran sana yang sesuai dengan bajet yang telah kamu tentukan!"


Raysa tersenyum dia merasa puas telah membalas perkataan Dimas,dan dia segera berlalu dari hadapan dokter Tampan yang bermulut pedas itu, tetapi lengannya segera ditarik oleh Dimas


"Dengar! aku akan memberikan semua hartaku untukmu, asalkan kamu bisa menjadi budak nafsuku!" Dimas kembali mengeluarkan kata-kata kasarnya, dia semakin membenci wanita dihadapannya itu karena dia merasa Raysa adalah wanita materialisme


Duaarr...!


Kembali seperti disambar petir disiang bolong saat mendengar kata-kata Dimas,dan matanya sudah memerah air matanya kembali jatuh.


"Dengar! aku tidak Sudi menjadi wanita jal**gmu, kau adalah laki2 yang tak mempunyai perasaan dan aku benar-benar membencimu!!"

__ADS_1


Raysa bicara ber api-api sambil menunjuk wajah Dimas,dan segera berlari meninggalkan Dimas yang masih diam terpaku saat melihat kemarahan gadis ber lesung pipi itu.


Banyak pasangan mata yang melihat perseteruan mereka, dari para pasien maupun staf2 di RS itu sendiri, mereka melihat heran karena Dimas yang selama ini begitu ramah dan humoris terhadap siapapun, tetapi belakangan ini sikapnya berubah menjadi dingin tidak seperti biasanya.


***


Setelah Raysa pergi,Dimas kembali menuju ruangannya, dia duduk sambil memijit pelipisnya dan kembali mengingat semua kata2 Raysa tadi.


"Kenapa dia begitu marah? apakah kata2 aku sudah keterlaluan? kenapa hatiku terasa dicubit saat melihat gadis itu menangis."


Dimas keluar dari ruangannya dan dia Segera menuju dapur RS.


"Selamat pagi Dokter Dimas? apakah ada yang bisa kami bantu?"


Para karyawan yang berada di dapur itu menyapa dengan ramah, karena itu suatu keberuntungan bagi mereka karena dapat bertemu dengan wakil direktur RS itu.


Dimas tidak menjawab pertanyaan mereka, netra pengelihatannya sedang sibuk memperhatikan di setiap ruangan dan dia berharap dapat melihat sosok yang sedang dia cari.


"Oh Raysa nya sedang mengantarkan jatah makan pasien dok, dilantai 2."


"Sejak kapan dia bekerja di RS ini?" Dimas kembali bertanya karena dia masih penasaran.


"Sudah lima hari yang lalu Dok,dia titipan dari dokter Angga." kepala koki RS itu memberi tahu tentang Raysa.


"Apa? titipan dokter Angga?!" Dimas sedikit meninggikan suaranya, karena dia masih belum percaya, ada hubungan apa Raysa dan Dr Angga sehingga Angga membantu Raysa untuk bekerja di RS itu.


"Iya Dok, karena dokter Angga yang bertanggung jawab jika sesuatu terjadi pada Raysa saat menjalankan tugas di RS ini, karena Dr Angga meminta agar Raysa segera di pekerjakan tanpa melalui proses interview dan training terlebih dahulu."


Dimas masih mendengarkan semua penjelasan dari kepala Koki di RS itu, dia semakin mencurigai Dr Angga.


'Aku harus mencari tahunya sendiri! Dimas bergumam dalam hati, dan dia segera pergi tanpa bicara apapun kepada para karyawan yang berada di dapur itu.


***

__ADS_1


Sementara itu Raysa masih menangis sendiri di ujung koridor rumah sakit itu, dia tidak menghiraukan banyak mata yang melihat dirinya dan bermacam dari tatapan mereka,ada yang iba ada pula yang mencibir dengan sinis kepadanya.


"Maaf mbak, apakah mbak ada masalah?" terdengar suara seorang wanita menyapa dirinya sambil mengusap lembut bahunya.


Raysa segera menenggadah dan melihat sumber suara yang begitu lembut dan bisa membuat hatinya nyaman.


Dia terperanjat saat melihat wanita yang berada di samping nya itu dan wanita itu juga tak kalah terkejutnya saat melihat dirinya.


"Maaf Mbak apakah mbak bekerja di RS ini? tapi kenapa mbak menangis apakah ada masalah dipekerjaan Mbak?" Ani mencoba bersikap biasa saja walaupun hatinya penuh tanda tanya karena dia merasa wajahnya dan wanita yang berada dihadapannya itu sangat mirip.


"Ah tidak mbak, tidak ada masalah apa2." Raysa segera menghapus sisa air mata di pipinya,dia bersikap baik2 saja di depan wanita yang sangat mirip dengannya itu, dia bertanya2 dalam hati siapa wanita itu.


"Sayang! udah siap ke toiletnya? kok lama banget kamu sih? kan tadi mas bilang ke toiletnya di ruangan mas saja." tiba-tiba Ade datang diantara percakapan mereka.


"Ah iya mas,ini Ani udah selesai kok."


Ani sengaja datang ke RS bersama Ade karena dia akan memeriksa kandungannya tetapi saat ingin naik lift dia kebelet ingin buang air kecil dan dia minta suaminya untuk pergi terlebih dahulu naik ke lantai 2 tempat praktek suaminya.


"Ya sudah ayo pergi sekarang, mas harus periksa kamu terlebih dahulu sebelum para pasien datang!" Ade segera membimbing tangan Ani untuk pergi.


"Tunggu sebentar mas!" Ade mengerutkan keningnya melihat tingkah istrinya itu.


"Ah Mbak, perkenalkan nama saya Maharani biasa dipanggil Ani,dan ini suami saya Ade." Ani mengulurkan tangannya karena tadi dia belum sempat berkenalan dengan wanita yang sangat mirip dengannya itu.


Raysa segera menjawab uluran tangan Ani dan dia segera menyebutkan namanya.


"Nama saya Raysa mbak." dia tersenyum ramah kepada Ani dan juga Ade.


Ade menatap wanita yang berada di hadapannya itu, dia juga terkejut melihat wajah Raysa yang sangat mirip dengan wajah Ani.


"Oh.. nama mbak Raysa ya." ada rasa kecewa dihati Ani saat mengetahui nama wanita yang mirip dengannya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2