Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Tugas baru untuk Bayu


__ADS_3

Setelah mendengarkan cerita masa lalu mertuanya itu, kini Ade baru mengerti jika istrinya itu kembar.


"Jadi siapakah yang lebih tua Bu? Ana atau Ani?" Ade kembali menanyakan kepada ibu mertuanya.


"Ana yang lahir terlebih dahulu, mereka hanya berjarak 30 menit! tapi ibu tetap mengajarkan Ani untuk memanggil kakak kepada Ana."


***


Kini hari sudah mulai sore, setelah lama rasanya mereka berbincang-bincang tentang masa lalu Besannya itu, keluarga waluyo segera pamit untuk pulang.


"Kalau begitu kami pamit dulu, dan sekarang masalah kebun saya serahkan kepadamu Bayu,!tolong kamu urus semua perkebunan! kamu kan tahu saya sangat sibuk dengan perusahaan, dan Ade juga sibuk di RS jadi kini masalah kebun jadi tanggung jawabmu."


"Tapi mas, saya.."


"Sudahlah Bayu! saya mempercayai kamu untuk menjadi wakil saya dalam mengurus perkebunan,kamu tinggal memberikan laporan kepada saya."


Bayu masih bingung dia takut mengambil tanggung jawab besar yang diberikan oleh Besannya itu.


"Sudahlah Ayah, lebih baik ayah terima saja tugas yang diberikan oleh papa! dan ayah tidak perlu khawatir jika ada sesuatu yang ayah tidak mengerti nanti Ade bantu untuk memberitahukan kepada ayah!" Ade mencoba meyakinkan ayah mertuanya.


"Iya Bayu kamu terima saja tugas yang diberikan oleh mas mu itu! kami percaya jika kamu pasti bisa." Endang juga ikut memberi semangat.


"Baiklah kalau begitu akan saya coba untuk meng emban amanah yang mas berikan! tapi saya juga ingin menyampaikan, jika saya tidak sanggup maka akan saya kembalikan lagi kepada mas Ari, karena saya tidak bisa menjalani tugas yang diluar kemampuan saya!"


"Oke, saya tidak keberatan, tapi saya yakin kamu pasti bisa!"


Akhirnya Bayu menerima permintaan Ari menjadi wakilnya untuk mengurus lahan sawit milik keluarga waluyo.


***


Kini Ade dan kedua orangtua sudah berada di perjalanan, karena setelah Bayu menerima tugas dari Ari maka mereka segera pamit untuk pulang.


Ditengah perjalanan ponsel Ade berdering dia melihat siapa yang VC dan ternyata istrinya, Ade segera menggeser tanda camera.


"Assalamualaikum mas?"

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam salam sayang! kok tumben kamu telpon? kangen ya?" Ade tersenyum sambil menggoda istrinya.


"Iyaa! Ani kangen banget sama kamu mas." Ani tidak tahu jika ada kedua orangtua suaminya di dalam mobil yang dikendarai oleh suaminya.


"Masa sih? coba bilang sekali lagi mas kurang jelas mendengarnya!" Ade kembali menggoda Ani.


Sementara Papa dan mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya itu.


"Iiihh...! nggak mau mas bohong bilang nggak jelas." Ani memasang wajah ngambek.


"Iya-iya, mas Dengar kok! udah nggak usah ngambek gitu dong! malu tuh di lihat mama dan papa." Ade mengarahkan camera ponselnya kepada papa dan mamanya.


Seketika itu Ani salah tingkah dan wajahnya memerah, rasanya dia ingin mematikan sambungan telepon dari suaminya saat itu juga, dia sangat malu.


"Ma.. maaf pa!" Ani merasa sangat tidak enak, karena dia takut dibilang menantu tidak sopan dan berakhlak.


"Hahaha... tidak apa-apa Ani, sudahlah wajahnya jangan di tekuk begitu! Santai saja karena papa dan mama juga pernah muda seperti kalian dulu, apakah kamu ingin bicara sama Mama?"


Ari tahu jika menantunya sedang malu karena ulah anaknya itu,


Ani segera memutuskan telpon dari suaminya, dia bukan tidak ingin bicara dengan mama mertuanya,tapi Ani masih takut jika mamanya akan bersikap dingin dengannya, dan Ani belum tahu jika Endang sudah bisa menerima dirinya sebagai menantu.


***


Sementara di tempat lain.


Kini sudah 2 hari setelah operasi cangkok ginjal Ibu Wilda, dan semua berjalan dengan lancar, kini keadaannya sudah mulai membaik hanya tinggal pemulihan saja.


"Bagaimana keadaan ibu? apakah ada yang sakit ibu rasakan?" Raysa menanyakan keadaan ibunya, karena seharian ini dia sibuk dengan aktivitasnya, karena ini adalah hari pertama Raysa bekerja di sebuah cafe tidak jauh dari RS tempat ibunya dirawat, karena kemaren saat dia membeli makanan dia tidak sengaja membaca di cafe itu membuka lowongan untuk menjadi pelayan, dan Raysa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan akhirnya dia diterima bekerja.


"Tidak nak, ibu sudah merasa baik! jadi kapan kita akan pulang?" Wilda ingin cepat pulang karena dia sudah merasa lebih baik karena nafasnya tidak sesak lagi.


"Tunggu ya Bu, nanti akan Raysa tanyakan kepada dokter Angga, ibu sabar ya?" Raysa mencium pipi ibunya.


"Terimakasih ya nak, kamu sudah banyak berkorban untuk ibu! maaf jika ibu Sudah merepotkan kamu."

__ADS_1


"Ya Allah Bu, kenapa ibu bicara begitu? aku tidak merasa ibu repotkan sama sekali!"


"Tapi kemana akan kamu Carikan uang sebanyak itu untuk membayar hutang dengan temanmu itu Raysa?"


Ya, Raysa mengatakan jika uang yang dia dapatkan untuk biaya operasi ibunya adalah dapat pinjaman dari temannya orang kaya.


"Sudahlah ibu tidak usah pikirkan itu! sekarang aku kan sudah bekerja, jadi nanti bisa hutangnya aku cicil Bu, mulai sekarang ibu jangan berpikiran jika aku repot gara2 ibu! apakah ibu tahu? apa yang aku lakukan saat ini belum bisa membalas setetes keringat ibu saat melahirkan aku! Dan aku masih ingin berbuat banyak untuk ibu! Dan ibu jangan sakit lagi ya?"


Wilda tak bisa menahan tangisnya, dia segera memeluk gadis yang sedari kecil dia besarkan itu, semua rasa bercampur dalam hatinya.


'Jika kamu tahu yang sebenarnya mungkin rasa sayangmu akan menjadi benci nak." Wilda bergumam sendiri dalam hati.


"Yasudah ibu jangan nangis lagi ya? aku mau menemui dokter dulu, ibu tunggu sebentar ya." Raysa segera beranjak untuk menemui dokter yang menangani ibunya.


"Permisi Dokter! apakah saya bisa bicara sebentar?"


"Hai Raysa! tentu saja bisa, ayo silahkan duduk." dokter Angga mempersilahkan Raysa duduk dengan senang hati.


"Bagaimana kondisi ibu saya sekarang dokter?"


"Kondisi ibu kamu semakin hari sudah semakin baik."


"Jadi kapan saya bisa membawa ibu untuk pulang Dok?"


"Begini Sa, lebih baik ibu kamu disini dulu untuk 5 hari kedepan karena saya harus benar-benar memastikan bahwa kondisi beliau memang sudah membaik, dan kamu juga tahu bahwa ibu kamu sekarang dalam masa pemulihan pasca operasi cangkok ginjal, jadi saya harus memastikan jika ginjal baru ibumu itu bisa berfungsi dengan baik di tubuh beliau!"


"Baiklah kalau begitu Dok." Raysa mulai berpikir kembali kemana uang harus dia cari untuk biaya rawat inap ibunya 5 hari kedepan.


"Raysa kamu tidak perlu khawatir dengan biaya rawat inap ibu untuk 5 hari kedepan, saya yang akan menanggung." Dr Angga tahu jika Raysa sedang memikirkan biaya rawat inap ibunya.


"Tapi Dok, saya tidak enak karena sudah merepotkan dokter."


"Sudahlah kamu jangan bicara begitu, saya ikhlas membantu kamu!" Angga menatap Raysa dengan dalam, ntah kenapa wanita itu selalu hadir dalam fikirannya.


Bersambung...

__ADS_1


Yuk komen agar Author update lagi~


__ADS_2