Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Berusaha sabar


__ADS_3

"Tidak.itu tidak perlu." Raysa segera masuk tanpa melihat Dimas yang sedang memperhatikan dirinya.


"Kamu tidur dikamar ku saja. sekarang kamu mandi setelah itu aku akan siapkan makan malam." Dimas segera berlalu dari hadapan Raysa.


"Apakah kita satu kamar?!"pertanyaan Raysa membuat langkah Dimas berhenti dan menoleh ke arah suara itu. Raysa sengaja menanyakannya karena dia melihat hanya ada satu kamar di dalam apartemen mewah itu.


"Apakah kamu ingin kita tidur berdua? jika kamu mau aku sangat senang sekali." Dimas tersenyum menggoda Raysa. dan sontak membuat Raysa gelagapan.


"Ti-tidak. aku tidak mau tidur denganmu." Raysa segera masuk kedalam kamar milik Dimas.


Kini Rasya telah berada di kamar yang ukurannya sangat luas itu. dan aroma parfum khas yang biasanya Dimas gunakan menyeruak di Indra penciumannya. dia begitu nyaman mencium aroma parfum itu.


Raysa memperhatikan desain kamar tidur itu.manly sangat mendominasi tidak ada sentuhan feminim sedikitpun. mungkin Dimas sengaja mendesain kamarnya seperti itu. sesuai dengan sifatnya yang dingin dan sedikit arogan. itulah pikiran yang ada dalam benak Raysa tentang Dimas.


"Sekarang kamu tidur disini. jika kamu ingin ganti baju. ruangannya ada disana. dan disana sudah ada baju ganti untukmu." Dimas menunjuk sebuah ruang ganti yang ada di dalam kamar itu. Suara Dimas sontak kembali membuat Raysa terkejut. "Kok kamu bisa masuk?"


"Ya tentu saja bisa. karena tadi kamu tidak mengunci pintunya. dan jika aku tidak masuk tentu saja kamu akan bingung melihat kamar ini."


"Raysa, kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan menyentuh kamu dan juga menyakitimu. aku hanya ingin menjaga dan melindungi kamu dan juga bayi itu." Dimas bicara dengan suara lembut dan menatap wajah Raysa dengan penuh cinta. dia ingin sekali memeluk wanita cantik berlesung pipi itu. karena dia sangat merindukan gadis itu.


Raysa hanya diam tanpa membalas semua ucapan Dimas. dia segera mengalihkan pembicaraan. "Apakah di sini cuma ada satu kamar?"


"Ya. hanya ada satu kamar tidurku."


"Tapi ruangan ini cukup luas. kenapa hanya ada satu kamar saja? apakah tidak ada tamu dokter datang kesini?"

__ADS_1


"Ada. tapi tidak ada yang datang untuk menginap. karena aku tidak mengizinkannya."


"Tapi jika aku tidur disini. terus dokter mau tidur dimana?" Raysa mulai sedikit menghawatirkan Dimas.


"Kenapa? apakah kamu sudah mengizinkan aku untuk tidur satu ranjang denganmu? kan sekarang kita sudah suami istri?"


"Nggak aku nggak mau. dokter harus ingat!kita akan berpisah setelah anak ini lahir."


Kata-kata Raysa kembali membuat hati Dimas sakit. tetapi dia menyadari untuk saat ini dia harus menanamkan rasa sabar yang cukup untuk menghadapi Raysa. "Aku tidak akan membiarkan kamu pergi meninggalkan aku dan anak kita Sa" Dimas bergumam dalam hati.


"Ah, maaf aku hanya bercanda. kamu tidak perlu memikirkan aku. karena aku bisa tidur dimana saja. ayo sekarang kamu mandi. aku akan menunggu kamu di meja makan." Dimas segera keluar dari kamarnya.


Kini tinggal Raysa sendiri di kamar itu. dia kembali teringat ucapan Dimas tadi. "Ah aku tidak boleh percaya begitu saja dengan ucapannya. karena sikap dia sekarang berbeda dengan yang biasanya. pasti itu hanya dusta."


Tok..tok..!


"Sa, kamu udah selesai belum? aku udah siapin makan malam nih!


"Ah, iya bentar lagi siap." Raysa menjawab sambil segera meletakkan botol parfum itu.


"Aduh, gimana ini? ngapain juga aku pakai nih parfum. ntar kalau dia tahu gimana? apa aku harus mandi lagi. tapi aku suka wangi parfum ini.biarin ah." Raysa segera keluar karena dia juga sudah lapar.


***


"Duduklah. kamu mau makan apa?" Dimas berdiri disamping Raysa ingin mengambilkan makan untuk Raysa.

__ADS_1


"Ah, tidak usah Dok. biar aku ambil sendiri." tolak Raysa. sebenarnya dia merasa tidak enak karena sekarang Dimas memperlakukannya bak seorang putri raja.


"Baiklah. kamu harus makan yang banyak agar kamu dan bayi kita sehat."


Kata2 Dimas kembali membuat perasaan Raysa gelisah. dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. apakah pernikahannya sekarang benar nyata atau hanya untuk sementara.


Kini mereka makan dengan tenang. tidak ada suara hanya dentingan sendok yang saling bersautan.


"Ehemm.. apakah kamu menyukai bunga oriental? atau bunga Dahlia?" pertanyaan Dimas membuat sendok di tangan Raysa berhenti saat ingin masuk ke mulutnya.


"Bagaimana aku menyukai bunga itu sedangkan aku saja tidak tahu seperti apa rupa dari bunga yang dokter maksud." Raysa menjawab dengan polosnya karena dia memang tidak tahu seperti apa kedua bunga itu.


Dimas mengangguk. "jika kamu tidak tahu dengan bunga itu apakah kamu tahu dengan aromanya?" kembali pertanyaan Dimas membuat Raysa bingung.


"Dokter gimana sih. sedangkan dengan bunganya saja aku tidak tahu bagaimana dengan aromanya."


"Tapi aku mencium bau aroma bunga itu disini." kata2 Dimas membuat wajah Raysa memerah dan dia menyadari kemana arah pembicaraan Dimas. teryata aroma parfum yang dia suka itu adalah bunga yang Dimas bicarakan itu.


"Ah, maaf Dok. aku tadi menggunakan parfum dokter tanpa izin." Raysa tertunduk malu.


Dimas tersenyum melihat tingkah istrinya itu. walaupun istrinya itu sedang marah kepadanya tetapi dia masih tidak lupa meminta maaf jika melakukan kesalahan. padahal Dimas tidak menganggap itu suatu kesalahan bahkan dia senang jika Raysa memakai barang miliknya.


"Raysa, aku tidak marah. bahkan aku senang jika kamu juga menyukai aroma parfum yang sama denganku. mulai saat ini kamu bisa memakai dan menikmati apapun yang ada di apartemen ini. karena apapun milikku kini juga menjadi milikmu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2