Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Gara-gara sepasang sendal jepit


__ADS_3

Kini Ade sudah berada di ruangan Dimas. padahal jam makan siang masih tiga puluh menit lagi. tetapi Ade sengaja datang lebih awal karena dia ingin mendengarkan penjelasan dari Dimas.


"Kamu kenapa sih sekarang udah seperti Mak-mak?" kesal Dimas melihat Ade udah nongol dijam segini.


"Hahaha.... sabar BESTie jangan marah2 gitu dong. aku kan udah pernah bilang jika soal kamu maka jiwa ke kepoan ku melebihi mak2."


"BESTie? woi Yanto nggak usah ikut2an ngomong gitu ya kamu. Udah tua juga! dan kata2 itu sering digunakan oleh para cewek gaul. nggak usah lebay gitu kamu geli aku dengarnya!" ejek Dimas sambil tertawa kecil


Ade bangun dari tempat duduknya dia berjalan mendekati Dimas yang masih sibuk dengan pekerjaannya di depan layar datar itu.


Click!


tiba-tiba layar datar di depan Dimas itu mati. Dimas segera menatap Ade "Kenapa kamu matikan De? ya ampun aku belum selesai menyimpan semua data-data di file. memang ya kamu!" Dimas berdecak kesal kepada Ade.


"Makanya jika kamu tidak mau aku ganggu. ayo sekarang ceritakan semuanya denganku! kamu belum tahu bagaimana sebenarnya aku. aku ini jika ingin mengetahui sesuatu sikapku bisa berubah secara tiba-tiba. mending sekarang aku lebay. besok-besok aku bisa jadi melambay.


"Hah! masa sih?" Dimas menatap Ade dengan penasaran.


"Iya. besok aku akan memanggilmu dengan nada bicara yang berbeda. Haii ganteng godain aqiu dhong. ih cucok dech!" Ade bicara sambil mengayunkan tangannya dengan lemah gemulai layaknya seperti seorang waria.


Dimas menatap Ade dengan geli. "ih apaan sih kamu De! jijik ah. nggak usah gitu kamu!" kesal Dimas


"Kalau begitu ayo sekarang ceritakan semuanya denganku."


"Oke oke! aku akan ceritakan semuanya, tapi kamu harus janji akan menyimpan rahasia ini!"


"Oke abhang!" Ade masih bicara alay seperti itu dia masih ingin mengerjai Dimas.


Pok!


Dimas melemparkan sebuah map kepada Ade. "Biasa aja ngomongnya nggak usah begitu!" kesal Dimas.


"Hahaha... Oke oke,! aku serius nih." Ade kembali mendengarkan pembicaraan Dimas.


Dimas segera menceritakan semua masalahnya dengan Raysa hingga tentang pernikahan yang dia sepakati yaitu hanya sampai anak itu lahir.


"Apa! kamu serius Dim?"

__ADS_1


"Ya seriuslah. aku itu sangat mencintai dia. tapi sepertinya dia tidak mencintai aku." jawab Dimas dengan nafas berat.


"Kamu udah tanya alasan kenapa dia memilih kamu saat dia menjual tubuhnya?"


Dimas terdiam.dia kembali mencerna kata-kata Ade, kenapa dia tidak kepikiran untuk menanyakan hal itu kepada Raysa. "aku belum pernah tanyakan soal itu De."


"Ya kamu tanya. mungkin saja dia sudah menyukai kamu saat pertama kalian bertemu."


"Ya aku harus tanyakan itu nanti kepadanya. tapi bagaimana jika dia bilang itu semua dia lakukan hanya semata untuk uang? itu sakit banget tau nggak sih kamu!"


"Yaelah jadi cowok melempem banget. harus kuat tahan banting, walaupun rasanya sakit tapi kamu harus tetap berusaha untuk meluluhkan hatinya. dan kamu harus yakin bisa membuat dia jatuh cinta sama kamu. wanita itu paling mudah membuat dia luluh."


"Sok tahu banget kamu. mudah dari mananya coba?"


"Kamu harus berani berkorban." jawab Ade singkat


"Maksud kamu berkorban bagaimana?" tanya Dimas dengan penasaran.


"Ya elah itu aja pakai nanya kamu. ya apa kek! atau kamu bisa lompat dari apartemen kamu kebawah." kesal Ade karena menurut dia Dimas terlalu polos jadi laki2


"Kamu udah gila ya nyuruh aku lompat. teman apaan kasih saran begitu." sungut Dimas dan tanpa mereka sadari kini sudah waktunya makan siang dan mereka segera menyudahi pembicaraan mengenai masalah Dimas.


Kini sudah jam sembilan malam. Raysa dari tadi bolak-balik dan memutari semua ruangan yang ada di apartemen itu dan sesekali dia menatap jam dinding.


"Aku ini kenapa sih. apa yang sebenarnya terjadi kepada diriku? bukankah aku sangat membenci pria itu. tapi kenapa sekarang aku menjadi gelisah begini? seharusnya aku tidak perlu begini tapi kenapa hatiku tetap sakit. apakah aku ini cemburu? atau rasa cintaku masih ada? yaa ampuun... ayo Raysa jangan sampai dia tahu jika kamu saat ini sedang cemburu."


Raysa bicara sendiri sambil memikirkan langkah apa yang akan dia ambil jika Dimas nanti pulang. apakah dia akan langsung menanyakan tentang sepasang sendal itu? atau dia berlagak cuek saja walaupun dia diliputi rasa mati penasaran dihatinya.


Cklekk!


Tiba-tiba pintu apartemen itu terbuka. Raysa yang tadi sedang memikirkan Dimas tersentak melihat kehadiran pria yang sedang dia pikirkan itu kini ada di depannya.


"Assalamualaikum.. ucapan salam Dimas


Raysa tidak menjawab. karena merasa kesal dia melupakan kewajibannya menjawab salam sebagai umat muslim.


"Apakah ditempat ini penghuninya umat nabi Muhammad?" tanya Dimas dengan sindirannya

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam.." Raysa segera menjawab salam Dimas. dia semakin kesal karena melihat wajah Dimas yang berlagak tidak berdosa itu.


"Apakah kamu sudah makan? kalau belum kita makan diluar yuk?" ajak Dimas sambil membuka kemejanya dan hanya menyisakan kaos dalam saja otot dadanya terpampang jelas dari kaos dalam itu.


Raysa yang melihat segera memalingkan wajahnya. wajahnya Terasa panas bagaikan orang kesurupan. dia kembali mengingat malam itu saat mereka bercinta. dia tidak tahu apakah itu kenangan manis yang harus dia ingat selalu. karena mereka melakukan itu dengan perasaan yang sama-sama suka.


"Nggak mau!" jawab Raysa jutek dia segera meninggalkan Dimas dan masuk ke kamarnya.


Dimas yang melihat sikap Raysa hanya bisa menggelengkan kepalanya. dia berpikir jika Raysa masih ngambek soal pertengkaran kecil mereka pagi tadi.


"Ck kenapa dia masih marah sih. padahal aku udah minta maaf. ah wanita memang susah di tebak." decak Dimas yang masih diam ditempatnya


Kini sudah jam sebelas malam. Raysa bangun dari tidurnya. dia merasakan lapar dan segera menuju dapur. Raysa membuka tudung saji yang ada di meja makan itu. tetapi kosong tidak ada makanan apapun. dia mulai menatap sekeliling apartemen itu untuk mencari sosok pria yang telah membuat moodnya rusak sejak siang tadi karena sendal itu.


"Kemana sih tuh orang? apakah dia tidak tahu jika istri dan calon anaknya sedang lapar. eh tapi sejak kapan aku mengakui bahwa aku ini adalah istrinya. ah otakku ini kok makin lama makin nggak beres sih!" kesal Raysa


Raysa segera membuka kulkas dan mencari bahan2 yang akan dia masak malam ini. dia ingin membuat omelette karena itulah masakan yang cepat saji.


Kini omelette buatan Raysa sudah tersaji dengan ditaburi keju dan saus sambal. tetapi saat dia ingin duduk dia kembali teringat Dimas.


"Dia kemana ya kok jam segini belum pulang? tapi kenapa dia pergi nggak pamit sama aku. atau dia udah tidur." Raysa mengurungkan niatnya untuk makan. dia segera mencari dimana keberadaan Dokter tampan itu sekarang.


Semua ruangan yang ada di apartemen itu telah dia buka tapi Raysa tidak menemukan Dimas. hanya tinggal satu ruangan yang belum dia buka. yaitu ruang kerja Dimas.


Dengan perlahan Raysa mengetuk pintu ruangan itu. tetapi tidak ada jawaban. perlahan Raysa membuka pintu itu. dia melongokkan kepalanya.


Kemudian Raysa melihat sosok pria yang sedang dia cari itu kini telah tertidur pulas di kursi kerjanya. dengan pelan-pelan Raysa mendekatinya. dia menatap wajah tampan yang terlihat sangat kelelahan itu. jika dia sedang tertidur pulas begini wajahnya begitu Tampan.


Raysa memandangi wajah tampan itu. dia mulai meraba kening, alis, hingga bibirnya dengan jari-jarinya. Raysa masih belum percaya sekarang dia telah menjadi istri dari pria yang dia cintai sejak pandangan pertamanya.


Tapi Raysa masih bingung hubungan pernikahannya dengan dokter Tampan Itu. apakah dia sudah bisa menerima dan memaafkan suaminya itu.


Raysa tersenyum masih memainkan tangannya diwajah tampan itu. dan tiba2 saja pemilik wajah itu membuka matanya dengan perlahan kemudian tangan itu menangkap tangan yang sedang memegang pipinya.


Raysa gugup bukan main. ternyata dia telah membangunkan suaminya. dia memberanikan diri menatap wajah Dimas dengan rasa malu .


"Kenapa sayang. apakah wajah suamimu ini telah membuat kamu rindu?" tanya Dimas dengan senyum semirk nya. tak bisa dipungkiri bahwa dia sangat bahagia saat merasakan belaian tangan istrinya itu.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa dukungannya agar Author semangat Update. terimakasih 🙏🙏


__ADS_2