
"Ra-raysa, ma,maafkan ibu nak. maaf jika ibu selalu menyusahkanmu." lirih Bu Wilda sambil terbata bata.
"Nggak Buu, ibu nggak pernah menyusahkan aku.aku mohon ibu jangan bicara begitu ya?" Raysa tak kuasai menahan tangisnya sambil memeluk tubuh ibunya yang lemah tak berdaya itu.
"Mari Bu kita masuk ke ruang operasi sekarang ya?" Dr Angga menyudahi pembicaraan Raysa dan ibunya karena dia melihat detak nadi Bu Wilda semakin melemah,dia akan segera mengambil tindakan.
"Ti-tidak usah nak, i,ibu sudah tidak kuat lagi. Raysa i-ibu minta maaf nak karena ibu telah membuat hidup ka-kamu menderita, seharusnya ka-kamu baha..gia de-dengan orangtua kandungmu." Bu Wilda memberitahukan semua kebenarannya jika Raysa bukanlah anak kandungnya.
"Apa maksud ibu bicara seperti itu Bu? aku adalah anak Ibu, dan sampai kapanpun akan tetap menjadi anak kandung Ibu!" Raysa masih tidak paham arah pembicaraan ibu Wilda
"Ti-tidak nak, kamu harus tahu yang sebenarnya bahwa ibu bukanlah ibu kandungmu." ibu Wilda masih meyakinkan Raysa dengan suaranya yang tercekat.
"Tidak Bu, itu tidak mungkin! ibu katakan padaku sekarang jika ibu berbohong. katakan Bu?!" tangis Raysa semakin pecah.
"Raysa, kamu tenanglah! kamu harus bisa menahan diri apa kamu tidak melihat jika keadaan ibu semakin lemah." dr Angga mengusap Bahu Raysa dengan lembut dia mencoba menenangkan gadis cantik berlesung pipi itu.
"Ibu maafkan Aku, maaf jika aku sudah membuat ibu sedih." Raysa mengambil telapak tangan ibunya dan dia tak berhenti mencium telapak tangan itu. dan ibu Wilda tersenyum sambil meneteskan air matanya
"Ti-tidak nak, kamu tidak salah apapun. kamu sudah cukup berbakti dengan ibu,maaf jika selama ini kamu menderita selama menjadi anak ibu. ji-jika ibu pergi maka carilah keberadaan orangtua kandungmu. se-semua identitas orangtua ka-kandungmu a-ada di dalam lemari kecil yang a-ada di da-dalam kamar ii-ibu...."
Tiba2 suara itu berhenti dan Bu Wilda sudah menutup matanya bahkan nafas yang tadi tersengal kini tak terdengar lagi.
"Ibuu..? ibu bangun Bu! ibu jangan membuat aku Takut Bu, ibuuuu....! tidak ibu tidak boleh pergi!" Raysa menangis histeris dia masih belum percaya bahwa ibunya telah meninggal dunia.
Angga segera memeriksa denyut jantung dan nadi Bu Wilda, dia menggelengkan kepalanya dia memastikan bahwa Bu Wilda sudah meninggal dunia.
__ADS_1
"Tidak dokter, tolong periksa kembali aku yakin jika ibu masih hidup!" hiks..hiks..!"
"Raysa kamu harus sabar dan mengikhlaskan kepergian ibu, karena sekarang ibu sudah tidak menahan sakit lagi, semoga Allah memberikan tempat terindah di antara orang yang Sholeh."
Dokter Angga berusaha menenangkan Raysa, dia juga bersedih saat menyaksikan semua nya yang baru saja terjadi, dia melihat begitu rapuhnya gadis cantik itu saat ini.
Sementara itu Dimas yang dari tadi menyaksikan di balik pintu ruang ICU dia tak kuasa menahan air matanya, dia benar2 menyesali perbuatannya selama ini yang selalu menyakiti Gadis cantik itu, padahal semua yang gadis itu lakukan demi kesembuhan ibunya.
"Kenapa aku begitu bo**h kenapa aku tidak menyadari dari kemaren bahwa uang yang dia dapat dariku adalah untuk biaya operasi ibunya! Aaaaaa.......! Dimas menjatuhkan dirinya di sofa ruangannya dia mere**s rambutnya dengan kuat.
***
Pagi ini sekitar jam 10 pemakaman Bu Wilda baru saja selesai,semu para pelayat sudah pulang, namun Raysa masih betah duduk di samping batu nisan ibunya, walaupun dia sudah mengetahui jika dirinya bukanlah anak kandung dari Bu Wilda tetapi dia sangat menyayangi wanita yang kini sudah tertanam di pemakaman itu.
"Aku masih ingin disini sebentar lagi Bu, ibu pulanglah biarkan aku disini karena aku masih kangen dengan ibu, jangan khawatir aku tidak apa-apa Bu."
"Baiklah kalau begitu ibu pulang dulu ya, ingat jangan terlalu larut dalam kesedihan karena itu akan membuat ibumu tidak tenang di alamnya."
Kini tinggal Raysa sendiri di pemakaman itu, karena tadi Dr Angga yang selalu menemani dirinya tetapi dia minta izin untuk pergi ke RS karena ada pasiennya yang sedang kritis.
Kembali Raysa mengingat masa2 bahagia bersama kedua orangtua angkatnya itu, walau bagaimanapun susah hidup mereka, tetapi ibu dan ayahnya selalu mencurahkan kasih sayang mereka kepada Raysa,bahkan dia masih ingat saat itu tak ada bahan pokok yang bisa mereka masak hanya ada beras setengah gelas maka beras itu Dimasak untuk diberikan kepadanya karena dia tidak mau makan ubi kayu maka orangtua angkatnya itu yang mengalah mereka rela makan ubi asalkan Raysa masih bisa makan nasi.
"Hiks...hiks...hiks...! Ibu, kenapa ibu begitu cepat meninggalkan aku Bu? aku takut sendirian Bu! kini tidak ada lagi tempat aku mengadu."
Raysa masih sesugukan menangis terkadang racauannya tidak jelas karena bercampur dengan suara tangisannya.
__ADS_1
"Ehemm.. selamat siang, a-aku turut berdukacita atas meninggalnya ibu kamu."
Dimas memberanikan diri muncul di hadapan Raysa walaupun dia tidak yakin jika Raysa akan menerima kedatangannya dengan baik
"Untuk apa kamu datang kesini? apakah kamu ingin mentertawakan aku? sebenarnya aku punya salah apa denganmu? kenapa kamu selalu membenci aku dan menyakitiku?!"
Raysa kembali menangis melihat kehadiran Dr Dimas di pemakaman ibunya,dia mengira kenapa Dimas masih saja ingin mengganggu dirinya.
"Raysa aku kesini bukan untuk mengganggu dirimu. aku ikut sedih atas meninggalnya ibu kamu, dan aku juga ingin minta maaf atas segala kesalahanku selama ini padamu. aku mohon Sa maafkan aku!" Dimas mengatupkan kedua telapak tangannya dia memohon dihadapan Raysa.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu dokter! simpan semua permintaan maafmu kepadaku apakah kamu tidak menjatuhkan harga dirimu karena meminta maaf kepada wanita jal**g ini?"
"Raysa jangan bicara seperti itu! aku tahu salahku begitu besar padamu, tapi beri aku kesempatan untuk mendapatkan maaf darimu." Dimas kembali memohon sambil memegang tangan Raysa.
"Lepaskan tanganku dokter!"
"Tidak! aku tidak akan melepaskan sebelum kamu memaafkan aku." Dimas semakin kuat menggenggam tangan Raysa.
"Berapa kali aku mengatakan jika aku tidak akan memaafkanmu! sekarang lepaskan tanganku!" Raysa masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.
"Dr Dimas! apa yang kamu lakukan? lepaskan Raysa!"
Dr Angga datang, dan melepaskan paksa tangan Dimas dari Raysa. Ya, tadi setelah urusannya selesai di RS Angga kembali datang menemui Raysa karena dia tahu jika Raysa saat ini butuh teman karena dia saat ini sedang rapuh.
Bersambung...
__ADS_1