Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Ngidam yang aneh


__ADS_3

Kini ibu Wilda sudah berada diruang IGD sedang ditangani oleh dokter.


Sementara itu Raysa masih menunggu diluar dengan gelisah, dia mondar-mandir dan sesekali mengintip di kaca kecil yang ada di pintu ruangan itu, ia benar2 cemas dengan keadaan ibunya.


"Sudah Sa, sekarang duduklah dulu" biarkan Dokter menangani ibumu." terdengar suara Bu Lilis menenangkan Raysa, dia adalah tetangga Raysa,dialah yang selalu membantu Raysa dan ibunya saat mereka sedang kesusahan.


"Tapi buk" aku benar2 takut." Raysa kembali menangis dan duduk di samping Bu Lilis.


"Udah kamu jangan terlalu takut, kita serahkan semuanya kepada Allah SWT" yang paling penting kita selalu berdoa agar ibumu baik2 saja." Bu Lilis memeluk Raysa dan memberikannya ketenangan.


Tidak berapa lama Dokter keluar dan Raysa segera berdiri menghampiri dokter yang menangani ibunya,


"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya dok?"


"Keadaan ibu anda sangat memprihatinkan" karena ginjalnya sudah tidak bisa berpungsi lagi! maka jalan satu-satunya adalah cangkok ginjal." dan cairan ditubuhnya semakin banyak" cuci darah saja tidak bisa membantunya untuk sembuh, itu hanya membuatnya bertahan untuk beberapa waktu saja, karena itu tidak menyembuhkan."


Dokter itu menjelaskan tindakan yang harus dia lakukan dan dokter juga menjelaskan jika ibunya tidak bisa sembuh dengan cuci darah yang selama ini ibunya jalani beberapa bulan ini.


"Jad, jadi berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk cangkok ginjal ibu saya dok?" Raysa memberanikan diri untuk bertanya kepada dokter Sp Nefrologi itu, walaupun dia tidak tahu kemana dia harus mencari uang untuk membayar biaya pengobatan ibunya.


"Kalau soal itu Anda bisa langsung saja ke bagian administrasi" kalau begitu saya permisi!" dokter itu segera pergi dari hadapan Raysa,


Raysa dan Bu Lilis segera masuk ke dalam ruangan IGD, dia melihat ibunya masih menutup mata, dan masih memakai alat pembantu pernapasan.


Raysa menggenggam tangan ibunya,dan mencium tangan yang keriput dan pucat itu.


"Ibu harus kuat ya" ibu jangan menyerah,aku janji akan melakukan apapun untuk kesembuhan ibu, asalkan ibu juga semangat untuk sembuh!." ibu jangan tinggalkan aku sendiri Bu." hikh... hikh..."


Akhirnya tangis Raysa pecah, dia tidak sanggup membayangkan jika ibunya pergi meninggalkan dirinya sendiri, sementara dia tidak mempunyai saudara bahkan sampai saat ini ibunya tak pernah memberi tahukan dimana sanak saudaranya dan juga kampung halaman ibu dan ayahnya.


"Bu, tolong temani ibu aku sebentar ya" aku akan ke bagian administrasi dulu."

__ADS_1


"Baiklah, ibu akan temani ibumu disini."


Raysa segera menemui kasir di RS itu, dia menanyakan berapa biaya yang haru dia keluarkan untuk pengobatan ibunya dan juga tindakan cangkok ginjal yang disarankan oleh dokter yang menangani ibunya.


"Baiklah buk, ini jumlah yang harus ibu lunasi untuk biaya pengobatan ibu anda satu malam di RS ini."


Raysa melihat tagihan RS itu untuk pengobatan ibunya yang saat ini sedang dirawat, itu baru hitungan per harinya. tetapi itu tidak masalah bagi Raysa dia masih bisa membayar karena jalan satu-satunya dia harus menjual motor maticnya itu.


"Saya mau menanyakan biaya cangkok ginjal berapa ya buk?" lalu kasir itu mengetik sesuatu di layar komputernya.


"Ini buk biaya yang Ibuk tanyakan" RS ini memberi kelonggaran untuk pasien, jika keadaannya darurat maka Ibuk bisa membayar setengah dulu, maka tindakan akan segera kami lakukan."


Raysa terperangah saat melihat total biaya yang tertera disana, "ya Allah, 250juta?" kemana uang sebanyak itu harus aku cari?" dia bicara sendiri dalam hati.


"Baiklah buk, untuk biaya rawat inap ibu saya, akan saya lunasi besok pagi" dan saya akan segera berusaha mencari biaya cangkok ginjal ibu saya!" kalau begitu saya permisi dulu buk."


Raysa segera pergi dan menuju kembali ke ruangan IGD tempat ibunya dirawat.


Sementara itu dirumah keluarga waluyo, pagi ini Ani sedang membantu suaminya untuk bersiap ke RS.


"Mas" Ani boleh minta sesuatu nggak?" disela kesibukannya sedang memakaikan dasi di leher Ade Ani meminta sesuatu.


"Hmm.. "boleh apa itu sayang?" Ade menatap wajah istrinya yang sedang serius dengan aktivitasnya.


"Ani lagi ngidam sesuatu mas."


"Ngidam apa sayang?" bilang saja nanti akan mas Carikan." Ani menatap wajah suaminya


"Ani minta uang mas?" Ade tersenyum dia mengecup bibir istrinya itu.


"Benaran kamu ngidam sayang?" atau kamu sengaja mengingatkan mas agar mas tidak lupa uang bulanan kamu!" tenang saja sayang mas tidak lupa kok" dan mas sudah membuatkan kartu ATM untuk kamu" dan uang bulanan kamu sudah mas transfer ke rekening kamu."

__ADS_1


Ade berjalan dan mengambil sebuah kartu ATM dan sekaligus buku tabungan di dalam brankas tempat penyimpanan surat2 berharga di dalam kamar itu.


"Ini buat kamu sayang, uang yang sudah mas transfer di rekening kamu, itu semua milik kamu dan kamu berhak menggunakannya." Ade menyerahkan kepada Ani, namun Ani hanya diam tanpa bicara apa-apa


Ani bingung, padahal maksudnya bukan itu, tapi kenapa dia malah mendapatkan kejutan begini.


"Sayang, kenapa kamu diam?" apakah kamu tidak suka, atau uang yang mas beri tidak cukup?"


"Ah.. bukan mas, bukan begitu maksud Ani" Ani tahu mas tidak akan mungkin melupakan kewajiban sebagai seorang suami, dan Ani tidak pernah berpikir seperti itu mas!" tapi maksud Ani bukan uang itu?"


"Maksud kamu?" Ade mengerutkan keningnya, dia heran uang seperti apa yang dia minta.


"Ani minta uang logam sekarang, tapi uang itu dari dompet mas, Ani tidak mau mas ambil dari tempat lain" apakah mas menyimpan uang itu didalam dompet ?"


"Ya ampun sayang!, kok kamu ngidamnya aneh begitu sih? mana ada mas nyimpan uang logam didalam dompet" mas ganti aja ya pakai uang kertas atau dollar mau?" Ade mencoba menawarkan kepada istrinya agar dia tidak minta uang logam, karena Ade memang tidak menyimpan uang logam itu di dalam dompetnya.


"Nggak mau mas!" Ani mau uang itu, satu aja udah mas nggak perlu banyak." Ani bicara hampir menangis karena mendengarkan jika suaminya tidak menyimpan permintaannya itu.


Ade bingung melihat tingkah istrinya itu, dan Ade melihat Ani ingin menangis, dia segera mendekati Ani.


"Sayang, begini saja" kan sekarang mas memang nggak nyimpen uang logam itu didalam dompet mas tuh, bagaimana nanti siang mas cariin kamu uang logamnya dan kamu bisa ambil sendiri dalam dompet mas" bagaimana?" Ade mencoba membujuk istrinya dan menjanjikan untuk memenuhi permintaan istrinya itu.


"Baiklah nanti siang biar Ani saja yang datang ke RS ya?" dengan nada manja Ani menyetujui permintaan suaminya.


"Oke, nyonya Ade Hermawan" nanti siang mas tunggu kamu di RS ya" tapi jangan lupa sekalian bawa makan siang buat mas ya?"


Ade mengecup kening dan bibir istrinya,dan dia segera pamit untuk pergi ke RS, karena tadi Ani sudah membawakan sarapan untuknya ke kamar jadi dia langsung pergi tidak sarapan lagi.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komentarnya ya biar author semangat up Terimakasih 🥰🥰😘🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2