Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Kemarahan Dokter Ade


__ADS_3

"Apakah kamu bekerja di RS ini?" terdengar suara Ade bertanya kepada Raysa karena dia melihat pakaian yang Raysa gunakan dan juga rak yang masih dia pegang.


"Ah iya saya baru 5 hari bekerja di RS ini." Raysa menjawab dengan sopan sambil menundukkan wajahnya, karena dia tahu jika lelaki yang bertanya itu juga dokter di RS ini.


"Ya ya! bekerjalah dengan baik dan semoga kamu betah bekerja disini."


"Baik Dok, terimakasih." Raysa merasa perkataan Dr Ade seperti seorang atasan kepada pekerjanya.


"Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu!" Ade segera membawa Ani untuk memeriksa kandungan istrinya itu.


***


Setelah Ani pergi, Raysa segera berjalan menuju dapur RS, jika dia mengikuti egonya dia sudah tidak ingin lagi bekerja di RS itu karena dia tidak ingin melihat wajah Dimas lagi, dan dia juga sangat takut jika Dimas akan selalu mengganggu dirinya, tetapi dia tidak ingin mengorbankan ibunya karena mengikuti egonya,Raysa sangat butuh biaya untuk kontrol ibunya setiap 2 Minggu sekali, dia tidak ingin merepotkan Dr Angga lagi.


Raysa masih menyusuri lorong RS itu untuk menuju dapur, dia kembali mengingat semua kata2 yang Dimas lontarkan kepada dirinya, masih terasa sakit! perasaan yang dia punya untuk Dimas seakan mulai memudar.


"Kenapa lama sekali Sa? apakah ada yang menyulitkan mu?"


Saat baru tiba Raysa segera di beri pertanyaan oleh Caca teman se profesi dengannya, karena dia yang menyuruh Raysa untuk menggantikan pekerjaannya tadi.


"T...tidak! tidak ada yang menyulitkan mbak, tadi aku bertemu teman dan kami ngobrol sebentar." Raysa beralasan


"Oh syukurlah kalau begitu." lalu Caca dan Raysa kembali dengan aktivitas mereka .


"Sa, tadi ada wakil direktur mencari dirimu." terdengar suara kepala koki memberi tahu kepada Raysa mengenai Dimas yang datang menanyakan dirinya.


"Hah! ada pa ya pak?"


Raysa berhenti dari aktivitasnya yang sedang mencuci peralatan makan pasien, karena dia penasaran kenapa wakil direktur RS itu mencari dirinya, apakah dia telah melakukan kesalahan?


"Saya kurang tahu kenapa sa, yang jelas tadi dia datang dan menanyakan dirimu,dan dia menanyakan sejak kapan kamu bekerja di RS ini, apakah Dr Angga belum memberitahu kepadanya?"


"Ah soal itu saya tidak tahu pak." Raysa kembali mencerna kata-kata pak Asrul kepala koki di RS itu, tiba2 tubuhnya kembali kaku saat dia mulai menyadari siapa wakil direktur RS yang dimaksud oleh pak Asrul.

__ADS_1


'Apakah dia yang dimaksud?' Raysa bertanya dalam hati.


***


Sementara itu di tempat lain,


Kini Ade masih fokus menatap layar monitor USG 4D miliknya.


"Sayang,kamu mau dengar detak jantung bayi kita?" Ade bertanya kepada Ani tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.


"Udah ada detak jantungnya mas?"


"Sudah sayang, sekarang usia kehamilan kamu sudah genap 17 Minggu jadi detak jantung bayi sudah bisa terdeteksi dengan baik."


Ade segera mencari frekuensi detak jantung bayi mereka dan membesarkan volumenya.


Dug..Dug... Dug....Dug...!


Detak jantung itu terdengar jelas dan tanpa terasa air mata Ani jatuh, lalu dia tersenyum dengan bahagia.


"Ani bahagia mas, rasanya Ani sudah tidak sabar untuk menunggu kehadiran bayi kita."


"Sabar ya sayang? yang penting bayi kita sehat, apakah kamu tidak ingin melihat jenis kelaminnya?"


"Nggak ah mas, biar jadi rahasia saja."


"Benaran nggak mau lihat? tapi mas udah tahu nih."


"Tuh kaann! mas curang banget, tadi perjanjian kita nggak mau lihat dulu." Ani memasang wajah ngambek.


"Ya bagaimana lagi sayang, habisnya tanpa sengaja kelihatan, tadinya mas juga tidak mau lihat tetapi sepertinya anak papa ini tidak mau menyembunyikannya dari papa, benar kan sayang?" Ade bicara sambil mengusap lembut perut istrinya


"Iya udah ga apa2 mas! apapun jenis kelaminnya yang penting dia sehat."

__ADS_1


Ani kembali tersenyum kepada suaminya, dia tidak ingin merusak moodnya saat ini.


"Nah gitu dong sayang, nggak boleh ngambek. nanti bayi kita sedih."


Setelah selesai memeriksa kandungan istrinya Ade mengantar Ani untuk istirahat sambil menunggu dirinya diruang khusus direktur utama RS yang berada di lantai 3,


Saat mereka sedang menuju lantai 3, mereka bertemu dengan Dr Gita, Ade segera merangkul pinggang istrinya sambil berjalan beriringan.


"Wih ada pengantin baru nih." Gita tersenyum sinis kepada mereka berdua.


Ade tidak menanggapi sapaan dari Gita,dia semakin erat merangkul pinggang istrinya sambil terus berjalan melewati Gita.


"Semudah itukah kamu melupakan semua tentang kita mas! apakah kamu tidak ingat semua kenangan saat kita pergi liburan di kota Medan, hanya karena wanita yang tidak berpendidikan itu kamu tega meninggalkan aku?!"


Gita sengaja meninggikan suaranya agar semua yang ada di lorong RS itu mendengar suaranya.


Ade segera berhenti, saat mendengar kata-kata Gita yang sengaja menghina Ani, dan membuat Ani cemburu, dengan mengungkit kembali masa lalu mereka.


Ani menatap suaminya agar ia tetap tenang dan tidak terpancing oleh kata2 Gita, tetapi Ade tidak menghiraukan dia segera membalikkan tubuhnya untuk berhadapan kembali dengan Gita. Ade benar2 marah saat Gita menghina Ani.


"Apa maksud kata2 kamu itu?! berani sekali kamu menghina istriku?!!" Ade meninggikan suaranya dan mencengkeram erat lengan Gita.


"Kenapa mas? apakah kamu malu jika semua orang tahu latar belakang istrimu, bahwa dia adalah mantan pembantu dirumahmu sendiri! apa sih kelebihan dia dari aku? atau jangan2 dia telah menjebak dirimu dengan memberikan tubuhnya sebelum menikah?"


Gita tersenyum sinis sambil menatap benci kepada Ani yang berdiri di samping Ade.


Seketika itu juga mata Ani sudah mulai berkaca kaca saat mendengar kata-kata Gita, Ani ingin mendekati Gita tetapi tangannya segera ditarik oleh Ade.


"Ya! dia adalah mantan pembantu dirumahku, sekarang telah menjadi istriku, dia memang tidak berpendidikan tinggi seperti dirimu, tetapi dia mempunyai akhlak dan cinta yang tulus untuk aku suaminya! dan ada satu lagi, dia memang miskin, tetapi sekarang kamu lihatlah dengan siapa dia berdiri? sekarang dia telah menjadi Nyonya Ade Hermawan, bahkan sekarang derajatnya lebih tinggi darimu, karena apa yang aku miliki sekarang itu juga millik istriku,dan kamu jangan pernah menghina istriku lagi!!"


"Oya, ada satu lagi yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua yang ada di RS ini!, jika aku mendengar ada di antara kalian yang berani menghina Ani istriku, maka saat itu juga silahkan kalian urus surat pengunduran diri." Ade sengaja menekankan kepada semua orang agar tak ada yang berani menghina istrinya.


Ade segera pergi meninggalkan Gita yang masih berdiri tanpa berani bicara apapun juga, dia benar2 kesal mendengar kata-kata yang Ade lontarkan kepadanya, 'Beruntung sekali wanita miskin itu mendapatkan Ade, lihat saja aku tidak akan membiarkan dia hidup bahagia! Gita bicara sendiri dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2