
Kini dikediaman keluarga Waluyo sedang sibuk dengan segala persiapan untuk acara siang ini.semua sudah terpasang di halaman depan. dari mulai tenda hingga hidangan semua sudah beres. hanya tinggal menunggu acaranya dimulai.
Kini semua keluarga sedang duduk di ruang keluarga mereka sedang ngobrol. dari pihak keluarga besar Waluyo,ada yang datang dari luar kota maupun di kota yang sama. mereka berkumpul saling bercerita dengan kekeluargaan. ruangan itu terdengar riuh suara anak-anak dari keluarga besar itu.
"Assalamualaikum...
"Wa'alaikumsalam...
mereka menjawab salam dari jeng Rana dan Dimas bersamaan. dan mama Endang segera menghampiri mereka.
"Hai.. jeng Rana, apa kabar jeng? ayo silahkan duduk." ucap mama Endang sembari cipika cipiki.
"Hai Tante! maaf ya udah buat Tante jadi salah paham." ujar Dimas menyalami tangan mama Endang.
"Aduh Dimas, Tante benar2 kesal sama kamu. kok bisa kamu nikah tidak mengundang Tante sih. Tante heran melihat kelakuan kamu dan Ade. sama saja!" sungut mama Endang dengan omelannya
"Memang sama Tan. istri aku dan Ade juga mirip kan?" ujar Dimas
"Yang mana istri kamu?" tanya Tante Endang yang belum menyadari kehadiran Raysa yang berdiri disamping Dimas.
"Hai, Tante. saya Raysa istri bang Dimas." Raysa mengulurkan tangannya dan menyalami Tante Endang.
Tante Endang terperanjat melihat wajah Raysa yang sangat mirip dengan Ani. "hai nak. kamu itu sangat mirip dengan menantu Tante. siapa namamu tadi?" ulang mama Endang untuk memastikan nama istri Dimas yang begitu mirip dengan menantunya itu.
"Namaku Raysa Tante." jawabnya singkat dengan rasa malu karena semua mata memandang ke arah Raysa. mereka yang ada di ruang keluarga itu juga merasa terkejut melihat kemiripan wajah Ani dan Raysa.
__ADS_1
Tiba-tiba ayah Bayu masuk bersama Papa Ari. mereka baru saja melihat persiapan acara diluar.
"Ana! kamu ana kan?!" tanya ayah Bayu dengan segenap keyakinannya saat melihat putrinya yang telah 22 tahun menghilang. dia sangat yakin saat melihat wajah Raysa yang sangat mirip dengan Ani. dia juga melihat ada lesung pipi diwajahnya.
"Raysa tak kalah terkejut mendengar pertanyaan ayah Bayu. dia juga mengingat wajah lelaki paruh baya itu yang rasanya tidak asing lagi bagi dia. dan juga foto yang dia punya tergambar jelas walaupun wajah yang dulu masih terlihat tampan dan bugar namun kini sudah termakan usia.
"A-ayah!" panggil Raysa dengan suara tercekat
"Ya Allah, kamu benar Mariana putriku! Anaa..! putri Ayah. ayah sangat merindukan kamu nak." ayah Bayu tak kuasa menahan tangisnya dia memeluk tubuh gadis yang dia yakini adalah putrinya yang telah puluhan tahun hilang dari dekapannya.
"Ayah aku sangat merindukan ayah dan juga ibu. aku sangat rindu! hiks.. huuu.." tangis Raysa pecah dalam pelukan ayahnya. dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan keluarganya.
"Ana, anak ayah. kamu apa kabar nak? kamu tinggal dimana selama ini? kenapa ayah tidak bisa menemukan mu?" pertanyaan ayah Bayu memberondong. dengan di ikuti Tangis tertahannya. laki-laki memang tidak seperti wanita jika menangis. dia masih bisa mengendalikan emosinya
"Ayah, aku Sekarang sudah menikah." maaf jika yang menjadi wali nikahku bukan ayah." ujar Raysa masih dengan isakannya.
"Lihatlah nak, wanita paruh baya itu. dia adalah ibumu. dialah orang yang selama ini merasa paling bersalah atas kehilanganmu. dia juga orang yang hampir gila karena kehilanganmu. dan wanita cantik yang sangat mirip denganmu itu adalah Ani kembaranmu." ujar ayah Bayu sambil menunjuk kedua wanita beda generasi itu yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
Raysa segera menoleh dan melihat arah tunjuk ayahnya. dia melihat wanita yang selalu dia lihat di foto. dan sampai saat ini foto itu masih dia bawa kemanapun dia pergi.
"Ibuu.." ujar Raysa dengan suara parau air matanya kembali turun dengan deras. dia sangat merindukan wanita itu. dialah wanita yang telah melahirkan dia. dan selama puluhan tahun dia tidak melihat wajah itu.
Sari tertegun menatap Raysa. dia merasa seperti mimpi. kaki dan tangannya bergetar. dia masih tidak percaya. ingin rasanya dia mencubit tangannya dengan keras agar dia benar yakin jika itu adalah nyata bahwa anaknya yang selama ini menghilang,kini berdiri dihadapannya.
"A-ana! kamu benaran Ana anak ibu? kamu putriku. kamu benar-benar Ana ku." dengan di iringi tangisnya Ana mengejar ibunya. dia memeluk ibunya dengan erat. "ibu aku sangat merindukan mu. maafkan aku Bu. maaf jika aku sudah membuat ayah dan ibu menderita karena kehilanganku." tangis mereka pecah. Ani juga tidak bisa menahan tangisnya. dia ikut memeluk kembarannya.
__ADS_1
"Kakak, aku sangat merindukanmu. Ternyata firasatku benar saat kita bertemu di RS Waktu itu." ujar Ani sambil menangis terisak-isak.
"Aku juga berpikir begitu dek. tapi aku tidak percaya.aku tidak punya keberanian untuk bertanya karena aku takut dikira modus. apalagi aku melihat kamu istri seorang dokter, dan rasanya itu tidak mungkin." ujar Ana.
"Kenapa kakak bicara begitu. bukankah sekarang kakak juga istri seorang dokter?" jawab Ani dengan menatap Dimas.
"I-iya sih. tapi aku baru beberapa Minggu menikah."
"Iya tapi kenalnya sudah beberapa bulan kan kak? dan aku dengar masalah kalian cukup rumit juga. apalagi mengatasi laki-laki posesif,dan tidak gentle seperti dia." ujar Ani sambil mengedik kan bahunya menunjuk Dimas.
"Eh, kenapa aku dibawa-bawa nih Adek ipar? aduh please dek, jangan membuat reputasi ku rusak di depan calon mertuaku. bahkan aku Saja belum sempat sujud sungkem dengan mereka." ujar Dimas mengecilkan suaranya dan mendekati Ani. ibu yang mendengarkannya hanya bisa tersenyum sambil di iringi gelengan kepalanya.
"Ehem... sepertinya sekarang keluarga kita sudah lengkap. tidak ada lagi yang hilang." ujar papa Ari buka suara. mereka yang sedari tadi menyaksikan drama haru itu. bahkan ikut meneteskan air mata.
"Perkenalkan. Nama Saya Rana. saya mamanya Dimas. saya benar-benar tidak menyangka akan bertemu besan saya. ini adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah, telah mempertemukan kita Disini." kini giliran mama Rana yang menjabat tangan besannya itu.
"Terimakasih mbak. karena telah menerima kehadiran anak-anak kami di dalam keluarga besar kalian. semoga hubungan ini akan menambah eratnya persaudaraan kita. kami memang tidak mempunyai harta tapi insyaallah anak-anak kami bisa menjadi istri yang Sholeha untuk pasangannya. semoga anak-anak kita bahagia selamanya hingga jannahnya. ujar ibu Sari.
"Aaamiiinn... " semua orang yang ada di ruangan itu mengaminkan ucapan ibu Sari.
Bersambung...
Segini dulu ya. soalnya author lagi semangat dengan novel yang baru. yuk mampir di novel baru aku🤗🙏
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya🙏🙏🤗🤗