Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Meminta maaf kepada mama mertua


__ADS_3

Setelah bicara dengan Dr Angga, Raysa segera ingin keluar untuk menemui ibunya kembali.


"Baiklah dokter kalau begitu saya permisi dulu." Raysa segera bangkit dari tempat duduknya,


"Ah.. tunggu Raysa! suara dr Angga membuat langkah Raysa berhenti saat dia hendak membuka pintu untuk keluar dari ruangan Dr Angga.


"Ya dokter, ada apa?" Angga segera berdiri dan berjalan mendekati dimana Raysa berdiri.


"Maaf Sa, jika saya tidak sopan atau lancang menanyakan ini kepadamu!"


"Apa itu dokter?" Raysa mengerutkan keningnya.


"Kalau saya boleh tahu, kamu dapat uang dari mana untuk biaya operasi ibumu? maaf saya tidak ada maksud apa-apa Sa! saya hanya mencemaskan dirimu, dan sebenarnya waktu saya mengatakan tentang operasi ibu, dan saya ingin menemui kamu kembali untuk menawarkan bantuan tetapi kamu sudah tidak ada."


Seketika itu wajah Raysa berubah menjadi pucat, dia mengira apakah dokter Angga mengetahui tentang uang yang dia dapatkan.


"Ah tidak apa-apa Dok! saya dapat uang pinjaman dari teman." Raysa mencoba untuk setenang mungkin,dia menghilangkan rasa gugup pada dirinya.


"Benarkah? kalau kamu mau, kamu bisa pakai uang saya untuk melunasi hutang kamu."


"Tit,,tidak usah Dokter! saya akan membayar hutang itu dengan cara mencicilnya, lagian sama saja kan, sama2 hutang " hehe...." Raysa berusaha untuk tetap tenang dan menetralkan perasaan yang tidak karuan dalam hatinya.


"Kamu tenang saja Sa, kalau dengan saya kamu tidak perlu terburu-buru untuk membayarnya, karena saya tahu saat ini kamu sedang banyak kebutuhan."


"Terimakasih banyak Dok, atas tawaran kebaikan Dokter kepada saya! tapi tidak usah Dok, biarlah saya akan membayar hutang saya sendiri, insyaallah saya bisa."


"Baiklah, kalau kamu menolak, tapi jika nanti kamu butuh bantuan, kamu jangan pernah sungkan bicara kepada saya, Oke?!"


"Baiklah Dokter, sekali lagi terimakasih banyak atas kebaikan dan pertolongan yang telah dokter berikan kepada ibu saya!" dan Raysa segera keluar dari ruangan Dr Angga.


***


Di tempat lain


Ade baru saja sampai di rumah bersama kedua orangtuanya, dan Ani sudah menyambut kedatangan mereka.


"Selamat malam Pa,Ma!" setelah menyalami tangan suaminya, dia juga menyalami tangan papa dan mama mertuanya.


"Ya malam Ani! kamu dengan siapa dirumah? apakah Tati menemani kamu?" papa Ari bertanya, karena mereka memang menugaskan Tati untuk menemani Ani jika mereka terlambat pulang.


"Nggak pa, tadi mbak Tati memang menemani Ani, tapi tadi suaminya telpon jika anaknya sedang sakit, jadi Ani suruh mbak Tati untuk pulang! lagian Ani nggak apa-apa kok dirumah sendiri pa!"


"Tapi sayang, nanti jika terjadi sesuatu sama kamu gimana?" Ade menyela pembicaraan istrinya dengan papanya.

__ADS_1


"Ya sudah besok kita cari orang untuk tinggal dirumah ini, biar Ani ada yang menemani jika kita sedang pergi." kini mama Endang yang memberi solusi.


"Nah kalau itu Ade setuju tuh, idenya Mama."


Dan akhirnya mereka segera masuk ke kamar masing-masing, setelah mendapatkan solusi yang diberikan oleh mama Endang.


Didalam kamar Ani segera membantu Ade untuk menyiapkan handuk dan mengambilkan baju ganti untuk suaminya.


"Awh..." sakit sayang! kenapa mas dicubit sih? jangan bilang kalau saat ini kamu ngidam yang aneh lagi,dan ngidam kamu malam ini kamu pengen nyubitin suami kamu!"


Ade mengerang kesakitan karena Ani tiba2 mencubit pinggangnya dengan geram.


"Iyaa Ani pengen cubit kamu mas, sampai Ani puas dan nggak kesal lagi!"


"Kesal? kamu kenapa kesal sayang?"


"Ya kesal lah! mas tuh jahat banget, udah tahu ada papa dan mama dimobil masih aja ngomongnya begitu, trus pakai ngasihin hp sama papa lagi!"


"Hahaha..." jadi kamu masih kesal gara2 itu ha?" Ade segera membawa Ani kedalam pelukannya dan merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur, Ade memberi kecupan di seluruh wajah istrinya, dia benar2 gemas melihat tingkah istrinya itu, yang ternyata masih menyimpan kesal karena ulahnya tadi.


"Udah mas, Ani nggak mau dicium-cium! Ani masih marah nih!"


"Biarin marah! mas nggak peduli." Ade masih mencium wajah Ani dan menggelitik pinggangnya.


"Hahaha..." udah mas Ani geli! lepaskan Ani!" akhirnya Ani tidak bisa menahan tawa karena ulah suaminya itu yang masih berusaha membuat istrinya tertawa.


"Iya iya.. ampun mas!" Ani masih tertawa menahan geli.


"Janji nggak marah lagi?" Ade masih saja mengambil kesempatan untuk membuat istrinya tidak marah kepadanya.


"Iya mas Ani janji nggak akan marah lagi." akhirnya Ani menyerah, dan Ade segera melepaskan istrinya itu.


Ade menatap Ani dengan jarak beberapa senti antara wajah mereka.


"Apa!" Ani menatap jutek


"Eiit nggak boleh marah! kan tadi udah janji?" Ade kembali mengingatkan Ani dan mengecup bibirnya.


"Jangan marah ya sayang! mas minta maaf ya?"


Ade harus meminta maaf kepada istrinya itu, karena dia tahu, wanita tidak butuh berdebat yang dia butuhkan adalah kata maaf dari lelakinya, karena sifat wanita itu mudah memaafkan tapi tak mudah melupakan. jadi jangan sekali2 mengajak wanita untuk berdebat karena dia sanggup melayani walau sampai sebulan lamanya, karena dia selalu mempunyai bahan untuk perdebatan itu, karena masalah yang sudah puluhan tahun terbenam di dasar lautan akan dia gali kembali untuk menjadi bahan perdebatan, begitulah sifat wanita.


"Iya, tapi mas jangan gitu dong! Ani kan malu sama papa dan Mama mas." rajuk Ani kepada Ade.

__ADS_1


"Oke sayang! mas janji nggak gitu lagi deh." Ade mengacungkan dua jarinya keatas tanda tak akan mengulanginya lagi.


"Yaudah mas sekarang mandi ya! Ani mau siapkan makan malam dulu."


"Oke sayang, nggak mau temani mas mandi dulu?" Ade menggoda Ani sambil mengedipkan matanya.


Blush...


Wajah Ani berubah menjadi merah merona, dia sudah membayangkan apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu saat mereka berdua didalam kamar mandi.


"Nggak! Ani udah mandi." dan segera meninggalkan suaminya itu, yang masih saja terkekeh melihat wajah istrinya berubah menjadi merah.


Saat Ani keluar dari kamar, dia melihat mama mertuanya itu sedang duduk sendiri di ruang keluarga sambil mengusap betis kakinya,


Ani segera menuju dapur, dia mengambil sebuah ember kecil dan dia mengambil batu es di dalam freezer,lalu memecahkan batu es itu dan memasukkannya kedalam ember kecil yang tadi dia ambil, lalu Ani mengambil satu botol minyak tanah yang dia beli waktu itu, lalu dia tuangkan minyak tanah itu kedalam ember yang telah berisi batu es tadi.


Ani membawa ember kecil yang telah dia isi batu es dan minyak tanah tadi, lalu dia letakkan di dekat kaki mama Endang,


"Apa ini Ann?" Mama Endang terkejut dan juga heran saat melihat menantunya itu membawa ember kecil dan meletakkan di dekat kakinya.


"Kaki mama sakit kan? ayo masukkan kaki mama kedalam ember ini?"


"Tapi ini apa Ani? kok ada batu es nya, mama nggak tahan kena dingin!"


"Ayo coba dulu ma!" Ani mengangkat kedua kaki mama Endang dan memasukkan kaki itu kedalam ember kecil yang tadi dia bawa.


"Awh.." dingin Ani!" Mama Endang menatap heran kepada menantunya itu, apa yang sedang Ani lakukan kepadanya.


"Mama tahanlah sedikit, Ani sambil memijit lembut kaki mama Endang, dan sesekali mengurutkan kaki itu dengan pelan. Endang baru menyadari bahwa menantunya itu sedang mengobati kakinya yang sakit akibat perjalanan jauh, Endang menatap Ani dengan penuh rasa sayang, dia merasa bersalah telah salah paham kepada menantunya itu.


Sudah 10menit kaki mama Endang berada di dalam batu es bercampur minyak tanah itu.


"Apakah sudah bisa mama angkat kaki mama?"


"Sudah, ayo sekarang angkat pelan2 kaki Mama!" Ani duduk bersimpuh dibawah mama mertuanya itu, lalu meletakkan kaki Endang di atas pahanya yang telah dia alas dengan handuk kecil.


"Apa yang kamu lakukan nak?" Endang merasa tidak enak karena perlakuan anak menantunya itu.


"Udah ma, letakkan kaki mama disini!" Ani segera mengelap dan memijit kaki mama mertuanya itu.


"Ma, Ani minta maaf atas ketidak nyamanan mama selama Ani menjadi menantu dirumah ini! Ani tahu mama adalah orang yang sangat baik yang pernah Ani kenal, maaf ma jika pernikahan ini telah membuat mama kecewa."


Ani tak bisa menahan air matanya, sudah lama dia ingin meminta maaf kepada mama mertuanya itu, Ani merasa telah mengecewakan Endang karena Ani tahu bahwa Endang sangat menyukai Gita untuk menjadi menantunya.

__ADS_1


Bersambung...


Yuk komen agar Author update lagi~


__ADS_2