
Dimas masih diam terpaku melihat kepergian Raysa, dia kembali teringat malam panas saat bersama Raysa di apartemennya.
"Ah, mikirin apa sih aku! dia bukan wanita baik2 aku tidak pantas memikirkan dia, mungkin saja setelah tidur bersamaku sudah banyak laki2 lain yang tidur bersamanya." Dimas bergumam sendiri.
Kini pesanan Dimas sudah ditata di atas nampan penyajian, dan Raysa meminta tolong kepada teman sesama pelayan untuk menggantikan dirinya mengantar pesanan Dimas, rasanya dia tidak sanggup untuk bertemu dan menatap wajah Dimas.
"Permisi pak,ini pesanan yang bapak minta!" Riri teman yang menggantikan Raysa segera ingin menyajikan di atas meja Dimas.
"Tunggu! Tadi saya pesan bukan sama kamu, bawa makanan ini kembali dan suruh wanita itu yang mengantarkannya." tiba-tiba Dimas menghentikan aktivitas pelayanan itu untuk menyajikan makanan yang telah Dimas pesan.
"Tat, tapi pak! teman saya sedang ada pekerjaan yang lain."
Riri merasa gugup saat Dimas menatap sinis kepadanya, padahal Dimas selama ini terkenal dokter yang sangat ramah dan humoris, tetapi semenjak kekecewaannya terhadap Raysa sikapnya berubah secara drastis.
"Saya tidak mau tahu, saya tidak jadi makan dan silahkan kamu bawa makanan ini dari hadapan saya!" kata2 Dimas membuat nyali Riri ciut dan dia segera membawa makanan itu kembali.
"Loh Ri, kok makanannya dibawa lagi? apakah yang pesan telah pergi?" Raysa berpikir Dimas sudah pergi, mungkin saja Dimas tidak ingin melihat Raysa sehingga dia tidak jadi memakan pesanannya.
"Bukan Sa, yang pesan meminta kamu untuk mengantarkan makanannya."
Deg!
Jantung Raysa berdegup kencang,saat mendengar penjelasan Riri, 'kenapa dia meminta aku untuk mengantarkan pesanannya? apakah ada sesuatu yang ingin dia bicarakan?' Raysa bicara sendiri dalam hati dan dia segera mengambil nampan ditangan Riri dan segera dia bawa kembali kehadapan Dimas.
Saat dia akan sampai ke meja dimana Dimas duduk, jantungnya kembali berdegup tak karuan. 'Jantung tenanglah jangan membuat suasanaku sulit! Ya Allah, aku mohon beri ketenangan dihati dan dijantungku.' Raysa berdo'a dalam hati.
"Permisi pak, maaf ini pesanan yang tadi anda minta! Raysa begitu gugup dan keringat dingin keluar dari dahinya,dia benar-benar tidak sanggup untuk berdiri lebih lama di hadapan Dimas, dia segera menyajikan makanan yang tadi dia bawa.
Setelah selesai menyajikan makanan itu,Raysa segera pamit dari hadapan Dimas, tetapi tangannya segera di tarik oleh Dimas.
"Duduklah, aku ingin bicara denganmu!" suara dingin itu terasa begitu menakutkan.
"Maaf saya tidak bisa!"
"Kenapa tidak bisa? berapa saya akan membayarmu untuk menemani saya makan, jika kamu mau temani saya tidur malam ini dan saya akan membayarmu lebih mahal dari yang kemaren!"
Duarr....
__ADS_1
Kata2 Dimas bak petir menyambar tubuh Raysa, dia tidak menyangka ternyata Dimas menyuruhnya datang hanya untuk membayar tubuhnya kembali.
"Maaf saya disini bukan untuk menjual tubuh saya!"
Cairan bening itu sudah menggenang di kelopak mata Raysa, rasanya dia ingin sekali menampar mulut Dimas saat itu juga, tetapi dia tidak bisa melakukan Itu karena anggapan yang berada di hati Dimas saat ini adalah berawal dari dirinya sendiri.
"Oh ya? tentu saja disini kamu tidak akan menjual tubuhmu, tetapi disini kamu bisa membuat janji dengan pelangganmu! apakah kamu sudah mempunyai janji dengan seseorang? berapa dia membokingmu malam ini,aku akan membayar 2 x lipat dengan bayaran yang dia berikan!"
"Cukup! hentikan kata2 kurang ajar mu itu!!" Raysa tak bisa menahan tangisnya dia segera berlari dari hadapan Dimas dan keluar dari cafe itu.
Dimas menatap heran, melihat kemarahan Raysa, "Perempuan aneh! kenapa dia bisa marah begitu, emangnya aku salah bicara apa?" Dimas bicara sendiri, dan segera membayar makanan yang telah dia pesan tapi tidak jadi dia makan karena selera makannya jadi hilang.
***
Kini seminggu telah berlalu semenjak pertemuannya dengan Dimas malam itu, Raysa memberhentikan diri dari pekerjaannya karena dia tidak ingin bertemu dengan Dimas lagi, Raysa benar2 kecewa, dia berpikir jika Dimas juga menyukai dirinya dan akan menanyakan alasan mengapa dirinya melakukan hal itu, karena Dimas juga tahu bahwa dia adalah lelaki yang telah mengambil kesuciannya. tetapi pikirannya salah, ternyata dimas masih menganggap dirinya adalah wanita jal**g.
Kini Raysa kembali bekerja di sebuah rumah sakit tempat ibunya dirawat, itu semua berkat bantuan dokter Angga, karena malam itu setelah dia pergi dari cafe tempatnya bekerja dia tidak sengaja bertemu dengan dokter Angga saat Raysa akan masuk menemui ibunya.
Saat itu dr Angga baru saja selesai melakukan operasi besar sehingga memakan waktu cukup lama sehingga dia baru bisa menyelesaikan tugasnya saat malam telah larut, dan mereka bertemu lalu Raysa mengatakan jika dia telah berhenti dari pekerjaannya, dia tidak ingin memberi penjelasan saat Angga menanyakan alasan mengapa dia berhenti, tetapi Angga tidak ingin memaksa jika Raysa tidak siap menceritakan.
Kini sudah 4 hari Raysa bekerja di RS itu, walaupun ibunya sudah tidak di RS itu lagi, karena Dr Angga telah memberi izin untuk pulang.
***
Pagi ini pukul 8.30 seperti biasanya Raysa mengantarkan jatah makan para pasien rawat inap, dia memasuki beberapa kamar yang telah di tentukan untuk tugasnya, setelah selesai dia kembali menuju dapur masak RS dan dia berpapasan dengan Dr Angga.
"Hai.. udah selesai?" dr Angga menyapa dengan ramah dan tatapan yang begitu lembut.
"Ah, ya, baru selesai, dr baru datang?" Raysa kembali menyapa,dia sangat menghargai semua kebaikan dr Angga,
"Hmm, saya tidak dapat jatah sarapan nih?" Angga menanyakan jatah sarapan untuknya.
"Dr serius mau sarapan masakan dari RS? kan masakannya dikhususkan untuk orang sakit dok."
"Ya serius,tapi masakannya kamu yang buatin! kalau nggak kamu saya nggak mau!"
"Kok begitu?" Raysa mengerutkan keningnya
__ADS_1
"Ah yasudah, saya mau visit pagi dulu." dr Angga segera pergi dari hadapan Raysa,dia hampir saja ketahuan jika dirinya telah jatuh cinta oleh gadis cantik berlesung pipi itu.
POV Dr, Angga Rahendra,
Ya, Aku adalah seorang Dr Sp,Nefrologi, aku bergabung di RS ini baru 3 tahun, sebelumnya aku tinggal di Jakarta dan mempunyai praktek sendiri, namun sang papa meminta diriku untuk membantu teman dari papaku itu, yaitu Ari Waluyo dia adalah ayah dari Dr Ade Hermawan yang mempunyai RS ini.
Pekerjaanku yang disana aku serahkan kepada adikku untuk sementara waktu, kebetulan adikku baru menyelesaikan ilmu kedokterannya di luar negeri, dan aku di kontrak RS swasta yang dimiliki Ade! tetapi aku hanya meminta 5 tahun saja kontrak kerjanya, setelah itu Aku meminta Ade untuk mencari pengganti diriku, karena aku ingin kembali meneruskan pekerjaanku yang disana,
Aku memang dikenal dokter andalan dalam menangani penyakit organ ginjal,aku adalah duda beranak satu, istriku meninggal dunia saat melahirkan anak pertama kami yang kini sudah berusia 4 tahun, dan selama itu pula aku menutup hatiku untuk tidak mau mencari pengganti sang istri, karena aku sangat mencintainya, tetapi saat ini aku tidak bisa pungkiri bahwa pertahanan hatiku runtuh oleh seorang gadis sederhana yang cantik berlesung pipi itu! dia benar-benar membuat kekosongan hatiku selama ini, kini duniaku kembali berwarna, walaupun aku tidak tahu apakah dia juga mencintai aku!
POV end
***
Kini Raysa kembali ke dapur RS,dia segera mencuci peralatan makan yang tadi di ambil dari setiap ruangan pasien rawat inap,
"Sa, bisa minta tolong antarkan makanan ini ke ruangan pasien rawat inap di lantai dua? soalnya ada keluargaku yang sedang kritis di RS ini aku mau jenguk sebentar, jadi aku minta tolong kamu anterin ya?"
"Ah, baiklah mbak, akan Aku antarkan, semoga saudara mbak Caca cepat sembuh ya!" Raysa kembali mendorong rak makan yang beroda itu untuk mengantarkan ke ruang rawat inap yang berada di lantai dua itu.
Setelah keluar dari lift,Raysa segera membaca nama kamar yang tertera di setiap plastik pembungkus piring makan itu, dia segera masuk ke kamar pertama.
"Permisi ibu, ini saya bawakan makan pagi buat ibu semoga ibu cepat pulih ya! wah dedek bayinya imut banget." saat meletakkan makanan, dia melihat ada bayi mungil di dalam boks bayi yang berada disamping tempat tidur sang ibu.
"Terimakasih Mbak! semoga si mbaknya segera mendapatkan bayi yang mungil ya, hehehe."
"Ah ibu bisa saja, saya belum menikah bu!, kalau begitu saya permisi dulu."
Raysa segera mendorong kembali rak makanan itu, saat dia ingin keluar dia berpapasan dengan dokter yang menangani ibu yang berada di dalam ruangan itu.
"Kamu?!"
Kembali Raysa terperanjat melihat ada Dimas dihadapannya.
"Ya aku disini, sepertinya kamu selalu mengikuti kemana aku pergi ya? kenapa kamu menyesal kan? telah menolak tawaran saya kemaren!"
Bersambung...
__ADS_1