
Kini Ade sedang memeriksa kehamilan Ani, saat Ani sudah berbaring di hospital bed, Ade segera menyuruh suster yang membantu untuk keluar dengan alasan Ade meminta file Ani dilantai dasar.
"Sus, saya minta file atas nama Maharani ya. tolong suster ambilkan kebawah."
"Baik dokter, "tapi dokter?" suster itu ragu untuk meninggalkan pasien berdua dengan dokter.
"Sudah tidak apa2 kamu ambilkan saja sebentar."
"Baiklah kalau begitu saya tinggal sebentar ya Bu" suster itu pamit kepada Ani, dan Ani hanya mengangguk
Setelah suster itu keluar Ade segera memperbaiki tidur Ani,
"Ayo sayang lebih geser kesini biar mas segera periksa." Ade segera memeriksa sebelum suster itu datang.
Ade mulai memainkan alat USG itu di atas perut istrinya yang masih datar, dia sangat fokus menatap layar monitor, sesekali dia mengutak-atik tombol di monitor itu
"Sayang kamu lihat itu bayi kita." Ani segera menatap layar monitor itu untuk melihat malaikat kecil yang masih berada dalam rahimnya
"Apakah dia baik2 saja mas?"
"Alhamdulillah dia baik2 saja sayang, dan rahim kamu juga baik" gejala kista yang kemarin bisa dikalahkan oleh adanya bayi di rahim kamu jadi kista tidak bisa berkembang karena kegencet oleh bayi."
"Alhamdulillah.. "udah ada detak jantungnya mas?"
"Belum sayang, kehamilan kamu baru genap 6 Minggu jadi janinnya masih kecil banget" nanti setelah 8 minggu maka bayi sudah mulai berbentuk" dan di umur 16 Minggu baru jantung bayi berdetak dengan sempurna" karena kamu tahu? 16 Minggu itu atau 4 bulan Allah baru meniupkan roh kepada bayi."
Ade menjelaskan tentang ilmu medis dan juga syariat Islam tentang kondisi janin di usia 16 Minggu.
Ya, Ade memang seorang dokter tapi dia juga banyak mengerti tentang ilmu agama, karena orangtuanya menyeimbangkannya antara ilmu dunia dan ilmu akhirat
Ani yang mendengarkan penjelasan suaminya dia merasa bangga memiliki lelaki seperti Ade, baginya Ade cukup sempurna sebagai seorang makhluk ciptaan Allah. Ani masih menatap suaminya dengan dalam
"Sayang, kamu kenapa lihatin mas begitu" apakah mas salah ngomong?"
__ADS_1
"Nggak kok mas, Ani cuma bangga melihat kamu, ternyata mas itu pintar dalam ilmu kedokteran dan juga ilmu agama." Ani tersenyum kepada suaminya
"Sayang, ilmu dunia itu penting tetapi sebenarnya lebih penting ilmu agama" karena ilmu dunia itu sifatnya hanya sementara, sedangkan ilmu agama kekal selamanya." Ade kembali menjelaskan kepada istrinya tentang seberapa penting ilmu agama dan ilmu dunia.
"Iyaa mas Ani mengerti, Ani hanya berharap agar selalu bisa bersama kamu dari dunia hingga akhirat."
"Ade menggenggam tangan istrinya. "Insyaallah kita akan selalu bersama hingga Jannah nanti" semoga Allah mengampuni segala dosa2 kita."
Ani terharu mendengar kata-kata suaminya tak Terasa air matanya jatuh,
"Mas, bagaimana dengan anak kita dia hadir disaat kita belum menikah" mas juga pasti tahu dia tidak bisa bernasab kepada kamu mas." Ani kembali tidak bisa menahan tangisnya hingga tubuhnya berguncang.
"Sssttt sayang" jangan menangis ya, kamu jangan sedih." Ade memiringkan tubuh Ani untuk menghadap kepadanya dan segera memeluk istri yang sedang berbaring dan Ani memeluk tubuh Ade dengan dalam
"Kamu dengarkan mas ya" walaupun dia tidak bernasab kepada mas, tapi mas tidak akan membedakannya karena dia adalah darah daging mas, sampai kapanpun kasih sayang mas tak akan berubah dia tetap anak kandung kita."
Ade mencoba meyakinkan istrinya dan memberikan ketenangan kepada istrinya. "Udah jangan sedih lagi ya, jangan mikir yang berat2 kita jalani saja hidup ini dan jangan lupa selalu berdoa semoga Allah menerima taubat kita." Ade mengecup kening istrinya dan segera melerai pelukannya
Ani mengangguk dia sudah lega karena Ani merasa sekarang Hanya pelukan suaminyalah yang bisa membuat dia tenang dan nyaman. selain pelukan ibunya
***
"Sayang ayo ikut mas ke lantai 4 kamu tunggu mas disana ya sampai jam praktek mas selesai."
"Nggak usah mas Ani pulang saja, jika Ani masih berada disini maka akan banyak yang curiga, bagaimana jika nanti bang Dimas mengetahuinya nanti semakin ribet urusannya mas, apakah mas mau semua orang tahu tentang hubungan kita?"
"Iya juga sih sayang" memang mereka semua harus tahu tentang hubungan kita tapi tidak sekarang" baiklah mas telpon supir dulu untuk jemput kamu."
"Kalau begitu Ani tunggu dilobi saja ya mas." saat mereka sedang bicara suster datang membawa file milik Ani
"Sudah selesai USG nya dokter?"
"Ah ya, bawa kesini file nya sus." Ade meminta file itu dan dia merubah sikapnya agar terlihat biasa saja layaknya antara pasien dan dokter
__ADS_1
"Baiklah Bu Ani, ini resep obatnya silahkan ambil di apotik." Ade memberikan resep kepada Ani
"Baik terimakasih dokter." Ani segera keluar dari ruangan suaminya
****
Kini seminggu berlalu setelah pernikahan Ade dan Ani, mereka menjalani dengan bahagia sifat Ani yang manja saat hamil muda terkadang membuat Ade kewalahan, namun Ade tidak pernah marah dia selalu sabar dan mengikuti semua kemauan istrinya.
Pagi ini seperti biasanya Ade membuatkan susu hamil untuk istrinya karena semakin hari Ani tidak bisa makan apapun dia selalu mual dan muntah,Ani Hanya tiduran dia tidak mau melakukan aktivitas apapun mungkin karena bawaan hamil anak pertamanya
"Sayang, ayo bangun minum susunya dulu" kalau kamu tidak mau makan apapun mas pasang infus saja ya." Ade merasa cemas melihat kondisi Ani semakin menurun.
"Tidak mau mas, Ani tidak apa2."
"Kamu benar tidak apa2" karena hari ini mama dan papa akan pulang." apakah kamu yakin bagaimana jika nanti mama curiga melihat kondisi kamu?"
"Jam berapa mereka sampai mas?"
"Mungkin nanti sore mereka baru sampai, mama dan papa mampir ke rumah mbak Dewi dulu di Jogja", karena Mbak Dewi juga ingin kesini, katanya mbak Dewi ingin menemani mama sampai kondisi mama benar2 pulih."
Deg!
Jantung Ani berdetak saat mendengar kepulangan papa dan mama mertuanya. ntah mengapa Ani merasa takut jika nanti mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia dan Ade sudah menikah.
"Kamu kenapa sayang, kok bengong?" Ade melihat istrinya melamun
"Mas, Ani takut bagaimana nanti jika mereka sudah tahu yang sebenarnya" apakah kita akan berpisah?" Ani kembali menangis, karena bawaan hamil Ani menjadi sangat sensitif.
Ade segera mendekat, "Sayang, apa yang kamu katakan" kita tidak akan berpisah kamu percaya sama mas ya." Ade segera membawa Ani kedalam pelukannya
"Udah kamu jangan banyak pikiran lagi ya" itu tidak baik untuk janin yang berada disini." Ade mengusap lembut perut datar istrinya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar nya ya teman-teman terimakasih 😘😘