Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Selalu membuatnya salah tingkah.


__ADS_3

"Sa, aku tahu jika kamu masih menganggap aku adalah laki-laki jahat. tapi aku berharap kamu bisa memberiku kesempatan untuk menebus kesalahan yang selama ini aku lakukan kepadamu. aku juga berharap kamu bisa menerima kehadiran bayi yang ada di dalam kandunganmu."


Dimas menatap wajah Raysa dengan dalam. dia berharap wanita cantik berlesung pipi itu bersedia memberinya kesempatan kedua.


Raysa menatap Dimas dengan bingung. dia tidak tahu dengan perasaannya saat ini. tetapi dia tidak bisa mempercayai Dimas secepat itu. dia menatap mata Dimas mencoba mencari-cari kebohongan dan sikap licik dari mata itu.tetapi dia tidak menemukan hal yang dia takutkan melainkan kebalikan nya.mata itu tampak tulus, jujur dan bisa di percaya.


Tetapi pemilik mata tulus itu pernah menyakitinya.apakah kata kata orang yang pernah menyakiti bisa di percaya? entahlah sepertinya Raysa masih butuh waktu untuk semua itu.


"Ayo sekarang habiskan makannya. aku tahu kamu masih butuh waktu untuk mempercayai semua kata2ku. dan aku tidak akan memaksamu, aku percaya semua akan baik-baik saja dengan seiring berjalannya waktu." Dimas segera mencairkan suasana kembali dan Raysa kembali fokus dengan makanannya yang tadi sempat tertunda.


***


Setelah selesai makan Raysa segera mengalihkan semua piring kotor itu ke wastafel untuk segera dia cuci. namun Dimas kembali memanjakan dirinya dia tidak mengizinkan Raysa untuk mencuci peralatan makan itu.


"Ayo kamu sekarang duduklah biar aku yang mencucinya." Dimas segera mengambil alih piring kotor itu dari tangan Raysa.


"Ah, tidak. biar aku saja yang mencucinya." Raysa juga tidak mau mengalah dia sangat tidak enak dia merasa Dimas terlalu memanjakan dirinya padahal dia selama ini sudah terbiasa untuk melakukan pekerjaan itu.


"Udah ini biar aku saja yang melakukannya. jika kamu mau mengerjakan sesuatu kamu bisa buatkan aku secangkir kopi hitam no sugar."


"Nggak mau." Raysa menjawab singkat sambil mengalihkan pandangannya. "kenapa tidak mau? apakah itu permintaan yang sulit dariku?"


"Ah, tidak. te-tapi aku tidak tahu selera dokter." Dimas tersenyum. "Sa, jika kamu yang buat pasti sudah sesuai dengan seleraku." ucapan Dimas membuat wajah Raysa memerah dan jantungnya berdegup tak menentu.

__ADS_1


"Ba-baiklah. tunggulah sebentar akan aku buatkan." Raysa memberikan piring kotor itu kepada Dimas.dia segera menuju meja kompor untuk membuatkan Dimas secangkir kopi pahit tanpa gula sesuai permintaan tuan Dokter tampan itu.


setelah selesai mencuci piring Dimas segera duduk di ruang tamu dan menyalakan televisi sambil menunggu istrinya membawakan kopi untuknya.


"Ini kopi yang Dokter minta." Raysa meletakkan secangkir kopi hitam di meja dan dia ingin pergi tetapi Dimas meminta untuk ditemani.


"Apakah kamu tidak ingin menemani suamimu ini minum kopi sambil ngobrol dan membahas hal-hal yang ringan untuk masa depan kita dan calon anak kita?" jantung Raysa kembali berdegup kencang. entah kenapa Raysa seperti orang yang sedang jatuh cinta saat mendengar kata-kata ke intiman dari Dimas.


Raysa segera Duduk dihadapan Dimas. "Kenapa duduk disana? apakah kamu ingin aku selalu memandangi wajah cantikmu itu? tapi jika kamu mengizinkan maka aku akan senang sekali." Dimas tersenyum sambil menggoda istrinya.


"Apa sih Dokter! malas ah." Raysa segera bangkit dan ingin pergi karena dia tidak sanggup selalu di goda oleh dokter Tampan Itu. begitulah sikap Dimas yang sebenarnya. dia suka sekali membuat wanita menjadi salah tingkah. tetapi sekarang berbeda dia benar2 ingin membuat istrinya itu kembali jatuh cinta kepadanya dengan semua rayuan mautnya.


"Eh, eh.. tunggu jangan pergi! masa Gitu aja ngambek. kalau Adek pergi nanti Abang nggak ada yang Nemani dong."


"Baiklah kalau kamu tidak suka dengan panggilan itu. bagaimana jika kita tukar panggilannya my wife and my husband. bagaimana?" Dimas mengedipkan matanya.


Raysa di buat selalu salah tingkah. rasanya jika dia mempunyai ilmu seperti film laga tahun sembilan puluhan maka dia akan hilang saat itu juga. "perasaan aku yang sedang marah dengannya tetapi kenapa sekarang aku seperti kucing yang tak bisa berkutik di hadapan singa jantan. ah dasar Dokter tidak jelas." Raysa bergumam dalam hati.


"Ya sudah, ayo duduk disini." Dimas memukul tempat duduk di sampingnya tanda memberikan kode agar Raysa duduk disana. dan Raysa segera Duduk tetapi matanya tertuju kepada televisi. dia tidak berani untuk menatap Dimas.


Dengan sedikit keberanian Raysa menatap wajah Dimas dari samping. dia sedikit terpana saat melihat wajah itu karena selama dia kenal dengan dokter bermulut pedas itu tak pernah melihat wajahnya sebahagia malam ini. itu bisa terlihat dari raut wajah Dimas yang selalu menampilkan senyum menawannya.


"Jangan lama-lama memandangnya jika nanti kamu jatuh cinta aku tidak bertanggung jawab." ucapan Dimas sontak membuat Raysa gelagapan dan segera mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Apa sih. siapa juga yang jatuh cinta dengan kamu." sungut Raysa. Dimas menoleh ke samping dan menatap wajah Raysa dengan dalam.


"Ngapain lihat2 nanti kamu yang jatuh cinta." Raysa membalikkan kata2 Dimas tadi.


"Emang! aku memang telah jatuh cinta kepadamu."


"Apa sih? nggak usah selalu gombal gitu."


"Tapi aku nggak gombal!"


"Itu gombal."


"Nggak!"


"Iihh..." tanpa Raysa sadari dia telah berani mencubit pinggul Dimas.


"Awh.. sakit sayang! tapi asyik. lagi dong." kembali kata2 Dimas membuat wajah Raysa memerah bak tersengat mata hari.


"Udah ah, aku mau tidur. capek ngeladeni kamu." Raysa berdiri tetapi Dimas segera menarik tangannya sehingga Raysa jatuh di pangkuan Dimas netra mereka bersatu kembali dan jantung mereka saling berdegup tak menentu.


Bersambung...


jangan lupa dukungannya agar Author semangat Update. terimakasih 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2