Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Kedatangan mam Rana


__ADS_3

"Sayang, sudah saatnya kita menjelaskan semuanya kepada orangtua Abang. besok pagi mama akan berkunjung kesini. apakah kamu sudah siap?" tanya Dimas kepada istrinya.


"Tapi bang. apakah orangtua Abang akan menerimaku?"


"Tenanglah mama itu orangnya sangat baik. apalagi jika dia tahu bahwa sekarang kamu sedang mengandung cucunya. dia pasti bahagia sekali."


Dimas masih berusaha meyakinkan Raysa agar dia tidak takut menghadapi mamanya. ya, Dimas hanya mempunyai mama karena ayahnya sudah tiga tahun yang lalu meninggal dunia. jadi mama Rana hanya tinggal berdua dengan Lili adik perempuan satu-satunya, Dimas hanya dua bersaudara.


"Baiklah bang. kita akan menghadapinya bersama." jawab Raysa.


***


Kini dikediaman keluarga Waluyo.


Bu Sari dan pak Bayu sudah sampai dengan selamat di kediaman Besannya itu. Ani sangat bahagia bisa bertemu dengan keluarganya, terlebih lagi dengan Doni adik lelaki satu-satunya. tanpa terasa Doni telah menamatkan pendidikan sekolah menengah atas. dan dia akan berencana untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang selanjutnya.


"Ayo Sari kita masuk, kamu harus cobain masakan hasil karya kami berdua." ucap mama Endang kepada Bu Sari, dengan di iringi tawa bahagianya.


"Ah mbak Endang bisa saja. ya sudah pasti enaklah, kan juru masaknya mbak Endang." jawab sari kepada Besannya


Sementara itu Pak bayu dan papa Ari menuju ruang tamu untuk ngobrol. apalagi yang mereka bicarakan kalau bukan masalah sawit, apalagi sekarang harga sawit turun dengan secara drastis.


***


Pagi ini Dimas sudah bersiap untuk menjemput Mamanya ke bandara. sesuai dengan janji mamanya kemarin bahwa hari ini ia akan berkunjung ke kota ini untuk menghadiri acara tujuh bulanan Ani dan Ade. dan juga untuk menyelesaikan masalah Dimas yang sudah ia ketahui menikah secara diam-diam.


"Sayang, Abang jemput mama ke bandara dulu ya! kamu mau ikut nggak?" tanya Dimas kepada istrinya yang sedang sibuk didapur untuk menyambut kedatangan mama mertuanya.


"Nggak bang, aku tungguin mama disini saja. dan lagi pula masakan ku belum selesai nih." jawab Raysa sembari memperbaiki kerah baju suaminya yang tidak rapi.


"Muach, terimakasih sayang. kamu cantik banget pagi ini? sengaja ya dandan yang cantik biar jadi menantu kesayangan." Dimas mengecup bibir Raysa dan menggodanya.


"Ih apaan sih bang. aku tuh sekarang cemas banget. aku takut mama tidak menerimaku." ucap Raysa dengan wajahnya yang cemas


"Sayang, kamu percaya sama Abang ya. mama pasti bisa menerima kamu sebagai menantunya." Dimas kembali meyakinkan Raysa agar istrinya itu tidak cemas.


"Abang berangkat dulu ya! kamu ada yang mau Abang beliin nggak?" tanya Dimas sembari mengusap rambut panjang istrinya yang masih basah karena mandi wajib. ya, semenjak hubungan mereka membaik Dimas seakan tak memberi istrinya itu kesempatan untuk tidur dengan tenang sebelum menggempurnya.

__ADS_1


"Hmmm,, apa ya? oh itu bang, beliin Adek rujak aja ya!"


"Apa tadi. kamu ngomong apa barusan?"


"Rujak loh bang!"


"Bukan, bukan itu. kamu manggil diri kamu apa tadi, Adek benarkan? tuh kan kamu tu makin lama makin cinta sama Abang." goda Dimas kepada istrinya.


"Apaan sih bang! sok tahu banget deh."


"Ya tahulah kan panggilan adek itu dari Abang. nah sekarang Abang panggilnya nggak pake kamu lagi. tetapi Adek. biar tambah mesra. apalagi saat kita diranjang pas keluarnya bareng bisa ngomong, oh yes dek, oh no bang!benar nggak?" Dimas tertawa menggoda istrinya.


"Iihh.. apaan sih bang. geli deh." wajah Raysa bersemu merah. "udah sana Abang pergi. nanti mama duluan yang nungguin Abang. ingat Lo nanti Abang di getok mama pake cobekan." seloroh Raysa yang merasa malu di godain terus oleh dokter mesumnya itu."


"Hahaha... Oke oke, Abang pergi sekarang. tapi jangan lupa ntar malam kita praktekin ya, yang Abang adek itu." ujar Dimas mengedipkan matanya dengan tawanya dan segera pergi untuk menjemput Mamanya."


***


Kini Raysa duduk santai menonton televisi sambil menunggu mama mertuanya datang. semua menu telah tersaji di atas meja makan. tidak berapa lama dia duduk kini terdengar suara bel apartemen itu berbunyi.


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam... silahkan masuk ma!" sambut Raysa dengan ramah.


"Kamu Raysa kan?" tanya mama Rana.


"Ah iya ma." Raysa segera menyalami dan mencium tangan mama mertuanya itu. dan tak lupa juga ia menyapa adik perempuan suaminya.


"Bagaimana kabar kamu sayang? apakah anak Mama masih menyakiti kamu?" tiba-tiba pertanyaan mama Rana membuat Raysa terperangah. dia heran kenapa nama mertuanya menanyakan hal itu.


"Ka-kabar aku baik ma. ah bang Dimas sangat baik dia tidak pernah menyakiti aku." jawab Raysa dengan apa adanya. karena memang semenjak mereka menikah Dimas sangat menyayangi dan memanjakan Raysa.


"Ya semoga saja kalian bahagia walaupun pernikahan ini di awali dengan salah paham antara kamu dan Maafkan anak mama ya nak. lagian mama heran kenapa Dimas bisa mabuk dan memperkosa seorang gadis cantik seperti kamu. padahal selama ini dia tidak pernah mencoba minuman keras. itu karena pergaulannya yang tak sehat." jelas mama Rana dengan nada kesal kepada Dimas.


Raysa kembali terperanjat mendengar kata-kata mama mertuanya itu. dia heran kenapa mama Rana mengatakan bahwa pernikahan mereka terjadi karena bentuk tanggung jawab Dimas yang telah memperkosa Raysa.


Raysa menatap Dimas dengan penuh tanda tanya untuk meminta Jawaban. apa yang telah dia katakan kepada mamanya. tetapi Dimas kembali menatap Raysa dan mengangguk kan kepalanya agar Raysa mengiyakan saja apa yang mama Rana bicarakan.

__ADS_1


"Ah, iya ma tidak apa-apa. kalau begitu ayo ma, Lili, kita makan dulu. aku udah masakin sesuatu buat mama dan Lili jawab Raysa dan membawa mama mertuanya untuk menuju meja makan.


"Waah! sepertinya masakan kakak ipar enak banget nih. ini menu apa sih kak namanya?" tanya Lili dengan antusias dia menanyakan salah satu menu yang cukup menggiurkan seleranya.


"Ini namanya ayam sambal saus. ayo kamu cobain." ucap Raysa


"Makanya kamu itu harus rajin belajar masak dengan Kakak ipar kamu. biar besok udah nikah nggak malu2in jika mertua berkunjung kerumah kamu." ucap Dimas yang ikut menyela pembicaraan Raysa dan Lili.


"Ih, kak Dimas apa sih ikut2an aja. ini tuh urusan wanita. kakak nggak usah ikut campur!"


"Eh anak jelek. ya jelas kakak ikutlah. kamu itu kan adik aku. ya kamu harus dengerin nasehat kakak. ini masak aja belum bisa sok-sokan mau nikah segala, dan ngelangkahin kakakmu yang tampan ini lagi. untung aja aku nikah lebih duluan." ucap Dimas dengan sombong.


"Huuu.. sombong! selalu merasa paling tampan, padahal nikah juga karena kecelakaan, aku yakin deh kalau nggak kepaksa kak Raysa nggak akan mau nikah sama kakak. iya kan kak?" tanya Lili meminta dukungan kepada Raysa


"Hei... sudah sudah. kalian ini Kenapa sih berantem terus kalau ketemu? bila jauh aja bilang rindu!" ucap mama Rana menyudahi pertengkaran antara adik dan kakak itu


"Ya sudah ayo kita makan ma, Lili ayo ambil nasi kamu."


"Hehe iya kak Raysa yang cantik dan baik Budi." puji Lili kepada kakak iparnya itu.


"Alah paling ada maunya tuh. palingan mau belajar masak sama kamu tuh sayang." ucap Dimas menimpali pembicaraan adiknya kembali.


"Udah dong bang! apa sih suka banget cari masalah. udah Abang makan dulu, nih nasi Abang." ujar Raysa sambil mengisi piring Dimas dengan nasi dan lauk pauknya


"Hehe, iya sayang, terimakasih ya." Dimas tersenyum manis kepada istrinya itu.


"Giliran sama kak Raysa aja sikapnya manis banget! coba kalau sama aku terasa sangat pahit sekali. padahal aku kan adik kakak satu2nya! haaa... hik.. hik.!" Lili pura-pura nangis dan menyembunyikan wajahnya di bawah meja makan.


Dimas segera berdiri dan menghampiri Lili dia sangat merasa bersalah karena telah membuat adiknya menangis. "Dek, jangan nangis dong, kakak hanya bercanda, oke deh Kakak minta maaf!"


"Taraaa..! selamat anda kena prank. hahaha.." Lili tertawa terpingkal-pingkal karena melihat ekspresi wajah kakak satu2nya itu.


"Dimas mendengus kesal. dan menjewer telinga adiknya itu..


"Kak, sakit kak. Oke oke aku minta ampun." Raysa dan mamanya hanya ikut tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya itu. dan akhirnya mereka kembali makan dengan tenang tanpa bersuara.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2