Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Pertengkaran kecil


__ADS_3

"Ayo duduklah." perintah Dimas kepada Raysa. Dimas segera mengambil piring makannya yang masih tersisa setengah nasi goreng yang dia makan tadi.


"Ayo sekarang buka mulut kamu" Dimas menyuapkan Raysa nasi goreng itu tetapi Raysa menolaknya.dia merasa malu.


"Nggak usah Dok. aku bisa makan sendiri." tolak Raysa.


"Udah ayo sekarang buka mulut! kamu jangan kepedean jika aku menyuapkan kamu. aku tuh sedang menyuapkan calon anakku. Karena ini semua keinginan dia untuk makan makanan papanya." jelas Dimas kepada Raysa. sehingga wajah istrinya itu berubah menjadi malu dan cemberut.


Raysa membuka mulutnya dan memakan nasi goreng yang Dimas suapkan kepadanya.


"Bagaimana enak nggak?" tanya Dimas. dan Raysa hanya mengangguk tanda membenarkan jika nasi goreng buatan suaminya itu sangat lezat di seleranya.


"Gitu dong. kalau kamu doyan begini aku akan membuatkannya setiap hari untuk mu." Dimas masih fokus dengan menyuapkan Raysa sehingga dia tidak menyadari jika dia telah telat ke RS. padahal jadwal pasien rawat jalannya penuh hari ini.


Dreet.. Dreet....


Ponsel Dimas berdering di atas meja makan itu. Dimas segera menjawab telepon itu.


"Ya ada apa De?" Dimas menjawab seolah tak punya masalah apapun.


"Heh. perjaka tua! kamu masih bilang ada apa ada apa! kamu nggak lihat sekarang udah jam berapa? jadi semua pasien mu ini siapa yang akan menangani nya?" omel Ade di telpon.


"Hah! aduh ya ampun aku telat! eh De. tolong kamu gantikan aku sebentar ya. aku segera OTW nih."


"Ogah! kebiasaan banget kamu ya."


"Aduh adek Abang jangan gitu dong! Abang mohon nih. adek nggak ingat selama adek liburan semua tugas adek Abang yang handle. Dimas masih memohon dengan mengungkit sedikit jasanya selama Ade pergi liburan.


"Oh jadi sekarang kamu mulai hitung-hitungan sama aku gitu?!" kesal Ade.


"Eh Yanto, aku bukan hitung-hitungan. tapi aku minta tolong. lagian kamu tuh nggak peka banget sih jadi teman! aku tuh sekarang tidak sendiri lagi!" Dimas keceplosan


"Apa! tidak sendiri lagi? kamu serius Dim?" Ade terkejut saat mendengar kata-kata Dimas

__ADS_1


"Pokoknya sekarang tolong kamu gantikan aku menjelang sampai di RS!"


"Oke oke. aku akan menggantikan mu asalkan kamu harus cerita semuanya tentang bagaimana kamu lepas dari kutukan itu." ade mematikan sambungan ponselnya


Raysa menatap Dimas dengan tajam karena Dimas telah ingkar janji.


"Ma-maaf Abang ya! Abang benar2 tidak sengaja ngomong begitu."


"Kenapa sih Dok. kamu tuh jadi orang nggak amanah banget." sungut Raysa.


"Bukan nggak amanah sayang.tadi Abang benar2 tidak sengaja. tapi kamu tidak perlu khawatir dia itu teman Abang jadi dia pasti bisa menjaga rahasia Abang. kamu tidak usah cemas Dr Angga tidak akan tahu tentang pernikahan kita ini." Dimas tersenyum masam kepada Raysa.


"Kok kamu bawa2 Dr Angga dalam masalah ini?" kesal Raysa.


"Ya tentu saja karena kamu pasti takut jika Angga akan mengetahui pernikahan ini dan kamu takut jika nanti Angga akan kecewa dan akhirnya menjauhi kamu." tuding Dimas


"Stop ya Dokter! ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan Dr Angga. jadi tolong jangan bawa2 Dr Angga dalam masalah kita ini.semua hanya kesepakatan kita sebelum kita menikah."


Dimas selalu mencoba menurunkan egonya. dia tidak ingin membuat wanitanya itu bersedih lagi. walaupun sebenarnya dia sangat muak saat mendengar Raysa membela Dr Angga. akhirnya Dimas mengalah dan segera pergi daripada pertengkaran kecil itu menjadi besar


***


Kini Dimas telah sampai di RS. dia segera menuju ruang prakteknya. saat Dimas masuk dia melihat Ade masih fokus dengan alat USG sedang melakukan pemeriksaan terhadap salah satu pasien nya.


"Selamat pagi Dokter Dimas." ucap perawat yang ada di ruangan itu.


"Ya pagi." Dimas menjawab singkat dan wajahnya masih di tekuk.


Ade memperhatikan ekspresi wajah Dimas pagi ini. "Dia bilang udah punya istri tapi kok wajahnya kusut begitu kayak jeruk purut? Ade bicara sendiri dalam hati. dan dia juga menahan tawanya yang ingin meledak. tetapi dia masih bisa menjaga sikapnya sebagai seorang dokter.


Setelah selesai. pasien yang Ade periksa telah keluar. kini tinggal mereka bertiga di ruangan itu bersama seorang suster. Ade menyuruh suster itu untuk menjeda beberapa menit untuk panggilan antrian. Ade meminta sister itu mengerjakan pekerjaan yang lain di luar ruangan itu. untuk beberapa menit selama mereka bicara.


Dimas menatap malas kepada sahabatnya itu. dia tahu pasti Ade akan menanyakan hal yang tadi dia ucapkan.

__ADS_1


"Aku tidak mau bicara disini." Dimas langsung saja menyangkal sebelum pertanyaan itu keluar dari bibir Ade.


"Oke. kita akan bicara nanti saat jam makan siang. Tapi tunggu dulu! itu wajah kok kusut banget asem lagi kayak jeruk purut. kenapa? apakah tadi malam malam gagal mencapai puncak? hahahah...." Ade tertawa lepas sehingga membuat Dimas makin kesal.


Plok!


Dimas melempar Ade menggunakan map pasien. "Bisa nggak sih tawa kamu itu di kondisikan?"


"Ciee... pengantin baru kok nggak cerah begitu. tenang Bro. kamu harus bekerja keras lagi agar mencapai tujuan. tapi ngomong2 siapa sih wanita yang telah menjadi istri kamu? jangan bilang jika kamu telah berhasil menjatuhkan Dr Angga."


Dimas tersentak saat Ade mengetahui tentang persaingannya dengan Dr Angga. dia menatap Ade masih tidak percaya.


"Udah nggak usah kaget begitu. kamu lupa bahwa aku yang memiliki RS ini. jadi aku mudah saja mengetahuinya." sombong Ade


"Oke. jika kamu sudah mengetahuinya ngapain lagi kamu menanyakannya? sekarang keluarlah Karena pasienku sudah lama menunggu." ketus Dimas.


"Aku memang udah tahu tentang itu. tapi aku belum tahu sejak kapan kamu menikahi wanita yang sangat mirip dengan isteriku itu? sepertinya kamu belum bisa move on dari istriku sehingga kamu harus mencari istri yang harus mirip dengan Ani."


Dimas benar2 dibuat mati kutu oleh Ade. dia hanya menatap Ade dengan kesal. "Udah sekarang kamu keluar dari ruanganku dulu. nanti siang aku akan menceritakan semuanya kepadamu. agar jiwa mak2 mu itu tidak keluar lagi." sungut Dimas sambil mendorong tubuh Ade keluar dari ruangannya.


"Woii.. jangan dorong2 Gini dong. berani banget ya kamu sama bos sendiri!" gerutu Ade tetapi Dimas tidak menghiraukannya. dia tetap mendorong Ade hingga keluar. dan semua pasien yang sedang antri di bangku tunggu menatap mereka dengan bermacam ekspresi.


Ade segera pergi dari tontonan para pasien itu. dia tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan dari Dimas.


***


Sementara itu di apartemen. Raysa baru saja selesai mandi dan dia sedang menyisir rambutnya di depan kaca yang berukuran cukup besar yang ada di kamar itu. Raysa mencari sesuatu di dalam lemari kecil yang berpintu dua di bawah meja hias itu. dia melihat ada sepasang sendal cewek berwarna hitam. sendal itu terlihat sangat bagus dan bermerek.


Deg!


Jantung Raysa berdegup kencang. dia merasakan batinnya sakit saat menatap sepasang sendal itu. pikirannya tak menentu dia memikirkan jika Dimas pernah membawa wanita lain tidur di kamar itu selain dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2