
Kini Dimas ikut masuk ke dalam lift bersama Ade dan Ani, Dimas masih menatap heran antara Ade dan Ani, dia masih curiga melihat kedekatan mereka
Karena Dimas selalu menatap Ani maka Ade segera berdiri di hadapan istrinya agar pandangan Dimas terhalang oleh tubuhnya
"Woii! kamu tu ngapain sih berdiri disana kamu nggak lihat Ani susah bergerak karena Ada kamu." Ade masih pura2 tidak mendengar apa yang dikatakan Dimas dia masih fokus melihat kearah pintu lift
"Dimas kesal karena Ade pura2 tuli dia menginjak kaki Ade
"Awwhh... "kamu gila dim! main injak kaki orang" berani banget ya kamu sama aku" awas kamu gaji kamu bulan ini aku potong 20 persen."
"Bodo amat" sekalian aja kamu potong seratus persen, lagian kamu tuh ya" diajakin ngomong pura2 budek, ntar budek beneran baru tau kamu."
"Apaa sih kamu, aku benaran nggak dengar kamu ngomong apa."
"Aku tuh ngomong kamu geser kesini biar Ani nggak sempit karena kamu terlalu dekat." Dimas segera menarik Ade agar menjauh dari Ani
Ani yang melihat kelakuan mereka berdua hanya geleng-geleng kepala, hingga pintu lift terbuka mereka segera keluar
Ade yang melihat Dimas masih mengekor di belakangnya dia kembali dibuat kesal 'ngapain ni anak masih ngikutin aku." Ade bicara dalam hati
"Heh! kamu tu ngapain sih ngikutin aku terus?"
"Iihhh GR banget sih kamu, siapa juga yang ngikutin kamu, aku tu ikutin dek Ani ." iya kan dek." Dimas sambil nyengir pada Ani
"Lagian adek ngapain periksa sama dia. mending sama Abang saja, kalau Abang lebih ngerti dengan sakit yang begituan dari pada dia,biar Abang kasih tau sama adek ya, Ade tu pemeriksaannya kurang bagus karena banyak pasien2 dia yang ngeluh jika periksa sama dia."
"Masa sih bang" emang apa yang membuat pasienya mengeluh dengan pemeriksaan mas Ade bang?" Ani juga penasaran apa yang dikatakan Dimas, sementara Ade masih berdiri mendengarkan celotehan Dimas rasanya Ade ingin sekali memberi suntik penenang terhadap Dimas
"Bagaimana nggak ngeluh" kamu tau nggak saat dia USG dia bilang anak pasiennya itu perempuan tapi saat anak itu lahir ternyata dia punya lonceng." "hahahaha.... lucu nggak sih tu Dokter."
Ani yang mendengarkan juga tidak bisa menahan tawanya, rasanya pagi ini dia sedang nonton Opera,
"hahaha... masa sih bang." Ani masih tertawa sambil menutup mulutnya
Ade yang melihat istrinya tertawa apalagi yang ditertawakan itu adalah dirinya, dia segera mendekat pada Dimas kini giliran Ade yang menginjak kaki Dimas lebih kuat.
__ADS_1
"Awwhh... gila" sakit banget De, ngira2 dikit dong bisa cedera ni kaki gara2 kamu!!
"Itu belum seberapa tau!! enak banget kamu pagi2 tertawa menjadikan aku bahan lelucon, kamu kira kamu udah hebat jadi dokter kandungan, aku mending cuma salah lihat jenis kelamin bayinya sedangkan kamu" "maaf buk air ketubannya sudah kering harus segera dioperasi, padahal tu bayi dengan lancarnya keluar dengan normal, dasar dokter Abal2."
Ani juga menatap Dimas dia segera tertawa ternyata dua orang sahabat dan satu profesi sedang saling menjatuhkan
Ani masih tertawa, tapi Ade segera menarik tangan Ani untuk meninggalkan Dimas.
"Woii mau kemana kamu aku belum selesai bicara sama dek Ani." Dimas kembali mengejar mereka berdua namun Ade tidak menghiraukan dia segera membawa Ani masuk ke ruangannya.
Kini tinggal Dimas sendiri dia masih curiga dengan sikap Ade terhadap Ani, "benar nggak sih Ani sakit itu" aku harus cari tau sendiri kebenarannya." lalu Dimas segera melakukan visit pagi pada pasien2nya yang rawat inap.
Setelah selesai visit Dimas segera turun kelantai dasar dia segera menuju meja no 3 tempat pendaftaran dan tempat penyimpanan file para pasien
"Pagi adek cantik.... Dimas menyapa staf RS yang bertugas bagian pendaftaran
"Haaii....pagi Dokter Dimas" ada yang bisa saya bantu dokter?"
Mereka menyambut ucapan Dimas dengan senang, karena bagi mereka ini sangat keberuntungan disamperin oleh dokter tampan yang terkenal humorisnya cukup tinggi, sehingga para karyawan di RS sangat senang bila ngobrol dengan Dimas pasti akan selalu tertawa.
"Minta tolong apa itu bang?"
"Minta tolong bikinin Abang kopi bisa?" Dimas menatap serius kapada dua cewek yang sedang bertugas itu.
"Hah!! kopi? mereka saling pandang. Dimas yang ditatap aneh oleh mereka berdua segera tertawa
"Hahaha... "kenapa bingung ya? sama Abang juga bingung padahal ni mulut niatnya tadi bukan minta tolong itu."
Mereka juga ikut tertawa melihat tingkah Dimas yang menggemaskan bagi mereka
"Abang dokter yang satu ini benar2 ya" Oya Abang sebenarnya mau minta tolong apa sih bang?"
Dimas segera mendekat dan meletakkan dagunya diatas meja pendaftaran itu sambil menatap kedua petugas wanita yang telah salah tingkah dibuatnya
"Abang pengen lihat senyum adek sepertinya pagi ini adek cantik banget deh." Dimas kembali menggoda kedua petugas wanita itu
__ADS_1
"Apaan sih bang dokter" serius dong bang." wajah mereka kini berubah menjadi merah merona
"Baiklah karena kalian terlihat sangat cantik dan juga baik hati, Abang akan segera memberi tahu niat Aban datang kesini" ayo sini dekat Abang bisikin." Dimas meminta dua petugas itu untuk mendekatkan telinganya
Petugas itu bingung melihat tingkah Dimas, "kenapa harus bisik2 bang emang apa sih?"
"Hmmm mau tau nggak nih?" Dimas kembali membuat petugas wanita itu penasaran mereka segera mendekatkan telinganya kearah Dimas, dan Dimas segera berbisik
"Dek, cariin Abang file atas nama Maharani dong?" mereka bengong
"Hah! cuma itu?" karena kesal tanpa sadar salah satu dari mereka reflek memukul bahu Dimas
"Nggak lucu tau nggak sih bang, cuma mau nanyain itu sampai segitunya drama Abang" kesel deh."
"Hehehe... iya harus Gitu biar adek penasaran."
"Tapi tunggu, emangnya siapa itu Maharani kok Abang nyariin file dia."
"Dia sepupu abang, jadi Abang ingin tahu dia sakitnya apa" udah sana cepat cariin."
"Iya iya.. "Oya kira2 dia pernah berobat di poliklinik apa ya bang?"
"Kalau nggak salah poli kandungan dek."
"Baiklah tunggu sebentar saya cari dulu file nya bang." tidak berapa lama yang mereka cari akhirnya ketemu.
"Ini bang file yang Abang minta, ibu Maharani ini pasien dari dokter Ade bang."
"Coba adek baca diagnosanya."
"Diagnosanya Dismenorea sekunder dan gejala kista coklat bang." petugas itu membacakan kepada Dimas.
"Dimas tertegun sesaat, "jadi benar Ani mengalami penyakit itu" dan juga kista coklat." Dimas bicara sendiri dalam hati.
Setelah selesai mencari tahu tentang penyakit Ani Dimas kembali ke ruangannya, dia tidak ada jadwal peraktek, hari ini hanya jadwal operasi Caesar nanti siang.
__ADS_1
Bersambung...