
Setelah selesai menjelaskan semuanya kini Ade bisa bernafas lega karena sang istri telah kembali tersenyum, dan dia segera kembali ke ruang praktek nya yang ada di lantai dua, sementara itu Ani bisa bobo cantik di ruang pribadi suaminya itu.
Saat Ade baru keluar dari ruang pribadinya dia berpapasan dengan Dr Dimas,
"Eh ada Abang ganteng! kenapa tuh Wajah kok di tekuk begitu?"
"Ck, apa sih kamu De. aku lagi malas ngomong!" Dimas memutar bola mata malasnya.
"Hahaha... tumben banget tuh mulut malas ngomong. kamu kenapa ha? lagi ada beban pikiran? lebih baik cerita sama aku mana tahu aku bisa kasih solusi."
Ade tertawa sambil menatap heran melihat sikap Dimas yang tiba2 berubah, padahal selama ini dia mengenal Dimas seperti pemain Opera, bahkan ingin bicara serius saja sangat susah,hari2 yang Dimas lalui selama di RS ini selalu penuh dengan canda tawa, tidak salah jika banyak orang yang sangat menyukai Dimas dari para pasiennya hingga para staf2 yang ada di RS ini, karena dia terkenal Dokter humoris dan periang.
"Iya aku lagi ada beban, tapi beban perasaan." Dimas segera berlalu dari hadapan Ade.
Saat Dimas ingin pergi Ade segera menarik tangan Dimas. "Eh.. tunggu dulu! kamu bilang apa tadi? beban perasaan? jangan bilang jika kamu masih menyimpan perasaan dengan istri aku?"
Dimas menarik nafas berat, "Eh Dokter abal2 dengar ya! ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ani, ini adalah rahasia perasaanku sendiri. jadi tolong biarkan Abang gantengmu ini pergi untuk menyelesaikan masalahnya sendiri Oke!"
"Cieee.. Dokter perjaka tua lagi jatuh cinta nih! kasih tahu dong biar aku nggak penasaran?" Ade tersenyum sambil menggoda Dimas
"Eh, sejak kapan jiwa kepo mu itu timbul hah?"
"Kalau soal kamu aku pasti sangat kepo karena ini adalah kejadian langka." Ade semakin menarik tangan Dimas dan bergelayut di lengannya.
"Eh.. eh. apa apaan sih kamu De! jangan aneh-aneh deh kamu! lepasin nggak? kamu mau dikira orang kita tidak normal?!" Dimas sangat geli melihat tingkah Ade seperti wanita sedang bermanja-manja saat mendapatkan keinginan dari pasangannya.
"Biarin! pokoknya kamu harus kasih tahu sama aku siapa wanita yang telah membuat kamu seperti Dokter stres begini."
"Oke, oke! aku akan kasih tahu kamu, tapi sekarang tolong lepaskan tanganku dulu!" dan Ade segera melepaskan tangan Dimas dia berharap Dimas akan segera memberi tahu siapa wanita itu.
__ADS_1
"Dokter stres gundulmu itu! orang ganteng dan waras begini dibilang stres." Dimas segera pergi dari hadapan Ade, dia tahu sahabatnya itu jika diladeni tidak akan selesai sampai sore, bisa2 para pasien yang sudah mengantri tidak jadi diperiksa.
"Woii mau kemana kamu?! kamu masih punya hutang penjelasan dengan aku!" Ade memanggil Dimas
"Nanti setelah masalahku selesai akan aku jelaskan." Dimas menjawab sambil berlalu pergi.
"Huh.. dasar perjaka tua!" Ade kembali berjalan menuju ruang prakteknya.
***
Sementara di dapur RS, Raysa masih sibuk dengan aktivitasnya yaitu dia sedang membantu mengupas bahan2 yang akan dimasak untuk jatah makan pasien nanti sore, sekali2 pikirannya kembali dengan kata2 pak Asrul, jika benar Dimas adalah wakil direktur RS ini, mungkinkah dia akan memecat dirinya?
"Selamat siang Sa, apakah kamu masih sibuk?" Saat Raysa masih sibuk dengan aktivitasnya dia mendengar suara seseorang menyapa dirinya.
"Eh, Dokter Angga! tidak terlalu sibuk Dok, hanya tinggal sedikit lagi. dokter lagi ngapain disini? apakah ada sesuatu yang Dokter butuhkan?" Raysa menjawab ramah pertanyaan Dr Angga.
Raysa terdiam dan menjadi salah tingkah dia memang merasakan jika sikap Dr Angga berbeda, dia begitu perhatian terhadap dirinya dan juga ibunya.
"Kok bengong Sa? apakah kamu keberatan?"
"Ah, tidak Dok! baiklah akan saya selesaikan pekerjaan saya hanya tinggal sedikit lagi." Raysa merasa sungkan untuk menolak ajakan dr Angga.
"Kalau begitu saya tunggu kamu di parkiran ya?"
"Hah! diparkiran, emang kita mau makan dimana dok? bukankah kita makan di kantin bawah?"
"Kamu tenang saja Sa, saya tidak mengajak kamu jauh2 kok, kita makan di restoran dekat ujung jalan sana saja, jadi kamu tidak akan terlambat untuk memulai kembali aktivitas kamu setelah jam makan siang.
"Hmm baiklah kalau begitu. sebentar ya Dok."
__ADS_1
"Oke! saya tunggu dibawah ya."
"Ciee, sepertinya ada yang ditaksir Dokter Angga nih."
Caca datang menggoda Raysa karena sejak tadi dia dan yang lainnya ikut nguping pembicaraan Raysa dan Dr Angga walaupun mereka seolah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, tetapi telinga mereka terpasang jelas Indra pendengarannya
"Ih.. apa sih mbak Caca! sok tahu deh."Raysa merasa malu karena mereka menggoda dirinya.
"Eh.. bukan sok tahu, tapi itu memang benar, masa kamu nggak tahu sih Sa? dari tatapan matanya dan bicaranya sudah menunjukkan bahwa Dr Angga itu ada rasa dengan kamu. pasti nanti dia akan bicara sesuatu dengan kamu, mungkin dia akan mengungkapkan perasaannya atau sekaligus melamar kamu, udah kamu terima saja!"
"Aduh mbak Caca jangan seperti paranormal gitu deh! udah ah, aku mau menyelesaikan tugasku dulu." Raysa segera pergi untuk mencuci bahan2 yang telah dia kupas tadi.
***
Kini Raysa sudah tiba di parkiran, dia bingung karena dia tidak tahu yang mana mobil Dr Angga, karena dia belum pernah melihat Dr Angga saat menggunakan mobilnya.
Tin...tin..
Terdengar suara klakson mobil, Raysa segera melihat arah suara itu dan dia melihat Dr Angga membuka kaca mobilnya. Raysa segera melangkah menuju mobil itu, tetapi langkahnya terhenti karena ada mobil yang masuk dan parkir disamping mobil Dr Angga, sehingga pandangan mereka tertutup oleh mobil yang baru masuk Itu.
Dan tak kalah terkejutnya Raysa sudah tahu siapa pemilik mobil yang menghalangi langkahnya siapa lagi kalau bukan Dr Dimas.
"Hebat banget ya, bisa mendapatkan pelanggan yang tajir bahkan dia Dr andalan di RS ini!" Dimas Kembali memancing di air yang keruh, seakan tidak ada sedikit saja kebaikan yang dia lihat dari diri Raysa.
"Ya, aku memang punya misi mencari orang yang tajir melintir. dan satu lagi aku ingatkan kepadamu! mulai sekarang kamu jangan pernah ikut campur urusanku, karena antara kamu dan aku tidak ada hubungan apa-apa jadi kamu tidak perlu repot-repot mengurus aku mau itu siapa tamuku!" Raysa kembali membalas ucapan Dimas, dia sudah tidak memikirkan perasaannya, dia berusaha untuk tetap membenci pria yang bermulut pedas itu.
Dimas tak lagi membalas kata2 Raysa hatinya begitu sakit saat melihat Raysa pergi dengan laki2 lain, dia segera meninggalkan Raysa dengan tatapan benci.
Bersambung...
__ADS_1