
Dimas melingkarkan tangannya di pinggul Raysa. dan mata mereka masih saling mengunci. hembusan nafas mereka terasa hangat satu sama lain. kulit tubuh yang saling bersentuhan sehingga membuat adik kecil milik Dimas bangun dengan sempurna.
"Aawww...!" Raysa terlonjak dan segera bangun dari pangkuan Dimas. dia merasakan dibagian bokong nya ada yang mengganjal. sehingga wajah Raysa semakin merah merona.
"Hehe.. maaf sayang. habisnya kamu membuat dia bangun." Dimas cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa sih Dokter! kamu pasti sengaja melakukan itu iyakan?!" kesal Raysa
"Kok disengaja sih. itu memang diluar kendali aku. kamu kan tahu jika dia telah lama sekali puasa."
"Tau ah. aku mau tidur." Raysa segera berlalu dari hadapan Dimas. dia ingin segera masuk ke dalam kamar untuk menyembunyikan wajah malunya itu. karena dia masih mengingat kejadian baru beberapa menit yang lalu.
Karena kejadian itu ingatan Raysa kembali ke beberapa bulan yang lalu dimana benda itu sudah menyentuh dirinya. "Ah, apa sih nih otak? nggak usah ngeres gitu deh." gumam Raysa sendiri sambil memukul pelan kepalanya dan segera berbaring sambil menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
***
Sementara di tempat lain.
Pagi ini Ade sudah mulai kembali ke aktivitasnya semula setelah beberapa hari libur menepati janjinya kepada sang istri untuk membawanya liburan.
"Mas," panggil Ani sambil mengikat dasi di leher suaminya.
"Ya, ada apa sayang?" Ade menatap wajah cantik istrinya yang kini terlihat agak lebih berisi. itu hal biasa terjadi kepada semua wanita hamil bila mengalami kenaikan berat badan di usia kandungannya semakin bertambah.
"Mas masih ingat kan wanita yang mirip dengan Ani waktu di RS itu."
"Ya mas masih ingat. emang kenapa sayang?"
"Apakah dia masih bekerja di Rumah Sakit?" Ani kembali bertanya sambil fokus dengan aktivitasnya. dan setelah selesai mengikat dasi sang suami dia segera masuk dalam pelukan suaminya dan Ade segera memeluk dan memberikan semua kecupannya di seluruh wajah cantik sang istri.
"Nah itu yang ingin mas selidiki dulu sayang. karena sebelum kita pergi liburan kemarin. mas mendengar gosip di RS tentang Raysa. ada yang bilang jika Dr Angga dan Dr Dimas terlibat adu argumen sengit dikarenakan untuk mendapatkan hati wanita yang mirip kamu itu."
"Hah! masa sih mas? kok mas baru cerita sekarang dengan Ani?"
"Ya soalnya mas belum tahu cerita yang sebenarnya sayang. lagian tu dokter abal2 semenjak ada wanita yang bernama Raysa itu sikapnya berubah." sungut Ade saat membicarakan tentang Dimas dia juga merasa bahwa Dimas sekarang jarang sekali punya waktu untuk ngobrol dengannya walaupun hanya disaat cofe time.
__ADS_1
"Udah maklumi saja mas, namanya orang lagi jatuh cinta. terkadang ada orang yang tidak ingin menceritakan masalah percintaannya karena dia sedang tidak ingin di ganggu karena sedang fokus dengan masalahnya."
"Masa sih begitu? emang ada orang yang seperti itu?" Ade bertanya sambil kedua tangannya menangkup wajah Ani hingga menyisakan beberapa senti jarak antara wajah mereka.
"Ada." Ani menjawab singkat sambil tersenyum mengamati wajah tampan suaminya itu.
"Siapa?" Ade masih penasaran.
"Ya mas Ade lah." Ani tertawa menunjukkan giginya yang putih dan rapi sambil mengejek sang suami.
"Hah? kok mas yang jadi persamaannya? ya nggak mungkin lah mas begitu. mas nggak mau disamakan dengan si Dimas."
"Mas lupa saat masalah di antara kita dulu? bukankah mas menyimpannya sendiri. dan sikap mas juga begitu. terlihat jutek. dan selalu berusaha sendiri untuk meluluhkan hati Ani tanpa bantuan orang lain.
"Hehe, iya juga ya sayang. tapi nggak. mas nggak mau disamakan dengan dokter perjaka tua itu." Ade masih gengsi untuk mengakui jika sifatnya tidak jauh berbeda dengan sahabat dan sekaligus wakilnya di RS.
"Apa sih, tinggal bilang iya saja kok susah banget." Ani masih tertawa sambil mencubit perut Ade.
"Awwh.. sakit sayang. kalau mau nyubit jangan perut dong. tapi ini nih." Ade mengambil tangan Ani dan mengarahkan ke selangkangannya.
"Ya nggak apa-apa sayang. habisnya kamu suka banget nyubit. kalau cubitnya yang itu nggak apa-apa malahan mas nagih terus." kembali kata Ade membuat Ani malu.
"Udah ah, yuk sekarang kita keluar. udah di tungguin mama dan papa tuh." Ani segera menarik tangan suaminya untuk keluar.
***
Pagi ini Dimas sudah rapi dengan stelan kemeja warna biru Dongker dan jas dokternya. dia sedang menyajikan dua piring nasi goreng, secangkir kopi pahit dan segelas susu hamil rasa coklat.
Sementara itu Raysa baru saja bangun dan sedang merutuki dirinya sendiri. "Kok aku bisa bangun kesiangan sih? apa kata tuan dokter itu nanti. apakah dia akan memaki diriku? tapi aku rasa sekarang dia tidak seperti itu. karena sikap nya tadi malam manis sekali. tau ah. biarkan saja dia marah aku tidak peduli. lagian aku tinggal disini hanya sementara." Raysa bicara sendiri sambil bangkit dari tempat duduknya untuk menuju kamar mandi tetapi dia mendengar suara ketukan pintu.
Tok! tok! "Raysa, kamu udah bangun belum?" terdengar suara Dimas dari luar.
"Ah sudah." Raysa menjawab dengan gugup dan segera membukakan pintu kamarnya.
"Kamu. kamu baru bangun?" Dimas melihat penampilan Raysa yang masih acak-acakan dengan wajah bantalnya.
__ADS_1
"Ma-maaf aku kesiangan." lirih Raysa ambil menunduk.
Dimas hanya tersenyum. "Ayo sekarang cuci muka dulu aku tunggu kamu di meja makan.
"Ta-tapi Dok. aku mandi sebentar ya?" pinta Raysa
"Tidak usah, mandinya nanti saja karena aku udah telat ke RS. Dimas bicara serius dan segera menuju meja makan. sehingga Raysa menjadi was2 apakah sikap arogan dokter itu akan keluar lagi?
Kini Raysa sudah berada di depan meja makan. dia masih ragu untuk duduk. karena dia merasa tidak enak sudah membuat Dr Dimas menunggu dan Raysa juga melihat sarapan telah disediakan oleh dokter itu.
"Kok bengong? ayo duduklah." Raysa segera duduk dengan perasaan yang tidak menentu. dia melihat aura dingin di wajah Dimas.
"Ayo makanlah. ini susu hamil untuk kamu." Dimas menyodorkan segelas susu coklat hangat ke hadapan Raysa. tetapi Raysa merasa mual saat melihat nasi goreng itu. dan matanya tertuju nasi goreng yang ada di piring Dimas.
Dia melihat Dimas sangat menikmati sarapan paginya itu. sementara Raysa sangat ingin memakan nasi goreng milik Dimas itu. tetapi dia tidak berani memintanya.
"Kok kamu tidak makan? apakah kamu tidak menyukai nasi goreng itu?" Dimas menanyakan kenapa istrinya tidak makan sarapan buatannya itu.
Hoekk.. hoekk..
Raysa segera berlari ke wastafel untuk memuntahkan sisa makanan yang ada dalam perutnya. Dimas segera mengusap tengkuk Raysa dengan lembut.
"Kenapa Sa? apakah makanan itu membuat perut kamu mual? maafkan Abang ya! kamu tunggu disini Abang akan menyingkirkan nasi goreng itu dulu. Dimas segera menuju meja makan dan mengambil nasi goreng itu untuk dia singkirkan agar Raysa tidak mual lagi.
"Tidak usah di singkirkan dokter." Raysa menahan tangan Dimas yang hendak membawa piring nasi goreng itu.
"Tapi kamu tidak suka aroma nasi goreng ini Sa. nanti kamu mual kembali jika tidak disingkirkan."
"Nasi goreng itu Dokter yang makan, dan nasi goreng Dokter buat aku." dengan sedikit keberanian dan rasa malu Raysa meminta nasi goreng milik Dimas.
Dimas tersenyum. dia adalah seorang dokter obgyn jadi dia tahu jika saat ini istrinya itu sedang ngidam mau makan sisa suaminya.
"Hmm.. jadi anak papa mau makan makanan yang ada di piring papa ya?" Dimas menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan perut Raysa dan mengusap lembut perut datar istrinya itu sambil bicara dengan calon bayinya. dan Raysa merasakan hal yang berbeda jiwanya menghangat saat melihat Dimas bicara dengan calon bayi mereka.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya, agar Author semangat Update. terimakasih 🙏🥰