Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
perdebatan Sari dan Endang


__ADS_3

Setelah Ade pergi, Ani segera membersihkan kamarnya, dia sengaja mengurus suaminya sendiri dari makan hingga membersihkan kamarnya tanpa bantuan ART dirumah itu, dia bukan tidak percaya dengan ART dirumah itu tapi dia ingin mengurus suaminya selagi dia mampu.


Setelah selesai Ani segera menuju dapur dia melihat Mbak Tati sedang memasak bersama ibunya, ini memang hari terakhir ibu dan ayahnya berada dirumah mertuanya,


"Ibu dan mbak Tati lagi masak apa?"


"Ini non, mbak lagi diajarkan ibu sari buat gulai kuning kepala ikan karang" kebetulan tadi mbak dan ibu ke swalayan nemu ikan ini", karena ini jarang sekali ada."


"Ah mbak Tati nggak usah panggil Ani non" panggil seperti biasa saja mbak."


Ani mengingatkan agar Tati tidak berlebihan dalam memanggil dirinya, karena Ani sadar dia juga dari kalangan orang biasa dari dulunya.


"Tapi An-"


"Udah mbak nggak usah sungkan, Ani juga orang biasa seperti mbak dan yang lainnya."


Ani tersenyum dan memotong pembicaraan Tati.


'Pantas saja den Ade memilih kamu An" untuk menjadi istrinya, karena kamu wanita yang baik dan tidak sombong." Tati bicara sendiri dan dia menatap Ani dengan rasa kagum dihatinya.


"Ibu, biar Ani saja yang ajarkan mbak Tati untuk membuat menu ikan karang itu" ibu istirahat saja" apakah ibu besok jadi balik ke kebun?"


"Iya jadi An, karena kasihan nanti adikmu pulang tidak ada ibu dirumah."


"Baiklah Bu, katanya besok mas Ade yang anterin."


"Baiklah kalau begitu ibu menemui ayah mu dulu di halaman belakang."


"Ayah ngapain di halaman belakang Bu?"


"Itu, biasa ayahmu lagi membersihkan tanaman yang ada di belakang" kamu kan tahu sendiri ayahmu tidak bisa diam." ibu sari tertawa kecil dan segera pergi ke halaman belakang untuk menemui suaminya.


Saat Sari melintasi kolam renang, dia melihat besannya itu sedang duduk sendiri sambil membaca majalah dan ditemani secangkir Teh jahe anget.


"Selamat pagi mbak Endang!" Sari menyapa,dan ikut duduk didepan Endang


"Ya pagi Sari!" Endang hanya menjawab singkat


"Sepertinya mbak lagi sibuk ya?"

__ADS_1


"Tidak juga, hanya membaca majalah fashion."


"Mbak" boleh saya bicara sesuatu?"


"Hmm bicaralah." Endang memberi izin tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah itu.


"Saya berharap mbak bisa menerima Ani sebagai menantu" saya tahu mungkin mbak Endang kecewa dengan pernikahan anak kita" tapi semua itu sudah Allah tetapkan mbak."


Endang menatap Sari dengan tatapan tidak suka.


"Kamu tahu apa tentang hati saya? apakah kamu tahu apa yang sedang saya rasakan?" dan apakah kamu sudah menanyakan hal yang sebenarnya terjadi kepada anakmu?"


"Maksud mbak Endang apa? saya tidak mengerti!"


"Sari! saya adalah mama Ade, saya tahu betul jika anak saya itu adalah laki2 yang sangat bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan, meskipun dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri."


"Jadi maksudnya mbak, anak saya telah menjebak dan merencanakan semua pernikahan ini! begitu mbak?"


Endang hanya diam, dan dengan diamnya Endang seakan mengiyakan semua perkataan Sari.


***


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam..." Lho mas, kok udah pulang katanya nungguin Ani yang ke RS?"


"Nggak sabar sayang nungguin kamu, rasanya mas selalu kangen." Ade mengecup kening Ani tanpa sadar ada mbak Tati disana.


"Mas kenapa sih, malu tahu nggak sih dilihat mbak Tati." Ani tersenyum malu


"Nggak apa2 Ani, mbak maklum kok namanya juga pengantin baru." mbak Tati tersenyum sambil menggoda Ani


"Tuh kan, mbak Tati aja maklum," Ade segera merangkul bahu istrinya itu dan membawa Ani duduk diruang tengah.


"Oya sayang, mas sengaja pulang untuk memenuhi keinginan anak mas ini." Ade mengusap lembut perut Ani


"Mas udah dapet uang logamnya?" Ani menatap wajah tampan suaminya itu dengan senang.


"Udah dong sayang". Ade mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu memberikan kepada Ani.

__ADS_1


"Ini kamu ambil sendiri." Tangan Ani bergetar saat menerima dompet suaminya itu, Ani merasa tidak enak dan dia takut dikira sudah lancang.


"Mas, Ani minta maaf ya? Ani hanya ingin mengambil uang logamnya saja." Ani meminta izin kepada suaminya.


"Iya sayang, mas udah izinin kamu, udah ayo ambil,


Ani segera membuka dompet Ade, tapi saat dia membuka dompet kulit itu dia melihat ada sebuah foto kecil terselip di dalam dompet itu, Ani menatap foto itu Dengan lama, Ani sangat mengenali wanita difoto itu. tapi dia berusaha untuk tetap tenang agar tidak menjatuhkan air matanya.


Ani segera mengambil permintaannya itu lalu dia menggenggam uang logam itu dengan kuat. dan segera memberikan kembali dompet itu kepada yang punya.


"Udah sayang." Ade mengambil kembali dompet yang diberikan oleh Ani.


Ani hanya diam matanya menatap lurus kedepan, Ani berperang dalam hatinya dari segala pertanyaan2 yang ada dalam pikirannya.


'Kenapa mas Ade masih menyimpan foto Gita, apakah dia benar-benar2 masih mencintai Gita?" Ani bicara sendiri dalam hatinya, dia segera berdiri dan berlari meninggalkan Ade sendiri.


Ade menatap istrinya itu dengan aneh. "Dia kenapa lagi sih."


Ade segera mengejar Ani, dia melihat istri menuju kebelakang


"Sayang, tunggu mas dulu! kamu kenapa sih?" Ade masih mengjar istrinya, tapi saat dia dan Ani sampai di dekat kolam renang, mereka mendengar percakapan mama Endang dan ibu Sari.


"Mbak, saya tahu, jika keluarga saya memang miskin, tapi saya tidak pernah mengajarkan anak saya untuk berperilaku buruk seperti yang Mbak Endang pikirkan!"


"Jika memang Ade menikahi Ani hanya karena sebatas tanggung jawab dan mengorbankan kebahagiaannya maka saya akan meminta agar mereka berpisah, kami memang miskin Mbak, tapi saya tidak ingin mbak merendahkan Harga diri anak saya dan juga keluarga saya!"


Sari meninggikan suaranya, dia tidak bisa mengendalikan emosinya lagi, sari merasa Endang telah merendahkan harga diri anaknya.


"Jaga bicaramu Sari! jangan meninggikan suaramu kepadaku" apakah kamu tidak sadar sedang bicara dengan siapa?"


"Ya saya sadar mbak jika saya bicara dengan majikan saya, saya juga sadar bahwa keluarga saya makan dari telapak tangan Nyonya." tapi apakah saya harus diam saja jika nyonya menginjak harga diri keluarga saya?"


"Tapi tidak semua kata2 saya itu salah!"


"Cukup ma!" cukup?" apa yang telah mama lakukan, semua yang mama katakan tidak benar ma!" Ade menatap Ani yang sedari tadi tidak berhenti air matanya jatuh, saat mendengar ucapan mama mertuanya kepada ibunya.


"Sekarang katakan kepada mama De! apa benar kamu menikahi Ani karena cinta?" Mama masih tidak percaya dengan semua dan secepat itu kamu berpaling dari Gita, padahal mama tahu jika kamu sangat mencintainya.!"


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar juga dukungan nya ya reader yang Budiman. maaf jika masih banyak salah dalam pengetikan dan juga kaku dalam bicara, mohon dimaklumi saja ya karena ini adalah pemula bagi author 😊😘 terimakasih 🙏🙏


__ADS_2