Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Dr Angga vs Dr Dimas


__ADS_3

Setelah bicara dengan Raysa,Dimas segera menuju ruangannya, setibanya di dalam Ruang


Dimas menumpahkan segala kekesalannya dan dia melempar semua barang yang ada di mejanya itu.


"Kenapa hatiku begitu sakit melihat dia pergi dengan laki2 lain? aku benci dengan semua ini!"


Dimas mengusap wajahnya dengan kasar. hatinya benar-benar kacau, hatinya dibakar rasa cemburu, dia berpikir sejenak apa yang harus dia lakukan.


***


Ditempat lain Raysa dan Dr Angga baru saja memasuki pekarangan parkir di restoran mewah itu, tiba- tiba ponsel Dr Angga berdering


"Ya halo Dokter Dimas ada apa? Ah baiklah saya akan segera ke RS sekarang!" Angga berpikir sejenak dia menatap wanita cantik di sampingnya itu.


"Maaf Sa! kita harus kembali ke RS sekarang karena ada pasien yang sedang kritis, sekali lagi saya minta maaf ya?" Dr Angga sangat tidak enak karena telah membatalkan rencana makan siang mereka.


"Ya Dokter tidak apa-apa saya mengerti karena keselamatan nyawa seseorang itu jauh lebih penting."


"Terimakasih ya Sa? tapi nanti jika ada waktu kamu masih mau kan saya ajak makan diluar?"


"Hmm..."Raysa mengangguk tanda mengiyakan,


Kini mobil Dr Angga telah sampai di RS sakit kembali, dia segera masuk ke ruang IGD untuk memeriksa pasien yang tadi sedang kritis seperti laporan yang diberikan Dr Dimas.


"Sus, tadi ada pasien saya yang kritis, ruangan yang mana ya?" Angga menanyakan kepada suster yang berada di ruang IGD.


"Maaf Dok, sepertinya tidak ada pasien dokter yang sedang kritis masuk ke IGD siang ini." suster itu menjelaskan kepada Dr Angga bahwa tidak ada pasiennya yang sedang kritis.


Angga bingung padahal tadi wakil direktur di RS itu sendiri yang memberi kabar kepadanya, dia segera keluar dari ruang IGD.


Saat Angga ingin menuju ruangan Dr Dimas, dia melihat ada seorang pasien yang sedang kritis di dorong oleh beberapa perawat untuk masuk ke IGD.


Yang membuat Dr Angga terkejut dia melihat Raysa ada di Antara para perawat laki2 yang sedang mendorong brankar itu, Raysa begitu panik.

__ADS_1


"Raysa apa yang terjadi?" Dr Angga segera menghampiri Raysa.


"Dokter! Dok tolong ibu saya Dok!" Raysa menatap dan memohon kepada Dr Angga agar segera menangani ibunya yang sedang kritis.


Dr Angga segera melihat wanita yang sedang kritis dia atas brankar itu, "Apa yang terjadi Sa?"


"Saya juga belum tahu Dok, tadi saya baru dapat kabar dari tetangga bahwa ibu tiba2 pingsan!" dengan derai air mata Raysa dan Dr Angga bergegas mengiringi ibu Wilda untuk masuk ke ruangan IGD.


Setelah sampai di ruang IGD Dr Angga segera menangani ibu Wilda dia memasang semua alat medis di tubuh Bu Wilda.


Sementara itu Raysa masih setia mendampingi ibunya, Raysa sangat merasa bersalah karena telah meninggalkan ibunya sendiri dirumah, tapi dia tidak punya pilihan lain karena dia juga butuh uang untuk membiayai pengobatan ibunya.


"Pindahkan pasien ke ruang ICU sekarang!" perintah Dr Angga, karena keadaan Bu Wilda semakin melemah.


***


Kini di luar Raysa masih mondar mandir, sesekali dia mengintip kedalam namun dia tidak dapat melihat jelas tindakan apa yang sedang Dr Angga lakukan untuk ibunya.


"Ya Allah, hamba mohon tolong sembuhkan ibu.angkat penyakitnya ya Allah!" Raysa selalu berdoa sambil sesekali menghapus air matanya.


Pintu ruangan itu terbuka Raysa segera menghampiri Dr Angga, "Dr bagaimana keadaan ibu saya Dok?"


"Mari ikut ke ruangan saya." Raysa menatap wajah Dr Angga seperti menyimpan beban, tetapi dia tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak maka dia segera mengikuti langkah Dr Angga untuk menuju ruangannya.


Setelah masuk kedalam ruangan Dr Angga Raysa segera duduk tanpa di persilahkan karena dia sudah tidak sabar ingin menanyakan tentang ibunya.


"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?"


"Begini Sa, seperti yang telah saya jelaskan jika ibu kamu belum bisa mengangkat beban berat, saya melihat ada kerusakan di bagian ginjal baru ibu kamu.sehingga membuat terjadinya kegagalan kembali."


Seketika itu juga Raysa merasa dunia berhenti berputar. "Tidak! itu tidak mungkin dokter!" Raysa tak dapat menahan tangisnya dia luruh begitu saja ke lanatai tempat dia berdiri.


Angga segera berdiri dan menghampiri Raysa

__ADS_1


"Raysa kamu tenanglah, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk ibu kamu!"


"Bagaimana ini bisa terjadi Dok? ini semua adalah salah aku karena tidak bisa menjaga ibu dengan baik!" hiks..hiks...Tangis penyesalan Raysa semakin dalam


"Ssstt.. Raysa kamu jangan bicara seperti itu, kamu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri! ayo sekarang berdirilah!" Angga segera membantu Raysa untuk berdiri dan dia sangat tidak tega melihat wanita yang dia cintai itu menangis, sehingga Dr Angga membawa Raysa kedalam pelukannya


Raysa menumpahkan segala kesedihannya di dalam pelukan Dr Angga,dia merasa nyaman karena ada pundak tempat bersandar di saat dia terpuruk seperti saat ini, karena selama ini dia selalu menyimpan beban penderitaannya sendiri.


Saat Dr Angga masih berusaha menenangkan Raysa,tiba2 pintu ruangan itu terbuka.


"Wah wah..! ternyata kalian tidak sabar ya, saya tidak menyangka dengan selera kamu Dr Angga. Oya! emang kamu bayar berapa itu wanita? dan saya ingin beri tahu kamu Dr Angga, kamu jangan sampai tertipu dengan wanita ini karena dia sudah tidak perawan!"


Tanpa perasaan Dimas melontarkan kata-kata itu di depan Dr Angga, dia sudah tidak bisa mengontrol dirinya yang sedang emosi karena melihat Raysa berada dalam pelukan Dr Angga.


"Apa maksud kamu Dr Dimas?" Angga sedari tadi hanya diam mendengarkan kata-kata Dimas yang seakan sedang bicara dengan wanita ja**bg


"Hahah... sudahlah Dr Angga, kamu jangan pura2 lugu begitu! sudahlah tidak perlu rahasia pada saya, karena saya mengerti dengan kebutuhan biologis.


Raysa yang dari tadi matanya sudah berkaca-kaca karena ucapan Dimas, dia hanya pasrah dengan semua yang akan terjadi, dia benar2 tidak percaya begitu jahatnya Dr Dimas kepadanya.


"Maaf Dr Dimas, sekali lagi saya tidak mengerti dengan arah pembicaraan kamu."


"Angga, Angga! apakah kamu tidak menyadari wanita yang ada di depanmu itu adalah seorang pel***r! kamu jangan tertipu dengan sikap pura2 polosnya itu."


"Cukup Dr Dimas!! saya tidak ingin mendengar kata apapun dari kamu, dan sekarang kamu keluarlah dari ruangan saya!" Angga sangat marah saat Dimas mengatakan hal buruk tentang Raysa.


Sementara Raysa yang masih berdiri disana dia menatap Dimas dengan tatapan sangat membenci. dia segera berlari keluar dari ruangan Dr Angga.


Kini tinggal Angga dan Dimas di dalam ruangan itu, karena melihat Raysa pergi dan menangis Angga sangat kesal kepada Dimas.


"Dengar Dr Dimas! kamu jangan ikut campur urusan saya, karena kamu bukan siapa2 saya.dan satu lagi, kamu jangan pernah mengatakan hal buruk itu kepada Raysa! karena kamu tidak tahu bagaimana dia!"


"Hahah... tidak tahu? ya tentu saja saya tahu Dr Angga, bahkan saya tahu dari luar hingga dalamnya!" Dimas kembali tertawa mendengar ucapan Angga bahkan dari hati kecilnya dia merasa saat ini bukanlah dirinya yang sebenarnya, karena Dimas yang sebenarnya tidak pernah bicara buruk tentang orang lain bahkan dia sangat menghormati wanita.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2