
"Ayo Sa kita pergi dari sini." Angga membawa Raysa pergi dari hadapan Dimas.
Dimas menatap kepergian Raysa dan Angga, dia tidak tahu harus berbuat apa,rasa penyesalan yang begitu dalam kini selalu menyelimuti hatinya.
"Andai waktu bisa kuputar kembali, maka aku tidak akan pernah menyakiti dirimu Sa, kamu pantas membenci diriku karena aku adalah laki2 yang sangat jahat! Dimas bergumam sendiri sambil menatap kepergian Raysa
Setelah Raysa dan Dr Angga keluar dari pekarangan pemakaman itu, tiba2 seorang anak kecil keluar dari mobil Dr Angga.
"Papaa...! teriakan anak kecil itu sambil berlari mengejar sang papa.
"Hai sayang, kenapa kamu keluar hmmm?" dr Angga segera membawa anak kecil itu kedalam gendongnya.
"Dira bosan Pa di dalam mobil, habisnya papa lama!" sungut anak kecil itu kepada sang papa.
"Hahaha... maaf ya sayang! yasudah kita masuk sekarang ya?"
"Tunggu pa! Tante itu siapa kok Dira baru lihat, apakah dia teman Papa?" Raysa yang sedari tadi tersenyum menyaksikan keakraban ayah dan anak itu, kini gelagapan karena anak kecil itu perhatiannya tertuju pada dirinya.
"Ah iya sayang, ayo Salim dulu sama teman papa!" perintah Angga kepada sang putri.
"Hai Tante, namaku Dira Angga Rahendra, nama Tante siapa?" anak kecil itu menyalami tangan Raysa sambil memperkenalkan namanya dengan gaya bicaranya yang bijak.
"Hai sayang, nama Tante Raysa. kamu cantik dan pintar banget." Raysa ikut memperkenalkan diri sambil memeluk gadis kecil itu.
"Tante juga cantik. makanya papa mau berteman dengan Tante."
"Benarkah? berarti kalau nanti Tante jelek papa nggak mau lagi dong temanan sama Tante?" Raysa kembali menimpali pembicaraan gadis kecil itu.
"Hihi.. nggak tahu Tante! soalnya selama ini teman papa itu cantik2 semua." dengan kepolosan gadis kecil itu bicara apa adanya.
"Udah-udah kok pada ngomongin cantik jelek sih? mau cantik atau pun jelek itu sama saja, yang terpenting adalah hatinya. Udah yuk kita jalan sekarang!"
__ADS_1
Akhirnya Angga menyudahi pembicaraan antara Raysa dan putri kecilnya itu, dia tidak bisa lama2 membiarkan dua orang wanita yang beda usia Itu terus bicara, dia takut akan menimbulkan kesalahpahaman, dia takut Raysa akan berpikir buruk kepadanya.
***
Sementara itu di kediaman keluarga Waluyo.
Siang ini Ani sedang sibuk mem packing barang2 kebutuhan yang akan dia bawa untuk berlibur ke kampung halaman ibunya.
"Sayang, kamu nggak tawarkan ibu sekali lagi untuk ikut kita liburan ke kampung? soalnya ibu kan sudah lama banget nggak pulang ke tanah kelahirannya, mas kira akan lebih seru lagi jika mereka juga ikut."
Ade datang segera merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha sang istri sebagai bantalnya sambil mengelus perut Ani yang sudah mulai membuncit.
"Udah mas, semalam Ani juga telpon ibu, tapi jawaban ibu masih tetap sama, Taruma kehilangan itu masih menghantuinya."
"Ya udah deh sayang untuk kali ini kita pergi berdua aja, anggap saja ini adalah bulan madu kita yang tertunda." Ade mengedipkan matanya kepada Ani.
"Apa! bulan madu apa hmm? bukankah setiap hari bulan madu dikamar ini."Ani mencubit pinggang suaminya itu sehingga Ade tak bisa menahan tawanya dengan keras.
"Hahaha... iya iya ampun sayang! Uhuk.. uhuk.." Ade sampai terbatuk karena tertawa begitu keras.
Makanya tertawa jangan kelewatan kamu De! nih anak dari dulu ketawa nggak bisa dikecilin dikit tuh suara!" terdengar suara mama Endang dari luar me mamarahi anak lelaki satu-satunya itu.
Ani dan Ade saling bertatapan, karena mendengar Mamanya mengomel dari luar. "Iya ma! maaf deh." Ade meminta maaf kepada sang mama.
"Makanya nggak usah aneh2 deh mas! pokoknya Ani mau liburan mas, tolong dong biarkan Ani menikmati liburan dengan tenang dan rileks." rengek Ani kepada sang suami karena dia tahu jika Ade tidak akan mebiarkan kesempatan yang ada, dia pasti akan selalu menggempur dirinya.
Ade segera duduk dan menatap wajah cantik istrinya yang sedang ngambek itu, dia juga menyadari jika selama ini dia tak pernah membiarkan istrinya itu bebas sebelum adik kecilnya itu mendapatkan haknya. tetapi dia tidak bisa pungkiri jika berdekatan dengan sang istri seakan gairahnya selalu memuncak bagaikan ada magnet ditubuh istrinya itu.
"Sayang, mas minta maaf ya? tapi harus bagaimana lagi sayang, kamu itu sudah bagaikan candu bagi mas, apakah selama ini kamu melakukannya dalam keadaan terpaksa sayang?"
"Ah nggak kok mas, Ani nggak pernah melakukannya dengan keadaan terpaksa Ani ikhlas,karena Ani tahu itu adalah kewajiban Ani sebagai seorang istri. tapi tolong dong beri Ani waktu untuk rileks beberapa hari gitu!"
__ADS_1
"Hmmm... baiklah karena permintaan istriku tersayang maka apapun akan mas turuti, tapi kira2 berapa hari jedanya sayang?"
"Selama liburan ya mas?" Ani mengajukan keinginannya yang dia sendiri belum tahu apakah suaminya itu sanggup atau tidak.
"Baiklah! deal?" Ade mengulurkan tangannya, dan Ani merasa sangat aneh jika suaminya itu menyetujui permintaannya, apakah benar jika suaminya itu sanggup selama itu tidak mendapatkan jatah darinya.
"Mas serius?" Ani menaikan alisnya sambil menerima jabatan tangan dari suaminya.
"Hahaha... kamu ini aneh banget sih sayang, tadi katanya ingin bebas dari gempuran basoka Brazil, trus sekarang giliran udah deal kamunya yang balik nanya, jangan2 kamu yang nggak bisa jeda lama2 dari gempuran basoka Brazil yaa?" Ade mencolek hidung sang istri.
"Ih.. apaan sih mas! Oke sekarang kita Deal, awas ya kalau ingkar janji!" Ani membalas menarik hidung mancung suaminya itu.
Ade menatap Ani sambil tersenyum, 'Mas yakin pasti nanti kamu yang tidak akan tahan sayang, karena daerah sana itu udaranya sangat dingin kamu tidak akan tahan.' Ade bicara sendiri dalam hati.
***
Kini mobil yang dikendarai Dr Angga telah sampai di depan rumah kontrakan Raysa sementara itu gadis kecil yang sedari tadi mengoceh kini sudah tertidur lelap di dalam pelukan Raysa.
"Maaf ya Sa, jika kamu jadi tidak nyaman." dr Angga mengambil Dira dari pangkuan Raysa,dia melihat jika putri kecilnya itu sudah begitu akrab dengan Raysa, mungkin selama ini dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, karena istrinya meninggal saat melahirkan putrinya itu.
"Dokter bicara apa, aku sangat senang bisa dekat dengan Dira,dia begitu lucu dan menggemaskan."
"Terimakasih ya Raysa atas waktu kamu hari ini?" ya karena tadi mereka tidak langsung pulang, karena permintaan gadis kecil itu Raysa ikut menemaninya untuk jalan2 ke mall dan makan siang bersama bahkan banyak yang mengira jika mereka adalah pasangan suami isteri yang baru mempunyai seorang anak.
"Sama2 dokter, aku juga berterimakasih atas semua kebaikan dokter selama ini kepadaku, aku benar-benar tidak tahu harus bicara apa, karena dokter sudah begitu baik."
"Aku tidak mengharapkan apapun dari kamu Raysa, aku hanya ingin kamu bahagia dan selalu bisa tersenyum, dan aku berharap semoga akulah orang itu yang akan selalu membuatmu terus tersenyum dan bahagia."
Angga menatap Raysa dengan dalam dia masih tetap berharap agar perasaannya selama ini bisa terbalas, meskipun dia tahu jika Raysa gadis yang tidak bersegel lagi tetapi cintanya begitu besar sehingga itu tak menjadi masalah baginya, karena dia juga sudah tahu alasan mengapa itu semua bisa terjadi.
"Ah sekali lagi terimakasih dokter, aku merasa ini sudah cukup! dokter tidak perlu lagi memikirkan aku, sekarang ibu sudah tidak ada, jadi dokter bisa lebih fokus lagi dengan gadis comel ini." Raysa bicara sambil mencubit pelan pipi Dira yang masih tertidur lelap di pangkuan sang Papa.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya agar Author semangat up, Terimakasih 🙏🥰🥰