
Setelah berpakaian rapi Raysa segera pergi ke apotek untuk membeli tespek.dia ingin menghilangkan rasa cemasnya sebelum berangkat kerja. Raysa harus membuktikan jika dugaannya itu adalah salah.
Setelah membeli tes kehamilan Raysa segera masuk ke kamar mandi. dia segera menampung urinenya perlahan dia mencelupkan benda pipih itu hingga batas yang tertera.
Raysa mengamati benda pipih itu dengan detak jantung yang tak karuan. Raysa membekap mulutnya saat melihat garis dua muncul di benda pipih itu. seketika itu dunia Terasa runtuh. tubuhnya bergetar hebat Raysa luruh dilantai karena kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya yang saat ini tak berdaya.
"Tidak. ini tidak mungkin! aku harus bagaimana? apa yang harus aku lakukan. aku tidak mau bayi ini." Raysa bergumam sendiri dengan Isak tangisnya. Raysa bangkit dan menuju kamarnya dia menumpahkan segala tangisnya.dia mengurungkan niatnya untuk pergi bekerja.
***
Sementara itu di RS. Dimas menemui dokter Angga. dia ingin menanyakan seberapa jauh hubungan mereka karena Dimas melihat jika Angga semakin dekat dengan Raysa.
"Untuk apa kamu menanyakannya? aku rasa tidak perlu menjelaskannya kepadamu." ketus Angga kepada Dimas.
"Aku perlu tahu. karena aku sangat mencintai Raysa. apakah kalian sudah resmi menjadi pasangan kekasih? aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan maaf darinya."
"Cinta? begitukah caramu mencintai seseorang?" Angga menatap sinis kepada Dimas.
"Ya aku tahu mungkin kamu mentertawakan kebodohanku karena telah memberikan luka kepada wanita yang sangat aku cintai. tetapi aku tidak akan menyerah sebelum aku mendapatkan maaf darinya."
"Baiklah, aku akan membantumu untuk mendapatkan maaf darinya. setelah itu kamu harus bisa merelakan Raysa untukku."
"Kamu jangan merasa besar kepala dulu Bro. karena kita mencintai wanita yang sama. untuk saat ini aku belum bisa merelakan gadis itu untukmu. mari kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan cintanya. dan satu lagi! bersainglah secara sehat!"
Dimas menepuk bahu Angga dan segera berlalu dari ruangan Dr Nefrologi itu. Angga terpaku masih memikirkan semua kata-kata Dimas, dia tidak yakin pada dirinya sendiri karena selama dia dekat dengan Raysa dia belum mendapatkan jawaban dari ungkapan perasaannya beberapa Minggu yang lalu. Angga juga merasakan jika Raysa tidak mencintai dirinya, itu semua terlihat jelas dari sikap Raysa kepadanya.
Setelah keluar dari ruangan Dr Angga, Dimas segera menuju dapur RS dia ingin menemui Raysa, ntah kenapa beberapa hari ini gadis cantik berlesung pipi itu, selalu memenuhi pikirannya. rasanya sehari saja tidak melihat wajahnya dia sangat rindu. walaupun Dimas hanya menatap gadis itu dari kejauhan tetapi itu sudah cukup membuat rindunya terobati.
Kali ini Dimas ingin bicara langsung dengan Rasya. dia tidak ingin menyimpan rasa bersalahnya terus menerus, bagaimanapun dia akan terus berusaha untuk mendapatkan maaf dari gadis cantik berlesung pipi itu.
__ADS_1
"Selamat pagi!" Dimas menyapa semua karyawan yang ada di dapur RS itu.
"Selamat pagi Dokter Dimas. apakah ada yang bisa kami bantu?" kepala dapur menawarkan bantuan kepada Dimas dengan ramah.
Netranya mencari sosok wanita yang sangat dia rindukan itu.tetapi yang dia cari tidak menampakkan batang hidungnya.sehingga mau tidak mau dia harus menanyakan kepada kepala dapur.
"Apakah Raysa sudah datang?" akhirnya Dimas melontarkan pertanyaan kepada kepala dapur RS itu.
"Raysa hari ini tidak masuk Dok. karena dia sedang tidak enak badan."
"Apa?! apakah sakitnya parah?" tanpa sadar Dimas membuat para karyawan yang ada disana memperhatikan dirinya. semua mata menatap Dimas dengan penuh tanda tanya.
"Ah maksud saya jika dia sakit kenapa tidak dirawat di RS ini, karena dia juga bagian orang RS ini." Dimas meluruskan agar semua orang tidak mencurigai dirinya.
"Kami belum tahu dia sakit apa Dok. tetapi saya sudah menyarankan dia agar segera berobat ke RS."
"Hmm. baiklah kalau begitu saya permisi." Dimas segera meninggalkan dapur RS itu dia segera menuju ruangannya.
***
Sementara itu Raysa masih menangis terisak-isak dia tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya benar2 kacau. dia tidak menginginkan bayi yang ada dalam rahimnya saat ini.
Tok... tok...tok...!
Terdengar ketukan pintu dari luar, sehingga membuyarkan lamunannya. Raysa segera menghapus air matanya. dia bergegas membukakan pintu.
"Kamu! untuk apa kamu datang kesini?" Raysa terperanjat melihat siapa orang yang datang dan mengetuk pintu rumahnya itu.
"Raysa, apakah kamu baik2 saja? kenapa mata kamu sembab apakah kamu menangis. apa yang sakit Sa? katakan padaku!" Dimas memegang dahi Raysa yang terasa hangat.Dimas juga sangat menghawatirkan Raysa karena melihat penampilannya yang kacau.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, aku baik2 saja." Raysa berusaha untuk tetap baik2 saja. namun Dimas sepertinya tidak percaya dengan semua kata2 Raysa.
"Ayo sekarang kamu ikut aku ke RS. kamu harus diperiksa." Dimas memegang tangan Raysa.
"Lepaskan dokter! kamu tidak perlu repot membawaku ke RS, karena aku tidak mau!" Raysa menyentak tangan Dimas dengan kuat sehingga pegangan Dimas terlepas.
Hoek... Hoek...
Raysa berlari menuju kamar mandi, karena tiba-tiba dia merasa sangat mual dan ingin muntah.
Dimas juga mengikuti Raysa masuk ke kamar mandi. Dimas curiga melihat Raysa tiba2 mual dan muntah, karena dia seorang Dr kandungan maka dia bisa melihat perubahan dari tubuh Raysa.
Saat Raysa sudah selesai mengeluarkan sisa makanan yang ada di perutnya dia ingin keluar tetapi tubuh tinggi dan wajah tampan itu telah menghalanginya sehingga tatapan mereka tak bisa dihindarkan. lama mereka saling menelisik satu sama lain untuk mencari kebenaran di mata masing-masing.
"Minggir, aku mau keluar." Raysa bicara ketus dan mendorong tubuh Dimas untuk mundur. dia segera keluar dan membiarkan Dimas yang masih terpaku di pintu kamar mandi itu.
Tanpa sengaja Dimas melihat sesuatu di lantai kamar mandi itu. dia segera mengambil benda pipih itu dan melihat garis dua di benda itu. saat itu juga jantung Dimas berdebar tak menentu. dan bermacam pertanyaan muncul di dalam hatinya. bayi siapakah yang saat ini Raysa kandung? apakah itu bayinya atau bayi Dr Angga? Dimas segera menemui Raysa untuk menanyakan kepada Raysa karena dia tidak ingin membuat kesalahan yang kedua kalinya.
"Apa ini Raysa?" Dimas meletakkan benda pipih itu di atas meja yang ada di hadapan Raysa. seketika itu juga Raysa terkejut melihat tespect itu. dia benar-benar merutuki kebodohannya karena tadi dia lupa membuang benda itu.
"Jawab Sa? kenapa kamu diam saja? anak siapa yang sedang kamu kandung. apakah itu anakku? atau...?"
"Atau apa? atau kamu akan mengatakan jika ini anak dari orang lain. begitu?! dengar dokter!andai saja ini bukan anakmu maka aku masih bisa menerima bayi ini. tetapi ini anakmu maka aku sangat membenci bayi ini aku tidak mau dia ada di rahimku!" Raysa menangis dan memukul berkali2 perutnya yang masih Rata itu.
"Raysa, apa yang kamu lakukan? hentikan Sa hentikan!" Dimas menahan tangan Raysa yang ingin memukul perutnya kembali.
"Raysa, kamu bisa membenciku dan memukuli aku. tapi aku mohon jangan sakiti dia. karena dia tidak berdosa. walau bagaimanapun dia adalah darah daging kamu Sa." Dimas bicara dengan suara bergetar dia benar-benar telah membuat kesalahan besar sehingga wanita yang sangat dia cintai itu sangat membenci dirinya sehingga Raysa juga membenci benih yang ada di rahimnya saat ini.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya sahabat readerku tercinta agar Author semangat Update. terimakasih 🙏🙏😘🥰