
Setelah selesai makan. Mama Rana membawa Raysa untuk duduk di ruang tamu sambil ngobrol.
"Raysa tadi mama sudah mendengarkan semua cerita Dimas tentang kamu. mama turut berdukacita ya atas meninggalnya ibu kamu." ucap mama Rana memberi ucapan duka kepada ibunya Raysa.
"Iya terimakasih ma." jawab Raysa singkat dengan senyum simpul nya. dia masih merasa sangat canggung saat berbicara dengan mama mertuanya.
"Kalau boleh mama tahu kapan kamu ingin mencari orangtua kandungmu?"
"Aku ingin secepatnya ma. tapi dalam keadaan begini bang Dimas belum mengizinkan aku."
"Kenapa dim? kok kamu belum mengizinkan istri kamu untuk mencari kedua orangtuanya?" tanya mama Rana kepada Dimas yang dari tadi hanya diam sambil mendengarkan percakapan istri dan mamanya
"Karena kehamilan Raysa baru berjalan 3 bulan ma. itu masih sangat rawan untuk melakukan perjalanan jauh. jadi aku berencana akan mencari orangtua Raysa saat kehamilannya sudah menginjak enam bulan. di usia enam bulan itu sudah cukup kuat dan tidak ada masalah lagi bila mengadakan perjalanan jauh." terang Dimas kepada mamanya
"Ya ya.. Mama paham. kamu sabar dulu ya sayang. mama percaya kamu pasti akan menemukan orangtua kandungmu. dan mama juga tidak sabar ingin bertemu mereka. semoga saja mereka masih sehat wal Afiat."
"Aamiin.. terimakasih atas do'anya ma." ucap Raysa dan dimas mengaminkan Do'a sang mama.
"Iya sma2 sayang. nah kebetulan sekarang kehamilan kamu masih jalan tiga bulan. jadi rencana mama kita adakan acara resepsi pernikahan kalian dulu. bagaimana menurut kalian berdua?" tanya mama Rana meminta pendapat kepada Raysa dan dimas
"Kalau aku terserah mama saja. asalkan jangan membuat istriku kecapean di acara resepsi nanti ma." ujar Dimas
"Kalau kamu bagaiman Sa?" tanya mama
"Aku ikut saja ma, mana baiknya mama saja." jawab Raysa
"Baiklah. lusa setelah selesai acara di keluarga jeng Endang, mama akan pulang ke Surabaya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara resepsi pernikahan kalian." ujar mama Rana.
"Oya dim, hari ini acaranya Ade dan Ani kan?" tanya mama
__ADS_1
"Iya ma. rencananya sebentar lagi aku dan Raysa akan kesana, Karena acara akan dimulai nanti habis Zuhur."
"Kok kamu aja yang kesana? emang kamu kira mama datang kesini bukan untuk menghadiri acara mereka juga? mama tuh sengaja datang kesini untuk menjelaskan kepada jeng Endang karena dia merasa mama tidak mengundang dia di acara pernikahan kamu. padahal mama juga tidak tahu apa-apa malah kena semprot oleh jeng Endang. ini semua ulah kamu tuh!" sungut mama Endang kepada Dimas
"Ya bukan begitu ma, kan acaranya siang dimulai, nah sekarang mama kan baru datang jadi mama bisa istirahat dulu. gitu Lo ma. santai dong mama cantik nggak usah mengandalkan urat gitu dong ngomongnya!" jawab Dimas kepada mamanya yang sudah mulai tegangan tinggi.
"Ah kamu ini. ya mama kesal sama kamu. mama kira kamu tidak mau bawa mama ke acara mereka. padahal ini semu ulah kamu sehingga keluarga waluyo menjadi salah paham dengan keluarga kita." jawab mama Rana.
" Iya deh aku minta maaf. tapi sama anak sendiri nggak boleh berprasangka buruk. ntar mama tambah tua lho. kalau udah tambah tua ntar nambah jlek. terus aku dan Lili nggak jadi dapat papa baru dong." jawab Dimas dengan menggoda mamanya.
Bugh..!
Tiba-tiba mama Rana melempar Dimas dengan bantal sofa. "dasar ya nih anak. asal ngomong aja kamu. siapa juga yang mau cari pengganti papa kamu. bagi mama sosok papa kamu itu tidak akan pernah tergantikan dalam hati mama. mama hanya ingin menikah satu kali seumur hidup. dan mama ingin bertemu lagi sama papa kamu di surga nanti." jawab mama Rana
"Ya ampun sosweet banget sih mama aku ini!pengen deh punya istri kayak mama. jadi kalau aku mati istriku tidak akan menikah lagi itu yang dinamakan cinta sampai mati." ujar Dimas menggoda mamanya sambil menyindir sang istri agar setia seperti mamanya.
"Iya dek. kakak tahu kok." jawab Raysa singkat sambil menatap Dimas
"Hehe. Abang bercanda kok sayang. abang percaya banget sama istri Abang ini bahwa dia sangat setia, sama seperti mama." ujar Dimas meluruskan kembali dia takut candaan nya akan menjadi masalah besar.
"Nggak bisa gitu dong kak. jangan menuntut wanita untuk setia tetapi ternyata prianya ada main dibelakang dengan wanita lain. nah itu namanya egois. dan sekarang itu tidak jamannya lagi yang seperti itu. sekarang sikap dan perilaku istri mengikuti suami. seperti kata-kata yang sedang viral sekarang. suami setia,istri juga setia. kalau suami selingkuh, istri juga ikutan selingkuh. tapi kalau suami mati, istri segera cari suami lagi Dijee!" celoteh Lili sambil menirukan gaya bicara seorang DJ yang sedang buming di sosmed
Dimas yang mendengarnya merasa jengah dia melempar Lili dengan bantal sofa itu. "Nggak usah kasih pengaruh buruk gitu sama kakak ipar mu!"
"Hahaha... ciee dia langsung takut! makanya laki-laki itu jangan selalu menuntut istri selalu setia kalau nyatanya dia tidak bisa melakukannya." ujar Lili kembali sambil mentertawakan wajah kesal kakaknya itu.
"Eh anak jelek. kamu kira kakakmu ini tukang selingkuh apa? aku ini adalah laki-laki yang setia dan sangat pandai menjaga pandanganku dari wanita lain." ujar Dimas menyombongkan diri
"Huuu.. sombong lagi!." ejek Lili
__ADS_1
"Iya dong." Dimas tersenyum sambil mengedipkan matanya kepada Raysa.
"Sudah sudah. sekarang kita siap2 untuk ke rumah keluarga Waluyo. walaupun acaranya belum selesai kita kan bisa ngobrol dulu atau ada sesuatu yang bisa kita bantu disana. ucap mama Rana mengajak anak-anak nya untuk datang ke kediaman keluarga Waluyo
"Eh tapi ngomong2. wajah Raysa dan Ani sangat mirip banget menurut mama. cuma bedanya Ani berhijab aja." ungkap mama Rana. karena pertama bertemu ia memang sangat terkejut melihat wajah Raysa yang begitu mirip dengan menantu jeng Endang itu.
"Masa sih ma?" tanya Lili. karena dia belum melihat istri Ade. karena waktu acara resepsi pernikahan Ade, Lili tidak ikut mamanya karena ada tugas kuliah yang tak bisa ia tinggalkan.
"Udah kamu lihat aja nanti sendiri. kakak aja pertama ketemu dengan Raysa memang mengiranya juga begitu. ucap Dimas.
***
"Bang, emang benar ya Ani istrinya Ade mirip banget sama aku?" tanya Raysa yang sedang membantu memakaikan kancing kemeja yang dikenakan oleh sang suami.
"Benar sayang. nanti deh kamu ketemu sama dia kamu bisa buktikan sendiri." jawab Dimas sembari mengecup kening Raysa.
"Apakah dia yang waktu itu ketemu sama aku di RS ya bang?"
"Oya? jadi kamu udah pernah ketemu. jadi menurut kamu dia gimana mirip nggak?" tanya Dimas
"Iya mirip banget malah bang."
"Apa jangan-jangan dia adalah kembaran kamu sayang?" Dimas menerka
"Ah nggak mungkinlah lah bang. emang dia bilang sama Abang punya saudara kembar?"
"Ya nggak sih. Yaudah deh kita jalan sekarang ya. nanti di amuk mama lagi." ujar Dimas sambil terkekeh mengingat mamanya yang mudah tegangan tinggi jika salah bicara
Bersambung...
__ADS_1