
Loly mencoba untuk tidur tetapi di dalam tidur pun ia masih bermimpi akan pertempuran yang mengerikan membuatnya terjaga.
"Ya, Tuhan! Syukurlah hanya mimpi …," batinnya, ia mengingat setiap mimpinya jika Jodie tertembak begitu juga dengan Jeff.
Tok! Tok!
"Loly! Loly! Jeff! Jeff!" teriak seseorang dari pintu depan rumah.
"Frank! Ada apa?" batin Loly, ia mendengar suara Frank.
Loly langsung menyibak selimut dan melompat ke luar kamar bersamaan dengan Jeff pun yang sudah melesat dan mengintip dari balik gorden jendela.
"Ada apa Frank?" tanya Loly, Jeff berada di belakangnya.
"Ada perampokan! Ayo, bangunlah! Amankan barang-barang berharga kalian!" ujar Frank, ia berlari kembali ke rumah-rumah tetangga di lereng dan bukit lain, suara lonceng gereja bergema.
"Ada apa ini? Apakah ini hal yang biasa di sini Loly?" teriak Jeff, ia langsung memakai celana jeans dan jaket kulitnya menyelipkan pistol dan amunisi.
"Aku tidak tahu, Jeff. Aku sudah lama tidak pulang kemari," balas Loly.
Jeff merasa jika segalanya semakin kacau ia tak lagi sungkan memakai dan menggunakan pistolnya. Loly menggerutu memakai jeans dan menyelipkan senjata juga menyelempangkan tasnya.
"Loly, apakah kamu tidak sebaiknya di rumah saja?" tanya Jeff, ia merasa tak ingin jika Loly terluka.
"Tidak! Aku tidak ingin menonton dan menunggu kalian, sedangkan aku tidak tahu apa yang sedang terjadi?" umpat Loly.
"Baiklah! Tapi, kamu harus hati-hati dan jangan sembrono!" ujar Jeff, "ingat Loly, ini bukan permainan tapi nyawa taruhannya … kita tidak tahu apa yang sebenarnya sering terjadi di sini?" ucap Jeff, ingin rasanya ia kembali ke Denver dan mengacak-acak semua sindikat mafia yang selalu membuat kerusuhan.
Namun, ia tak memiliki laptop dan orang-orang yang bisa dipercaya untuk menyusup dan mengetahui banyak hal, sehingga ia lebih memutuskan untuk tinggal di Goldblack untuk sementara ini.
Keduanya berlari keluar rumah, menuju ke arah Gereja. Dor! Dor! Keduanya mendengar dan melihat suara tembakan dan asap sisa amunisi dan proyektil yang ke sana kemari.
__ADS_1
"Bajingan! Mereka telah membunuh Pendeta Yosef!" umpat Loly, ia mengingat pendeta yang baru saja menikahkan merak tadi malam dan sekarang pada pukul 04.00 am pendeta tersebut malah sudah terkapar tewas di depan Gereja dengan memeluk salib.
Dor! Dor!
Mereka melihat orang-orang menunggang kuda menembak ke arah orang-orang Goldblack.
"Apakah ini zaman masa lalu? Masa zaman modern seperti sekarang ada juga yang menunggangi kuda mirip Cowboy?" tanya Jeff, pada Loly.
"Entahlah, aku sudah lama tidak kemari. Tapi, rasanya aneh sekali! Dari pakaiannya mereka terlihat modern," ujar Loly.
Jeff dan Loly masih berlari, "Sial! Loly terlalu gesit berlari, aku harus lebih banyak berlatih," batin Jeff, ia melihat Loly meluncur berlari menuruni lereng bukit dan melesat dengan pistol di kedua tangannya menembak para penunggang kuda.
Jeff menembak orang yang ingin menembak ke arah Loly, "Bajingan! Jangan coba-coba menembak istriku!" umpat Jeff, ia berlari menuruni undakan lereng dan langsung menembak ke arah musuh.
Adu tembak terjadi, hingga Frank dan beberapa pasukan Bowen datang membantu dengan mobil jip dan semua kuda-kuda melesat bersama para perampok meninggalkan Goldblack.
"Terima kasih, Bowen!" ucap Loly, ia mengingat Bowen, pria yang pernah dikenalkan oleh Jodie di daerah kumuh Denver sebelah Utara.
"Kau … kau putri Jodie Crown?" tanya Bowen, ia menyipitkan mata mengingat gadis yang selalu memakai kuncir kuda dan kaus bisbol dan juga topi pet, kini sudah menjelma menjadi wanita yang sangat cantik.
"Aku sudah mengenalnya saat menyelamatkan para gadis di lembah Corner." Bowen menatap Jeff yang balik menatapnya.
"Jodie beruntung memiliki menantu hebat sepertinya," balas Bowen, "apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bowen.
Bowen masih memeriksa semua orang yang terluka para dokter dari puskesmas terdekat sudah berusaha untuk menolong semua orang. Namun, mereka kekurangan tenaga medis sehingga Jeff, ikut menolong mereka menjahit luka begitu juga dengan Loly dan Bowen.
Hampir 5 jam mereka berkutat menyelamatkan para warga Goldblack, hingga ketiganya berdiri di luar puskesmas yang tidak jauh dari Gereja. Ketiganya bernapas lega telah berhasil menyelamatkan beberapa warga dan sebagian warga mengebumikan yang sudah meninggal.
"Apakah para polisi tidak pernah sampai kemari?" tanya Jeff bingung, ia merasa polisi tak pernah lewat dan berpatroli.
"Apakah Jodie tidak memberitahumu, jika Goldblack adalah daerah bebas?" tanya Bowen.
__ADS_1
"Maksudnya?" Jeff balik bertanya.
"Goldblack adalah daerah bebas hukum sebenarnya, aku sendiri tidak tahu mengapa demikian? Hanya saja … dulu rumornya … ini milik seorang Nostra yang membelot dan membeli daerah ini.
"Dan membangun pedesaan dan memberi nama Goldblack, semua warga di sini, menamai desa ini Goldblack untuk mengenang si Nostra yang baik itu.
"Rumornya, ia tak ingin diketahui di mana pun berada. Entahlah, aku masih muda!" balas Bowen tersenyum, ia menyesap cerutunya membuang asalnya ke udara.
"Kau mau?" tanyanya mengangsurkan sebuah cerutu pada Jeff yang menggelengkan kepala.
"Wah, baik sekali!" umpat Bowen, ia masih menatap ke arah Jeff, "Wajahmu mirip dengan Jodie dan kau seperti Jeff si Tangan Besi Ketua La Costra Nostra," lirih Bowen, ia mengerucutkan bibirnya.
"Lalu, bagaimana kisah Goldblack ini?" tepis Jeff, ia tak ingin Bowen semakin curiga kepadanya.
"Hm, si Nostra itu membawa semua orang-orang kumuh dari pinggiran berbagai kota kemari, memberi mereka tanah dan membiarkan mereka menguasai untuk kepentingan dan kehidupan pribadi setiap warga, asal tidak dijual tetapi boleh mengembangkannya.
"Sehingga warga Goldblack itu menjadi makmur dan tetap sederhana … biasanya Goldblack sangat aman! Aku tidak tahu apa yang terjadi? Jodie meminta tolong padaku untuk mengawasi Goldblack. Aku sendiri tidak tahu mengapa?
"Jodie yang mengetahui banyak kisah mengenai Goldblack dan orang-orang tertua di sini termasuk Frank. Namun, walaupun kau menyiksanya, mereka rela mati dan tidak memberitahu siapa si Nostra itu!" ucap Bowen, ia menyalakan cerutu.
Deg!
"Nostra …," lirih Loly, ia mengingat jika Jodie memiliki nama Jodie Stanford Nostra.
"Apakah Jodie, Nostra yang membelot itu?" batin Loly, ia masih menghubungkan banyak hal, tetapi teka-teki itu tak pernah terjawab.
"Hanya Jodie … ya hanya Jodie yang memiliki jawaban ini semua …," batin Loly.
"Bowen, um … apakah Nostra itu masih hidup hingga kini?" tanya Jeff penasaran, ia sama sekali tidak pernah mencari dan menguak silsilah Nostra karena Jovink sendiri tidak pernah berbicara mengenai keluarga Nostra dan ia hanya tahu jika Jovink memiliki saudara bernama Joey Nostra yang sudah tewas ayah dari Dean Nostra.
"Aku tidak tahu, tak ada yang pernah tahu mengenai siapa Nostra itu sesungguhnya? Kau tahu, aku baru di dunia mafia brengsek ini. Semua ini karena bajingan Jeffry Nostra itu. Dia lebih kejam dari Jovink Nostra, jika tidak, aku masih memiliki usaha bengkel mobil yang besar," ujar Bowen, ia mengutuk Jeff yang tak disadarinya berada di depannya.
__ADS_1
Glek!
Lagi-lagi Jeff merasa kesal, ia sudah berulang kali dikutuk dan disumpahi oleh orang-orang yang telah disakiti orang lain atas namanya.