
"Mengapa kau berikan ini, Lorenzo?" tanya Dwinov, ia bingung.
"Kita tidak tahu ajal. Kita juga tidak tahu kekuatan mereka, jika kita tidak berhasil. Aku ingin kalian ke luar dari sini. Di gudang ini, ada mobil dan kuncinya. Kaburlah dan hancurkan mereka, aku mohon!" ujar Lorenzo menatap ketiganya.
"Apa?!" ujar Bowen, "kau menyerah begitu saja? Setelah perjuanganmu di El Salvador? Aku mengikuti semua perkembangan kau dan Pedrosa. Kalian bersih," ujarnya.
"Ya, aku ingin menebus banyak dosa. Sehingga aku ingin berbuat baik, ingatlah! Andaipun aku mati aku mohon, perjuangkan panti asuhan dan lansia milikku!" ujarnya pada mereka bertiga.
"Tidak akan ada yang mati! Tuhan pun tahu itu! Dia tak akan memanggil hambanya yang berjuang di jalannya." Jeff menepuk bahu Lorenzo, "kau harus kuat Uncle Enzo!" ujar Jeff, ia memanggil panggilan mereka pada Lorenzo saat mereka masih kecil.
"Ah, Jeff … sudah terlalu lama waktu berlalu. Kau membuatku menjadi sentimentil. Ayolah, selesaikan ini. Aku ingin memancing bersama kalian," ucap Lorenzo.
"Nah, begitu dong! Kau tahu, di Denver ada ikan trout yang luar biasa besar kalau kalian mau kita bisa pergi ke sana," usul Bowen.
"Wah, benarkah?" balas Dwinov, "aku tidak pernah ke sana, entah mengapa?" balas Dwinov.
Kini, ia tahu hatinya yang tak ingin ke sana karena ayahnya Joey meninggal di Denver dengan mengenaskan.
Mereka memasuki sebuah pintu rahasia di batang pohon oak tua, Lorenzo mengetuknya dan sebuah pintu terbuka dan anak tangga masuk ke dalam lorong bawah tanah.
Jeff, Dwinov, dan Bowen terperanjat. Mereka tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat. Selama ini jika mereka hanya melihat pintu rahasia di balik dinding atau apa pun tetapi mereka tidak menyangka jika ada sebuah ruang rahasia di dalam batang pohong.
Keempatnya berjalan masuk sedangkan anak buah mereka berada di sekitar rumah Lorenzo menyamar bersiaga di sana jika Jeff dan ketiganya memanggil mereka untuk masuk.
Jefff dan keduanya mengikuti Lorenzo yang berjalan menuruni tangga dan tiba di sebuah ruangan kecil dan mengambil obor seketika pintu terbuka.
"Ayo, masuk!" ucap Lorenzo, ketiganya kembali mengikuti dan mereka tiba di sebuah ruangan kaca di mana mereka bisa melihat di depan mereka jika keluarga Lorenzo sedang disandera.
"Bajingan!" umpat Jeff, ia ingin melesat menembus kaca tersebut.
"Tunggu dulu, aku tidak ingin mereka membunuh keluarga Uncle Enzo," ujar Dwinov.
"Lorenzo, mana lagi jalan yang pas untuk menyergap mereka?" tanya Bowen.
"Ikuti jalan setiap ada obornya maka itu sebuah pintu jangan lupa meletakkan obor pada pintu selanjutnya," pesan Lorenzo.
"Baiklah, mari kita bergerak!" ujar Jeff.
***
Sementara di dalam rumah Lorenzo, "Katakan! Di mana Lorenzo menyimpan semua brankas dan surat-surat penting La Costra Nostra?" teriak seorang pria bertopeng.
__ADS_1
"Aku tidak tahu! Lorenzo, sudah lama tidak aktif di La Costra Nostra!" teriak Gwenie.
Dor!
"Aaa!" teriak kedua putri Lorenzo, saat si pria menembak lantai.
Sementara di lantai kedua menantunya sudah terkapar berdarah disiksa mereka, para kaki tangan mafia yang belum diketahui siapa mereka langsung meraih putri Lorenzo.
Membelai pipi hingga ke belahan bukit di balik kemeja putri Lorenzo bernama Diana yang cantik yang sedang hamil tua.
"Katakan! Apa perlu aku menembak bayimu?" teriak pria tersebut.
"Jangan! Aku mohon … jangan lukai anakku, sungguh kami tidak tahu," balas Diana ketakutan.
Dor!
Si penjahat menembak suami Diana di kakinya, hingga jerit kesakitan dan darah merembes membasahi lantai.
"Katakan cepat?" teriak pria tersebut, ia ingin menarik pakaian Diana yang terikat.
"Jangan! Jangan! Aku mohon, lepaskan kedua putri dan menantuku …," isak tangis Gwenie.
"Tutup mulutmu! Lorenzo tidak mengikuti keinginanku untuk bekerja sama membunuh Nostra! Sekarang kau harus mati! Biar dia tahu bagaimana rasanya!" umpat pria tersebut.
"Aaa!" teriak Gwenie, ia tak menyangka pria di depannya langsung jatuh terkapar di lantai dengan kepala hancur.
Darah membasahi wajah Diana, yang menjerit ketakutan. Semua kaki tangan Montes panik, mereka mencari dari mana arah tembakan tersebut.
Dor! Dor!
Tembakan bergema, satu demi satu musuh jatuh. Lorenzo muncul membuka ikatan tangan istrinya dan keduanya langsung membuka ikatan kedua putri mereka yang diikat di kursi.
"Ayo, bawa Adam dan James. Selamatkan mereka!" Lorenzo, ia melepaskan pelukan Gwenie. Lorenzo menelpon anak buahnya untuk masuk dan menyerang.
Jeff, Dwinov dan Bowen sudah berpesta membantai semua kaki tangan musuh.
Buk! Bak! Buk!
Jeff memukul musuh kala pelurunya habis dan mematahkan kepala musuhnya.
"Bajingan, kalian!" umpat Jeff, ia langsung mengambil senjata musuh.
__ADS_1
Kras!
Suara pedang samurai hampir saja membelah tubuh Jeff jika dia tak berguling ke samping dan mengambil tubuh lawan yang sudah terkapar sebagai tamengnya.
"Hah! Kau pasti suruhan Kent, tak kusangka kalian semua bekerja sama! Dasar, Bangsat!" umpat Jeff, ia bergulingan kala samurai lawan terus ingin mencincang tubuh Jeff di lantai.
Trang! Trang!
Semburat bunga api dari tebasan pedang dengan lantai membuat Jeff terus berusaha mencari cela.
"Jeff!" teriak Diana yang memapah suaminya beserta beberapa orang ART yang sudah bebas.
"Bunuh Bajingan itu, untukku Jeff!" teriak Diana, ia mengambil sebuah pedang di dinding yang tak pernah dipakai oleh Lorenzo sebagai hadiah pernikahan dari Diana kala berlibur ke Jepang.
Lorenzo yang tak menyukai pedang hanya menggantungnya saja di dinding sebagai hiasan.
Diana melemparkan pedang pada Jeff yang langsung menendang kaki si ninja berpakaian putih. Hingga ninja yang lengah terjerembab, Jeff menangkap pedang.
"Bowen! Selamatkan Bibi Gwenie dan anak-anaknya!" teriak Jeff, ia sudah berdiri, ia membuka kemeja dan membuangnya karena sudah penuh sobekan samurai, goresan samurai sudah mengeluarkan rembesan darah.
"Apakah kau yakin akan membunuhnya sendirian, Jeff?" teriak Bowen berlari ke arah Gwenie yang sedikit lemas.
"Aku yakin! Pergilah! Beri mereka senjata. Zack menantikan mereka, kau ingat petanya bukan?" teriak Jeff.
"Ya! Ya! Aku ingat!" balas Bowen, ia sudah menulis di memori otaknya.
"Ayo, Bibi!" ajak Bowen, ia merasa Lorenzo pantas menjadi ayahnya. Adam hampir sekarat, Bowen telah memegang nadinya.
Namun, ia hanya memandang ke arah Gwenie yang menggelengkan kepala pada Bowen.
"Ayo, cepat! Kalian harus ke rumah sakit!" ucap Bowen, ia memanggul tubuh Adam.
Mereka berlari meninggalkan pertempuran memasuki lorong demi lorong dan ke luar dari pohon oak,
"Lorenzo, sialan! Jika ada tempat rahasia ini, kami tidak sampai begini!" umpat Gwenie berlinang air mata.
Bowen memasukkan Adam ke jok belakang begitu juga dengan ketiga wanita tersebut serta James, Bowen telah memberi mereka senjata.
"Please … aku mohon! Jaga istriku …," lirih Adam meregang nyawa, ia memegang pergelangan tangan Bowen.
"Adam!" teriak Diana menangis.
__ADS_1
"Berpeganganlah, yang kuat! Pakai sabuk pengaman, kita akan segera tiba di rumah sakit. Bibi katakan di mana rumah sakit!" ucap Bowen bingung, untuk pertama kali dirinya merasakan kesakitan seorang istri ditinggal suami.
Apalagi sang suami malah menitipkan keselamatan istri padanya. Bowen dibantu Gwenie langsung memberikan arahan.