
Miranda menerima surat usang itu dengan tangan gemetar, ia tak menyangka jika Joey masih meninggalkan sepucuk surat setelah malam naas dan penuh aib tersebut hingga Dwinov lahir.
"Terimalah, Miranda! Aku pun tak tahu apa isinya," ujar Lorenzo, "bacalah, aku yakin bukan hanya kau yang menderita tapi, Joey juga!" lanjut Lorenzo.
Miranda mengira jika Joey sama sekali tak memiliki rasa belas kasih dan tanggung jawab untuk sekedar meminta maaf padanya. Miranda mengutuk dan menyesali semua perbuatan Joey pada malam naas hingga kematiannya.
Perlahan dengan tangan gemetar dan dada bergemuruh, Miranda mencoba membuka surat tersebut yang masih tersimpan dengan rapi di sebuah plastik putih untuk melindunginya dari kerusakan.
Lorenzo menjaga surat terakhir dari Joey, yang dirinya pun tak tahu apa isi dari surat tersebut. Demi seorang teman dan atasannya yaitu : Joey Benyamin Nostra, Lorenzo rela untuk terus merawat dan menyimpannya dengan nyawanya sendiri.
[ Dearest : Miranda tersayang.
Maaf Jika karena malam itu, aku tak lagi mengunjungimu dan menghilang begitu saja.
Aku malu, karena aku tak bisa menahan diriku karena pengaruh obat itu. Maafkan aku, Miranda. Andaikan aku bisa mengulang waktu, sungguh … aku tak ingin melakukan dan menyakitimu.
Walaupun aku sangat mencintai dirimu! Tapi, tak pernah sedikit pun ada niatku untuk menyentuh dan memperkosa dirimu. Aku ingin menyimpan semua rasa suka dan cintaku hingga aku mati tapi, aku tak tahu dan entah siapa yang telah berbuat kecurangan pada kita?
Andaikan, benih yang kutinggalkan tanpa sadar itu, telah membuatmu hamil. Itu adalah anakku! Hingga kapan pun, aku hanya ingin sayangi dan cintailah dia, Miranda.
Jangan hukum anakku, hanya karena kesalahanku. Aku berusaha untuk menjauh darimu karena aku tak bisa … aku tak bisa memandang wajahmu, aku malu! Malu pada diriku dan Jodie juga Jovink. Aku tega melakukan semua itu kepada calon iparku.
Miranda … aku akan mencari, siapa yang telah melakukan semua itu padamu dan Jodie juga pada diriku? Andaikan aku mati pun, aku sudah ikhlas! Tapi, aku mohon …! Jangan buang dan sakiti anak yang aku tinggalkan padamu.
Aku tahu, dokter Abraham sudah mengatakan, 'Jika kamu hamil,' aku hanya bisa melihat dan memandang dirimu dari kejauhan. Bukan karena aku tak ingin mendekat tetapi, aku takut kau akan marah dan menghukum diriku, Miranda.
Itu akan lebih menyakiti diriku, aku tak ingin kau membenci diriku begitu dalam tapi, aku sadar dengan apa yang telah aku lakukan. Aku tak bisa menghapus hitam yang telah tercoreng antara kita. Aib yang seumur hidup, akan membuat kau dan aku malu begitu juga dengan keluarga Nostra.
__ADS_1
Maafkanlah, semua kesalahanku! Andaikan surat ini sampai padamu, itu artinya aku sudah tak ada lagi di dunia ini. Maafkanlah, semua kesalahanku. Jaga dan rawatlah, anak yang aku titipkan padamu!
Aku berharap, jika Jodie atau Jovink hidup. Aku yakin, mereka berdua akan memahami dan merawat anakku. Andaipun mereka tidak mau, aku mohon … jangan sia-siakan dia! Aku sudah meninggalkan semua harta warisan milikku padanya.
Apakah anakku perempuan atau pria? Aku mewariskan semua milikku di San Fransisco padanya.
Selamat tinggal Miranda, semoga kau bahagia dan maafkanlah aku!
Salam hangat
Joey Benyamin Nostra]
Deg!
Jantung dan seluruh sendi Miranda seakan luruh, ia tak menyangka kini, ia akan menangisi kematian Joey Nostra yang sangat dibencinya dulu.
Sekelumit rasa sesak dan perih di benak dan hati Miranda, ia begitu kejam menutup pintu kamar dan hatinya setiap Joey ingin mendekat, Miranda merasa menyesali semua itu.
Sekarang, Miranda menyadari jika Joey dan Jovink tak pernah berniat jahat dan ingin menidurinya hanya sebuah konspirasi dari orang yang tak tahu apa yang mereka inginkan dan tujuan yang mereka miliki hingga segalanya menjadi kacau.
Air mata bergulir di pipi Miranda, ia tak menyangka begitu perih dan pahit kehidupan yang telah mempermainkan dia dan ketiga adik-kakak tersebut hanya karena sebuah rencana entah siapa.
"Joey … maafkan aku! Aku tak tahu, jika kau pun begitu terluka dan menderita," lirih Miranda di antara Isak tangisnya.
"Dwinov, maaf! Jika aku menyakitimu, Nak. Aku pernah hampir membunuhmu dulu! Maafkan Mama," sesal dan isak tangis Miranda memandang Dwinov.
"Mama …," lirih Dwinov, ia memeluk Miranda.
__ADS_1
Dwinov tak tahu harus berkata apalagi, ia dan kedua saudaranya yang lain begitu terkejut, mengetahui semua kebenaran tersebut. Ketiganya memang selalu berandai-andai jika Jeff adalah saudara mereka.
Siapa sangka, jika mereka memang saudara se-wali dan lahir dari rahim ibu yang sama dengan cerita dan latar belakang yang juga cinta yang berbeda.
"Aku sudah mengikuti Joey sejak kami kecil, seperti Pedrosa yang mengikuti Jovink, dan Jhon yang yang mengikuti Jodie.
"Aku tahu, bagaimana sifat Joey, dia anak yang baik dan penuh tanggung jawab serta lebih hangat dan banyak bicara daripada kedua saudaranya. Joey putra bungsu dari Nostra dan dia sedikit manja.
"Tapi, Joey sangat dermawan dan lebih memiliki banyak teman daripada Jovink yang dingin dan pendiam berbeda, dengan Jodie yang lembut dan tegas! Mereka masing-masing saling melengkapi satu dengan yang lain, Miranda.
"Maaf, aku pun tak tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya dengan dirimu di sini. Aku dan Pedrosa mengira selama ini, jika kamu memang ingin pergi meninggalkan kedua anak ini, hanya untuk meninggalkan Joey dan Jovink yang tak pernah kau cintai selain Jodie." Lorenzo terdiam memandang ke arah Miranda.
"Tidak Lorenzo, pada awalnya hingg sekarang pun aku sangat mencintai Jodie, dia adalah cinta pertamaku hingga aku mati. Tetapi, Joey membuat hatiku patah karena ia tak berusaha lebih keras untuk mendekatiku dan banyaknya konspirasi yang mengarah padanya.
"Sedangkan Jovink, aku jatuh cinta karena ia begitu baik dan penuh kelembutan. Aku mulai merasa nyaman pada Jovink, tapi … siapa yang menyangka malapetaka mulai datang kembali mengacaukan hidupku," ujar Miranda menangis.
"Sudahlah! Sekarang kita sudah tahu bagaimana dengan semua hal, aku yakin suatu saat nanti semua kenangan akan terungkap Miranda. Sebaiknya, kamu harus ke kair dari sini … nikmatilah hidup ini Miranda.
"Jangan terus mengurung diri! Kamu tahu, tidak ada yang tahu, kapan ajal akan datang … jadi, ayo, naiklah ke atas temui menantumu! Apakah kamu ingin sejarah kelam terulang lagi, Miranda?" tanya Lorenzo.
"Tidak! Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi! Aku tidak akan sanggup!" lirih Miranda.
"Ayo, Ma! Mari, kita naik ke permukaan. Tempatmu bukan di sini!" ujar Jeff,ia langsung menggendong Miranda.
Jeff, Dwinov, dan Dean tak butuh persetujuan dari Miranda untuk semua itu.
"Anak-anakku …," lirih Miranda, ia menatap putra-putra tampannya dengan penuh kasih sayang dan rasa bersalah.
__ADS_1