
Ketiga putranya langsung membawa Miranda naik ke atas bersama Lorenzo. Sesampainya di atas Jeff memanggil semua orang untuk berkenalan dengan ibu mereka.
Loly memandang ke arah Miranda yang duduk di kursi roda dengan bingung tetapi, ia pun bersama semua orang tetap duduk di sisi Jeff.
"Siapa wanita cantik ini?" batin Loly penasaran.
"Loly, kenalkan ini Mama kami bertiga, ceritanya panjang. Namanya Miranda! Ma, ini istriku Loly," ucap Jeff, ia memperkenalkan Loly pada Miranda.
"Mama …?" lirih Loly penasaran.
"Ya, wanita ini adalah waniata yang telah melahirkan aku, Dean, dan Dwinov. Walaupun mungkin ayah kami berbeda," ucap Jeff, ia berusaha untuk berhati-hati mengucapkan hal itu agar Miranda tak merasa malu akan aibnya.
"Bagaimana Jeff, Dean, dan Dwinov memiliki ibu secepat itu? Bagaimana mungkin mereka bisa mengetahui rahasia ini? Apakah wanita ini tidak berdusta?" batin Loly, ia takut untuk seratus persen percaya begitu saja.
"Nostra memiliki banyak tipu muslihat seperti yang aku rasakan. Sayang, sekali! Mama tidak menceritakan banyak hal mengenai kastil La Costra Nostra," batin Loly, ia masih termangu bingung.
"Oh, kamu cantik sekali Loly! Um, kemarilah!" ucap Miranda, ia ingin memeluk menantunya.
Miranda menyadari jika Loly sedikit bingung dan canggung seperti dirinya tetapi, Miranda berusaha untuk mengambil hati dan mendekatkan diri kepada menantunya tersebut.
"Mama …," lirih Loly, ia memeluk Miranda dengan rasa kasih sayang dari hati meskipun hatinya masih diliputi rasa curiga.
Jeff memperkenalkan semua orang pada ibunya dan mengambil sumpah semua orang agar tak mengatakan mengenai ibunya pada siapa pun untuk sementara ini.
"Aku harap kalian mematuhi sumpah kalian! Jika tidak, aku takut, jika kalian sendiri pun akan mati dibunuh orang yang ingin melenyapkan kami semua. Apakah kalian akan mematuhinya?" tanya Jeff, ia memandang kepada semua orang di ruangan tersebut.
"Tentu saja, Tuan Jeff?" jawab semua orang.
"Baiklah! Zack, apakah yang aku minta telah kamu lakukan?" tanya Jeff pada Zack.
"Sudah Tuan!" balas Zack.
"Dwinov, aku rasa malam ini kamu lembur untuk membuat kopian mobilmu. Aku akan menelepon Bowen untuk mencari tahu apa perkembangan di sana," ucap Jeff.
"Bowen? Maksudmu Bowen Utara? Kau bersekongkol dengannya, Jeff?" tanya Dwinov, ia tak menyangka jika Jeff bersekongkol dengan musuh La Costra Nostra.
__ADS_1
"Kamu jangan salah, Bowen Utara pun sama seperti kita. Kau tahu, malah Alexander Dove yang telah salah menggunakan nama La Costra Nostra di Denver, sehingga muncul mafia kecil yang berusaha untuk melawan kekejaman dan tirani dari La Costra Nostra yang dikepalai oleh Alexander Dove.
"Um, Loly. Apakah kamu bisa menghubungi ayahmu?" tanya Jeff, ia penasaran dengan Jodie Crown.
"Memang ada apa, Jeff?" tanya Loly, bingung.
"Aku rasa, ini sangat urgen ada yang perlu aku tanyakan kepadanya tentang masa lalu," ucap Jeff.
Deg!
Loly terkesiap, ia tak menyangka jika Jodie ayah angkatnya akan terlihat. Loly memandang ke arah Jeff, ia sedikit curiga. Namun, ia tak ingin jika Jeff pun tahu jika dia curiga.
"Aku tak bisa menghubunginya setelah dia pergi dari Goldblack," bohong Loly, "ada apa ini? Apakah ada sesuatu? Apakah mereka tahu jika Jodie seorang nostra? Apa yang harus aku lakukan?" batin Loly kacau dan curiga.
Loly mengingat jika dia tak boleh mengatakan siapa sebenarnya Jodie, "Sebaiknya aku bersandiwara saja! Aku tidak ingin jika mereka bersekongkol ingin membunuh ayah," batin Loly, curiga.
"Jadi, Bowen tidak ada hubungan dengan kekacauan di Denver, begitu Jeff?" tanya Dean, Dwinov.
"Tidak! Aku sendiri yang sudah berada di sana, aku melihat semua kekejaman dari anak buah Alexander Dove," ucap Jeff, ia langsung menceritakan segalanya.
Miranda muak dengan persaingan dan persaingan juga darah dan tipu muslihat di antara geng dan para mafia yang sama-sama licik.
"Loly, apakah kamu sudah hamil, Nak?" tanya Miranda tersenyum.
"Oh, be-belum Ma,"ujar Loly pelan, "bagaimana bisa hamil, disentuh saja pun belum?" batin Loly.
"Ah, aku sangat ingin menimang cucu. Paling tidak, jika dulu aku tidak bisa mengurus ketiga putraku. Aku ingin menimang cucu-cucuku kelak," ujar Miranda, ia termenung.
"Ma, santai saja! Sebentar lagi, aku akan memiliki anak bersama Isabel! Um, jika Jeff belum memulai misinya. Aku yang akan terlebih dulu memberimu cucu," ucap Dwinov tanpa malu-malu.
"Oh, benarkah? Apakah kau sudah menikahinya, Nak?" tanya Miranda bahagia, ia ingin melihat pesta pernikahan.
Impian Miranda akan sebuah pesta di mana ia akan mengenakan baju selayar putih dengan buket bunga indah di tangan tak pernah kesampaian. Miranda ingin ketiga anaknya melakukan semua itu dengan penuh cinta dan pemberkatan dari Tuhan dan semua orang.
"Aku belum menikahinya, Ma!" lirih Dwinov, ia sedikit malu.
__ADS_1
"Apa?! Kau! Ya, ampun! Ini mengerikan. Aku sudah bilang, masa lalu jangan pernah terulang lagi … aku tidak ingin kalian mengalami nasib yang sama denganku, bersama papa kalian!" umpat Miranda ketus.
Semua orang terkejut, mereka tidak menyangka di balik sifat lembut dan diam seorang Miranda tersembunyi singa lapar yang cerewet.
Ketiga putra dan Loly terperanjat mereka tidak pernah diomelin seorang ibu di sepanjang hidup mereka. Sehingga begitu suara Miranda keluar keempatnya langsung membeku di tempat masing-masing.
"Hah! Anak muda sekarang sungguh … ya, sudahlah! Mungkin benar, apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai.
"Buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya! Malang sekali!" ucap Miranda termenung, "jika bisa aku mengulang semua waktu …," lirih batinnya perih.
Rambut Miranda yang legam dan diselingi uban hampir saja menyentuh lantai, ia sama sekali tidak pernah memotong rambut selama 30 tahun karena selalu disekap. Rambutnya terurai, Loly merasa ingin membenahi sanggul Miranda, ia berjalan perlahan mendekati Miranda.
"Mama … rambutmu tergerai. Bolehkah aku sanggulkan?" tanya Loly, ia duduk bersimpuh di depan Miranda yang termenung.
"Oh, apa Nak? Jangan seperti itu Nak. Berdirilah, apa yang kamu katakan? Maaf, aku tidak mendengarnya," ulang Miranda terkesima, ia langsung mengulurkan tangan kurus seputih mayat untuk menyentuh wajah Miranda.
Deg!
Jantung Miranda tercekat, "Wajahmu …," ucap Miranda.
Kini, dirinya bisa melihat dengan jelas wajah Loly. Ia mengingat hidung mancung dan mata hitam bening milik John Campbell wajah John Campbell benar-benar terjiplak di sana dengan jelas.
"Campbell! John … Campbell … tidak mungkin …," lirih Miranda, ia menyentuh wajah Loly dan menangis.
Loly semakin bingung akan hal itu, ia tak mengerti. Loly menatap Jeff dan yang lain yang sama bingungnya.
"Mama ada apa?" tanya Dean mendekati kursi roda Miranda.
"Wajahnya … mirip sekali dengan John," ujar Miranda, "Lorenzo! Apakah kamu tidak menyadarinya? Atau aku saja! Tidak mungkin Campbell masih hidup. Jika dia hidup otomatis Jodie masih hidup," lirih Miranda menangis.
"Ma, jangan menangis lagi. Bukankah dokter memintamu agar tak menangis lagi?" ucap Dwinov, ia pun mendekat.
Selama 30 tahun Miranda menangisi kemalangan hidup dan berada di ruangan gelap, sehingga matanya pun sudah mulai rabun.
"Mengapa Miranda tahu mengenai ayah? Aku sama sekali tidak mengingat wajah ayah dan tak memiliki selembar fotonya," batin Loly semakin cemas dan penasaran.
__ADS_1
"Bagaimana jika ayah adalah musuh mereka?" batin Loli takut.