
"Kejar, wanita itu! Jangan biarkan, Senorita Miranda kabur!" teriak seseorang dari kejauhan.
Derap langkah kuda langsung mengejar Miranda yang berkeinginan untuk kabur menyelamatkan diri,
"Bajingan! Aku harus kabur! Jika tidak, mereka pasti akan membunuhku," batin Miranda, ia langsung menghela kekang kudanya.
Derap langkah kuda mengejar di belakangnya, dor! Dor! Tembakan bergema ke arah Miranda. Ia berusaha untuk terus merunduk dan menghela kudanya melewati semak.
Miranda tidak peduli jika tangan dan ranting sudah melukai sebagian wajah, "Aku harus selamat!" ucap Miranda berulang kali bak sebuah kekuatan untuknya terus maju.
"Ayolah, Clag! Cepatlah kabur! Jika tidak mereka akan membunuh kita," ucap Miranda terus menghela kudanya melewati hutan dan semak tumbuhan sayuran di sepanjang belakang kastil La Senorita.
Ringkikan kuda dan tembakan terus mewarnai pelarian Miranda, hingga ia berada di sebuah sungai dangkal, ia terus memacu kudanya melewati semua itu. Bruk!
Ia terguling dari atas kuda, "Aaa!" teriak Miranda menahan sakit di perutnya ia melihat kudanya Clag! Tersangkut dan jauh terkapar.
"Clag!" lirih Miranda, ia beringsut cepat untuk menolong kuda tersebut.
Namun, tembakan kembali bergema tepat membunuh kuda merah miliknya. Miranda langsung merayap bersembunyi di balik batu sungai ia meraih tas selempang dan mengeluarkan pistol miliknya.
Dor! Dor!
Miranda membalas tembakan pengejarnya, "Aku harus hidup demi anak ini," batin Miranda, ia tak ingin mati terlalu cepat sebelum melahirkan anaknya ke dunia, buah cintanya bersama Jodie Nostra.
"Menyerahlah, kau Miranda! Aku akan mengampunimu! Tuan Joey Nostra akan mengampunimu!" teriak dari seberang.
"Apa? Joey? Apakah Joey Nostra? Tegakah mereka membunuh calon keponakan mereka sendiri?" tanya batin Miranda, air mata meleleh di pipi.
"Tidak akan pernah! Apakah yang kau maksud adalah Joey Nostra yang melakukan semua ini?" teriak Miranda dari seberang.
"Ya, Joey Nostra lah yang mengirimkan kami! Dia tak ingin kau menikah dengan Jodie! Karena dirimulah, sindikat La Costra Nostra menurun dan tidak dihormati lagi!" teriak seseorang di seberang.
"Apa?! Bagaimana mungkin? Itu tidak mungkin terjadi? Apakah benar, jika karenaku?" batin Miranda kacau dan merasa bersalah.
Miranda tidak menyadari jika musuh sudah berjalan mendekatinya ingin menyergap dirinya. Kretak! Si kaki tangan musuh menginjak sebuah dahan ranting.
__ADS_1
"Bajingan! Mereka sengaja memancingku, agar aku bicara dan mengetahui di mana aku," batin Miranda, ia bergerak perlahan dan mengeluarkan dua pistol di tangannya.
"Tuhan! Jika benar sudah tiba ajalku, aku hanya minta, matikanlah aku dengan cepat tanpa rasa sakit. Tapi, jika belum takdir dan ajalku, aku mohon … izinkanlah aku melahirkan putraku dengan selamat! Aku akan memberikan hidupku hanya untuk-Mu," bisik dan doa seorang Miranda.
Miranda mencium kedua ujung senapannya, "Ayo, mari kita berjuang!" ujar Miranda, ia langsung bergerak dengan perutnya yang membesar berdiri dan mengacungkan kedua pistol ke arah kanan dan kiri di mana musuhnya berada.
Dor! Dor!
Kedua musuhnya langsung jatuh terkapar, Miranda beringsut mengambil senjata dan amunisi dan kembali menembak musuh untuk mempertahankan nyawanya.
"Sial! Wanita ini hebat juga! Kita harus membunuhnya jika tidak, kita yang akan dibunuh! Ayo, serang dia!" teriak pria tersebut dari seberang.
Pertempuran semakin sengit, Miranda kembali bersembunyi dan masuk ke dalam air ya g sedikit dalam menyelipkan sebuah pistol di balik lipatan roknya dan sebelah lagi digigit di bibirnya.
Dari dalam air Miranda menahan napas dan melihat jika para musuhnya sedang berjalan ke sepanjang sungai berbatu di seberang mulai mendekatinya, Miranda merasakan sesak karena bayinya dan ia juga butuh nafas.
"Jika mati! Ya, matilah!" batin Miranda, "jika aku berada di dalam sini aku juga akan mati kekurangan oksigen dan seperti orang bodoh?" umpat batinnya marah.
Dor! Dor! Dor!
Miranda sudah pasrah jika dia dan putranya harus mati, Miranda tak menyadari dia bak seorang wanita mengerikan dengan rambutnya yang terurai panjang dan bajunya yang melekat karena air sungai menyerang membabi buta dengan teriakan kemarahan.
Sehingga semua musuh tak tersisa jatuh ke sungai dengan darah yang telah mewarnai air sungai.
Dor!
Miranda menembak tangan musuhnya yang masih memegang pistol menodong ke arahnya dan tersengal meregang nyawa.
"Katakan padaku, Apakah benar Joey Nostra yang menyuruhmu untuk membunuhku dan Jodie?" hardik Miranda dengan dingin.
"Ya …,"
Dor! Dor!
"Aaa!" teriak Miranda marah sambil menembak kepala musuhnya berkali-kali hingga darah menciprat di wajah dan pakaiannya.
__ADS_1
Miranda jatuh terduduk, ia menangis pilu. Hari sudah mulai gelap, Miranda tersadar langsung membersihkan diri dan mengambil salah satu kuda musuhnya menembus malam.
"Jodie … benarkah Joey dan Jovin Membunuhmu?" lirih Miranda menangis.
Miranda terus menunggangi kuda musuh sambil menangis, membelah dangkalnya sungai dan terus menembus ladang tembakau dan tebu. Miranda ingin pergi menyeberangi perbatasan hingga ia harus melepas kudanya karena tak sanggup dan tak mungkin untuk menemaninya ke Puerto Rico.
Miranda menaiki bus pergi ke Puerto Rico ke kastil La Costra Nostra. Di sepanjang jalan Miranda hanya mengikat rambut dan baju basah dan tas selempang juga sepatu boot dan senjata yang menemaninya di balik blazernya untuk melindungi kehamilannya.
Miranda pucat pasi dan keroncongan tapi, ia tak peduli. Bus terus melaju menembus pekat malam menuju ke Puerto Rico.
"Aku harus selamat! Aku harus mencari Joey atau Jovink? Benarkah mereka telah membunuh Jodieku?" batin Miranda.
Miranda turun di terminal Puerto Rico dengan bingung, untuk pertama kali seorang gadis kampung yang masih muda dan tengah hamil menginjakkan kaki di Puerto Rico.
"Maaf, bisakah aku tahu di mana kastil La Costra Nostra?" tanya Miranda pada seseorang.
"Oh, kamu naiklah taksi. Nanti di pinggiran kota Puerto Rico di pinggir pantai San Juan. Nah disitulah kau akan menemukan kastil La Costra Nostra," ujar wanita tua tersebut.
"Oh, terima kasih!" bisik Miranda, ia langsung pergi ke tujuannya.
Setelah tiba di pantai San Juan, Miranda melihat kastil megah yang dijaga oleh banyak pengawal.
Akan tetapi, ia malah mendapati Joey begitu bahagia tertawa bersama teman-temannya, seakan sedang merayakan sesuatu.
"Apakah benar jika Joey yang telah membunuh Jodieku?" batin Miranda, ia mengurungkan niatnya untuk memasuki kastil dan terus berlari menjauhi kastil dan tinggal di sebuah rumah kumuh di pinggiran Kota Puerto Rico.
"Aku harus mencari tahu apa yang terjadi?" batin Miranda, ia pergi meninggalkan kastil.
***
Sementara Joey melihat kelebatan wanita yang dikenalnya, "Miranda?!" lirihnya.
Joey berlari mengejar Miranda mencarinya tetapi ia sama sekali tak menemukannya.
"Apakah benar itu Miranda? Lalu, Jodie?" batin Joey, "ah, mungkin hanya perasaanku saja!" batin Joey, ia pun berlari kembali ke dalam rumah.
__ADS_1