Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Gairah yang tertahan


__ADS_3

"Jeff, aku … ingin membantu Mama memasak," ujar Loly, ia tak ingin semakin kacau.


Loly merasakan naluri kewanitaannya ingin lebih, tetapi ia belum mengenal siapa Jeff yang sesungguhnya. Loly takut jika Jeff akan mengkhianatinya.


"Kamu harus bertanggung jawab Loly, kamu sudah berani ingin mencabut ubiku!" ketus Jeff, ia langsung mencium bibir Loly dengan sedikit kasar.


Glek!


"Jeff, aku ti-tidak sengaja! Maaf," balas Loly, sedikit ketakutan ia tak menyangka jika Jeff benar-benar akan memaksakan kehendak kepadanya disaat dirinya belum siap.


"Jeff, aku benar-benar belum siap, untuk melakukan semua ini," lirih Loly, ia semakin takut untuk melakukan semua itu.


"Bagaimana ini? Aku semakin takut jika sesuatu akan terjadi di sini? Jodie bilang aku harus berhati-hati di La Costra Nostra," bisik batin Loly.


Buk!


Sebuah pukulan keras menghantam jiwa Jeff, ia tak menyangka dia telah menyakiti Loly. Jeff menatap nanar mata bening Loly.


"Loly, maafkan aku …." Jeff, langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Loly.


Jeff memijat keningnya, ia merasa gairah dan hasrat sudah tiba di otak depan dan memenuhi semua isi kepalanya.


Keduanya terdiam menatap langit-langit kamar, keduanya tak tahu akan berkata apalagi. Semuanya semakin kacau-balau, ia tak menyangka jika Loly belum juga siap untuk melakukan semua itu.


"Loly, pergilah mandi dan bantulah Mama, mungkin dia butuh bantuanmu. Walaupun banyak asisten rumah tangga yang membantu Mama di dapur," ujar Jeff, ia tak ingin membuat Loly merasa bersalah.


"Ya, Jeff. Um, ayo, mandi bersama!" tawar Loly.


"Apa? Tidak! Aku tidak mau! Nanti aku kepingin lagi dan kamu belum siap! Itu sangat menyiksaku Loly," umpat Jeff, ia tak ingin tersiksa terus menerus di dalam hidupnya.


"Oo," 


"Sudahlah, pergilah mandi! Aku akan menyusul setelah kamu sudah berada di bawah nanti," balas Jeff.


Loly beringsut turun ke kamar mandi, sedangkan Jeff masih uring-uringan, ia masih bergulingan di tempat tidur untuk meredakan gejolak api asmaranya yang semakin kacau balau mirip anak-anak yang sedang ngambek.


"Aduh, Loly … bagaimana ini? Tidak mungkin juga aku akan memaksakan kehendak … mampuslah aku!" batin Jeff.


Kriieet! 

__ADS_1


Loly sudah keluar dari kamar mandi, membuat Jeff berbaring telentang dengan santai, ia tak ingin jika Loly tahu dirinya sudah seperti cacing kepanasan.


"Jeff, mandilah!" ucap Loly, ia menanggalkan handuknya membuat tubuh indah bak pualam itu jelas terlihat.


Api gelora di jiwa Jeff kembali membakarnya, bruk! Jeff jatuh telentang ke lantai.


Jeff takut melakukan kesalahan sehingga sedikit beringsut ke tepian dan tak sadar jika ia sudah di bagian tempat  tidur paling pinggir, kini Jeff ingin menyumpah serapah dan membakar tempat tidur tersebut.


"Selama 20 tahun aku tidur di ranjang ini, baru kali ini aku jatuh. Semua ini gara-gara Loly, sialan!" umpat batin Jeff.


"Jeff, kamu tidak apa-apa?" tanya Loly, ia beringsut mendekati Jeff tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.


"Oh, No! jangan lagi, please Loly!" teriak batin Jeff, ia melirik jendela di kamar di depan tempat tidurnya yang memiliki jalusi. 


"Mengapa aku memasang jalusi itu? Bangsat! Andaikan tidak, aku pastikan langsung bisa melompat ke bawah sana, terjun bebas! Daripada aku tersiksa seperti ini," batin Jeff.


"Jeff, kamu kenapa?" tanya Loly, tanpa perasaan sedikit pun.


"Ya, Tuhan! Mengapa aku bisa memilih istri yang tidak sensitif ini sih? Apakah aku harus memenuhi kamar ini dengan video parno? Agar Loly menginginkan adegan nakal itu?" batin Jeff kebingungan berusah untuk mencari solusi.


Namun, semua solusinya semakin parah dan menambah tingkat khayalannya semakin melambung tinggi, apalagi bukit kembar ranum itu tepat di depan mulutnya karena Loly berusaha untuk memeriksa benturan di kepalanya.


"Bagian kepala kamu yang mana yang sakit Jeff?" tanya Loly lembut.


"Oh, benarkah?" Loly langsung menarik kepala Jeff ke dadanya dan memeriksa bagian tengkuk Jeff.


"Ya, ampun! Apakah Loly tidka mengerti perbedaan majas hiperbola dan ironis? Matilah aku!" batin Jeff, "Ya, Tuhan! Apakah dosaku terlalu mengerikan hingga kau beri istri yang bersifat anak-anak? Padahal, umurnya sudah 20 tahun. Tapi kenapa geblek sih?" batin Jeff.


Jeff menyadari jika bibinya tepat di puncak bukit ranum yang mengundang tersebut, deg!


"Matilah sudah anak ayam!" batin Jeff, ia sedikit menjulurkan lidahnya untuk menyentuh puncak bukit indah itu.


"Oh, Jeff!" Buk! Sebauh tinju melayang di perut Jeff.


"Aw! Loly, kau ingin membunuhku?" tanya Jeff, ia meringis kesakitan.


"Oh,maaf Jeff! Aku hanya kaget! Lagian kamu ngapain sih? Buat geli saja?" umpat Loly, ia melihat puncak bukitnya.


"Memang sewaktu bayi kamu tidak pernah minum ASI begitu?" ujar Loly penasaran.

__ADS_1


"Ya, 'kan memang tidak pernah! Aku besar di panti asuhan, jadi aku penasaran bagaimana rasanya," alasan Jeff, ia tak ingin jika Loly berprasangka buruk padanya walaupun kenyataannya ia sudah berniat ingin melakukan sesuatu yang buruk.


"Beugh! Loly, 'kan istriku? Bagaimana mungkin aku berbuat buruk? Ngaco!" batin Jeff, "baru kali ini ada ketua mafia tolol!" umpat batin Jeff galau.


Ingin rasanya Jeff bersembunyi di balik dinding dengan berjongkok melukis sesuatu di lantai sambil mendengarkan lagu sedih. Ia merasa orang yang paling merana di dunia.


"Sudahlah, sana mandi!" ujar Loly.


Jeff langsung meraih tubuh Loly dan memanggilnya berlari cepat ke kamar mandi.


"Jeff apa yang kau lakukan?" teriak Loly.


"Aku ingin mandi bersama kamu!" tegas Jeff mendendang pintu agar menutup dengan tumitnya.


"Aku sudah mandi, Jeff!" ujar Loly tapi Jeff sudah menyalakan shower hingga air membasahi keduanya.


Jeff langsung menyabuni tubuh loly setelah ia membuka semua benang di tubuhnya. Jeff menyabuni Loly dengan perlahan dan pikirannya semakin kacau-balau dan berulang kali menelan ludah dengan jakun naik turun tak tentu arah. Pikirannya bercabang entah ke mana-mana.


Loly sedikit mengeluh dengan manja kala sentuhan spons dan busa sabun mulai menyentuh bukit indah Loly, ia merasakan suatu sensasi berbeda di sana. 


"Perasaan apa ini?" batin Loly, bingung, ia tak ingin Jeff berhenti.


Jeff melirik Loly yang memejamkan mata membuat Jeff semakin berani untuk lebih dan lebih.


Dor! Dor! 


"Jeff! Jeff!" teriakan di pintu kamarnya.


"Bangsat! Itu pasti Dean dan Dwinov, apa mereka tidak memiliki sedikit hari nurani sih?


"Aku ini ketua mafia atau bukan? Hadeh, rasanya ingin aku patahkan leher mereka!" umpat batin Jeff.


"Sial! Tunggulah di sini, Loly, aku akan kembali!" ucap Jeff, ia langsung meraih handuk dan menyelipkan di pinggang membungkus tubuh Bagain bawahnya.


Jeff menggerutu membuka pintu, "Ada apa?" terikat Jeff murka.


"Oh, maaf! Ini mendesak, Pedrosa!" ucap Dwinov.


"Ada apa dengan Pedrosa?" terika Jeff, ia melihat jika Dwinov sedikit kacau.

__ADS_1


"Dia tewas!" 


"Apa? Tapi dia tadi malam baik-baik saja! Apa yang terjadi? Kata dokter, 'Dia terserang penyakit jantung," balas Dwinov, "Dean, papa, dan semua orang sedang memeriksanya juga polisi bersama dokter!" ketus Dwinov.


__ADS_2