Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Musuh dari masa lalu


__ADS_3

"Baiklah! Malam ini juga kita pindah ke rumahku satu lagi di Fajardo, aku ingin Zack tetap di sana. Aku ingin Terra yang akan ikut untuk membantu Loly untuk mengurus Mama. Bagaimana menurut kalian?" tanya Jeff.


"Aku setuju!" balas semuanya.


Malam itu, mereka pindah ke rumah rahasia Jeff di Fajardo di sebuah rumah sederhana dengan dinding warna putih dan memiliki ruang rahasia yang nyaman.


Dean menggendong Miranda, Loly dan Terra membawa perlengkapan seadanya. Jeff dan yang lain berpesan pada Zack dan yang lain untuk memata-matai apa saja yang akan dilakukan Jovink sebagai sisa dari Nostra yang masih hidup.


Beberapa hari kemudian mereka melihat di layar televisi jika kematian mereka disiarkan. Semua orang melihat Jovink menangis dan menyeka air mata.


"Apakah yang dilakukan Jovink itu dari hatinya?" ketus Dean.


"Entahlah, hanya dia yang tahu!" ujar Jeff, ia masih menatap ke arah layar televisi.


Miranda, Terra, dan Loly masih melihat ke arah televisi dan duduk berdekatan,


"Mama …," lirih Miranda kala ia melihat Mama.


"Itu kakakku, Nyonya," ucap Terra.


"Oh, benarkah? Syukurlah dia selamat dari penembakan!" ucap Miranda.


"Tapi, 3 bulan dia koma, ia tak mengingat banyak hal. Jadi, entahlah terkadang dia bicara aneh-aneh," papar Terra.


"Oh, benarkah?" tanya Miranda penasaran.


"Ya, sampai sekarang pun dia suka bicara aneh," lanjut Terra.


"Apakah maksud kamu dengan sering mengatakan banyaknya kudeta begitu?" tanya Loly, ia mengingat jika mama selalu mengatakan hal itu.


"Ya, Nyonya!" balas Terra.


"Apa yang dikatakan Mama benar," ujar Miranda, ia masih melihat Jovink dengan serius.


"Apakah Jovink cacat di tangan kanannya?" tanya Miranda, ia mengingat jika Jovink tidak cacat dan yang tertembak adalah bagian bahu kiri dan di tulang iga juga bagian dada. 


Miranda mengingat dengan jelas saat melihat Jovink koma di rumah sakit. Hanya saja karena dia memiliki kedua bayi sehingga ia pulang. 


"Papito …!" lirih Miranda, "Lorenzo, apakah Papito masih hidup?" tanya Miranda.


"Papito? Siapa?" tanya Lorenzo bingung.

__ADS_1


"Dulu selain Pedrosa ada pria yang sangat disayang oleh Jovink namanya Papito, ia cacat di tangan kanan. Masa kamu tidak ingat?" tanya Miranda.


"Hah! Aku tidak pernah bertemu dengan Papito yang kamu maksud Miranda, memang siapa Papito?" tanya Lorenzo bingung.


"Apa? Ya, ampun andaikan Pedrosa masih hidup dia pasti tahu siapa Papito," ujar Miranda.


"Jika Pedrosa tahu, masa dia tak pernah bicara denganku?" tanya Lorenzo.


"Lorenzo, saat Jovink koma dan sembuh apakah kamu dan Pedrosa ada?" tanya Miranda, ia merasa ada yang tidak beres.


"Miranda, saat kamu melahirkan Dwinov, bukankah Jovink memintaku untuk ke San Fransisco? Hingga ia tertembak dan aku kembali sehari dan kerusuhan kembali di Denver aku pergi ke sana.


"Sedangkan Pedrosa sejak kamu melahirkan dia di Tijuana dan saat Jovink tertembak dia malah harus ke kembali ke Denver dan aku ke san Fransisco. Jadi, aku tidak kenal siapa Papito.


"Bahkan, hingga kini aku tidak tahu, jika Jovink punya seorang teman bernama Papito? Apakah kalian tahu?"  tanya Lorenzo pada Jeff, Dean, dan Dwinov.


"Tidak!" jawab ketiganya.


"Memang siapa Papito?" tanya Jeff bingung.


"Papito pria cacat persis Jovink yang sekarang. Tapi, wajahnya … tidak!" ucap Miranda, ia termenung.


"Tidak! Selama 3 bulan aku tidak bisa pulang ke Meksiko khususnya Puerto Rico karena aku menjadi buronan berbagai mafia begitu juga Pedrosa hingga aku tertembak.


"Jadi, aku tidak pernah tahu menahu mengenai Jovink bagaimananya? Pedrosa juga tidak bisa dihubungi. Kami bertemu di Chicago pada tahun 1995 bulan Januari, setelah tiga bulan Jovink koma dan dia sembuh dua hari kamu kabur. Begitu yang aku tahu," ucap Lorenzo.


Semua orang saling pandang, "Itu mudah! Jika memang ada yang bernama Papito, pasti ada catatan riwayatnya. Aku sudah mengkopi semua anggota dari tahun 1989 saat La Costra Nostra dibangun, hingga kini" ujar Jeff.


"Benarkah?" tanya semua orang.


"Ya, aku ingin memberikan tunjangan dan uang masa pensiun, bagi siapa saja yang berjasa dan yang sudah tua. Sehingga setiap kode ATM mereka pun aku tahu, karena sesuai semua dengan nomor urut yang aku minta dari bank!" ucap Jeff.


"Oh, aku tidak menyangka demikian!" ucap Lorenzo, ia langsung mengeluarkan AtM-nya dan melihat 4 angka digit paling akhir.


Dean dan Dwinov melihatnya, "Wah, setelah aku, kamu Dwinov?" ucap Dean.


"Ya, karena di akta kelahiran kamu yang paling tua dari Dwinov. Siapa sangka itu hanya kamuflase saja, jadi yang paling tua ya, Lorenzo, Pedrosa, dan yang seangkatan mereka yang bergabung pada tahun 1989 langsung berurutan. 


"Akan tetapi, kebanyakan sudah meninggal hanya tinggal Pedrosa dan Lorenzo, tidak ada yang lain lagi.


"Jadi, jika mereka berkhianat aku tinggal memblok ATM mereka dan bisa melacak dimana saja mereka berada. Sayangnya, aku tidak melakukan pada Jovink, karena aku sangat percaya padanya," ujar Jeff, ia menyesali semua itu.

__ADS_1


"Oh, begitu! Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dean.


"Tunggu dan lihat, aku ingin mencari nama Papito!" ucap Jeff, langsung mengambil laptop dan membuka akun bank dan melihat semua dan tidak ada yang namanya Papito.


"Tidak ada! Hm, yang ada Pedrito!" ucap Jeff, "tapi, sudah meninggal tahun 1994 bulan Desember tanggal 29," papar Jeff.


"Apa?! Pedrito?" tanya Miranda.


"Ya, Ma. Pedrito!" jawab Jeff.


"Kematiannya sama dengan hari, dimana ... saat aku ditangkap dan dikurung juga Dean dan Dwinov dirampas dariku," lanjut Miranda, "apakah Pedrito Montes?" tanya Miranda.


"Hm, bukan? Tapi, Pedrito Monte," balas Jeff.


"Oh, aku kira …," ujar Miranda, ia mengingat kejadian 31 tahun silam jika Pedrito Montes yang telah membuat kerusuhan di Tijuana.


"Siapa Miranda?" tanya Lorenzo penasaran.


"Kamu ingat, kejadian pertama kali kita semua bertemu di Tijuana dan awal mula kastil La Senorita dibangun?" tanya Miranda.


"Ya, Tuan Cedric menelpon kami jika mafia Montes telah membuat onar, lalu?" ucap Lorenzo tidak mengerti.


"Bukankah namanya Pedrito Montes dan Jodie menembak tangan kanan Montes?" ujar Miranda.


"Ya, Tuhan! Hingga kini, kita tidak peduli di mana Montes dan sindikat mafianya. Mereka hilang begitu saja," jawab lorenzo


Lorenzo menangkupkan kedua telapak tangannya, "Apakah kamu mencurigai mereka?" tanya Lorenzo pada Miranda.


"Aku merasa semua kejadian hampir mirip di Tijuana saat itu dengan sekarang, hanya lebih canggih dan terkoordinasi," ujar Miranda.


"Pedrito Monte … ayah dari Pedro dan Pablo Monte!" ucap Jeff.


"Apa?!" teriak Dwinov, Dean, dan Lorenzo.


"Bajingan! Jangan-jangan …!" ucap ketiganya.


Mereka masih melihat penguburan diri mereka di layar televisi, "Kita tunggu saja dua hari ini apa yang terjadi! Jika itu Jovink otomatis akan ketahuan belangnya begitu juga sebaliknya," ucap Lorenzo.


"Ya, itu pasti. Jika mereka mengatakan Jovink meninggal. Kita lihat, siapa yang maju? Jovink memberikan tampuk kekuasaan penuh pada Pablo dan Pedro di seluruh Tijuana.


"Jika benar! Pedrito Monte adalah Papito ini semakin terang arah dan tujuannya …," ujar Jeff.

__ADS_1


__ADS_2