Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Kematian Pedrosa dengan semua rahasia


__ADS_3

"Tunggu sebentar aku akan mandi dan berpakaian," ujar Jeff, ia langsung menutup pintu di depan hidung Dwinov.


"Sialan! Bisa-bisanya di dalam kastil La Costra Nostra, Pedrosa tewas?" batin Jeff, ia tak menyangka akan hal itu. 


"Loly, maaf, aku harus secepatnya ke ruang perkumpulan, Pedrosa tewas!" ucap Jeff.


"Apa? Bagaimana bisa? Pedrosa yang kamu selamatkan semalam, dari kantor polisi maksud kamu?" tanya Loly tidak mempercayai apa yang didengarnya.


"Ya, hati-hatilah! Ingat, apa yang aku katakan padamu. Jangan keluar dari kastil ini! Selalulah bersama dengan Mama," ujar Jeff, ia langsung berpakaian dan meninggalkan Loly yang masih terbengong.


"Syukurlah, jika tadi dilanjutkan aku bisa-bisa terlena dan sialan! Mengapa aku juga mendambakan sentuhan Jeff?" batin Loly.


Loly langsung berpakaian dan menuju dapur, "Semua orang begitu heboh ke sana kemari," batin Loly, "bagaimana caranya agar aku mengetahui banyak hal?" benaknya mulai mencari cara.


"Mama, ada apa?" tanya Loly, ia berpura-pura tidak tahu akan banyak hal yang sedang terjadi di kastil La Costra Nostra.


Mama hanya menghela napas, ia menyeka air mata yang berlinang dengan ujung lengan bajunya. Loly melihat Mama begitu terpukul.


"Loly, Pedrosa … jika aku tahu dia akan meninggal pagi ini, aku tidak akan mengomel padanya tadi malam, saat ia memintaku membuat sup makaroni dan kaki sapi," ujar Mama, ia menyesal akan omelannya yang menyumpahi Pedrosa akan tewas karena terlalu banyak memakan lemak.


"Sabarlah, Mama! Tak ada yang tahu akan umur manusia," ujar Loly, ia berusaha untuk menghibur Mama.


"Loly, berjanjilah agar kamu tidak pernah ke mana pun sendirian. Kamu tidak tahu betapa berbahayanya kastil La Costra Nostra ini," ujar Mama, ia mulai khawatir akan sesuatu.


"Maksud Mama?" tanya Loly, bingung.


"Aku susah lama bekerja di sini, aku tahu bagaimana keadaan kastil ini Loly, kamu tahu, banyak rahasia kelam yang terkubur di kastil ini.


"Tapi, aku tidak bisa mengatakan semua kebenaran itu! Kamu tahu, mengapa? Karena akan ada orang yang membunuhku jika aku terlalu banyak bicara.


"Aku hanya seorang pelayan, aku masih menyayangi nyawa dan keluargaku. Aku tidak ingin Terra akan menanggung semua kesalahanku Loly," bisik Mama.


Loly semakin tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, "Mama, aku berjanji akan mematuhi semua perkataannya. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi," bisik Loly bertanya.

__ADS_1


"Aku harus mencari tahu ada apa sebenarnya?" batin Loly, "aku harus berusaha untuk mendekati dan mendapatkan kepercayaan Mama," benak Loly.


"Ayo, mari kita memasak," ajak Mama, ia mengambil panci dan mengaduk salad buah dan sayuran di sana.


"Siapa yang menyukai banyak salad Mama?" tanya Loly menuangkan mayones, ke dalam kudapan di panci.


"Hm, seseorang yang tak boleh disebut namanya," ujar Mama berbisik.


"Apa? Apa maksud Mama? Apakah Papa Jovink?" balas Loly berbisik.


"Bukan! Seseorang …-"


"Mama! Tuan Jovink minta kamu untuk menghidangkan sarapannya pada semua orang!" ujar seorang pria yang memiliki rambut hitam yang dikuncir dengan wajah cukup tampan dan memiliki tato wanita tanpa busana di pergelangan tangan.


"Siapa dia Mama? Apakah dia pelayan baru?" tanya pria tersebut, ia menatap ke arah Loly dengan penuh minat.


"Oh, dia istri Jeffry Nostra! Kamu harus sopan padanya Pedro, dia bukan pelayan!" ucap Mama bengis, ia sama sekali tidak menyukai Pedro dan Pablo.


"Istri Jeff? Sejak kapan dia menikah?" tanya Pedro penuh minat.


"Hahaha, hm, tidak disangka, jika seorang nyonya besar malah turun tangan ke dapur. Kamu sama sekali ... tidak memiliki keanggunan sebagai seorang Nyonya Nostra!" ejek Pedro.


"Terima kasih, aku akan belajar menjadi seorang wanita anggun, agar pria sepertimu memiliki tata krama," balas Loly ketus, ia langsung menegakkan tubuh dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi bak seorang putri raja.


"Wow! Sangat hebat! Apakah kau sehebat itu di tempat tidur Nyonya Nostra? Heh! Rasanya sangat aneh! Jeff bukan putra kandung dari Jovink Nostra, seharusnya ... dia tak memiliki hak untuk menyandang nama keluarga Nostra," kata Pedro dengan cibiran.


"Jika kamu ingin komplain kamu bisa mengatakan kepada Papa Jovink. Bukan padaku, aku hanyalah orang luar yang tidak tahu apa-apa di sini.


"Aku terjebak di sini karena suamiku Jeff. Sekali lagi kamu meragukan kedudukan suami dan diriku, aku pastikan akan memotong lidahmu itu!" ancam Loly.


Pedro terkesiap, ia tak menyangka jika wanita mungil dan cantik di depannya lebih sadis dari Jeff.


"Ada apa ini?" tanya Dean, "apa yang kau lakukan di dapur Pedro? Apakah kau tidak memiliki pekerjaan lain?" ujar Dean, ia menatap tajam ke arah Pedro.

__ADS_1


"Hah! Satu lagi Nostra penjilat!" umpat Pedro.


"Apakah kau ingin aku meledakkan kepalamu, Pedro? Jika iya. Ayo, di mana kau ingin bertarung denganku?" jawab Dean dingin.


Pedro hanya memandang dingin ke arah Dean, "Hari ini, kita sedang berkabung dengan kematian Pedrosa aku harap kau berlaku sopan kepada semua orang. 


"Satu hal lagi, jangan mencoba mengganggu Nyonya Besar kita. Loly, sebaiknya kau memakai pakaian yang lebih berkelas! Sehingga orang bisa mengenalimu sebagai istri Jeff," ucap Dean.


Dean memperhatikan Loly hanya mengenakan jeans dan kaus oblong kedodoran walaupun masih dan sangat terlihat cantik.


"Baiklah! Tapi, hanya pria berhidung belang saja yang tidak sopan dan tidak memiliki tata krama di dalam menggoda seorang wanita. Jangan khawatir Dean! Aku akan ingat semua ucapanmu," ucap Loly.


Dean hanya diam, "Ternyata istri Jeff, sangat mengerikan! Wah, hebat jika Jeff bisa bertahan dengan wanita seperti ini," batin Dean, ia melihat ke arah Mama. 


"Mama, siapkanlah semua sarapan, sebelum kita mengantarkan jenazah Pedrosa," ucap Dean, "Loly berpakaianlah dengan gaun berkabung, Jeff memintamu untuk itu. Dia akan membawamu ke pemakaman Pedrosa di Puerto Vallarta," ujar Dean.


Dean meninggalkan dapur namun saat dia tiba di depan Pedro, "Aku rasa kau tidak memiliki pekerjaan di sini, kecuali kau ingin mengganti jeans kamu itu dengan rok!" sindir Dean.


"Bajingan!" umpat Pedro, ia pun langsung pergi. 


Dean hanya memandang ke arah Pedro yang meninggalkan dapur dan Dean pun pergi ke ruang tengah di mana semua orang berkumpul.


"Pedro … mengapa adik Pablo di sini? Apakah ada yang sedang direncanakan Pablo dan Jovink?" batin Dean curiga.


"Siapa aku dan Jeff  yang sebenarnya?" batin Dean, "apa yang sedang direncanakan Papa? Apakah mereka telah memindahkan Miranda? Aku akan menyelinap ke ruang bawah tanah," batin Jeff.


Jeff langsung menghindari semua CCTV dan masuk ke sebuah ruangan bawah tanah, ia mencari dengan menggunakan obor.


"Sialan! Aku baru tahu jika di sini ada ruang bawah tanah!" umpat Jeff, ia mendengar sebuah suara kesakitan dan pukulan, Dean langsung mematikan obor dan diam bersembunyi di balik dinding.


"Kalian harus membuat Dean, Dwinov, dan Jeff, berseteru! Bila perlu, gunakan istri Jeff untuk memancing keributan.


"Ancam Dean atau Dwinov dengan Joana dan Isabel. Dengan demikian ketiganya akan berperang, aku ingin kau membunuh Miranda. Saat pemakaman Pedrosa, kau juga harus membunuh Lorenzo," ujar suara berat di balik dinding.

__ADS_1


"Bajingan!" umpat batin Dean, ia mendengar suara bergerak mendekat.


__ADS_2