
Bowen langsung menginjak gas dengan kecepatan yang luar biasa agar dalam waktu 10 menit mereka sudah tiba di rumah sakit.
Namun, di tengah jalan iring-iringan mobil dan sepeda motor mengejar mereka dengan memberondongkan peluru.
Dor! Dor!
"Sial! Mereka tak mengizinkan kita bebas dengan selamat!" umpat Bowen, ia menarik tuas dan sebuah senjata otomatis langsung keluar dari kap mobil langsung menembak ke arah mobil dan sepeda motor yang menyerang.
"Rasain!" umpat Bowen kesal, ia semakin kencang mengendarai mobil berharap segera tiba di diri rumah sakit.
Bowen terus berusaha untuk melakukan mobil dan menghindari pengejar, ia tak ingin melayani mereka. Ia melihat jika James terluka sangat parah.
"Apakah kita tidak perlu menembak mereka, Nak?" tanya Gwenie bingung, ia merasa ngeri akan berondongan peluru dari pengejar mereka.
"Tidak perlu Bibi mobil ini anti peluru," ujar Bowen, ia terus melaju kencang.
Ciiiiit!
Decitan bemper mobil langsung secepat kilat berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Semua orang melompat menjauh dan bertanya-tanya pengendara mobil gila mana yang telah mencoba untuk menghancurkan rumah sakit.
"Diana, biarkan aku menggendong Adam. Dia harus diperiksa!" ucap Bowen langsung membopong Adam.
Diana masih terus memegangi tangan suaminya ia begitu takut jika sesuatu terjadi kepada suaminya, ia mengingkari hatinya jika Adam telah tiada.
"Dokter!" teriak Bowen , "tolong, periksa Adam dan James di dalam mobil!" ujar Bowen cemas.
Adam langsung dibawa ke UGD dan James pun demikian, Diana dan Debby juga Gwenie langsung diperiksa dan diobati. Bowen bingung dia hanya mondar-mandir di koridor menantikan semuanya.
"Apakah Dwinov, Lorenzo, dan Jeff berhasil? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus meninggalkan mereka dan membantu Jeff? Tapi, jika ada apa-apa dengan kermpat wanita ini bagaimana?" batin Bowen bertanya-tanya bingung.
"Bagaimana dengan mereka semua Dok?" tanya Bowen cemas.
"Hm, yang wanita sudah diobati, yang pria parah ada beberpa tulangnya yang patah. Sedangkan yang satu pria lagi telah tewas," ucap Dokter memberikan keterangan.
__ADS_1
"Tidak! Adamku tidak akan mati! Tidak dokter," jerit histeris Diana, ia berada tepat di depan pintu ruang pemeriksaan ingin menemui dokter bertanya tentang suaminya.
"Diana! Diana! Kamu harus kuat dan sabar, demi bayimu. Please!" ucap Bowen, ia berusaha untuk menenangkan Diana.
"Tapi, aku tidak akan bisa hidup tanpa Adam, hiks, hiks," isak tangis Diana.
Bowen terrenyuh dan merasa kasihan hanya bisa memeluk Diana tanpa bisa berkata apa pun.
***
Kesedihan terjadi di rumah sakit, dengan kematian Adam yang tidak disangka-sangka. Berbeda dengan di rumah Lorenzo, di mana Dwinov, Jeff, dan Lorenzo berusaha untuk berjuang menghancurkan lawan mereka yang benar-benar kuat dan terorganisir.
Jeff masih melawan ninja berbaju putih dengan pedang di tangan yang berkilau tajam, "Majulah! Ayo!" tantang Jeff, ia menghunuskan samurai bersiap untuk serangan samurai berikutnya.
Ninja tersebut bergerak dengan cepat laksana angin memutarkan pedang menyerang ke arah Jeff. Membuat Jeff pun langsung bergerak dengan cepat untuk menangkis setiap serangan yang dilakukan oleh ninja.
Jeff bergulingan di lantai dan melompat secara cepat hingga ia menendangkan kaki di punggung si ninja membuat dirinya terjerembab jatuh, di ninja berdiri dengan cepat.
"Mengapa kau berhenti? Ayo, serang terus?" tantang Jeff, ia melihat ninja memandangnya dengan heran.
Darah membasahi mata samurai, Jeff menariknya dengan cepat dan melesat mengambil senjata dan membawa pedang untuk membantu Dwinov yang masih berduel dengan seorang kaki tangan Montes yang memiliki kepintaran taekwondo.
"Dwinov, apakah kau perlu bantuan?" tanya Jeff, ia melewati Dwinov.
"Tak perlu! Tolong Lorenzo! Sepertinya dia sudah terlalu tua untuk berkelahi!" teriak Dwinov di antara pukulan-pukulan yang dilontarkannya.
Jeff berlari dengan menyeret pedangnya dan mencari Lorenzo yang sudah dipegang tangannya oleh musuh yang ingin menebas kedua belah tangan dengan samurai.
Jleb! Bruk!
Jeff melemparkan samurai tepat ke punggung musuhnya hingga tewas terjatuh yang ingin melesat menebaskan samurai kepada Lorenzo.
"Hehehe, aku kira … aku sudah akan menghadap Tuhan! Ternyata Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bertaubat," ucap Lorenzo di antara darah di wajahnya yang sudah terluka.
__ADS_1
"Maaf, aku terlambat Uncle Enzo! Ya, ampun! Kau sudah terlalu tua untuk berkelahi," ketus Jeff.
Jeff kembali melesat dan berlari secepatnya menarik pedang di punggung musuh dan menangkis kala musuh tersebut berlari menyerang ke arahnya dengan bahasa Jepang yang tak dimengerti oleh Jeff.
Trang! Tring!
Suara samurai bergema dan tendangan demi tendangan pun terjadi, "Untung saja, ninja ini tidak menggunakan shuriken atau jarum beracun.
"Jika mereka menggunakan semua itu, habislah sudah. Aku tidak akan tahu menahu mengenai itu semua!" batin Jeff, ia bersyukur untuk itu.
Walaupun, ia tahu tidak akan pernah menyerah meskipun nyawa taruhannya ia akan terus membunuh musuh hingga darah penghabisan.
Jeff melesat dengan cepat menebaskan pedangnya agar membunuh musuh dengan sekali tebas. Lorenzo sudah jatuh terkulai, Jeff merasa kasihan melihatnya.
"Bajingan, aku harus cepat membunuh bangsat-bangsat ini. Jika tidak bahaya," batin Jeff, "apakah Lorenzo terluka begitu mengerikan? Dia tak pernah sejatuh seperti sekarang ini?" lanjut batin Jeff bingung dan takut.
Jeff langsung melompat dan melesat dengan cepat memutar pedang menebas para ninja yang mulai menyerang dari berbagai arah. Jeff merasa satu pedang tak cukup untuk menangkis banyaknya musuh yang entah dari mana tiba-tiba bisa merubungi mereka.
Kras!
Jeff membunuh salah satu ninja, ia meraih dengan cepat pedang musuhnya yang tewas dan menggunakan pedang tersebut.
Jeff dengan cepat bergerak seakan ia sudah terbiasa menggunakan samurai dan pedang di tangannya hingga para ninja dengan mudah dikalahkan.
Apalagi, Dwinov sudah membunuh musuh dengan tangan dan pistol. Zack sudah meringkus semua musuh mereka.
"Bawa dan siksa mereka! Cari informasi! Tidak usah berikan pada polisi! Percuma, mereka akan membunuh lagi jika diproses secara hukum!" ucap Jeff.
"Baik, Tuan!" balas Zack langsung membawa musuh mereka.
"Uncle Enzo!" teriak Jeff dan Dwinov, keduanya memapah Lorenzo yang terkulai lemas.
"Jeff, suruh Zack menghancurkan rumah ini, agar musuh mengira aku dan semua keluargaku tewas. Sehingga mereka tak lagi menggunakan dan mengancam kami untuk membunuh kalian," lirih Lorenzo sebelum pingsan.
__ADS_1
Jeff langsung menelepon Zack untuk menghancurkan rumah sesudah mereka melesat pergi ke rumah sakit di mana Bowen dan keluarga Lorenzo berada.
Dari kejauhan Dwinov dan Jeff melihat ledakan yang mengerikan tersebut. Keduanya hanya diam terus meninggalkan lokasi kejadian.