
Miranda dan Joey tak kuasa untuk melepaskan diri dari pengaruh obat tersebut. Joey membelai dan menyesap bukit kembar Miranda yang mengerang kenikmatan dan tangisan.
Namun, ia pun menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Joey. Hingga berulang kali mereka melabuhkan pelampiasan cinta di malam panjang tersebut. Mereka menghabiskan malam panjang hingga pengaruh obat hilang sampai keduanya jatuh pingsan.
Kala Joey tersadar, ia semakin menyesali semua perbuatannya tetapi, tak lagi bisa untuk berkata apa pun. Joey mengingat setiap detail apa yang sudah mereka lakukan.
Joey terdiam, "Apa yang sebenarnya terjadi?" lirih Joey, ia melihat tubuh Miranda yang penuh dengan stempel cinta miliknya.
"Siapa yang telah melakukan semua ini? Apa yang mereka inginkan? Sialan! Aku bodoh sekali! Mengapa aku bisa terjebak?
"Ya, Tuhan! Aku pasti menyakiti Miranda. Ini gila! Apa yang harus aku katakan pada Jodie?" batinnya, ia langsung meninggalkan Miranda.
"Aku tak ingin jika Miranda sadar ia akan mengutukku," batin Joey, ia meninggalkan Miranda.
Joey hanya menceritakan hal itu pada Lorenzo dengan menangis, "Lorenzo, aku sudah melakukan dosa yang mengerikan! Aku sudah menyakiti Miranda dan Jodie!
"Tuhan, pasti menghukum diriku, jika kelak Miranda hamil itu adakah anakku, Lorenzo! Itu anakku! Apa yang harus aku katakan pada Jovink dan Jodie?" ucap Joey berapi-api dan menangis.
"Sudahlah, Joey. Semuanya sudah terjadi, kita harus mencari tahu, siapa yang melakukan semua ini padamu dan Miranda dan apa tujuannya?" ujar Lorenzo.
Semenjak saat itu, Joey tak pernah tinggal di rumah, ia selalu saja menyelidiki semua hal dan menghukum semua ART sehingga masa kelam di La Costra Nostra pun terjadi.
Sehingga Joey ditembak tewas suatu malam di sebuah bar kala ia menyelidiki tewasnya Jodie dan tak seorang pun yang tahu siapa pelakunya.
Sementara Miranda telah hamil tua, ia tak pernah menyukai anak yang ada di kandungannya berulang kali ia akan membunuh anak tersebut. Namun, Jovink kembali. Jovink selalu mengawasi semua itu, ia sudah mendengar dari Lorenzo, ia pulang karena Joey tewas.
Miranda bak orang gila dengan kehamilannya, "Biarkan aku membunuh anak ini?" teriak Miranda marah dan menangis.
"Miranda! Aku mohon, anak itu tidak bersalah. Kau dan Joey pun tidak! Aku mohon, jangan bunuh anak yang ditinggalkan Joey, hanya itulah warisannya, Miranda.
"Aku tak ingin seperti Jodie yang tak mewarisi seorang anak pun! Aku mohon, aku akan mengurusnya jika kau tak menyukainya Miranda!" ucap Jovink Nostra penuh iba.
"Tapi, ini sungguh gila dan memalukan, Jovink!" ujar Miranda.
"Sudahlah … biarlah waktu yang akan mengurus semua itu!" bisik Jovink, ia memeluk Miranda yang menangis.
__ADS_1
Miranda merasa sedih dan malu karena tidak bisa menjaga cinta suci Jodie, hingga pada tahun 1993 Dean lahir pada musim salju. Miranda tak ingin menyentuhnya bahkan, ia ingin membunuh bayinya sendiri.
"Lorenzo! Bawa Bayi Joey! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya!" teriak Jovink, ia masih memegang tangan Miranda yang ingin membunuh Dean bayi.
"Miranda! Miranda! Lihatlah aku!" ujar Jovink, ia menangkup wajah Miranda yang menangis pilu.
"Biarkan aku mati! Biarkan aku mati Jovink!" teriak Miranda.
Namun, Jovink mendekap Miranda dengan kelembutannya. Membelai punggung Miranda yang menangis dengan penuh kasih Sayang.
"Sabarlah, anak tidak bersalah. Kalian pun tidak bersalah, Miranda. Jangan menangis, jika kau membunuhnya, suatu saat kau pasti akan menyesalinya," bisik Jovink menenangkan Miranda.
"Jovink …!" lirih Miranda di dalam dekapan Jovink, Miranda merasakan sedikit ketenangan.
Sehingga Jovink meminta Lorenzo mengambil dan menyerahkan Dean bayi kepada ART untuk merawatnya. Jovink semakin gencar mencari Jodie dan mencari pembunuh Joey dan penyebab kematian putra Jodie dan menyengsarakan Miranda.
Sejak saat itu, Jovink selalu menyayangi Dean kecil dengan penuh kasih sayang dan menemani Miranda hingga Miranda kembali mau menyentuh Dean sedikit demi sedikit.
Jovink selalu mengajak Miranda keluar berjalan-jalan di sekitar kastil tetapi, Miranda tak pernah mau jika Jovink mengajaknya keluar kastil.
Jovink selalu bercerita masa kecil mereka bertiga yang penuh luka, sambil menidurkan Dean di pangkuannya. Bahkan, Jovink selalu memberi bunga dan makanan juga oleh-oleh kepada Miranda.
"Miranda, kerusuhan terjadi di Tijuana, aku dan Pedrosa pergi. Lorenzo yang akan mengawasi kalian!" pamit Jovink, ia mencium Dean bayi dan kening Miranda.
Seminggu kepergian Jovink, Lorenzo mendapat kabar dari Jovink untuk pergi ke Denver ada masalah. Jovink pulang malamnya.
Namun, lagi-lagi malapetaka terjadi, seseorang kembali memberi Miranda dan Jovink obat perangsang saat Jovink dan Pedrosa kembali dari Denver dan Tijuana. Setelah 40 hari kelahiran Dean.
"Miranda … apa kabar? Hai Dean!" sapa Jovink, ia mencium dan menggendong Dean kecil.
Seorang ART membawa nampan minuman dan mereka makan dan minum tanpa curiga tetapi, satu jam kemudian. Saat Mama ingin mengambil Dean.
Jovink merasa pusing dan ia pingsan. Hingga Miranda dan Mana membaringkan di tempat tidur.
"Mama apa yang terjadi?" tanya Miranda bingung.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, siapa yang memberi makan dan minum?" tanya Mama.
"Aku tidak mengenalnya?" ujar Miranda.
"Apa?" Mama langsung memanggil dokter dan memeriksa Jovink.
"Tuan Jovink telah diberi obat perangsang." Dokter memeriksa seteko minuman yang berisi obat perangsang.
"Lalu apa harus kita lakukan, Dok?" tanya Miranda bingung.
"Hanya satu, puaskan hasratnya. Apakah Nyonya juga meminumnya?" tanya dokter curiga.
Miranda hanya menganggukan kepala, ia tak menyangka jika malapetaka akan terulang kembali. Dokter dan mama sudah meninggalkan kamar Miranda yang masih termangu menangis pilu.
Rasa panas dan gairah aneh mulai menjalari tubuh Miranda hingga ia pun terbakar gairah, ia bingung harus bagaimana disaat yang sama Jovink juga tersadar dari pingsan.
"Miranda …!" lirih Jovink, ia melihat Miranda sudah membuka satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Jovink … panas sekali!" lirih Miranda, ia semakin kepanasan bergulingan di tempat tidur menyentuh sekujur tubuhnya sendiri.
Jovink yang sudah terbakar gairah langsung mendekap dan menciumi tubuh Miranda yang meronta tapi tak kuasa untuk menahan hasratnya yang mengerikan hingga berulang kali malapetaka itu terjadi.
Jovink menyentuh Miranda dengan kelembutan dan cinta memberikan seluruh hati dan rasanya, Miranda membayangkan jika Jodie kembali. Sehingga Miranda dengan penuh gairah liar melayani semua hasrat Jovink hingga berulang kali mereka merengkuh kenikmatan duniawi.
"Miranda …," lirih Jovink, kala ia merasakan kenikmatan di puncaknya.
Miranda mendekap Jovink dengan penuh gairah yang tak lagi bisa tertahankan oleh apa pun. Hingga kepuasan mereka gapai bersama.
Namun, kali ini Jovink tidak seperti Joey yang tak lagi pernah menyentuhnya karena rasa bersalah.
Jovink benar-benar jatuh cinta ingin menikahi Miranda ia ingin merawat Dean dan menikahi Miranda karena kedua saudaranya sudah tiada. Sehingga setiap waktu dan ada kesempatan Jovink selalu saja merayu dan mengajak Miranda bercinta.
Miranda tak mampu menepis pesona dan rayuan dari seorang Jovink yang lebih lembut dan mampu mengetuk isi hatinya yang kosong sejak kepergian Jodie dan luka akibat sentuhan dan pengkhianatan Joey yang membunuh Jodie dan memisahkannya dengan putranya Jeffry Dimitri.
Miranda jatuh cinta pada Jovink, tanpa disadarinya, ia begitu mendamba dan penuh rasa bahagia karena kelembutan Jovink dan belaian kasih sayang Jovink padanya dan Dean.
__ADS_1
"Menikahlah denganku Miranda!" ujar Jovink.
Di suatu malam setelah mereka selesai bercinta di musim gugur. Jovink melamar Miranda dengan penuh pengharapan.