Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Rasa yang tak pernah pudar


__ADS_3

"Jodie, aku hanya khawatir akan banyak hal. Rasanya … semua anak kita menghadapi masa yang sangat sulit dan rumit. Begitu juga dengan kita," ujar Miranda, "aku tak ingin masa lalu terulang kembali Jo," lanjut Miranda termenung.


Jodie mengambil lap basah dari dalam baskom air hangat memijat kaki Miranda dengan penuh kasih sayang.


"Jo, apa yang kamu lakukan?" ujar Miranda bingung, ia tak menyangka dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Jodie.


"Maafkan aku, Miranda. Jika aku tahu, kamu begitu tersiksa, kemungkinan aku tak akan membiarkan semua ini terjadi. 


"Jadi, biarkanlah aku memijat dan mengompresnya agar aliran darahmu kembali lancar," ujar Jodie, ia terus memijat kaki Miranda yang sudah mati rasa dengan telaten.


Jodie menyingkap gaun Miranda hingga memperlihatkan kulit putih mulus bak pualam, membuat debar dan bayangan keindahan rasa Miranda kembali terbayang.


Perlahan Jodie mulai memijat setiap incinya hingga ke pangkal paha Miranda membuat Miranda sedikit melenguh.


"Ah, Miranda …," lirih batin Jodie, sesuatu yang selama ini hanya mampu dilampiaskan dengan kelima jari di kamar mandi mulai tak menentu di balik kain di antara pahanya.


Glek!


"Aku kira … setelah lama rasa itu tak lagi memuncak! Aku salah, rasa itu semakin mengerikan." Jodie membatin sambil menggigit bibirnya, tangannya gemetar memijat kaki Miranda.


"Jodie, maafkan aku juga. Aku kira kamu sengaja meninggalkanku …," ucap Miranda, ia menatap wajah Jodie dengan penuh kasih sayang.


"Sudahlah, Sayang … aku juga bersalah. Sekarang, bagaimana caranya agar kita semua bahagia. Aku hanya ingin menghancurkan musuh kita agar kita bisa hidup bahagia jika tidak ini akan sangat sulit sekali," tegas Jodie, ia berusaha untuk tenang setenang air.


"Rasanya aku sudah sangat lelah, jika aku harus menghadap banyak kematian dan kehilangan lagi, Jodie. Aku sudah tidak sanggup!" ujar Miranda, ia mulai termenung lagi.


"Ya, kamu benar! Miranda, maukah kamu menikah denganku? Menyelesaikan sesuatu yang tertunda dulu" lirih Jodie, "kita harus memberikan contoh yang baik bagi anak-anak kita kelak," ujar Jodie.


"Ya, kamu benar! Aku mau menikah denganmu. Tapi, apakah kamu tidak malu menikahi wanita lumpuh sepertiku ini, Jo?" tanya Miranda, ia tak ingin menjadi beban bagi Jodie.


"Tidak! Aku tidak akan malu, bagiku sekarang dan dulu, kamu sama saja Miranda, Sayangku!" balas Jodie, ia mendekat ke arah Miranda mengecup lembut kening wanita yang begitu disayangi dan dikasihinya.


"Tidurlah, Sayang … aku berharap kamu tidur dengan nyenyak, aku tidak ingin kamu tidur terlalu malam. Apakah kamu mau aku temani Miranda?" tanya Jodie, ia ingin selalu berdekatan dengan Miranda.


Bahkan, sesuatu di bawah sana mulai oleng dan ingin muntah karena begitu bergairah menahan hasrat selama 30 tahun. Jodie ingin merasakan kembali untuk berpetualang dengan gairah fantasi indah menghabiskan malam bersama 

__ADS_1


"Jo, kita sudah tua! Jangan buat contoh yang tidak baik bagi anak cucu kita. Kamu ini," ucap Miranda tersenyum simpul.


"Habis, aku rindu padamu, Miranda. Kau tahu, aku sudah mencari kamu bertahun-tahun dan begitu aku melihatmu, kau sudah menikah dengan Jovink. 


"Setelahnya kamu tidak ada kabar lagi, menyedihkan sekali!" ujar Jodie, ia tak mengerti mengapa begitu banyak waktu yang harus mereka lewati hanya untuk mengikrarkan kata cinta di depan Tuhan.


"Mungkin, dosa kita terlalu banyak … hingga Tuhan menghukum kita Miranda," lanjut Jodie, ia merasa Tuhan telah murka kepadanya dan ketiga adik juga sahabat mereka.


"Tidak, mungkin ada hikmah di balik semua ini. Aku minta maaf Jo. Hm, apakah selama 30 tahun ini kamu tidak mengenal wanita lain? Aku kira kamu sudah sangat bahagia dengan kehidupan kamu." Miranda menatap wajah kekasih hatinya.


"Miranda, jika aku jujur pun mungkin kamu tidak mempercayaiku. Tapi, hanya satu kamu yang ada di hatiku, Sayang. Tak ada wanita lain yang bisa menggantikan dirimu di hatiku.


"Terlalu gombal memang tetapi, itu adalah kenyataannya. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa tanya Loly, bagaimana keadaanku dan bagaimana aku menghabiskan waktuku, Miranda.


"Loly adalah sesuatu yang masih memanggilku pulang ke Denver dan masih membuatku untuk bertahan hidup. Hanya gadis itu, siapa sangka dia pula yang menolong putra kita di depan pintunya seperti ibunya yang menolong Jhon dan aku," ujar Jodie.


"Rumah itu pastilah rumah yang sangat bertuah!" ujar Miranda.


"Ya, rumah tua janda Banderas yang sangat bertuah menemukan dua hari yang saling mencintai hingga mati dan mencintai satu wanita dan satu pria hingga sepanjang hidup, seperti Myra dan diriku!" balas Jodie, ia menyandarkan diri di punggung tempat tidur.


"Ah, Jodi … aku sangat merindukanmu di setiap malam gelap di lorong rahasia bawah tanah yang aku sendiri tidak tahu di mana. Ternyata Dean menemukanku dan aku di Tijuana di La Senorita. Di kastil milikku sendiri.


"Kastil yang kalian bangun sebagai tanda cinta dan penghormatan kalian kepada seorang Miranda. Namun, siapa sangka malah aku menghabiskan 30 tahunku di sana dengan kesedihan," bisik Miranda.


"Maafkan, aku Sayang," lirih Jodie ia memeluk Miranda, mengecup keningnya berulang kali.


Jodie ingin mengambil rasa sakit dan kesedihan juga keputusan yang entah dirasakan oleh Miranda. Ciuman demi ciuman itu pun pada akhirnya menjadi semakin bergairah dengan penuh rasa damba diantara mereka berdua.


"Jo …,"


"Miranda …," 


Keduanya saling pandang dan tersenyum bahagia dan kembali berciuman di bibir meluapkan rasa cinta dan kerinduan selama 30 tahunnya hingga segenap rasa berubah menjadi liar kala Jodie dan Miranda sudah tak lagi mampu menahan gairah cinta mereka.


"Sayang … aku mencintaimu!" ujar keduanya kala penyatuan tubuh mereka tanpa sehelai benang pun lagi yang menutupi tubuh mereka berdua.

__ADS_1


Jodie dan Miranda menghabiskan malam dengan penuh cinta dan kebersamaan yang indah.


***


Sementara Loly, Isabel, Gwenie, dan Bowen masih mengurus pasangan masing-masing. Joana dan semua ART sudah tertidur kelelahan.


"Bowen, sebaiknya kamu tidur. Aku rasa, Adam junior tidak rewel lagian banyak perawat yang menjaganya," ucap Diana.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin duduk saja!" balas Bowen, ia merasa sangat takut jika tertidur maka Diana akan memerlukan sesuatu akan sulit.


"Bowen, berapa anakmu?" tanya Diana, ia penasaran. 


Diana melihat Bowen begitu lihai mengurus anak-anak, Bowen melihat ke arah Diana tersenyum dengan manis.


"Diana, aku malah belum punya istri. Bagaimana aku bisa memiliki anak?" jawab Bowen tersenyum.


"Oh, masa sih?" tanya Diana tak yakin, ia melihat jika Bowen sangat tampan meskipun dirinya berkulit gelap tapi dia begitu luar biasa tampan.


"Kamu bisa bertanya pada Jodie! Dia mengenalku. Bahkan, aku sudah hampir 15 tahun berteman dan bersamanya juga Frank dan Loly. Kau tahu, aku malah tahu kalau Loly berumur 5 tahun.


"Jodie selalu membawanya ke mana pun. Loly … tak pernah mengeluh walaupun harus berhari-hari tidur di mana pun Kaka Jodie menolong orang sakit dan sekarat.


"Jodie pemabuk yang mengerikan tetapi tetap sadar jika mengoperasi semua pasiennya. Loly selalu menolong mengambilkan apa pun hingga dirinya beranjak dewasa. 


"Loly juara maraton mungkin karena seringnya berlari bersama Jodie menghindari peluru dan kejaran mafia," lirih Bowen.


"Oh, mengerikan sekali! Lalu, kamu memang anggota Jodie Nostra begitu?" tanya Diana, ia sama sekali tak mengerti mengapa orang ingin menjadi mafia.


"Tidak!" Bowen menceritakan kisahnya yang menyedihkan, Diana hanya termangu.


"Sudahlah Diana. Kamu harus tidur, kamu baru melahirkan," ucap Bowen.


"Jika semua ini berakhir, apakah kamu masih ingin meneruskan bengkel mobilmu?" tanya Diana.


"Ya, aku ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia, meskipun aku sudah terlalu tua untuk itu Diana." Bowen tersenyum dan menyelimuti Diana, " tidurlah!" lanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2