
"Aku?!" si pria kebingungan memegang kepalanya, ia merasa ingin meledak.
Beribu bayangan bagaikan slide film bermunculan di benaknya membuat kerja otaknya semakin mengerikan dan ia merasakan jika tubuhnya hampir saja meledak.
"Aaa! Aaa! Hentikan bajingan! Aku akan membunuh kalian!" teriak pria tersebut, ia bergulingan dan memegangi kepala dengan meringkuk di lantai ruangan yang keras dengan cahaya lampu yang berkedip-kedip mengerikan.
"Si-siapa Kau? Jawab aku siapa Kau?" teriak Jeff, ia merasa pria tersebut kesakitan dan menjerit-jerit.
Jeff melihat apa yang terjadi dengan pria tersebut sangat mirip dengan Lorenzo. Jeff berjalan mendekati pria tersebut, ia ingin menolong walaupun ia sendiri tidak tahu harus bagaimana menolongnya.
"Jangan mendekat! Pergilah Jeff! Aku akan membunuhmu! Pergi!" teriak pria tersebut, "aku tidak bisa mengendalikan diriku! Jangan biarkan aku membunuhmu! Aku mohon!" teriak pria tersebut.
Jeff diam ia melihat pria tersebut bergulingan tidak karuan, ia seakan menahan kesakitan di sekujur tubuhnya.
"Siapakah dia?" batin Jeff bingung, Jeff memperhatikan tubuh dan wajah pria tersebut.
"Sialan! Greg! Kaukah itu?" ujar Jeff, "lalu, pria yang tewas bersamaku di Denver … siapakah dia?" batin Jeff, bingung.
"Greg! Aku Greg! Aaa!" teriaknya, "pergi Jeff, mereka ingin membunuhmu dan Nostra! Jovink! Dia bukan Jovink!" teriak Grek berlari memasuki lorong gelap.
"Greg!" teriak Jeff, "Loly, cobalah ke luar dan berlindung! Jangan mengejarku?" teriak Jeff, ia berlari mengejar Greg.
"Aku harus menolong Greg! Dia pasti tahu siapa saja dalang di balik semua ini. Jika ingin menghancurkan musuh sebaiknya mengetahui siapa musuh itu. Selain Pablo Montes dan para mafia lain, apakah ada dalang lain lagi?" batin Jeff, ia merasa orang dari oemerit ada yang turut andil di dalam semua itu.
Loly tidak peduli dengan perintah suaminya, ia pun kembali mengejar suaminya.
"Enak saja menyuruhku duduk manis dan melihatmu terbunuh!" umpat Loly, ia pun berlari memasuki lorong gelap.
Ketiganya saling kejar dan tiba di sebuah tempat yang dipenuhi darah dan pasien yang berbaring di brankar dengan bekas operasi yang belum selesai karena ledakan yang masih terus bergemuruh.
"Aku rasa Roberto dan pasukannya masih hidup dan terus membombardir tempat ini," batin Jeff, ia sedikit lega, karena mendengar ledakan demi ledakan yang terus bergema.
"Tempat apa ini? Ya, Tuhan … Paman Enzo benar, ini adalah benteng Dark yang sebenarnya. Mereka menciptakan pasukan monster untuk membunuh musuh mereka.
"Apakah mereka berencana ingin menggulingkan pemerintahan begitu?" batin Jeff, ia masih mengamati sekelilingnya.
__ADS_1
"Jeff … apa ini? Apa yang telah mereka lakukan?" tanya Loly, ia mendekati suaminya.
Loly memperhatikan ruangan yang mirip ruang operasi. Di mana pisau dan jarum juga alat-alat canggih bertebaran di sana. Tubuh-tubuh masih berbaring di brankar dengan darah yang masih menetes dan merembes di lantai membentuk genangan.
"Ini benar-benar mengerikan! Siapa yang telah tega melakukan hal jahanam ini?" batin Loly.
"Loly? Ya, ampun! Sayang, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu?" ujar Jeff, ia memijat keningnya.
Jeff merasa sangat sulit mengendalikan istrinya yang lebih memilih manundan bertarung daripada bersembunyi dan menyelamatkan diri.
"Bangga sih bangga punya istri begini? Tapi, jika terlalu nekat itu pun ngeri juga!" batin Jeff, ia tak mengerti bagaimana bisa memilih Loly menjadi istrinya.
"Sayang, percayalah! Tidak terjadi apa pun," bisik Loly, ia tersenyum di tangannya masih terdapat dua senjata api.
Jeff hanya diam, ia tak lagi mampu berkata apa pun. Ia tak ingin bertengkar hanya karena Loly tak mengikuti nasihatnya apalagi Loly sedang hamil dan Jeff tak ingin membuat Loly marah dan murka hingga mempengaruhi anak mereka.
"Ya, berjanjilah Loly! Jika kamu akan baik-baik saja, aku tidak ingin terjadi apa pun pada kamu dan anak kita," ucap Jeff, ia hanya bisa mengatakan hal itu.
"Ya, jangan khawatir Sayang … aku akan baik-baik saja," balas Loly tersenyum bahagia.
Keduanya saling memunggungi dan mengangkat senjata mereka, kini keduanya melihat jika musuh menggunakan pedang.
"Sial! Apakah kamu memiliki pedang, Loly?" tanya Jeff, ia melihat tubuh istrinya hanya memiliki pistol.
"Tidak! Apakah itu perlu?" tanya Loly, ia tak menyangka harus membawa pedang.
"Jika aku tahu, aku pasti membawa pedang! Tapi, siapa sangka jika begini?" ujar Loly santai.
"Sangat!" balas Jeff, "pakai ini!" ujar Jeff memberikan pedang pada Loly yang langsung menerimanya.
"Lalu bagaimana denganmu, Jeff?" tanya Loly, ia tak ingin jika sesuatu terjadi pada suaminya.
"Aku bisa mengambil pedang dari
salah satunya. Berhati-hatilah, Sayang!" balas Jeff, ia tak ingin jika terjadi sesuatu pada istri dan bayi mereka yang belum lahir.
__ADS_1
"Ya, jangan khawatir Sayang," balas Loly, ia terdengar tenang dan santai.
"Loly, benar-benar berdarah dingin. Apakah Paman John Campbell seperti itu?" batin Loly, ia seakan melihat bayangan John Campbell seperti yang dikisahkan oleh papanya Jodie dan Lorenzo.
Wajah Loly yang mirip dengan John membuat Jeff semakin takut dengan kisah pasangan mertua mereka yang miris dan mengerikan tersebut.
"Aku harap saja, Loly benar-benar mencintaiku. Sehingga ia mempertahankan nyawanya," batin Jeff gelisah dan semakin takut.
"Menyerahlah kalian! Aku tak ingin melihat wajah kalian! Kalian harus mampus!" ujar salah satu dari yang mengepung mereka.
Sedangkan pria yang mirip Greg, masih berjongkok di sisi brankar di sudut ruangan memegangi kepalanya. Seakan ia mengingat banyak hal dan ketakutan.
"Serang dan bunuh mereka!" teriak pria yang merupakan kepala pasukan.
"Hyat!" ujar semua orang menerjang ke arah Loly dan Jeff yang langsung berkelit menghindari dan menangkis dengan pedang.
Loly melemparkan pisau-pisau yang diberikan Jodie sebagai hadiah ulang tahunnya dan tepat mengenai musuh.
"Jangan seenaknya ingin membunuhku! Kau tidak akan pernah bisa!" umpat Loly kesal.
Loly melesat untuk menangkis serangan dan tak ingin membuang-buang waktu, "Aku rasa sedikit curang dengan musuh tidak masalah! Lagian mereka juga menggunakan steroid," batin Loly, ia langsung menembak dan menusukkan pedang ke jantung musuh.
Trang! Tring!
Pedang beradu, Loly sedikit kesulitan bergerak karena kehamilannya tetapi ia tak peduli ia ingin melindungi anak dan nyawanya.
Jeff melesat dengan cepat menyerang musuh memukul, menendang, dan melepaskan bogeman pada musuhnya dengan tangan kosong.
"Kau tak akan mungkin berhasil membunuh kami, dasar bajingan!" umpat Jeff, ia semakin gencar melesat dan memukul musuh hingga terjengkang.
Jeff secepatnya mengambil pedang dan menebas dan menusuk musuh, pertempuran semakin sengit kala musuh semakin banyak mengeroyok mereka dengan tubuh penuh luka bekas sayatan.
"Jangan bunuh mereka, Bajingan!" teriak Grek ia menarik pedang dan menyeret ya berlari ke arah musuh dan menebas kala melihat Jeff dan Loly terdesak.
"Greg! Aku yakin itu Greg! Caranya mengayunkan pedang, aku yakin jika itu adalah Greg!" batin Jeff, ia bahagia bertemu dengan temannya.
__ADS_1
Namun, Jeff juga was-was jika Greg kambuh dan ingin membunuh mereka. Jeff tak ingin membunuh temannya sendiri.