
"Apa?! Aku tidak bisa! Beri aku waktu!" tolak Miranda perih.
"Aku akan menunggumu dengan sabar, Miranda!" balas Jovink tersenyum.
Miranda merasa ia telah bergelimang noda hingga Mama wanita muda sebagai ART yang merawat Miranda membujuknya untuk menikah.
"Nyonya, aku tahu apa yang Anda pikirkan. Tapi, Tuan Jodie dan Tuan Joey sudah tidak ada lagi. Siapa lagi yang akan Nyonya tunggu?" bisik Mana, "menikahlah! Selamatkan dirimu, Nyonya," lirih Mama.
Miranda menangis, ia memeluk Mama yang membelai rambut Miranda. Keduanya saling bertangisan hingga Miranda pun menyerah ia menikahi Jovink pada tahun 1993. Miranda mengurus Dean dan Jovink dengan penuh kasih sayang.
Walaupun cintanya masih ada pada Jodie ia ingin mengatakan tentang Jeff. Miranda selalu melayani Jovink, "Aku akan mengatakan pada Jovink mengenai Jeff," batin Miranda.
Rumah tangga Jovink dan Miranda penuh dengan kebahagiaan, Miranda menidurkan Dean, Miranda sudah hamil 9 bulan pada tahun 1994. Jovink pulang dengan keadaan tertembak dan terjadi huru-hara kastil La Costra Nostra kembali diserang disaat Lorenzo dan Pedrosa pergi ke Amerika.
Miranda melahirkan Dwinov, pada musim semi 1994. Namun, kala seminggu Dwinov lahir, Miranda ingin mengatakan mengenai Jeff, ia berjalan pelan ke ruang kerja Jovink.
"Jangan ada yang tahu, jika kita telah membunuh Joey dan Jodie. Begitu juga dengan Miranda."sebuah suara samar terdengar dari ruang kerja Jovink Nostra.
Deg!
Bagaikan sebuah petir yang bergema menyambar di jantung Miranda, ia langsung lemas seketika.
"Apa?!" pekik Miranda terperanjat, ia langsung berlari ingin membawa Dean dan Dwinov untuk kabur bersama Mama.
"Ayo, Mama kita pergi! Jovink bukan manusia! Dia telah membunuh Jodie dan Joey!" ujar Miranda.
"Apa?" pekik Mama menutup mut dengan tangannya.
"Iya. Ayo, Mama! Cepat!" teriak Miranda, keduanya berlari dari pintu belakang.
Dor!
Mama tertembak, "Nyonya, pergilah! Bawa Tuan Dean dan Dwinov!" ujar Mama dengan darah memenuhi bahunya.
"Mama!" teriak Miranda, ia langsung berlari dengan menggendong kedua putranya.
Miranda kembali kabur membawa kedua hatinya di mana Dean baru berusia 10 bulan dan Dwinov sekitar 1 Minggu. Namun, belum lagi Miranda Keluar kastil Lorenzo dan Pedrosa sudah menangkap dan mengambil kedua anaknya.
"Bawa Miranda ke Tijuana! Masukkan dia ke kastil bawah tanah La Senorita! Di sanalah tempatnya!" teriak Lorenzo.
"Lorenzo, aku mohon … jangan pisahkan aku dengan putraku!" teriak Miranda kala Pedrosa membawa dirinya.
__ADS_1
Sejak saat itu, Miranda tidak pernah bertemu dengan ketiga putra yang dipisahkan dengan tragis, dirampas dari hidupnya oleh ayah dan paman mereka.
***
Masa kini ….
Miranda menyeka air mata, ia memandang nanar ketiga putranya yang menangis perih. Mereka tak menyangka Jovink begitu mengerikan.
"Miranda …!" lirih Lorenzo, ia muncul di depan pintu ruang rahasia.
"Kau! Kau masih hidup! Puaskan kau memisahkanku dengan kedua anakku Lorenzo?" teriak Miranda murka, ia langsung bangun.
Namun, lagi-lagi ia terjatuh jika tidak ketiga putranya menangkapnya. Lorenzo masuk ia tak takut sedikit pun kala ketiga pemuda yang disayanginya menodongkan pistol ke arahnya.
"Miranda! Apa yang kau katakan itu benar sebagian tapi, bagian Jovink yang membunuh Joey dan Jodie juga aku dan Pedrosa yang memisahkan kau dan putramu itu tidak benar! Aku berani bersumpah!
"Saat aku kembali! Jovink malah mengatakan kau kabur! Aku baru pulang dari Amerika dan Pedrosa dari Tijuana. Bagaimana mungkin kami bisa memisahkanmu?
"Aku malah merawat Jovink yang koma, aku sendiri tidak tahu kapan Dwinov lahir? Aku dan Pedrosa tiba di hari yang sama seminggu setelah kerusuhan! Tanyalah Mama jika kau tak percaya?
"Di Amerika aku diserang dan aku pingsan, aku diancam dan ditanam chip itu! Aku tidak tahu apa perkataan dari seorang dokter yang mengatakan, 'Agar aku tak membuka rahasia kelam kematian Joey dan Jovink,'.
"Apa?!" jawab semua orang bingung.
"Ya, bahkan saat kami menolongmu di persimpangan pun, kami baru tahu ada kerusuhan di San Juan karena kami baru pulang dari Tijuana, menyelidiki dirimu. Kami baru tahu jika Jodie telah dibunuh bersama Campbell.
"Joey melihatmu datang pada saat malam kami pulang dari San Fransisco dan semua teman pembalapnya mengadakan pesta." Lorenzo menatap ke arah Miranda bingung.
"Aku tidak percaya, Lorenzo! Kau pasti berbohong!" teriak Miranda.
"Aku berani bersumpah, demi apa pun! Dua hari kemudian kami pergi ke Tijuana tapi kastil sudah hancur dan kami kembali mencarimu. Tapi, kerusuhan terus terjadi di mana-mana.
"Hingga kami memadamkannya! Joey tidak bisa menghubungi Jodie dan Jovink. Hingga malam naas saat Joey tertembak di sebuah bar aku sedang pergi ke Denver untuk memanggil pulang Jovink!" ucap Lorenzo.
Semua orang diam, "Jika itu bukan dirimu, lalu siapa? Aku jelas-jelas melihatmu dan Pedrosa dan di ruang kerja Jovink aku juga melihat Jovink bicara!" ucap Miranda.
"Miranda, apakah kau lupa. Saat itu Jovink tertembak? Dan dia sedang dirawat di rumah sakit? Bukankah kau yang menelponku dan Pedrosa untuk memanggil kami pulang? Tapi, aku masih terluka di San Fransisco dan Pedrosa tidak bisa dihubungi?" ucap Lorenzo.
Miranda terdiam, ia membenarkan ucapan Lorenzo. Namun, ia masih tidak bisa mempercayai semua ucapan Lorenzo begitu saja.
"Satu hal lagi, di akta kelahiran, aku putra Joey tapi Dwinovlah yang putra Joey yang sesungguhnya dan Aku … gen milikku tidak sama dengan Jovink!" ucap Dean.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana mungkin? Di sepanjang hidupku aku hanya melahirkan 3 putra dari 3 pria yang menyentuhku dan itu semua adik-kakak dari Nostra?" ujar Miranda.
"Saat aku melihat kalian, Mama pun mengatakan, 'Jika Kau Dwinov," Lorenzo menunjuk ke arah Dean "kau adalah Dean!' selain itu, jika aku melihat hobi kalian, aku rasa jika Dwinov adalah kopian Joey dan Dean adakah kopian Jovink!" ujar Lorenzo bingung.
"Namun, Jovink mengatakan dan menyangkal apa yang diucapkan Mama. Aku tidak begitu memahaminya karena aku jarang berada di sini begitu juga Pedrosa.
"Jovink menyuruhku tinggal di El Paso dan Pedrosa di Puerto Vallarta. Jadi, kami tidak tahu apa yang terjadi?" ucap Lorenzo.
Ketiga pemuda itu membenarkan ucapan Lorenzo. Jika mereka bertemu hanya ada acara tertentu saja. Bahkan saat kecil ketiganya jarang bertemu, setahun sekali pun sulit tetapi, Lorenzo dan Pedrosa sering mengirimi keduanya hadiah Natal begitu juga kala Jeff tiba.
Lorenzo dan Pedrosa tidak membeda-bedakan kasih sayang dan kado yang diberikannya.
"Lalu, bagaimana ini?" tanya Dwinov penasaran.
"Itu mudah! Jika kalian masih mempercayaiku, kita buat saja. Kalau kita mengalami kecelakaan dan kita mati semua. Aku, kalian bertiga juga Loly! Aku rasa, itu akan memperlihatkan siapakah Jovink yang sesungguhnya? Apakah dia Jovink asli atau bukan?" usul Lorenzo.
"Bagaimana dengan mayatnya?" tanya Dwinov.
"Kita bisa membeli mayat di rumah sakit yang tak memiliki keluarga!" ujar Lorenzo, "bukankah mereka tidak tahu jika kita masih selamat?" lanjut Lorenzo.
"Ya, kau benar! Ini layak dicoba! Aku akan meminta Zack untuk mencari 4 mayat pria dan satu wanita. Dwinov, apakah kau bisa membuat kopian mobilmu?" tanya Jeff.
"Tentu saja!" balas Dwinov.
"Dean, aku rasa kau harus membuat segalanya menjadi nyata dengan kepintaranmu!" ujar Jeff.
"Ya!" balas Dean.
"Lorenzo, apakah kau mengingat dokter yang menanamkan chip itu, padamu?" tanya Jeff.
"Jika ada seorang penggambar sketsa aku pasti bisa membuat wajahnya," ucap Lorenzo.
"Baiklah!" Jeff terdiam, ia melihat ke arah Miranda yang masih termenung menatap ketiga putranya.
"Mereka sangat mirip dengan ayahnya dan memiliki kepintaran yang sama juga ketampanan yang serupa," batin Miranda.
"Ma …," lirih Jeff.
Miranda tercekat kala Jeff mengulurkan tangannya, ia ingat malam di mana Jeff memilih jalannya.
"Jeffry Dimitri Nostra …!" lirih Miranda, "apakah kau masih memiliki kalung salib itu?" tanya Miranda.
__ADS_1