Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Kakak beradik


__ADS_3

Pedro langsung melesat ingin membunuh Dwinov yang sudah bersandar terluka di sebuah pohon.


"Sial, apakah pohon ini akan menjadi kuburanku? Tadi, dia sudah membuatku terluka dan sekarang … aku pun harus tertancap pedang di sini!" umpat Dwinov, ia melihat Pedro ingin menghunuskan pedang ke arahnya.


Bayangan Isabel menari di pelupuk mata, "Bajingan! Aku belum menikahi Isabel dan melihat anakku lahir!" umpat Dwinov, ia berusaha untuk meraih pedangnya.


"Aku tidak mau mati sia-sia!" ujar Dwinov, ia mencoba untuk bangkit.


"Hyat!" teriak Pedro menebaskan pedangnya.


Trang! Buk! 


"Aaa! Bajingan kau Pedro!" erang kesakitan Dwinov. 


Dwinov menangkis pedang Pedro tetapi, Pedro melepaskan tendangan ke dada Dwinov membuatnya tersandar ke batang pohon.


"Hahaha, matilah Kau!" ejek Pedro, ia langsung mengangkat tinggi-tinggi dan ingin  menebaskan pedang ke kepala Dwinov.


Dor! Dor!


Jeff langsung menembak Pedro hingga Pedro langsung jatuh terkapar sebelum berhasil membunuh Dwinov. Berondongan senjata langsung menembus kepala Pedro, hingga dirinya jatuh terkapar ke belakang tubuhnya dengan kepala hancur.


"Enak saja kau ingin membunuh adikku!" teriak Jeff murka, tubuhnya sudah berlumur darah dengan pedang di tangan kanan dan senjata api di tangan kirinya.


"Serang! Bunuh Jeff!" teriak para kaki tangan Kent, yang langsung menerjang ke arah Jeff dengan pedang samurai.


Jeff ingin menembak tetapi, pelurunya habis. Ia langsung membuang pistol dan menggenggam pedang dengan kedua tangan menaruh di atas kepala berlari menerjang langsung menyerang dan  menangkis serangan musuh.


Trang! Trang! 


Perkelahian antar pedang semakin seru, satu demi satu musuh berjatuhan hingga sebuah mata pedang menusuk punggung Jeff dan kras! Jeff menusuk ke belakang tubuh tepat di perut musuhnya hingga tewas.


Jeff berdiri di antara tumpukan musuh tanpa mengenakan kemeja lagi sebagian tubuhnya terkena jelaga akibat sebuah ledakan. Ia berjalan ke arah Dwinov yang meringkuk di tanah.


"Dwinov, apakah kau masih sanggup berjalan?" tanya Jeff, ia menyarungkan senjata api yang diambil dari musuh dan pedang di pinggangnya..


"Aku rasa tulang belakangku patah dan pahaku tertebas pedang ninja tersebut," ujar Dwinov, ia tak bisa berdiri.


"Aaa!" teriak batin Jeff,ia berusaha untuk menahan agar tak terlontar dari mulutnya.

__ADS_1


Jeff langsung memanggul Dwinov mencoba untuk berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat kejadian meninggalkan mayat musuh yang tewas terkapar berserta percikan api yang mulai melahap hutan.


"Jeff, punggungmu terluka …," bisik Dwinov, ia melihat punggung abangnya dimana darah mulai merembes deras.


"Jeff turunkan aku!" teriak Dwinov, ia tak ingin Jeff semakin terluka, apalagi, tubuhnya sama besar dengan Jeff.


"Tidak apa-apa! Aku harap kita segera tiba di mobil," balas Jeff, ia tak ingin mereka berdua mati di tempat sepi tersebut tanpa ada seorang pun yang tahu.


Jeff terus berlari meninggalkan api yang mulai menyebar, hingga tiba di mobil dan langsung melajukan mobil ke rumah sakit. Jeff tak peduli jika mobil patroli polisi mengejarnya dan memberi peringatan karena kecepatan mengemudinya melampaui batas.


Iringan mobil patroli semakin gencar mengejar mobilnya hingga tiba di rumah sakit di mana seluruh keluarganya di sana kecuali Miranda.


Ciiiit! Brak! Tin!


Mobil menabrak pembatas gerbang pintu masuk rumah sakit, "Aaa!" teriakan orang berlarian.


"Jeff! Jeff!" teriak Dwinov berusaha mengguncang tubuh abangnya yang pingsan karena darah yang terus merembes membasahi punggung dan jok kemudi.


"Tolong!" teriak Dwinov, menendang pintu mobil di sisinya hingga terbuka ia merangkak mendekati Jeff yang bersandar di kemudi pingsan  dengan klakson panjang terus bergema.


"Jeff! Dwinov!" teriak Loly.


Semua orang langsung berhamburan keluar berlari ke arah mobil dan mengeluarkan mereka berdua bersama para dokter dan perawat yang langsung membawanya ke UGD.


Seluruh keluarga sudah diboyong kembali ke Puerto Vallarta bersama keluarga Lorenzo.


Jodie tidak ingin mereka semua terpisah lagi, ia memberikan pengawalan yang ketat bagi semua orang dan menyuruh Dean dan Zack membawa Isabel.


Satu jam kemudian Isabel sudah berada di Puerto Vallarta dibawa oleh Dean menggunakan jet pribadi. Semua orang berkumpul, Miranda tak henti-hentinya menggenggam tangan kedua putranya dan berdoa.


Gwenie menggenggam tangan Lorenzo, untuk pertama kalinya mereka bertemu dan menganggukan kepala dan tersenyum saling berpelukan juga menangis.


Loly berulang kali menyeka dahi suaminya, Bowen berusaha untuk menghibur Diana. Rumah Jeff yang luas mampu menampung semua orang. Joana membantu Terra dan Mama memasak bersama ART yang lain. 


Semua orang diam dan khawatir melihat luka Lorenzo, Dwinov, dan Jeff. Isabel menangis sesenggukan memeluk Dwinov.


Miranda memeluknya seperti ia memeluk Joana. Loly menangis melihat Isabel yang berulang kali berbisik pada Dwinov dengan semua kata cinta yang indah. James sudah berangsur membaik dan ditemani oleh Debby di samping brankar ayahnya.


Loly tak henti menyeka air mata dan membelai wajah Jeff, "Sayang bangunlah, aku membutuhkanmu …!" bisik Loly.

__ADS_1


Empat brankar tersusun rapi di tengah ruangan tengah rumah Jeff yang sudah disulap menjadi bangsal umum. Joana menggenggam tangan Dean menangis.


"Sudahlah … mereka akan pulih beberapa hari lagi. Hanya saja, Lorenzo … mungkin sedikit lama, ia membutuhkan banyak ruang dan waktu untuk mengingat banyak hal," ujar Jodie, ia sudah mendatangkan teman-teman dokternya untuk merawat mereka bertiga.


"Aaa! Perutku!" lirih Diana.


"Apa yang terjadi, Diana?" tanya Bowen cemas, ia memegang  perut Diana.


"Diana mau melahirkan!" teriak Loly,ia menyiapkan air hangat dan mensterilkan alat-alat kedokteran.


"Dokter Annie, tolong Diana!" teriak Loly, ia mengenal Anna adalah teman ibunya dan Jodie.


Annie langsung menyiapkan segala hal, "Bowen!" teriak Diana, ia tak tahu ingin memanggil siapa. 


"Ada apa, Diana?" tanya Bowen bingung, ia hanya menggenggam tangan Diana dan membelai lembut kepala Diana.


"Bayinya prematur! Ayo, siapkan segala sesuatunya!" Ujar Jodie bersama dokter Abraham.


"Ayolah, Diana … kamu harus kuat! Demi anak ini, warisan Adam," ujar Bowen, ia menyeka peluh di dahi Diana, ia tak ingin jika Diana merasa sendirian.


"Bowen …!" teriak Diana dengan erangan yang panjang.


Owe! Owe!


Bayi lelaki hadir di pelukan Dokter Annie, semua orang tersenyum bahagia.


Tangisan bayi membuat, Lorenzo, Jeff, dan Dwinov tersadar. Ketiganya memandang brankar di depan mereka yang tertutup tirai seadanya.


"Jeff … Dwinov … apa yang terjadi?" tanya Lorenzo, ia pulih dan sadar dari koma dan tidak amnesia sesaat lagi.


"Aku tidak tahu paman Enzo?" ujar keduanya bersamaan.


Gwenie menggendong bayi dan tersenyum sembari meneteskan air mata kebahagiaan bercampur kesedihan.


"Wajahnya mirip Adam," lirih Gwenie, ia mengingat Adam yang sudah disemayamkan 24 jam yang lalu.


"Enzo, lihatlah cucu kita," ucap Gwenie, ia langsung menunjukkan kepada Lorenzo.


"Anak yang tampan! Adam mana …?" lirihnya.

__ADS_1


"Adam … dia … sudah beristirahat dengan tenang Enzo," balas Gwenie.


"Apa?!" ujarnya, ia mengingat apa yang terjadi tetapi, ia tak bisa mengingatnya.


__ADS_2