Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Pernikahan berdarah


__ADS_3

Semua orang di dalam Gereja menjerit, Lalita ingin berlari ke arah John tetapi beberapa pengurus Gereja dan Myra menariknya untuk bersembunyi di balik mimbar dan merangkak ke luar dari balik mimbar menuju pintu belakang.


"Lalita, pergilah! Cari bantuan! Polisi atau apa pun!" ujar salah satu pendeta lain.


"Ta-tapi …," lirih Lalita, ia tak ingin hidup seorang diri.


"Pergilah! Aku mohon!" pinta pendeta muda tersebut, "ayo, cepat!" pintanya melindungi Lalita yang merangkak ke belakang.


Sementara para pria bertopeng begitu bahagia dengan apa yang mereka dapatkan hari itu. Mereka tak menyangka akan membunuh semua Nostra.


"Bunuh mereka semua!" teriak pria bertopeng memberi perintah, ia tak ingin membuang-buang waktu.


"Tutup pintu Gereja! Jangan biarkan seorang pun lolos!" teriaknya, ia menyeringai bahagia.


"Akhirnya … aku bisa membunuh pasangan JJ hahaha, kau tahu … aku juga membunuh adikmu Joey.


"Kau tahu … kala dia meregang nyawa. Apa yang diucapkannya, 'Jodie, maafkan aku … maafkan, aku!' hahaha, manis sekali!  


"Ah, Joey yang malang. Dia percaya diri sekali! Jika dia merasa bisa membunuhku! Bodoh sekali!" umpat pria bertopeng, ia tersenyum di balik topeng kaus samar berwarna hitam untuk menyembunyikan wajah.


"Siapa kau!? Aku ingin tahu, siapa kau? Sebelum aku atau kau yang mati!" ujar Jodie dingin.


"Hahaha! Apakah itu perlu? Lihatlah, lihat siapa aku?!" teriaknya, ia membuka topengnya.


"Alec Dove! Bajingan! Cuih, jadi kaulah pengkhianat itu!" umpat Jodie. 


"Bunuh jemaat Gereja! Jangan sisakan seorang pun!" teriak Alec Dove, "nikmatilah, orang-orang miskin yang berusaha untuk kau selamatkan itu mati di depan matamu!" ejek Alec Dove.


Dor! Dor! 


Tembakan beruntun membunuh semua orang, "Tidak! Berhenti Bangsat! Bunuh aku saja!" teriak Jodie murka, ia meletakkan mayat John di lantai.


Jodie berusaha berdiri dan mencari senjata, ia melihat semua orang menjerit dan meregang nyawa ditembak dan dibantai di depan matanya tanpa ia bisa memberikan pertolongan pada mereka semua. 


Darah mengalir memercik di seluruh ruangan Gereja dan bunga-bunga juga kain pelapis bangku yang berwarna putih. Semuanya kini menjadi berwarna merah darah.


Dor! Dor!


Jodie bergulingan untuk mencari sesuatu yang bisa di lemparkan pada musuhnya tetapi, rumah Tuhan bersih dari hal yang mengerikan. 

__ADS_1


Namun, para bajingan yang tak memiliki hati nurani itu sedikit pun tak memiliki hati untuk tidak membunuh di rumah Tuhan.


"Jodie!" teriak Myra, ia melemparkan sepucuk senjata pada Jodie yang langsung menangkapnya.


Dor! Dor!


Jodie langsung menembak musuh, "Aaa!" teriak Jodie kala tangan dan pahanya tertembak tetapi, ia tak peduli ia terus berlari membunuh semua orang dengan amarah, ia sudah di ambang kemarahan yang mengerikan.


Pendeta Joseph sudah tewas Myra pun sudah terluka, Lalita sudah  mencari bantuan ke luar gereja dari pintu belakang, berlari dengan baju pengantin dan derai air mata di jalanan. Mimpi indahnya telah buyar seketika. pernikahan indahnya menjadi pernikahan berdarah di sepanjang abad.


***


Sementara  di dalam Gereja semakin kacau teriakan dan jeritan kematian mewarnai. Jodie merasa segalanya semakin gila dan seakan dirinya berada di ambang kematian.


"Jodie …," lirih Myra, ia melihat tembakan mengenai tubuh Jodie tetapi, ia terus bergerak tak peduli lagi dengan banyak hal.


Jodie bagaikan banteng yang mengamuk, mengambil salah satu senjata musuhnya dan menembak semua musuh. 


"Aku harus membunuhmu, Alec Dove! Aku akan membunuhmu!" gumam Jodie terus berjalan, ia tak merasakan kesakitan lagi ia hanya ingin mengambil nyawa Alec Dove dan semua kaki tangannya.


"Jika harus mati! Kita harus mati di sini semuanya!" lirih Jodie. 


"Bagaimana bisa Jodie masih bisa bertahan?" umpat Alec Dove tidak percaya, "sial! Mengapa sulit membunuh Jodie Stanford Nostra? Bajingan! Papito akan marah jika aku tidak berhasil!" umpat batinnya mulai kecut dan takut.


"Bajingan! Aku akan membunuhmu, Jodie!" teriak Alec Dove, ia ingin menembak kepala Jodie tetapi pelurunya habis.


"Si-sial!" umpatnya, ia mundur ke belakang berusaha untuk mencari sepucuk senjata tetapi tak ada.


Alec menarik sangkurnya dan melemparkan pada Jodie yang langsung menangkap sangkur itu dan melemparkan kembali pada Alec yang langsung menancap di pahanya.


"Aaa! Bajingan kau, Jodie!" teriak Alec Dove, darah dan kesakitan di paha kala sangkur menembus ke belakang paha belakang sehingga ia sulit untuk mencabutnya.


"Bajingan … kau Bangsat! Kau telah membunuh John dan Joey! Kau telah membunuh semua orang tak berdosa ini! Jika hanya aku! Kau cukup membunuh dan mencariku bangsat!" teriak Jodie, ia murka.


Jodie berjalan tertatih dengan luka di sekujur tubuh, ia sudah mandi darahnya dan John juga amarah serta dendam yang akan dibawa hingga kematian.


"Kau … kau harus mampus, Bangsat!" geram Jodie, ia terus berjalan mengejar pria yang ingin kabur tersebut ke arah pintu.


Alec Dove menyeret kakinya berlari terpincang-pincang ke arah pintu untuk membuka pintu tetapi anak buahnya telah membuang kunci Gereja entah ke mana.

__ADS_1


"Berikan aku kunci, Bangsat!" teriak Alec Dove memohon.


Dor!


"Aaa!" teriak Alec Dove, ia jatuh tepat di daun pintu bersandar di sana.


Kala lututnya yang masih tak terluka sudah ditembak Jodie yang terus berjalan menyeret kakinya, darah terus membasahi lantai koridor di antara bangku meninggalkan bercak merah di sana.


Dor!


"Kau tidak akan semudah itu mati!" geram Jodie.


Jodie menembak punggung Alec Dove hingga terjerembab jatuh terduduk bersandar pada daun pintu yang tertutup, saat ia mencapai pintu Gereja. 


Alec Dove membalikkan tubuhnya, ia tak lagi bisa bergerak.


Dor! 


"Kau telah merusak kebahagiaan John dan Lalita!


"Kau … kau telah membunuh semua orang baik ini. Bahkan, mereka tidak tahu menahu soal aku dan John!" ujar Jodie.


"Jo-jodie … maafkan aku! Maafkan aku, Jodie!" isak tangis Alec Dove memohon pada Jodie yang telah berhenti hanya semeter darinya.


"Jika maaf yang kau ucapkan, bisa mengembalikan Joey, John, dan semua orang yang kau bantai ini ... hanya karena diriku! Aku akan memaafkanmu. 


"Tetapi, terlambat Dove! Kau hanyalah sampah dan pengkhianatan! Kau penjilat bermuka dua! Kau munafik! Katakan! Katakan siapa di balik semua ini?" teriak Jodie murka.


Dor! 


"Aaa! Ampuni aku Jodie! Papito! Papito yang menyuruhku! Papito … Jodie. Aku mohon, bebaskan aku!" erang Alec Dove.


"Kau pengecut yang hina! Kau begitu menikmati mengambil nyawa orang lain! Tapi, kau tidak rela mati!" umpat Jodie.


Dor! Dor! Dor!


Jodie menembak Alec Dove dengan laras panjang yang diambil dari lantai hingga runtunan peluru menembus seluruh tubuh pria tersebut hingga tak bersisa meregang nyawa dengan mengenaskan hingga separuh tubuh Alec Dove ke luar dari pintu yang jebol akibat tembakan di dada dan kepalanya.


Bruk!

__ADS_1


"Jodie!" teriak Myra, ia merangkak ingin menolong Jodie yang ambruk ke lantai menatap Myra dan John.


"Maafkan aku … Myra!" lirih John menutup mata.


__ADS_2