
Dwinov langsung menarik suatu tombol di bawah dasbor dan wiper langsung memuntahkan air gas mata yang langsung menyemprot ke semua orang yang ada di depan mobil membuat semua orang langsung minggir.
"Rasain, Kalian! Berani-beraninya berbuat curang!" omel Dwinov kesal.
Dwinov tidak menyia-nyiakan kesempatan ia langsung tancap gas meninggalkan kekacauan. Dor! Dor!
Beberapa orang yang tak dikenal langsung menembak ke arah mobil Dwinov.
Namun, Dwinov santai saja. Ia semakin kencang melajukan mobil meninggalkan tempat kejadian karnaval. Semua orang menarik napas lega.
"Ini gila! Apa yang sebenarnya terjadi?" Dean berbisik, wajah dinginnya semakin mengerikan.
Jeff dan Dean semakin curiga jika ada yang berniat ingin membunuh mereka semua. Keduanya berpikir dan mencari jawaban di dalam diam mereka.
"Aku yakin ada yang sengaja ingin membunuh kita," ujar Jeff memecah kesunyian.
"Tapi, siapa? Apakah mungkin … tidak mungkin, papa akan setega itu? Bukankah, dia membesarkan kita dengan penuh kasih sayang?" tanya Dwinov.
"Sadar nggak sih? Jika apa yang aku katakan kemarin malam? Jika kau bukan putra Jovink!" teriak Dean kesal, "mengapa kau selalu saja masih beranggapan jika Jovink adalah ayahmu?" ketus Dean kesal.
Deg!
"Apa maksud ucapanmu, jika Dwinov bukan putra Jovink?" ucap Lorenzo, ia merasa bingung.
"Dari mana kalian mengetahui semua rahasia itu?!" ujar Lorenzo, ia tidak menyangka jika semua rahasia itu pada akhirnya terungkap juga.
Namun, Lorenzo tidak mengerti jika Dwinov bukan putra Jovink. Ia dengan jelas menolong Miranda melahirkan Dwinov dan membawa Dwinov ke pelukan Jovink.
Bahkan, Dwinov sendiri yang memberi nama dan menjadi ayah baptisnya.
"Aku mengambil sampel dari darah dan rambut Dwinov, milikku, dan Jeff." Dean menceritakan penemuannya selain Miranda, ia tak ingin menceritakan wanita itu.
"Jadi, itu benar Lorenzo? Katakan semua kebenaran ini? Aku tidak ingin menduga-duga!" ujar Dean dingin.
"Ya, kau yang masih tersisa Lorenzo. Seakangkatanmu di La Costra Nostra sudah meninggal semua, apa yang sebenarnya terjadi?" teriak Dwinov.
"Lorenzo, kami sangat menghormatimu. Paling tidak, kau dan Pedrosa selalu saja melindungi kami dari kecil, katakan yang sejujurnya!" timpal Jeff, ia dan semua orang memandang ke arah Lorenzo yang diam.
"Aku tidak tahu … Dwinov adalah putra Jovink yang asli dan kau adalah putra Joey, bagaimana mungkin kalian bisa tertukar?
__ADS_1
"Aku bukan putra Joey! Dwinov yang putra Joey. Aku yang tidak tahu putra siapa?" teriak Dean.
"Apa? Bagaimana mungkin, setahun kau lahir baru Dwinov lahir! Aku yang menolong Dwinov dan kau. Kala Miranda melahirkan kalian berdua. Aku juga yang membawa kalian dari Miranda!" ujar Lorenzo.
"Apa? Miranda!" ketus Jeff, Dwinov, dan Dean.
"Apa maksudmu Lorenzo? Kami putra dari Miranda?" tanya Dean.
Jeff semakin bingung, ia hanya memiliki gen yang sama dengan Miranda dan ia sendiri tidak tahu ayahnya siapa.
"Lorenzo, ceritakan kebenaran ini pada kami!" teriak ketiganya.
"Baiklah, Aaa!" teriak Lorenzo kesakitan, ia merasa jika sesuatu mulai menggerogoti jiwanya.
"Lorenzo! Lorenzo! Apa yang terjadi?" teriak Jeff dan semua orang.
Loly langsung memeriksa dan melihat sesuatu berkedip di bawah tangan Lorenzo, ia langsung mengambil tas tangannya meraih pisau lipat.
"Apa yang ingin, kau lakukan Kakak Ipar?" tanya Dwinov bingung.
"Tenanglah, Dwinov! Apakah kau mau dia mati meledak dan kita semua mati!" teriak Loly.
Loly langsung mengiris pergelangan tangan Lorenzo dan mengambil sesuatu chip di sana.
"Dwinov buka jendela!" perintah Loly, ia langsung melemparkan chip tersebut.
Dua! Duar!
Suara ledakan bergema. Semua orang terdiam, Dwinov kembali menutup jendela dan Loly mengobati luka Lorenzo.
"Untung saja, mereka menanam chip ini tidak terlalu dalam dan di tempat yang tidak sulit dijangkau. Jika demikian, aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan," ujar Loly.
"Ya, Tuhan! Bagaimana dengan Lorenzo!" ujar Jeff, ia menyentuh kening Lorenzo yang lemah.
"Chip ini sudah lama ditanam di tubuhnya, aku rasa kita harus mencari tempat untuk merawatnya Jeff, " bisik loly pelan. Ia menarik gaun bagian rok bawahnya dan membalut luka tersebut.
"Aku tidak memiliki obat-obatan! Carilah apotik dan kita harus berbelanja jika tidak aku tidak tahu, apakah Lorenzo akan selamat!" ujar Loly panik.
"Tenanglah Loly, aku akan mencari secepatnya apa yang kau butuhkan! Dwinov! Kerahkan semua kemampuanmu! Dean cari di Google apa saja jenis obat yang dibutuhkan!" terikat Jeff, ia mengangkat tangan Lorenzo lebih tinggi dari jantungnya.
__ADS_1
Dwinov langsung membuka GPS di layar mobil dan Dean melakukan apa yang diperintahkan. Mobil melaju dengan kencang tepat di depan sebuah apotek Dean melompat turun dengan cepat membeli apa pun yang dibutuhkan.
Jeff dan Dwinov mengeluarkan senjata jika ada sesuatu yang akan membunuh Dean dan mereka semua. Loly masih memegang tangan Lorenzo.
Dean kembali masuk ke dalam mobil dan mobil melesat cepat, "Jeff, sebaiknya kita membawa ke rumahmu!" ujar Dwinov, ia tak tahu harus membawa Lorenzo ke mana.
"Ya!" balas Jeff tak peduli ke mana Dwinov akan membawa mereka.
Dwinov langsung melesat membawa mobil ke Puerto Rico ke pantai Fajardo. Dean memberikan semua keperluan pengobatan kepada Loly, dan Jeff langsung memegang tangan Lorenzo.
Loly melakukan penyuntikan anti tetanus dan denyut, ia pun menjahit semua luka, Dean memegang kantong infus. Di tengah kepanikan tersebut dua buah mobil langsung menyergap mereka dengan memberondongkan senjata api.
Dor! Dor!
"Bajingan! Kalian menggores mobilku!" umpat Dwinov murka, ia langsung menekan tombol hingga sebuah roket kecil melesat meledakkan salah satu mobil hingga ledakan mengerikan terjadi menghalangi mobil yang ingin mengejar mereka.
"Dasar, sial! Mimpi apa sih, aku?" umpat Dwinov kesal, ia terus melesat membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Dwinov! Bagaimana jika polisi mengejar dan menilang kita?" teriak Dean khawatir.
"Tenang, saja! Aku sudah memasukkan plat mobilku ini dan mobil polisi tidak akan sanggup mengejar kita, tenanglah! Aku ingin kita tiba di Fajardo hanya 1 jam! Aku harap kalian tidak muntah di mobilku!
"Kakak Ipar! Usahakan Lorenzo memakai sabuk pengaman!" terika Dwinov.
Jeff langsung memasang sabuk pengaman, pada Lorenzo, Loly, dan dirinya, begitu juga Dean. Mereka mengingat jika ketiganya pernah mengikuti balapan liar yang dikelola oleh Dwinov di San Fransisco.
Dean dan Jeff muntah kala keduanya satu mobil dengan Dwinov. Mereka tidak ingin itu terjadi, Jeff mengamankan botol infus Lorenzo dan tangannya agar tetap aman.
"Apakah kalian siap?" aba-aba Dwinov, ia ingin menggunakan bubuk haram yang diambilnya dari selipan lintingan kemejanya.
"Dwinov! Jangan gunakan itu! Kau bisa membunuh kami!" teriak Jeff.
Dwinov hanya nyengir dan mengurungkan niatnya, "Baiklah! Baiklah! Mari kita menuju neraka!" ujarnya langsung menarik persneling dan memasukkan gigi dan langsung menginjak gas dengan gila.
"Aaa!" teriak semua orang.
Loly menggenggam tangan Jeff dan membaringkan kepalanya di dalam dekapan Jeff. Lorenzo yang pingsan hanya diam tak bergeming.
Mobil terus melesat dengan kecepatan yang mengerikan.
__ADS_1