Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Adik-Kakak pendiri La Costra Nostra


__ADS_3

Hening sesaat, semua bingung harus bagaimana. Mereka berempat hanya saling pandang dan diam menatap wajah Miranda yang cantik. Dean, Jeff, dan Dwinov bingung harus mengatakan apa. 


Ketiganya hanya saling pandang dan kembali menatap Miranda. Jantung mereka masih saja berdegup dengan kencang, merasakan kerinduan kasih sayang seorang ibu. Sebaliknya Miranda pun merasa bingung harus menghadapi kejutan tak terduga tersebut.


"Maaf, apakah Nyonya sudah makan? Bolehkah kami mengetahui nama Nyonya?" ujar Jeff, ia ingin memecah kesunyian yang ada.


Walaupun dirinya sudah tahu siapa nama wanita tersebut, "Oh, saya sudah makan. Terima kasih, namaku Miranda." Miranda menjawab lirih dan masih menatap ketiganya dengan nanar.


"Apakah mereka anak-anakku?" batin Miranda, ia merasa rindu ingin memeluk mereka. 


"Um, Nyonya … benarkah? Maksud kami, apakah benar nyonya pernah melahirkan tiga orang anak?" ujar Dwinov, "maaf, kami hanya penasaran. Aku, Dean, dan Jeff tidak memiliki ibu. 


"Maksudku kami tidak mengenali siapa ibu kami," ralat Dwinov.


"Apakah ayah kalian mengatakan, siapa ibu kalian?" tanya Miranda, menatap Dwinov dan Dean. 


Keduanya menggelengkan kepala, "Ibu kami sudah meninggal! Itu yang sering dikatakan papa," ujar Dwinov dan Dean.


"Heh! Jovink dan Joey pasti malu, jika mereka mengatakan yang sesungguhnya. Betapa biadabnya mereka berdua," ujar Miranda, ia begitu membenci Joey dan Jovink.


"Maaf, kalau boleh kami tahu. Ada rahasia, apa sebenarnya?" tanya Dwinov.


"Sepertinya Nyonya begitu membenci Papa kami," ucap Dean, ia merasa hatinya sakit.


  


"Jika hanya karena papa maka,  Miranda tidak mau mengakui kami sebagai anak. Itu sangat menyakitkan!" batin Dean dan Dwinov.


Keduanya merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa tetapi, mereka ingin mengetahui apa latar belakang sehingga Miranda bisa memiliki tiga orang anak dari pendiri La Costra Nostra.


Miranda menatap ketiganya, seketika air mata mengambang di pelupuk mata, "Kisah ini sungguh memalukan dan aib bagiku dan ketiganya. Andaikan aku bisa menghapus semua jejak masa lalu, aku pasti akan menghapus semua itu …," lirih Miranda getir.


"La Costra Nostra dibangun oleh 3 pria tampan mirip kalian, yang tidak lain adalah adik-kakak. Aku tidak tahu, mengapa Joey dan Jovink berubah? Awalnya mereka menyayangiku sebagai saudara ipar mereka.


"Semua ini … karena dendam, cinta, dan pengkhianatan … tapi …." 


***


Kenangan 31 tahun silam ….


Dor! Dor!


Suara tembakan dan kebakaran mewarnai kota kecil di salah satu kota Tijuana di tengah malam, 


"Tolong! Tolong!" teriak seorang gadis muda bergema berlari ke arah sekolah dasar.

__ADS_1


Tok! Tok!


"Miranda! Miranda!" teriaknya.


Krieet! Bruk!


"Lily! Ada apa denganmu, Lily?" tanya Miranda muda, ia memegang tubuh Lily yang sudah tertembak di punggung dan darah di sekujur tubuh dan kakinya.


"Lily! Siapa yang melakukan semua ini?" teriak Miranda murka.


Miranda merasa jika Lily sudah diperkosa, "Pedrito Montes! Pergilah, Miranda!" jawab Lily sebelum menghembuskan napas terakhirnya.


"Lily!" teriak Miranda, ia mengguncang tubuh Lily yang tak bernyawa lagi.


Air mata berderai, Miranda tidak menyadari jika teman karib akan meregang nyawa di tangannya. Suara tembakan masih bergema dan Miranda meletakkan tubuh Lily dan mengambil senjata api menyelipkan di balik rok selututnya yang berbentuk A, ia memakai sepatu boot dan berlari keluar.


"Jahanam! Kalian telah membunuh, Lily-ku!" umpat Miranda Fernandez murka.


Miranda bukan berlari menyelamatkan dirinya malah berlari ke istal kuda dan langsung melesat menaiki kuda menuju ke arah kekacauan.


Dor! Dor!


Miranda langsung menembak musuh dengan senjata api laras panjang membunuh mafia Tijuana yaitu Pedrito Montes yang kejam. 


"Aaa!" teriak Miranda kala bahunya terluka.


Namun, ia tak peduli. Miranda mengarahkan senapannya membunuh pria tersebut hingga jatuh dari jendela tuan Cedrik.


"Bajingan! Bangsat itu pasti sudah membunuh Tuan dan memperkosa Nyonya Cedrik yang cantik!" umpat Miranda kesal.


Ia semakin membabi buta membunuh musuhnya. Akan tetapi, sebuah **** langsung mengurung tubuhnya dan menyeretnya jatuh.


"Hahaha, lihatlah! Wanita muda itu telah jatuh! Ayo, tangkap dia! Aku ingin tahu siapa dia!" teriak Pedrito Montes tertawa dari sebuah bar.


Kuda yang ditunggangi seorang pria langsung menyeret tubuh Miranda di tanah, luka karena kerikil dan baru telah menggores tubuh dan darah merembes membasahi baju Miranda.


"Bawa wanita itu!" ucap Pedrito Montes.


Seseorang langsung menyeret Miranda dan mendorongnya jatuh ke lantai papan di bar. Pedrito berjalan mendekati Miranda, mencengkram rambutnya yang hitam legam.


"Wanita yang sangat menawan!" ucap Pedrito, ia langsung ingin mendaratkan ciuman di bibir Miranda 


Duk!


Miranda langsung menghantamkan kepala kepada Montes, "Enyah kau, Bajingan! Jangan pernah menyentuhku!" hardik Miranda murka.

__ADS_1


Plak! Plak!


Sebuah tamparan mendarat di wajah mulus Miranda hingga darah merembes di sudut bibirnya.


Bawa wanita ini ke kamarku! Aku akan menikmatinya!" perintah Pedrito murka.


Dor! Dor!


Dua pria anak buah Pedrito terkapar tewas di sisi Miranda. Tiga orang pria tampan muncul dengan sekelompok orang yang sudah melumpuhkan anak buah Pedrito dengan senjata di bahu mereka.


"Tiga Nostra! Apa yang kalian lakukan di sini? Ini masih wilayah kekuasaan Montes!" teriak Pedrito.


"Pedrito, seluruh Meksiko adalah kekuasaan La Costra Nostra termasuk Tijuana. Aku sudah mendengar sepak terjang kamu yang meresahkan warga. 


"Maaf Nona, kami datang terlambat!" ucap Jodie sebagai ketua La Costra Nostra dan yang paling tua dari kedua pria di kanan-kirinya.


Miranda menerima uluran tangan Jodie, hatinya bergetar. Ia hanya memandang Jodie dengan penuh penasaran dan minat.


"Bajingan kau, Jodie! Aku akan membunuhmu!" teriak Pedrito.


Dor! Dor!


Pedrito melayangkan tembakan tetapi kalah cepat, Jodie sudah menembak Pedrito di bagian dada hingga ambruk.


"Mulai saat ini, Tijuana di bawah kekuasaan La Costra Nostra. Siapa yang membangkang aku akan membunuhnya? Aku ingin kepala distrik melaporkan keadaan kepadaku," ujar Jodie, ia menatap ke arah Pedrito dengan bengis dan dingin.


"Bawa dan rawat dia! Ingat, Pedrito! Jangan pernah menyentuh warga Tijuana lagi. Jika kau ingin selamat!" ancam Jodie.


Anak buah Pedrito yang tersisa langsung membawanya pergi. Semua orang sedikit lega, para dokter langsung mengobati yang terluka dan mengubur yang tewas.


"Apakah Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Jodie, ia langsung mengeluarkan tas kedokterannya dan merawat luka Miranda.


"Saya, baik-baik saja, Tuan!" balas Miranda, ia masih takjub dengan wajah tampan Jodie dan kebaikannya di seluruh Meksiko bersama kedua adiknya.


"Maaf, kami terlambat. Tuan Cedrik terlambat menelepon kami … dan perjalan yang memakan waktu yang lumayan jauh. Untung Joey pintar mengendarai mobil secepat mungkin agar kami tiba di sini," ucap Jodie.


"Terima kasih," balas Miranda, ia sudah kehilangan banyak sahabat wanita dan pria di malam naas tersebut.


Jodie mengobati luka Miranda dan memperbannya. Tok! Tok!


Seorang pria masuk yang tak lain adalah adik Jodie yaitu : Joey. 


"Jodie, semua sudah diobati dan dikebumikan. Akan tetapi, kerusakan terlalu banyak," lapor Joey, ia masih menatap ke arah Miranda. 


Joey merasa jatuh cinta secepat kilat pada kecantikan Miranda, hingga semua malapetaka terjadi begitu juga dengan Jovink. Ketiganya jatuh cinta pada seorang wanita yang sangat cantik dan menawan yaitu : Miranda Fernandez.

__ADS_1


__ADS_2