Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Kebahagiaan John dan Lalita


__ADS_3

Hingga suatu senja pada tahun 2000 John menemui Jodie, "Ada apa? Mengapa kamu bingung begitu?" tanya Jodie menatap sahabat kecilnya.


Jodie merasa jika John ingin mengatakan sesuatu padanya meskipun John sudah berulang kali mondar-mandir di depannya. Jodie mengernyitkan kening.


"John, kamu mau bicara apa? Apa yang mengganggumu?" tanya Jodie meletakkan koran di meja di bawah pohon apel rindang di depan rumah Myra.


"Um, memang kamu tidak ingin menikah lagi, Jo!" tanya John, ia selalu memanggil sebutan "Jo" jika hanya mereka berdua.


"Hm, tidak! Cintaku sudah mati bersama dengan Miranda …," lirih Jodie, ia sudah mencoba untuk dekat dengan wanita lain. Bahkan, Myra sudah menjodohkan Jodie dengan banyak wanita.


Namun, tak satu pun yang berhasil menggetarkan jiwa dan jantungnya seperti Miranda. Jodie menatap ke arah John, ia paham apa yang ingin dikatakan oleh John.


"Kamu mau menikahi Lalita? Menikahlah!" ucap Jodie tersenyum, "aku bahagia jika kau melakukan semua itu, John!" ujar Jodie bangga.


Jodie tersenyum dan menatap sahabatnya yang juga menatap ke arahnya, John duduk di bangku tepat di depan Jodie.


"Ya, kau tahu! Lalita sudah hamil 3 bulan! Aku rasa aku sudah cukup punya banyak tabungan untuk masa depan anak kami kelak," ujar John, ia merasa sudah waktunya berumah tangga. 


Apalagi, ia melihat jika Jodie sama sekali tak tertarik lagi di bidang kekuasaan untuk kembali menjadi ketua mafia, John melihat jika Jodie lebih fokus untuk menolong orang menjadi relawan.


"John, jangan khawatir! Anakmu adalah anakku juga, aku akan membantu membesarkannya. Masalah biaya anakmu. Jangan kau pikirkan!" balas Jodie, ia mengingat anak yang tak pernah bisa dilihat dan dipeluknya.


"Terima kasih, Jo! Um, besok aku ingin menikahi Lalita. Bagaimana menurutmu? Aku sudah bicara pada Myra," ujarnya.


"Aku mendukungmu! Apakah kau ingin menggunakan cincin pernikahan yang ingin aku berikan pada Miranda, John?" tanya Jodie, ia merasa tak akan pernah menggunakan semua itu lagi.


"Tidak usah! Simpan saja, Jo. Siapa tahu suatu saat kamu membutuhkannya," ujar John, ia merasa yakin untuk itu jika suatu saat nanti Jodie akan menemukan pengganti Miranda.


Jodie diam, ia tak yakin akan hal itu tetapi, ia pun tak memaksa. Jodie hanya tersenyum merangkul sahabatnya.


"Selamat menempuh hidup baru John. Aku kira kau dan Lalita tidak akan pernah menikah tapi, syukurlah! Pada akhirnya kalian pun menikah! Aku ikut senang untuk semua kebahagiaan kamu dan Lalita," ujar Jodie tersenyum dengan bangga. 


"Terima kasih, Jo!" ujar John, keduanya berangkulan.


Keesokan paginya …. 


Pernikahan Lalita Banderas dan Johny Campbell pun diadakan di Gereja kecil di sudut Denver. Semua Jiran tetangga dan orang yang pernah ditolong oleh Myra dan Lalita menyaksikan pernikahan suci tersebut.

__ADS_1


John terlihat tampan dengan gaun putihnya begitu juga dengan Lalita, yang meminta Tuan Parker sebagai ayah baptisnya untuk mengantarkan dirinya ke altar. 


Jodie sebagai pendamping mempelai pria begitu bahagia menyaksikan kebahagiaan pasangan tersebut, ia dan Myra menyambut semua keluarga. Myra memperkenalkan Jodie sebagai putra angkatnya.


Di tengah acara yang penuh khidmat tersebut, yang dipenuhi kebahagiaan semua orang bersyukur kala pemberkatan pernikahan pasangan itu telah terjadi.


Apalagi, saat John mencium Lalita di depan semua orang. Riuh tepuk tangan dan siulan bergema, pasangan pengantin begitu malu-malu bahagia.


Jodie tersenyum mengingat Miranda, bayangan Miranda kembali menari di pelupuk mata. Jodie hanya mampu menghela napas.


"Miranda … cintaku … yang hilang," batin Jodie getir.


Namun, kebahagiaan tak pernah berlangsung lama, begitu juga sebaliknya. Jodie, Myra, dan Lalita tak menyangka jika itulah terakhir kalinya mereka melihat John dan semua orang yang mereka sayangi di sudut jalan kecil kota Denver.


Brak! 


Pintu Gereja terjeplak akibat tendangan seseorang. Semua orang terkejut langsung menoleh ke pintu gereja, melihat segerombolan orang memakai topeng membawa senjata Laras panjang langsung menyeruak masuk.


"Hei! Ini rumah Tuhan! Apa yang kalian inginkan?" teriak Tuan Parker.


Dor!


"George!" teriak Nyonya Parker berlari ke arah Parker.


Dor!


Nyonya Parker jatuh memeluk suaminya dan meninggal.


"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Pendeta Joseph, ia berusaha untuk mempertahankan Gereja.


Semua anak-anak dan wanita meringkuk saling memeluk anak-anak mereka, ketakutan dengan apa yang mereka lihat.


"Berhenti, kalian! Apa yang kalian lakukan?" teriak Pendeta Joseph.


Dor!


Pria bertopeng menembak kaki pendeta Joseph, "Aaa!" Pendeta Joseph langsung jatuh.

__ADS_1


"Bajingan! Siapa kalian!" teriak Jodie, ia tak mengerti apa yang mereka inginkan. 


Jodie mulai menyadari jika semua itu berkaitan dengannya dan John, ia tak mau diam lagi. Ia mengira jika ada salah satu umat Gereja yang mereka cari. Selama tinggal di sudut Denver tak ada seorang pun yang tahu akan masa lalu mereka selain Myra dan Lalita.


Sehingga John dan Jodie merasa tak memiliki musuh dan mereka tidak pernah bersinggungan dengan siapa pun.  


"Bajingan! Apakah semua orang ini adalah musuhku yang kembali?" batin Jodie mulai menyadari banyak hal.


"Hahaha, aku tidak menyangka jika orang yang selama ini menolong fakir miskin adalah kumpulan dari Jodie Nostra dan Johnny Campbell.


"Well! Well! Aku harap kebahagiaan ini akan abadi! Hahaha! Hm, tapi, sayang sekali! Hari ini kalian semua harus mampus!" ujar pria di depan yang memakai topeng.


"Siapa Kalian?" hardik Jodie, "sial! Aku tidak membawa sepucuk senjata pun!" umpat batin Jodie, untuk pertama kalinya ia berpisah dengan pistolnya dan kemalangan sudah ada di depan mata.


"Hahaha, Jodie Nostra dan John Campbell! Aku tidak berhasil membunuh kalian 9 tahun yang lalu, sekaranglah saatnya engkau mampus!" hardik seseorang.


"Jika kau hanya menginginkan diriku! Ayo, kita keluar! Biarkan semua orang yang berada di sini bebas. Siapa pun dirimu? Ayo!" ajak Jodie, ia semakin cemas dengan banyaknya pria bertopeng yang membawa senjata.


Jodie melihat anak-anak dan para wanita sudah ketakutan di sudut dinding berharap dinding mampu menelan tubuh mereka untuk menyelamatkan mereka semua.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Jodie cemas, ia merasa suatu kemalangan akan terjadi.


Jodie masih berpikir dan mencari celah untuk merebut senjata dari salah satu musuh. Jodie mulai bergerak berjalan ke arah musuhnya.


Dor! Dor!


"Jo!" teriak John, ia berlari ke arah Jodie.


Pria bertopeng tersebut langsung menembak ke arah Jodie tetapi, John sudah mendorong dan memeluk Jodie hingga berondongan tembakan mendarat di punggung John.


"Johnny!" teriak Lalita, ia ingin mengejar suaminya tetapi ia menyadari sesuatu. 


"Aku harus mencari bantuan!" batin Lalita gemetar jatuh terduduk.


John terjatuh di dalam dekapan Jodie yang memeluknya dengan bersimbah darah, "John …," lirih Jodie, ia merasa dunianya gelap seketika.


"John!" ulang Jodie, ia tak menyangka sahabat semasa kecil selama 25 tahun selalu bersama kini tewas di pelukannya. 

__ADS_1


Darah telah membasahi pakaian pengantin John berwarna putih dan  milik Jodie. John rela menjadi tameng bagi Jodie hingga akhir hidupnya.


"Kau harus hidup, Jo! Tolong, jaga istri dan anakku, Jo!" ujar John sebelum menghembuskan napas dan tersenyum.


__ADS_2