
***
Masa kini ….
Semua orang terperanjat, Loly menangis tersedu memeluk Jodie. Loly tak menyangka jika pernikahan dan kelahirannya begitu menyedihkan. Ia tak pernah tahu sebuah kisah tragis di balik semua kepahitannya.
"Papa …," lirih Loly, ia tak pernah mendengar kisah tragis itu.
Bahkan, nenek dan Jodie serta semua orang di sudut Denver tidak pernah membicarakan mengenai tragedi Gereja Kesedihan tersebut.
Myra dan Jodie membawanya berziarah ke belakang gereja dan setiap waktu Loly hanya melihat jika Jodie sering menghabiskan minuman keras dan sore hanya di makam ayahnya.
Kini, Loly sadari beban dan kesedihan Jodie yang terus menggerogoti jiwa selama 20 tahun terakhir ini. Namun, ia pun tak menyangka jika seluruh warga di sudut kota tidak pernah membuka rahasia siapa Jodie Nostra tersebut.
Mereka hanya menyebutnya menjadi, "Jodie Crown Sang Penolong!".
Loly masih menangis di pelukan Jodie yang mencium puncak kepala putrinya warisan yang tak bisa digantikan oleh apa pun yang masih membuatnya untuk bertahan hidup dan berjuang dan terus kembali ke sudut Denver yang penuh memori kelam.
"Maafkan aku, Sayang … semua ini karena sebuah pengkhianatan, kedudukan, dan nama besar! Maafkan aku!" lirih Jodie, ia membelai kepala Loly.
Gadis kecil warisan John dan Lalita yang cantik. Kini, telah menjadi menantunya sendiri.
"Tuhan begitu mengerikan mempermainkan kehidupan hamba-Nya. Walaupun mungkin kebahagiaan ada," lirih Jodie, ia menyeka air mata Loly yang tertumpah.
"Jangan menangis, ingat apa yang aku katakan saat kau menikah dengan Jeff? Kau adalah Lyodra Stanford Nostra Campbell yang hebat dan kuat!
"Myra dan Nenekmu adalah wanita Banderas yang hebat, Loly! Aku bangga padamu, Nak. Kau tak pernah mengeluh walaupun sendirian sejak 7 tahun di rumah itu!" lirih Jodie.
Jodie mengingat ia selalu meninggalkan Loly untuk memberikan pertolongan pada orang-orang sebagai balasan pada Myra dan Lalita yang hebat dan bersahaja hingga kematian kedua wanita cantik tersebut.
"Setelah insiden itu! Aku koma hampir 2 tahun, Myra dan Lalita mengurus dan menyembunyikanku dan mengatakan pada semua polisi, 'Jika Jodie Nostra telah tewas.' begitu juga seluruh warga sudut kota Denver yang hebat!
__ADS_1
"Mereka memakamkan penggantiku dengan pria lain bersama John, pendeta Joseph, dan seluruh orang yang tewas di gereja, tepat di samping gereja St. Joseph di sudut kota.
"Hingga kini, gereja itu tak lagi digunakan dan dijuluki Gereja Kesedihan. Aku sadar dan melihatmu sudah berumur 2 tahun, saat kau 5 tahun, Lalita sakit-sakitan, ia begitu mencintai John hingga ia pun meninggal.
"Lalita menitipkanmu padaku, saat kau berumur 7 tahun Myra pun meninggal karena diabetes dan usianya yang sudah 78 tahun. Dua wanita yang hebat! Aku meneruskan perjuangannya untuk menjadi dokter keliling.
"Maafkan aku, yang tak sempurna menjadi ayah dan ibu bagimu, Nak!" lirih Jodie berlinang air mata.
"Ayah, kau yang terbaik untukku!" jawab Loly, ia menggelengkan kepalanya.
Kini, Loly sadari semua latihan keras yang diberikan oleh Jodie adalah ketakutannya sendiri jika ia tewas dan Loly tak bisa menjaga diri. Bahkan, Jodie mewarisi semua tampuk kekuasaan La Costra Nostra di bank Swiss semua tersimpan di sana.
"Kau yang terbaik!" lirih Loly, semua orang menangis termasuk Miranda.
Miranda tak menyangka jika mereka mengalami nasib yang begitu tragis dan mengerikan, bukan hanya dirinya saja yang mengalami nasib tragis tapi semua orang yang disayanginya.
"Sudahlah, sekarang kita sudah berkumpul lagi. Sekarang kita harus lebih bahagia," ujar Jeff, ia memeluk Loly dan Jodie.
"Ya, kita harus bahagia dan berbenah diri." Lorenzo menimpali dan tersenyum, "aku rasa, aku sudah boleh pulang ke El Salvador, bukan? Aku rindu keluargaku!" ujar Lorenzo.
Mereka berdua hidup penuh kebahagiaan tanpa ada yang hilang dari istri, anak, dan keluarganya. Namun, kini Lorenzo semakin takut. Ia menerima pesan misterius tetapi, ia tak menanggapinya.
"Walaupun keluarga Montes telah ditangkap tapi … aku merasa, entahlah!" batinnya, ia tak ingin mengatakan pesan misterius tersebut.
"Aku tak ingin membebani Jodie dan semuanya. Mereka baru saja bertemu dan bahagia," batin Lorenzo.
"Lorenzo, mengapa tidak menunggu besok saja! Aku rasa hari ini kita makan bersama dulu," ujarnya Jodie, "aku masih rindu padamu," lanjutnya.
"Ya, kau benar! Tetapi, entah mengapa aku merasa begitu rindu keluargaku?" lirih Lorenzo, ia sendiri pun tak mengerti mengapa begitu.
"Lorenzo, coba kau telepon keluarga kamu. Apakah mereka baik-baik saja?" ujar Miranda, ia merasa Lorenzo begitu gelisah.
__ADS_1
"Ya, kau benar Miranda! Entah mengapa hatiku tak tenang!" balas Lorenzo.
"Tuan, Inspektur Smith menelepon jika polisi yang menangkap Monstes dan sindikatnya telah kabur!" ucap Zack, ia memperlihatkan rekaman video yang diberikan inspektur Smith.
"Apa?! Yang benar saja!" ujar Jeff.
Jeff langsung melihat rekaman salah satu CCTV di jalanan jika segerombolan anggota Montes sedang menembaki polisi dan menyelamatkan Montes dan ketua mafia lainnya. Mereka tersenyum dan menembak CCTV jalanan.
"Bajingan! Lorenzo, ayo, pulang denganku. Aku akan mengantarkannya sampai ke El Salvador," ujar Dwinov.
"Hm, aku ikut!" ujar Dean, aku rasa di sini Papa dan Jeff bisa melindungi Mama dan semua orang.
"Apalagi, Bowen dan Peter juga ada," ujar Dean.
"Aku ikut! Aku penasaran dengan keluarga Montes ini," ucap Bowen.
"Dean, kamu di sini saja! Susun strategi bersama Peter, Papa, dan Freedom, sebentar lagi dia kemari membawa informasi. Biar aku, Bowen, dan Dwinov yang mengamankan keluarga Lorenzo!" ujarnya, ia menatap pada Dean dan Bowen.
"Bowen dan Dwinov luar biasa di bidang mobil, aku rasa hanya butuh sehari semalam kami sudah tiba di El Salvador," ujar Jeff, "bagaimana Bowen?" tanya Jeff.
"Ayo, lakukan!" ujar pria berkulit gelap menghisap cerutunya dan tersenyum rambut gimbalnya semakin panjang dari terakhir mereka bertemu.
"Aku rasa kita harus menghabisi mereka sampai ke akarnya jika kita ingin hidup tenang dan mundur dari dunia bawah tanah ini." Jeff menatap semua orang, "bagaimana?" tanya Jeff.
"Ya, baiklah!" ujar semuanya.
"Hati-hatilah, Nak! Mereka memiliki banyak jaringan," ujar Jodie, ia sudah menyelidiki banyak hal.
Jeff sudah geram dengan tingkah Montes yang telah menghancurkan semua keluarga. Ia tak peduli dengan banyak hal lagi.
Siang itu juga Lorenzo, Dwinov, dan Jeff juga anak buah mereka pergi ke El Salvador, ke rumah dan perusahaan Lorenzo. Lorenzo sudah lama vakum dari La Costra Nostra sejak Jovink palsu yang mengambil alih.
__ADS_1
Sehari semalam mereka di perjalanan tanpa jeda dan berhenti, Dwinov dengan kencang mengendarai mobil dan tiba di rumah Lorenzo.
"Berhenti di sini, kita masuk dari pintu rahasia. Ini," ujar Lorenzo memberikan peta kecil dari dompetnya pada Jeff, Dwinov, dan Bowen.