Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Sedikit egois


__ADS_3

"Jeff, biarkan saja! Mereka hanya memancing agar kita ke luar dan mereka bisa mencelakai kita. Aku sangat yakin, jika itu hanyalah trik mereka yang ingin tahu persembunyian kita.


"Biarkan saja mereka berurusan dengan pemerintah dan polisi, kita sudah lelah dan banyak kehilangan waktu juga orang-orang yang kita cintai.


"Selama mereka tidak mengganggu kita, biarkan saja! Bukankah kita sudah mengumumkan pembubaran La Costra Nostra? Jadi, mereka tidak  akan bisa lagi menggunakan nama kita untuk kepentingan mereka," ujar Jodie, ia santai membopong Miranda dan mendudukkannya di kursi roda.


"Mari, kita pulang! Agar semua tamu undangan pulang. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah lagi. Aku ingin … disisa hidupku ini.


"Bisa menghabiskan waktu bersama Miranda dan kalian. Melihat cucuku tumbuh begitu juga dengan sahabatku Enzo," ujar Jodie, ia mulai mendorong kursi roda Miranda.


"Ayolah, Nak! Lihatlah, istri kalian berilah kebahagiaan pada mereka," timpal Miranda menatap anak dan menantunya. 


"Aku tak ingin nasib mereka setragis diriku di dalam meraih cinta, Nak. Bahagiakanlah wanita dan anakmu! Berilah mereka kasih sayang dan cinta juga rumah yang layak.


"Jika kalian benar-benar ingin mencintai dan mengasihi mereka seperti janji di altar dan di depan Tuhan. Di setiap waktu yang selalu kalian ucapkan kata cinta.


"Berilah cinta yang sesungguhnya bukan hanya cinta semu dan fatamorgana yang tak layak. Jika kamu benar-benar seorang pria yang berani mengumbar kata manis tentang cinta.


"Cinta bukan hanya untuk diucapkan tapi dilakukan dan dipraktekkan. Jika hanya dengan kata, 'Aku mencintaimu!' itu tidak akan pernah cukup jika tidak dibarengi dengan tindakan, Nak." Miranda menatap ketiga putranya, ia ingin ketiganya bertanggung jawab di dalam ikatan pernikahan mereka yang suci dan indah. 


"Ya, Papa dan Mama benar Jeff. Kali ini, biarkan saja mereka berulah dan pemerintah yang akan menanganinya. Sudah waktunya pemerintah turun tangan membersihkan semua itu," ujar Dean, "aku ingin menikmati malam pertamaku! Aku rasa kau pun juga!" sindir Dean.


"Sialan! Kau bisa saja! Ayolah," balas Jeff, ia pun menggamit tangan Loly yang tersipu malu.


Begitu juga dengan Dwinov yang tersenyum mengelus perut Isabel. Mereka semua pulang dari jalan belakang dan pintas yang aman dari kerusuhan.


Mereka hanya melihat dari kejauhan jika ledakan dan berondongan senjata mulai terdengar dengan mengerikan. Belum lagi suara teriakan bergema, semua orang diam dan mengepalkan tangan.


Mereka berusaha untuk egois kali ini, meskipun mereka tahu jiwa dan hati mereka tak sanggup untuk mendengar dan melihat semua itu.


Jeff, Dwinov, dan Dean juga ketiga menantu serta Miranda hanya diam menatap pasangan mereka yang memucat bak mayat menahan amarah dan getirnya kehidupan.


"Maafkan, aku Jodie …," lirih Miranda, ia tahu bagaimana perasaan Jodie dan ketiga putranya yang menahan gejolak di jiwa dan tubuh mereka.


Sesampainya di rumah Jeff di Puerto Vallarta, Lorenzo berjalan menghampiri Jodie dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Jodie, apakah kamu tidak mendengar mereka berteriak kesakitan? Mengapa kamu berubah Jodie?" teriak Lorenzo, ia tak mengerti dan tak sanggup untuk itu.


"Enzo, aku tahu … tapi, Diana, kamu, James, Dwinov, dan Jeff baru sembuh. Apakah kamu mau jika salah satu dari kita meninggal? Bagaimana Gwenie, Diana yang baru kehilangan Adam, Miranda yang baru menikmati kebahagiaan. Begitu juga Isabel, Joana, dan kita semua.


"Apakah kamu mau jika Diana harus kehilangan Adam ** dan Bowen? Apakah kamu mau Enzo? Aku sudah lelah, biarkan dulu kita istirahat.


"Aku tahu, perasaan kamu Enzo. Percayalah, kali ini kita sedikit egois. Tapi, itu bukan berarti kita melupakan perjuangan kita. Kita akan melanjutkannya nanti, percayalah padaku! 


"Kita harus menyusun kekuatan baru. Syukur-syukur polisi dan pemerintahan bisa mengatasi dan menghancurkan mereka. Sehingga kita tak perlu turun tangan, kita akan menghilang dengan damai.


"Namun, jika mereka masih terus berulah, aku tidak akan tinggal diam Enzo.


"Aku ingin kita menghilang dulu sejenak. Biarlah, para polisi dan pemerintahan yang akan melawan mereka. Suatu saat nanti mereka akan menyadari kehadiran kita begitu berarti di hari mereka.


"Jika La Costra Nostra bukanlah musuh! Tapi, teman yang ingin membuat perubahan dan kedamaian untuk semua orang bukan segelintir orang, Enzo!" ujar Jodie.


"Ya …," lirih Lorenzo, ia menatap istri dan putrinya di sisinya dan Bowen.


"Kau benar! Kita sudah terlalu lama menghabiskan semua kebahagiaan kita hanya untuk sesuatu yang tak pasti. Lalu, ke mana kita akan membawa kita bersembunyi?" tanya Lorenzo.


"Wah, kita akan kembali ke sana Pa? Aku suka sekali! Di sana desa yang tenang dan … sangat nyaman! Kalian pasti suka," ujar Loly, ia begitu bersemangat.


"Aku sudah menelepon para penduduk untuk membersihkan keenam rumah itu, Bud!" ucap Frank tersenyum bahagia.


Keesokan malam ….


Mereka semua benar-benar pergi ke Goldblack meninggalkan Puerto Vallarta dengan mobil yang sudah dimodifikasi oleh Dwinov dan Bowen. Tepat tengah malam 10 iringan mobil Alphard langsung membawa semua orang untuk pergi ke Goldblack.


Malamnya mereka tiba di Goldblack, semua orang begitu takjub deng. Keindahan desa Goldblack yang asri dan nyaman, "Wah, ini sangat luar biasa! Aku menyukainya," ucap Miranda.


Para wanita sudah berdecak kagum termasuk Mama dan Terra. Mereka semua disambut oleh warga Goldblack.


"Frank! Jodie, Loly, Jeff!" teriak Matilda menyongsong mereka.


Loly dan Jeff terkesiap kala Frank dan Matilda langsung berpelukan dan saling berciuman di bibir.

__ADS_1


"Apakah … mereka … saling mencintai?" tanya Jeff berbisik pada Loly.


"Entahlah, aku tidak tahu!" balas loly pun berbisik, sehingga keduanya saling merapatkan tubuh.


"Wah, aku bisa kalah ini dari Frank yang bersemangat! Loly, maukah jika malam ini  … kita saling menganggarkan tubuh kita?" desah Jeff.


"Um, aku tidak tahu di mana kita tinggal. Satu hal, aku tidak yakin apakah kayu bakar ada untuk membuat api unggun di rumah kita. Aku harap cerobong asap ya berfungsi dengan baik," jawab Loly serius.


Bruk!


Serasa jiwa raga Jeff jatuh berderai, ia bukan ingin kehangatan seperti itu tapi di dalam tanda kutip. Loly hanya menatap Jeff yang melongo, ia tersenyum dengan manis.


"Hm, tergantung berapa bisa kau merayuku untuk naik ke tempat tidurmu Jeff," bisik Loly, sambil menjulurkan lidah menggoda Jeff yang terpana.


"Loly …!" lirih Jeff, ia tak menyangka jika Loly malah akan berlaku demikian.


Jodie membagi kunci kepada semua keluarga kecuali keluarga Pedrosa, sehingga Dwinov dan Isabel menempati rumah Joey dengan beberapa pengawal.


Dean dan Joana menempati rumah Jovink, Lorenzo, Gwenie, Diana, Bowen, Gaby, dan James menempati rumahnya.


Jodie bersama Miranda dibantu oleh Mama menempati rumahnya yang selalu ditinggalinya bersama dengan Loly kala kecil dan saat mereka berlibur ke Goldblack.


Semua orang bahagia dengan beberapa pengawal mereka, "Loly, ayo … kita pergi ke rumah kita," ujar Jeff.


"Ayo!" balas Loly tersenyum setelah pamit Alda Jodie dan Miranda.


Begitu pun dengan semua orang pergi ke rumah masing-masing dengan penuh kebahagiaan dan kejutan tak terduga dari Jodie yang masih memikirkan mengenai kebahagiaan dan kehidupan mereka.


"Aku harap kamu menyukai rumah baru kita yang luar biasa sederhana ini Loly," ujar Jeff, ia menatap sekeliling rumah yang terbuat dari batu dan kayu yang kuat dan dipoles dengan warna indah juga banyaknya foto kenangan Lalita, Jhon, dan Myra juga masa kecil Loly.


"Jangan khawatir, aku sangat bahagia Jeff, asalkan bersama dengan kamu. Ke lobang semut pun aku akan ikut," bisik Loly, ia sendiri tak tahu dari mana dirinya mampu mengucapkan semua kata rayuan.


Sejak di Puerto Vallarta bersama dengan Miranda, Mama, Terra, Joana, Isabel, Gwenie, Gaby, dan Diana. Loly semakin berani merayu dan belajar menjadi seorang wanita seutuhnya.


Jeff hanya terbengong, sifat dingin dan kerasnya lumer seketika bak mentega cair tertimpa sinar matahari.  Ia mendekat Loly, dengan menatap istrinya dengan pandangan sayu dan penuh harapan.

__ADS_1


"Sayang … engkaulah yang terindah yang pernah terjadi di hidupku. Tak akan pernah ada lagi yang lain selain dirimu," ujar Jeff, ia membelai lembut wajah Loly yang memejamkan matanya.


__ADS_2