
Jeff dan Dean membawa wanita bernama Miranda ke rumah Jeff di Fajardo. Jeff membopong wanita tersebut dan berlari ke dalam rumah. Sementara Dean masuk ke dalam rumah dan memanggil semua para pengawal yang setia kepada Jeff.
"Aku harap kalian merahasiakan keberadaan wanita ini, jika kalian membocorkannya. Bukan kami saja yang mati, tapi kalian juga. Ingatlah itu!
"Siapa pun yang bertanya, harap rahasiakan semua ini. Satu hal lagi, aku ingin kalian tak mengatakan, pada siapa pun jika kami berdua datang kemari hari ini, "ucap Dean memandang semua pengawal dan ART di rumah Jeff di Fajardo.
"Baik, Tuan Dean!" balas semuanya.
"Terra, tolong panggil dokter Abraham. Aku akan kembali ke kastil La Costra Nostra. Jaga wanita ini, jangan sampai kabur! Satu hal lagi, tolong berikan bajumu, untuk sementara ini aku belum bisa membelinya.
"Atau ini, belilah baju untuknya. Ingat, tutup mulut kalian! Jika kalian semua ingin selamat, bukan aku yang akan membunuh kalian. Tapi, orang lain yang ingin membunuh kita semua!" pesan Jeff, ia memberikan uang pada Terra.
Terra wanita sedikit muda dari Mama dan sedikit ramping, berjalan pelan dan mengambil uang tersebut.
"Ingat, jauhkan anak-anak dari rumah ini. Titipkan anak kalian semua pada keluarga yang kalian percaya. Aku tidak ingin, anak-anak kalian akan jadi korban!" pesan Jeff, ia tahu rasanya menjadi anak yang tak beribu dan ayah.
Jeff tak ingin semua anak dari pekerja di rumahnya akan terbunuh oleh segelintir orang yang menginginkan kematiannya.
"Baik, Tuan!" balas semua orang.
"Jeff, memang berbeda … dia selalu memikirkan anak-anak dan para wanita, buruh tani, dan segelintir orang lemah …," batin Dean.
"Terima kasih, Tuan. Kami akan menjaga semua rahasia ini!" balas semua orang.
"Ingat, jika perlu sembunyikan wanita itu. Kau tahu di mana, agar kalian mudah untuk menjawab banyak hal yang akan datang kemari.
"Aku dan semua orang akan ke Puerto Vallarta, untuk menyemayamkan Pedrosa. Jangan percaya, jika ada yang mengatakan jika aku, Dean, Dwinov, atau Lorenzo, ingin menggeledah atau bertanya apa pun. Jangan percaya siapa pun termasuk Jovink. Mengerti!" tegas Jeff.
"Baik, Tuan!" balas semua orang.
Jeff dan Dean kembali ke kastil La Costra Nostra mengembalikan mobil pada tempatnya dan menyelinap masuk kembali ke acara pemakaman.
"Kalian ke mana saja?" tanya Dwinov, ia melihat keduanya datang.
Jovink, Pablo, Pedro, dan semua orang menatap ke arah keduanya. Jeff dan Dean duduk mengambil kitab suci.
"Aku baru saja, mengecek ulang hasil forensik dan visum dari dokter," ucap Jeff, ia sengaja membesarkan suara agar semua orang mendengarnya.
Lorenzo yang termenung langsung menegakkan kepala ia tersenyum dengan keputusan Jeff. Lorenzo menatap ke peti mati Pedrosa, ia merasakan kesedihan akan kematian sahabatnya.
"Selamat tinggal, Kawan! Semoga Tuhan selalu bersamamu, aku tidak tahu kapan giliranku tiba. Aku hanya berharap segalanya lebih baik lagi," batin Lorenzo.
__ADS_1
Akhirnya semua orang mengantarkan jenazah Pedrosa ke Puerto Vallarta. Semua orang diam, "Kita satu mobil?" tanya Jeff, khawatir.
"Ya, aku sendiri tidak tahu, semua penuh! Hanya mobil ini yang tidak!" balas Dwinov.
Semua orang melihat barisan mobil mewah yang antri dan semua sudah terisi penuh, seakan semua orang menginginkan mereka berlima di dalam satu mobil.
Jeff melihat jika Dean, Lorenzo, Loly, dirinya, dan Dwinov satu mobil.
Jeff saling pandang pada semua orang. Kelimanya merasa curiga, kelimanya menganggukan kepala.
"Dwinov, kau yang paling mahir di bidang balapan dan soal mobil. Aku ingin kau periksa mobilmu. Lebih baik memakai mobilmu saja!" ujar Jeff.
"Kamu yakin?" tanya Dwinov senang, ia selalu dilarang membawa mobil modifikasi miliknya.
Jeff dan semua orang selalu merasa Dwinov sangat gila, Dwinov masih memandang semua orang dan tidak mempercayai akan hal itu.
"Tentu saja!" balas keempat pria, Loly hanya diam bingung.
"Bolehkah aku pun membawa banyak senjata?" tanya Dwinov.
"Memang kita mau berperang?" tanya Lorenzo bingung.
"Asyik!" balas Dwinov.
"Ingat kau periksa semuanya dulu. Aku tidak ingin ada bom atau apa pun. Siapa tahu, mereka sengaja menjebak kita!" ujar Jeff setengah berbisik.
Deg!
Jantung Loly dan Lorenzo tercekat, mereka saling memandang kepada Jeff, dan kedua anak muda di depan mereka.
"Sudahlah! Jangan banyak bicara!" ucap jeff.
Dwinov berlari setengah jam kemudian Dwinov sudah muncul dengan mobil mewahnya yang sedikit berbeda, Dwinov menghabiskan miliaran untuk modifikasi semua mobilnya.
Selama ini, Jeff tak mengerti dengan ide gila Dwinov yang ingin memodifikasi semua mobil mereka, kini disadarinya semua itu berarti.
"Andaikan dulu, aku mendengar saran Dwinov. Greg dan semua orang tidak akan tewas di Denver," batin Jeff.
Semua orang masuk ke dalam mobil, di jok depan Dwinov yang menyetir, Dean di sebelahnya. Di jok belakang Jeff, Loly, dan Lorenzo.
"Halo, Nyonya Nostra! Senang berkenalan dengan Anda. Aku Lorenzo Dante. Semoga kalian bahagia, titip Jeff! Semoga aku masih bisa melihat anak kalian bertiga," lirih Lorenzo.
__ADS_1
Lorenzo merasa umurnya tak akan panjang mengingat kejadian yang menimpa Pedrosa. Lorenzo sedikit curiga akan banyaknya masalah di masa lalu akan menguburkan mereka agar tak buka mulut.
Jeff melihat mendung di mata Lorenzo, "Apakah Lorenzo menyembunyikan sesuatu?" batin Jeff, "nanti aku akan mencari tahu," batin Jeff.
"Terima kasih, Tuan Lorenzo Dante. Senang berkenalan dengan Anda juga," balas Loly.
"Hai, Kakak Ipar! Aku Dwinov Nostra!" ujar Dwinov, "bisa-bisa kau menikahi si Kutub Utara sih?" ejek Dwinov, ia tak bisa mempercayai semua itu.
"Diam, kau Dwinov!" balas Jeff, ia sedikit malu.
"Masa sih? Aku malah nggak merasa jika Jeff begitu dingin? Malah dia selalu panas membara!" balas Loly, ia tanpa sadar mengatakan semuanya.
"Xixixi!" semua orang terkikik geli.
"Apakah dia sepanas itu juga di ranjang?" goda Dwinov.
"Dwinov!" hardik Jeff, ia menimpuk kepala Dwinov.
"Hahaha, sorry! Sorry! Aku hanya penasaran," timpal Dwinov.
"Hm, aku rasa …," balas Loly, ia bingung haru berkata apa.
Namun, ia menyadari satu hal jika ia dan Jeff belum pernah melakukan apa pun mengenai urusan malam pertama mereka yang selalu saja tertunda.
Perjalanan semakin panjang dan lama. Namun, mereka tidak mengalami apa pun. Setelah tiba di Puerto Vallarta setelah menyemayamkan jasad Pedrosa bersama istri dan anak serta cucu Pedrosa. Semua orang kembali ke Puerto Rico.
Namun, di tengah perjalanan mobil Dwinov tertinggal dengan mobil semua orang. Dwinov sedikit curiga dengan banyaknya konvoi yang tidak mereka kenal membuat mereka terpisah dengan emua orang.
"Apakah ada parade? Acara apa?" tanya Dean, ia melihat kerumunan orang-orang dengan cat di wajah dengan membawa berbagai senjata dan alat pukul.
"Bajingan!" umpat Dwinov, ia langsung menarik sesuatu di dasbor dan menekan sesuatu di sana, sesuatu yang mirip membran tipis seperti baja langsung menyelubungi badan dan ban mobil melindungi mereka.
Prang! Prang!
Semua orang di jalanan langsung memukulkan benda yang mereka pegang sehingga kegaduhan mengerikan terjadi, seakan mereka menghadapi kemarahan massa.
"Ada apa ini?" teriak Lorenzo bingung.
"Apakah aku boleh menggunakan gas mata, Jeff!" teriak Dwinov.
"Gunakan saja!" teriak Jeff.
__ADS_1