Cinta Tulus Seorang Mafia

Cinta Tulus Seorang Mafia
Selamat dari sergapan


__ADS_3

"Lalu menurut kalian siapa yang melakukan semua ini? Aku tidak mengerti?" tanya Jeff, ia ingin ketiganya jujur.


"Sebenarnya aku pun tidak tahu, para pemuka geng lain mengatakan, 'Jika kita selalu mengganggu wilayah mereka,' itu hal yang mustahil, bukan?" ucap Pedrosa.


"Ya, bahkan mereka mengatakan, 'Jika kita memiliki pemasok narkoba,' aku tidak tahu, setahuku pemilik ladang opium terbesar adalah Malcom. Entahlah!" ujar Dwinov, "aku memang menggunakan barang haram sejenis bubuk putih tapi aku  membeli pada anak buah Jordan dan untuk konsumsi pribadi," ujar Dwinov.


"Setahuku, kau terlalu frontal mengubah tatanan Jeff, mungkin baik untuk semua orang.


"Tapi tidak baik untuk sebagian yang sudah biasa bergelimang harta dan kesenangan," ucap Lorenzo, "itu sih pendapatku, kamu boleh percaya atau tidak!" lanjut Lorenzo.


"Jadi maksudmu? Aku harus mengembalikan segalanya seperti dulu?" tanya Jeff, ia tak mengerti jika ada orang yang ingin kembali perang.


"Aku tidak bermaksud apa pun. Kau tahu, sejak maklumat yang kau berikan, 5 tahun lalu untuk menghapuskan perdagangan senjata, narkoba, dan minuman keras. 


"Itu merugikan pihak-pihak tertentu, karena kekuasaan La Costra Nostra lebih besar. Kau juga memberi perlindungan pada kaum lemah dan perusahaan dengan pajak yang relatif rendah yang menggunakan jasa kita.


"Itu bagus, semua orang memakai jasa kita? Lalu segelintir geng lain? Mereka kehilangan pekerjaan Jeff. Kau lihat saja, polisi korup berkurang pemerintah santai.


"Mereka mengira jika kita yang melaporkan mereka? Padahal bukan. Masyarakat mulai berani dan tak takut lagi, karena La Costra Nostra akan melindungi ketidakadilan!" ucap Lorenzo.


"Jadi apakah kau mengira jika semua ini adalah perbuatan musuh kita?" tanya Jeff, ia ingin mengumpulkan informasi.


"Mungkin, tapi melihat kau pergi ke Denver, Texas, hanya kubu kita yang tahu. Bahkan, aku pribadi tidak tahu. Aku sedang di Paris menikmati musim semi.


"Aku melihat mobilmu meledak dan mayat anggota kita yang setia tewas! Aku terpaksa pulang ingin memastikan apakah itu kau!" ujar Dwinov.


"Aku selalu di Puerto Vallarta!" alibi Pedrosa.


" Aku di El Salvador," alibi Lorenzo.


Semua diam dan tak bicara berpikir dengan benak masing-masing, semua orang mulai mencari benang kusut di antara apa yang sedang terjadi.


"Lagian dalam rangka apa sih, kau ke sana? Seharusnya kau bisa menyuruhku, Pedrosa, Lorenzo, atau Dean?" tanya Dwinov, ia merasa bingung.


"Apakah kau tidak mempercayai kami begitu?" tanya Dwinov bingung, "siapa yang menyuruhmu ke sana?" lanjut Dwinov.


"Papa …," jawab Jeff, "ia menginginkan penyelidikan yang mengatakan, 'Jika Alexander Dove sedang melakukan trafficking, penyelundupan senjata, dan narkoba," ucap Jeff.


"Apa? Yang benar saja?" tanya ketiganya, mereka tidak mempercayai semua itu.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin bawahan kita begitu? Jadi, apa yang kamu dapati di sana?" tanya Pedrosa.


"Ya, seperti kecurigaan Papa," balas Jeff, ia menceritakan segalanya.


Ciiit! Brak! Brak! 


"Bajingan! Apa ini?" teriak Dwinov kala sebuah mobil menabrak bagian belakang mobil mereka dan berulang kali membentur dan mendorong mobil hingga supir sedikit oleng.


"Bajingan!" ujar Jeff, "siapa yang berulah sekarang?" hardik Jeff murka.


Ia langsung mengambil pistol begitu juga dengan ketiganya. Dor! Supir mobil tertembak di bagian dahi tewas seketika.


"Joe!" teriak Dwinov, ia langsung mendorong tubuh Joe keluar mobil.


"Maafkan aku Joe, nanti aku akan menyuruh orang mengambil mayatmu!" teriak Dwinov langsung mengambil alih kemudian.


Dwinov mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat luar biasa, menembus jalanan. Namun, mobil kontainer dan tangki datang dari sisi jalan kanan-kiri hampir saja merangsek mobil mereka.


"Dwinov!" teriak ketiganya terperanjat.


Cuus! 


Dwinov berhasil menyelamatkan mereka semua hingga kedua mobil bertabrakan, Jeff menembak mobil tangki hingga ledakan bergema.


"Sial! Hampir saja kita mati!" umpat Pedrosa.


Dor! Dor!


Kembali berondongan senjata menembaki mobil mereka dan berulang kali Dwinov berusaha untuk menghindari semua itu dengan masuk ke dalam gang demi gang.


"Sialan! Apa yang akan kita lakukan? Aku tidak mengerti! Mobil ini sudah tak mampu lagi!" teriak Dwinov.


"Berhenti di ujung Dwinov! Aku dan yang lain akan ke luar kau bawa mobil di sudut gang kita jebak mereka di sana!" teriak Jeff.


Dwinov langsung melajukan mobil secepatnya dan di sudut Jeff, Pedrosa, dan Lorenzo langsung melompat ke luar dan bersembunyi di balik tong sampah dan di balik gedung. 


Semua orang di Puerto Vallarta langsung menutup pintu dan jendela bersembunyi. Mereka tak ingin terkena proyektil maupun selongsong peluru.


Di depan jalan tanpa rumah, Dwinov mengubah setelan mobil ke mode otomatis ia pun melompat ke luar bersembunyi hingga mobil meledak karena seseorang dari pihak musuh langsung menembakkan senjata sejenis bazooka dengan hulu ledak rendah.

__ADS_1


Dor! Dor! 


Tembakan bergema Jeff, Pedrosa dan Lorenzo langsung menembak mobil yang membawa seseorang dengan senjata di bahu sejenis bazoka hingga mobil meledak.


Suara tembakan masih bergema, dan saling membunuh musuh. Jeff melesat celah untuk dia menyergap musuh, ia memandang ke arah Pedrosa dan Lorenzo yang saling menganggukan kepala kala Jeff langsung membuat sandi dengan dua jari telunjuk dan tengah mengarah ke matanya dan ke sudut bangunan.


Jeff meminta agar semua temannya melindunginya, "Pergilah!" balas Pedrosa, ia langsung menembakkan senjata ke arah musuhnya. 


Sehingga Lorenzo menembak ke arah musuh yang ingin menembak Jeff dan Pedrosa, Jeff berhasil mencapai sudut bangunan dan langusung menembak musuh dengan kedua pistol di tangannya hingga musuh tewas tinggal seseorang.


Buk! Buk!


"Bajingan Kau! Mau kabur ke mana kau Bangsat?!" teriak Dwinov kesal, ia berlari memukul musuh yang tersisa untuk kabur. 


Namun, kala ia ingin meraih musuh yang sudah terkapar di tanah, sebuah tembakan dari sniper membunuh musuh.


"Bajingan! Mundur!" teriak Dwinov, ia melompat ke semak bunga mawar dan beringsut merenagkak di balik semak bunga.


Jeff, Pedrosa dan Lorenzo berusaha untuk mengejar sniper yang melompat dari atas gedung demi gedung dengan kelincahan yang luar biasa.


"Sudahlah! Kita tak mungkin bisa mengejar mereka! Kita harus kembali ke markas!" teriak Jeff, mereka mengambil mobil musuh yang masih selamat dari ledakan dan kehancuran.


Dwinov langsung kembali menyetir mobil membawa ketiganya pulang ke Puerto Rico. Ketiganya diam, Mereka masih berpikir dan berpikir. Namun, tak seorang pun yang memiliki jawaban.


"Sebaiknya, Lorenzo dan kau Pedrosa, amankan semua anak istri kalian! Aku takut jika musuh mencari kelemahan melalui keluarga kalian!" perintah Jeff.


Pedrosa dan Lorenzo saling pandang dan secepat kilat meraih ponsel dan menelepon semua anak buah mereka untuk mengamankan keluarga dan membawa ke tempat persembunyian masing-masing.


"Untunglah! Aku masih lajang!" ujar Dwinov.


"Bagaimana dengan Isabella?" teriak Jeff.


"Apa? Bagaimana kau tahu?" teriak Dwinov, ia tak menyangka akan hal itu.


"Apa yang kau lakukan aku tahu, Dwinov. Telepon Isabel! Aku tidak ingin dia terluka!" teriak Jeff, ia ingin menelepon Loly.


Namun, Jeff menyadari Loly sedang berada di La Costra Nostra. Jeff sedikit merasa nyaman dan terhibur, Dwinov langsung menelepon Isabel.


Semua memandang ke arah Dwinov yang langsung bersikap lembut kayaknya seorang anak anjing Poppy yang jinak.

__ADS_1


"Wow! Seorang Dwinov Nostra?! Hahaha," ejek kedua pria setengah baya di jok belakang mobil.


"Diam kalian ******!" umpat Dwinov malu.


__ADS_2